ARTIKEL ROHANI

 PALUNGAN DAN KANDANG

  1. Pendahuluan

Setiap kali umat percaya merayakan Natal, kita diingatkan kepada karya Allah Bapa, yang – oleh kasih-Nya yang besar – telah mengutus Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, ke dalam dunia ini dengan suatu maksud dan tujuan utama: menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Sekalipun kita mungkin telah mendalami, bahkan mengkhotbahkan pesan Natal kepada jemaat, tetapi setiap kali mencermati kembali peristiwa natal itu sendiri selalu ada hal yang baru, yang segar, untuk diresapi, direnungkan, dan diteladani. Kali ini kita akan memokuskan perhatian kita kepada dua kata benda dalam peristiwa Natal, yaitu: palungan dan kandang.

  1. Palungan dan Kandang

Yang dimaksud dengan “palungan” (Yun.: fatnh, fatné; Ing.: manger) adalah: “tempat makan ternak”. Dalam Lukas 13:15 diterjemahkan dengan “kandang”, di mana kata ini juga sering digunakan dalam tulisan-tulisan Yunani. Beberapa penulis kuno percaya bahwa Yesus dilahirkan di dalam sebuah kandang yang terbentuk secara alam (semacam gua) di dekat Betlehem, bukan kandang yang dibentuk oleh buatan manusia. Ketika Yusuf tidak mendapatkan kamar di penginapan Betlehem, ia bermalam di sebuah gua dekat Betlehem.

Di Palestina kandang binatang disatukan dengan rumah pemilik binatang itu, dan di kandang itulah terdapat palungan. Jadi, sewaktu Yusuf bersama Maria bermalam di gua itulah, Maria melahirkan Yesus, dan meletakkan-Nya di dalam palungan, yaitu lubang dalam dinding batu itu.

Tidak adanya tempat bagi Yusuf dan Maria dapat dipahami karena beberapa faktor. Yang pertama, karena memang saat itu seluruh penduduk di daerah kekaisaran Romawi, termasuk di Paletina, sedang melakukan “mudik” besar-besaran, dalam rangka memenuhi perintah Kaisar Agustus yang sedang mengadakan sensus penduduk. Seperti halnya di Indonesia, itulah peak season, di mana semua penginapan pasti penuh.

Yang kedua, keberadaan Yusuf sebagai tukang kayu, yaitu pekerjaan seorang penduduk di Nazaret yang sangat sederhana tidak memiliki cukup uang untuk menginap di penginapan. Saat itu tentu saja para pemilik penginapan telah menaikkan tarif menginap sampai 2-3 kali lipat. Itulah saatnya mereka menikmati “panen”. Jika memang ada orang yang lebih bisa membayar mahal, tentu mereka yang akan mendapatkan perlakuan istimewa.

Yang ketiga, pemilik penginapan tentunya melihat Maria yang sedang mengandung. Ia tentuny amenjaga “ketenangan” tempat penginapannya. Kalau ia menerima Yusuf dan Maria di penginapannya, dan kemudian hendak melahirkan, diperkirakan akan ada kepanikan tersendiri, dan yang paling dihindarinya tentunya tangisan bayi yang bisa menggangu para tamu lainnya. Alhasil, ia akan kehilangan penghasilan yang cukup besar jika para tamu mengeluh dan pindah ke penginapan lain.

Itu semua bukan terjadi secara kebetulan. Tuhan Allah telah merancangkan saat yang tepat – sebelum dunia dijadikan – di mana dan kapan Yesus Kristus, Sang Juruselamat, akan dilahirkan. Melalui nabi-nabi-Nya Ia telah berfirman perihal kedatangan Sang Penebus Dosa. Bahwa Yesus akan dilahirkan di Betlehem, oleh seorang anak dara, dan nama-Nya disebutkan Imanuel.

Kandang dan palungan memang nampaknya adalah tempat yang “tepat” untuk Yesus Kristus ketika Ia datang ke dalam dunia ini jika disejajarkan dengan ucapan-Nya sendiri bahwa Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Apakah maknanya bagi kita?

  1. Implementasi Masa Kini

Bagi kita yang hidup di masa kini, maka “palungan dan kandang” memberikan banyak pelajaran rohani.

Pertama, kandang dan palungan menunjukkan ketiadaan fasilitas, tetapi rencana Allah tidak bisa dibatasi oleh ketiadaan fasilitas. Yesus Kristus tetap datang ke dalam dunia ini, sekalipun seluruh tempat penginapan di Bethelem tidak membuka pintu bagi-Nya. Saya bisa membayangkan betapa kecewanya sang pemilik penginapan, andaikan ia tahu bahwa bayi yang akan dilahirkan oleh Maria yang telah ditolaknya itu adalah Juruselamat dunia. Tetapi imajinasi saya itu kembali saya tanggalkan, karena bisa saja pemilik penginapan itu tetap tidak peduli sekalipun yang akan dilahirkan di penginapannya adalah Sang Mesias. Baginya – dan bagi banyak orang di masa kini – uang dan harta-benda jasmani dipandang jauh lebih berharga dari pada hal-hal rohani. Dari dulu sampai sekarang tetap saja ada orang-orang yang lebih mementingkan hal-hal duniawi dari pada perkara-perkara rohani.

