PANDANGAN ALKITAB TENTANG LGBT

Yang dimaksud penanya dengan LGBT tentunya adalah kepanjangan dari “Lesbian, Gay, Bisex, dan Transgender”. Baru-baru ini ada pesta kaum gay di Jakarta yang berhasil digerebek oleh polisi. Bahkan beberapa di antaranya adalah generasi muda Kristiani. Tentunya dibutuhkan uraian yang panjang lebar mengenai pandangan Alkitab terhadap LGBT. Mengingat ruang yang terbatas, di sini hanya akan disampaikan hal-hal yang paling penting.

Pertama, apakah istilah LGBT ada di dalam Akitab? Istilah LGBT memang tidak ada dalam Alkitab, tetapi ada kata padanannya, yaitu “banci” dan “pemburit” yang tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 6:9). Istilah “banci” (Ing. effeminate, KJV) secara umum menunjuk kepada laki-laki yang bersifat keperempuanan atau seorang perempuan yang bersifat kelaki-lakian. Sedangkan “pemburit “ (Ing. abusers) secara umum menunjuk kepada pelaku pelecehan seksual atau penyimpangan seksual. Dengan kata lain, jika tidak dipulihkan maka mereka tidak akan terselamatkan.

            Kedua, perlu diketahui penyebab seseorang sehingga ia berprilaku menyimpang seperti itu, apakah karena adanya kelainan hormon? Ataukah karena faktor psikologis dan sosial? Ataukah karena faktor rohani? Jika mau ditelisik hingga ke akarnya, penyimpangan semacam itu disebabkan oleh dosa asal yang dilakukan manusia pertama Adam dan Hawa. Pada mulanya Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:27-28). Dosalah yang menyebabkan terjadinya penyimpangan itu.        Oleh sebab itu pelaku LGBT harus ditangani untuk dipulihkan. Namun penanganan terhadap pelaku LGBT tetap harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jika karena kelainan hormon, solusinya adalah dengan terapi hormon yang merupakan bidang pelayanan kedokteran medis. Jika faktor penyebabnya bersifat psikologis dan sosial, maka harus ditangani secara psikologis dan sosial. Namun jika penyebabnya adalah kerohanian, termasuk kerusakan gambar diri (self image), maka ia harus ditolong melalui konseling Alkitabiah. Yang dibutuhkan adalah kesediaan pelaku tersebut untuk terbuka dan mau dipulihkan.

Ketiga, apakah orang yang berprilaku LGBT merupakan aktor utama ataukah korban. Memang status antara “aktor utama” (yang mencari korban) pada mulanya berstatus “korban”. Karena ia tidak ditangani dengan benar, akhirnya ia berubah status dari “korban” menjadi “aktor utama”. Jika statusnya adalah korban, maka ia harus segera disterilkan atau “dikarantina”, yaitu dijauhkan dari pergaulan yang diikutinya selama ini. Bagi orang tua yang memiliki anggota keluarga pelaku LGBT jangan ragu untuk menemui hamba Tuhan agar dibimbing dan dipulihkan.

Keempat, adalah lebih mudah mencegah daripada mengobati. Para orang tua dan generasi muda harus waspada dan berjaga-jaga terhadap pergaulan yang ada di sekitar kita. Pencegahan bisa dilakukan dalam suasana keterbukaan, komunikasi yang baik antara orang tua, guru di sekolah, teman-teman dari anak-anak kita, serta memonitor penggunaan sarana media sosial mereka. Lebih dari itu, orang tua perlu terus mendoakan dan melengkapi putra-putrinya dengan kebenaran firman Tuhan, khususnya tentang kekudusan hidup dan sex education yang sehat dan tepat, yang berkenan kepada Allah, sesuai pertumbuhan usia mereka.

Dalam kacamata rohani, mengobati atau memulihkan pelaku LGBT merupakan peperangan rohani, di mana kuasa kegelapan ingin mencengkeram generasi muda agar tidak lagi hidup bagi Allah tetapi bagi pemuasan hawa nafsu mereka sendiri. Iblis yang adalah “pendusta” akan selalu berkata bahwa LGBT hanya merupakan “kelainan” yang harus diterima apa adanya. Padahal firman Tuhan berkata bahwa hal itu bisa dipulihkan, Karena termasuk “penyakit” yang mematikan. Ketika setiap orang sadar bahwa pelaku LGBT harus dipulihkan, maka akan ada usaha menuju ke sana, dan Roh Kudus akan memampukan kita untuk mendatangkan pemulihan atas mereka. Telah banyak kesaksian yang menunjukkan terlepasnya seseorang dari belenggu yang mematikan ini. bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan oleh Roh Tuhan. Jadi, kita harus peduli, mendoakan, dan membawa mereka kepada salib Kristus. Hanya karya penebusan-Nyalah yang mampu memulihkan mereka.-

 

pdt. petrus f. Setiadarma

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s