Pengertian ini mendorong kita untuk tetap setia pada tugas dan panggilan kita, di tempat di mana kita ada sekarang, sekalipun minim dengan fasilitas atau saran penunjang pelayanan. Ketiadaan fasilitas tidak boleh mengendorkan semangat kita menaati panggilan Tuhan.

Kedua, selalu akan ada yang menolak pelayanan dan maksud baik kita. Palungan dan kandang merupakan bukti penolakan manusia terhadap anugerah Allah. Jika manusia pernah menolak kebaikan Allah, maka selalu ada kemungkinan manusia menolak kebaikan sesamanya. Itu berarti bahwa kita tidak perlu kecewa apabila pelayanan dan kebaikan kita ditolak oleh sesama kita.

Pengalaman pelayanan para hamba Tuhan sekaliber Yesaya dan Yeremia pun pernah ditolak. Adanya penolakan itu tidak boleh menghentikan pelayanan kita bagi mereka. Kita tidak boleh jemu berbuat baik. Sekalipun manusia menolak anugerah Allah, bukankah Allah tetap memberikan hujan dan udara bagi mereka? Hanya saja jika mereka terus menolak Allah, mereka akan binasa karena penolakannya sendiri.

Ketiga, palungan dan kandang memberikan keteladanan tentang kesederhanaan sikap hidup setiap orang percaya. Kita hidup dan melayani di tengah-tengah masyarakat yang diliputi semangat materialisme dan hedonisme, sehingga memiliki pola hidup konsumtif. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi hamba-hamba Tuhan dan seluruh jemaat. Nilai seorang manusia telah diletakkan pada barang apa yang dikenakannya, brand baju apa yang dikenakannya, handphone dengan feature apa yang digunakannya. Manusia menilai sesamanya hanya dari penampilan luarnya saja. Tentu saja tidak salah jika kita menikmati berkat Tuhan melalui hal-hal itu. Tetapi sebenarnya kita harus kembali kepada kebenaran firman Tuhan yaitu agar tidak menjadi seperti dunia ini, melainkan lebih mengutamakan harta dalam bejana rohani, yaitu iman, yang kata Rasul Petrus, jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana.

Kita hidup di Indonesia yang masyarakatnya masih memiliki kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Orang-orang percaya di bumi Indonesia tidak boleh memperparah kesenjangan ini. Justru kita harus meneladani Yesus Kristus dengan segala kesederhanaan-Nya. Jika kita memiliki lebih, kita harus lebih memrioritaskan pemenuhan kebutuhan mereka yang kurang beruntung: masih banyak yang tidka bisa bersekolah dan membutuhkan beasiswa, masih banyak pengangguran yang membutuhkan modal kerja; masih banyak yang tidak memiliki tempat tinggal dan membutuhkan rumah sederhana, dan sebagainya.

Keempat, kandang dan palungan menyatakan kontekstualisasi pelayanan. Inkarnasi Kristus ke dalam dunia ini merupakan penghampaan diri-Nya dari kesetaraan-Nya dengan Allah dan mengambil rupa sebagai manusia. Ini adalah pelayanan kontekstual. Allah sedang berkomunikasi dengan manusia dengan rupa dan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Kontekstualisasi pelayanan adalah suatu prinsip Alkitabiah yang dilakukan oleh Allah sendiri. Kontekstualisasi sama sekali berbeda dengan sinkritisme. Kontekstualisasi tidak mengorbankan kebenaran yang ada pada dirinya, melainkan mengomunikasikan kebenaran itu dengan bahasa yang dimengerti oleh penerima.

Penerjemahan Alkitab ke dalam pelbagai bahasa, bahkan bahasa suku dengan petutur hanya beberapa puluh orang, merupakan bentuk konkret kontekstualisasi. Ini harus dikembangkan dengan misalnya: bentuk bangunan gedung gereja yang tidak eksklusif, melainkan “serupa” dengan bangunan di sekitarnya. Kalau di Jawa Tengah bisa berbentuk joglo, di Sumatera Barat bisa berbentuk rumah Minang, dan sebagainya.

Bentuk lainnya adalah pada penggunaan alat-alat musik dan lagu-lagu pujian. Orang Kristen India dengan penuh sukacita menaikkan pujian bagi Tuhan dalam irama keindiaannya. Seringkali kekristenan diidentikkan dengan budaya barat, padahal ia berasal dari Asia, dari Palestina. Mengapa kita tidak mengkostekstualisasi-kannya dengan keasiaan kita, dengan keindonesiaan kita?

  1. Penutup

Masih banyak pelajaran rohani yang bisa kita peroleh dari kandang dan palungan ini, sehingga Natal sungguh bermakna bagi kita. Bukan hanya sekedar memperingati dan merayakannya secara agamawi, melainkan merenungkan dan memperbaharui semangat pengiringan dan pelayanan kita kepada Juruselamat kita, Tuhan Yesus Kristus. Selamat Natal …

—– 00000 —–

ROH KUDUS DAN ALKITAB

            Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, terus berkarya dalam kehidupan kita. Kali ini kita akan belajar tentang karya Roh Kudus yang dahsyat bagi kita, yaitu dalam kaitannya dengan Alkitab, firman Allah yang berkuasa. Dengan memahami karya Roh Kudus ini, maka sikap kita terhadap Alkitab akan jauh lebih baik dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Sikap seseorang terhadap sesuatu merupakan akibat dari pengetahuan atau pengenalannya terhadap sesuatu itu. Jika ia mengenal lebih baik, maka sikap pun akan menjadi lebih baik. Jemaat di Berea yang mengenal firman Allah lebih baik karena bersedia menerima dan menyelidiki lebih lanjut ternyata lebih baik hatinya dibandingkan jemaat di Tesalonika (Kisah 17:11). Demikian pula halnya dengan orang yang mengenal lebih baik karya Roh Kudus akan mengalami perubahan dalam hidupnya. Apa saja karya Roh Kudus dalam kaitannya dengan Alkitab?

Roh Kudus Mengilhami Penulis Alkitab

            Surat 2 Timotius 3:16 menyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah, yaitu Alkitab mendatangkan manfaat yang sangat besar dalam kehidupan kita. Kata ‘diilhami’ berarti ‘diinspirasikan’ (Ing. inspired). Dalam bahasa Yunani digunakan kata theopneustos, yang berarti ‘dihembusi nafas Allah’ (Ing. God-breathed), yaitu Roh Kudus itu sendiri. Jadi Roh Kuduslah yang memberikan ilham atau inspirasi kepada para penulis Kitab Suci. Karena Roh Kudus adalah Allah, dan para penulis Kitab Suci adalah orang-orang yang diurapi oleh Roh Kudus, maka yang mereka tuliskan adalah kebenaran Allah sendiri. Tidak ada kesalahan di dalamnya.

            Rasul Petrus juga menyatakan bahwa nubuat (dalam Alkitab) tidak pernah dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus (2 Pet. 1:21). Kata Yunani untuk ‘dorongan’ adalah pheromeno¸ yang berarti ‘membawa serta’. Jadi para penulis Alkitab tidak pernah terpisah sedikit pun dari Roh Kudus ketika mereka menuliskan apa yang Roh Kudus katakan. Mereka tetap memiliki gaya penulisan sendiri, yang berbeda satu sam alain, tetapi semuanya memiliki kesatuan gagasan karena berasal dari Allah sendiri. Oleh sebab itu kita tidak boeh ragu sedikit pun akan kebenaran firman Allah, yaitu Alkitab.

Roh Kudus Menerangi Pembaca Alkitab

            Alkitab yang kita baca secara teratur setiap hari bukan tulisan biasa, melainkan firman Allah, sehingga harus dipahami dengan sebenar-benarnya. Banyak orang memberikan tafsiran terhadap bagian-bagian Alkitab. Mereka mempelajari ilmu-tafsir Alkitab, yaitu hermeneutika, yang mengajarkan banyak cara atau metode menafsirkan Alkitab. Namun tafsiran dengan metode sebaik apapun tidak akan pernah tiba kepada kebenaran Alkitab yang sejati tanpa penerangan dari Roh Kudus.

            Pada zaman Yesus hidup dan melayani, ada banyak ahli Taurat yang telah menguasai Perjanjian Lama. Tetapi ternyata mereka tidak juga mengenal Yesus Kristus sebagai pusat berita dalam seluruh Kitab Perjanjian Lama. Hal itu terbukti ketika mereka tidak mau datang untuk percaya kepada-Nya (Yoh. 5:39-40).

            Karya iluminasi atau penerangan oleh Roh Kudus memampukan kita memahami kalimat-kalimat yang dimaksudkan oleh-Nya ketika Ia mengilhami penulis. Hal ini penting agar kita mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, dan bukan sekedar hasil interpretasi atau tafsiran manusia belaka.

            Ada hal yang harus diperhatikan dalam hal penafsiran Alkitab ini, yaitu apabila Roh Kudus telah menyertakan penafsiran bersamaan dengan ayat yang ditulis oleh penulis Kitab Suci, maka kita harus menerimanya dan tidak berupaya menafsirkan sesuatu yang berbeda. Misalnya: dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus telah memberikan penjelasannya mengenai keempat jenis tanah: di tepi jalan, tanah berbatu, tanah beronak duri, dan tanah yang baik, yaitu mengenai hati manusia (Mat. 13;1-23). Sebagai pembaca, kita tidak boleh memberikan tafsiran lain dari yang telah Tuhan Yesus nyatakan tersebut.

 

Roh Kudus Mengajarkan Kebenaran Firman Allah

            Salah satu karya Roh Kudus yang menjadi berkat besar dalam kehidupan orang percaya adalah karya pedagogis, atau mengajar (Yoh. 14:13). Firman Tuhan adalah kebenaran (Yoh. 17:17). Itu berarti bahwa Roh Kudus dapat menolong kita lebih memahami kebenaran firman Allah dan tidak tersesatkan.

Mungkinkah seseorang yang belajar firman Allah bisa tersesat? Bisa, apabila ia tidak diajar oleh Roh Kudus, melainkan diajar oleh manusia lain dengan pendapatnya sendiri. Ada orang yang sudah memiliki prinsipnya sendiri, kemudian mencari ayat-ayat yang membenarkan prinsipnya itu. Jika itu yang terjadi, maka ia akan tersesat karena pola berpikirnya terbalik. Ini disebut eisegese, yaitu memasukkan prinsip dari ke luar ke dalam Alkitab untuk mencari pembenaran dari ayat-ayat Alkitab.

Yang benar adalah menerima dan percaya terhadap apa yang Alkitab ajarkan, kemudian kita yang harus mengubah dan menyesuaikan prinsipnya dengan kebenaran firman itu. Ini disebut dengan eksegese, yaitu menerima dan percaya kepada pernyataan firman Tuhan dan kemudian menaatinya.

Roh Kudus Mengingatkan Pembaca Alkitab

            Salah satu kelemahan manusia adalah mudah kupa. Orang yang telah membaca atau mendengarkan firman Tuhan biasanya berusaha menyimpannya dalam hatinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ingatan terhadap ayat-ayat Alkitab memudar. Itulah sebabnya sebagai Penolong kita, Roh Kudus akan mengingatkan kita kepada firman Tuhan itu (Yoh. 14:26). Itulah sebabnya kita perlu mencatat di buku catatan kita ketika kita melakukan Saat Teduh atau ketika kita mendengarkan khotbah. Dengan menulis, apa yang kita baca dan dengar akan lebih tertanam. Bahkan, kita pun perlu menghafal ayat-ayat tertentu yang dapat kita gunakan untuk menguatkan diri kita dan orang yang kita layani.

            Kita perlu bersandar kepada Roh Kudus, agar ketika kita berada dalam sebuah situasi dan membutuhkan firman Tuhan, Ia mengingatkan kita. Hal ini juga menjadi pengalaman saya pribadi saat memberikan konseling atau menyampaikan firman Tuhan, atau sedang mengajar di kelas Training Orientasi Pelayanan (TOP). Kita patut bersyukur karena Roh Kudus yang diam di dalam diri kita senantiasa mengingatkan kita akan firman Tuhan yang sangat kita butuhkan.

Roh Kudus Memampukan Pembaca Alkitab

            Yang terakhir, namun tidak kalah pentingnya, adalah karya Roh Kudus yang memampukan kita menjadi pelaku firman. Surat Yakobus mengingatkan bahwa jika kita hanya mendengarkan firman namun tidak melakukannya, maka itu sia-sia adanya (Yak. 1:25). Tidaklah mudah melakukan firman Tuhan yang bersifat rohani itu, karena diri kita terkadang masih bersifat duniawi. Seringkali firman Tuhan bertentangan dengan ego dan keinginan daging kita. Hidup dalam ketaatan total terhadap firman Tuhan hanya bisa kita lakukan jika Roh Kudus menolong kita. Misalnya: tidak mudah menaati firman Tuhan yang berkata “Kasihilah musuhmu” (Mat. 5:44), karena sebagai manusia kita cenderung membalas dendam. Namun jika kita meminta Ro Kudus memampukan kita, maka kita akan mampu mengampuni musuh-musuh kita dan memberkati mereka.

            Nikmati berbagai karya Roh Kudus dalam kaitan dengan Alkitab, makanan rohani kita sehari-hari, agar kita bertumbuh menjadi semakin dewasa di dalam Kristus, hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang, dan nama Tuhan saja yang dipermuliakan.-

 —- 000 —

 

Iklan