PENDIDIKAN POLITIK BAGI GENERASI MUDA

PENDIDIKAN DEMOKRASI

Pendahuluan

Kita adalah warganegara Indonesia, sebuah negara demokratis berbentuk republik. Perlu diingat bahwa demokrasi yang dianut di negara kita adalah Demokrasi Pancasila. Hal tersebut nampak jelas dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945 yang berbunyi, “…dalam susunan Negara indonsia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan yang Mahaesa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Demokrasi sendiri adalah “bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi – baik secara langsung atau melalui perwakilan – dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.” Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

Secara umum, demokrasi memiliki 4 (empat) aspek penting, yaitu: pemilihan (election), partisipasi (participation), perlindungan (protection), penegakan hukum yang berkeadilan (justice). Untuk memahami keempat aspek penting demokrasi tersebut perlu dilakukan pendidikan demokrasi bagi seluruh warganegara sedini mungkin. Kita tidak boleh sekedar menjadi penonton dalam alam demokrasi ini, melainkan turut berpartisipasi di dalamnya, termasuk dalam pendidikan demokrasi ini.

           

Pendidikan Demokrasi

 

            Dalam melaksanakan pendidikan demokrasi untuk keempat aspek penting di atas, perlu dipahami terlebih dahulu beberapa hal penting tentang demokrasi, yaitu bahwa:

 

  • proses demokrasi tak pernah selesai namun secara bertahap dan berkesinambungan;
  • proses demokrasi bersifat evolusioner dalam arti dilakukan secara perlahan;
  • demokrasi merupakan sarana untuk mencapai tujuan menghasilkan perubahan dalam damai tanpa kekerasan atau tindakan anarkhis, dan
  • demokrasi berjalan melalui cara musyawarah untuk mencapai mufakat.

 

Pendidikan demokrasi bisa dilakukan dalam berbagai konteks, baik  secara formal (di sekolah dan di perguruan tinggi), secara non formal (pendidikan di luar sekolah), dan secara informal (pergaulan di rumah dan masyarakat multikultural).  Berikut ini adalah beberapa bentuk pendidikan demokrasi yang bisa kita lakukan.

  1. Aspek pemilihan (election) – Untuk aspek ini anak-anak dan generasi muda bisa mulai dididik untuk mengambil keputusan. Kepada mereka bisa diberikan beberapa opsi atau alternatif pilihan, kemudian mereka dididik untuk melihat sisi positif dan negatif atau plus-minus dari opsi-opsi tersebut. Selanjutnya mereka harus menentukan pilihan sesuai pertimbangan mereka masing-masing dengan segala risikonya. Hal-hal yang bisa disuguhkan kepada mereka untuk memilih misalnya: dalam menentukan tempat berlibur, jurusan kuliah di perguruan tinggi. Bandingkan dengan Yosua yang memberikan pilihan kepada umat Israel mengenai kepada siapa mereka berbakti dan beribadah. Kemudian ia menyatakan bahwa bersama dengan seluruh keluarganya ia menentukan pilihan untuk beribadah kepada TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Yakub (Yosua 24:15). Mereka juga harus dididik untuk menghargai dan menghormati pilihan orang lain. Mereka tidak boleh memaksakan kehendak mereka, melainkan memberikan keleluasaan untuk memilih, sehingga pilihan itu berdasarkan sukarela bukan paksaan dari pihak manapun. Lambat laun mereka akan menentukan pilihan yang benar dan bertanggung jawab dalam memilih wakil rakyat atau pemimpin bangsa di masa mendatang.
  2. Aspek partisipasi (participation) – Untuk aspek ini anak-anak dan generasi muda harus dilibatkan dalam pelbagai kegiatan, baik di rumah, di gereja, di sekolah, di tengah masyarakat. Mereka tidak boleh menjadi penonton atau komentator belaka, melainkan harus melibatkan diri sesuai dengan minat dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka bisa diberi bagian peran dari yang terkecil. Apabila ternyata mereka melakukannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab, mereka bisa diberi peran yang lebih besar. Ini ada prinsip yang Tuhan Yesus ajarkan bahwa ketika seseorang setia dalam perkara yang kecil Ia akan mempercayakan perkara yang lebih besar (Matius 25:21). Lambat laun mereka akan memiliki rasa nasionalisme yang besar dan terlibat dalam pesta demokrasi (pemilihan parlemen dan kepala daerah serta kepala negara), tidak lagi apatis sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini. Di masa depan mereka akan memberikan peran aktif dalam berbagai kegiatan kebangsaan hingga tidak menutup kemungkinan Tuhan mengangkat mereka seperti Daniel yang menjadi Saksi Tuhan yang setia di dalam pemerintahan negara.
  3. Aspek perlindungan (protection) – Untuk aspek ini anak-anak dan generasi muda harus belajar menghargai dan melindungi orang lain yang lebih lemah dari mereka. Mereka dididik untuk tidak melakukan perundungan (bullying) terhadap teman sekolah atau rekan sepermainan, melainkan harus melindungi dan menghargai sesama sebagai ciptaan Tuhan yang sama berharga di hadapan Tuhan. Lambat laun mereka akan melindungi kaum minoritas yang ada dalam masyarakat kita: minoritas sebagai etnis, sosial-ekonomi (kaum miskin dan papa), tidak adanya akses ke pendidikan yang lebih tinggi, hingga minoritas dalam hidup keagamaan. Bukankah Tuhan Yesus sendiri peduli dengan mereka yang terpinggirkan dan memandang mereka sebagai domba-domba yang tercerai-berai yang membutuhkan perlindungan dan penggembalaan? (Matius 9:36).
  1. Aspek penegakan hukum yang berkeadilan (justice) – Untuk aspek ini anak-anak dan generasi muda bisa dibimbing untuk bertindak adil dalam bertindak. Kepada mereka bisa diberikan kasus-kasus hukum yang sederhana, kemudian mereka bisa diajak mengambil kesimpulan mana yang benar dan mana yang salah. Apresiasi atau pahala apa yang harus diberikan kepada mereka yang benar dan berjasa, dan penalty atau hukuman apa bagi yang bersalah. Pada taraf yang lebih tinggi mereka bisa diberi kasus peradilan di mana salah satu dari yang bersengketa adalah sahabat mereka sendiri. Masihkah mereka bersikap adil tanpa pandang bulu? Lambat laun mereka akan dapat bertindak adil, sebagaimana Tuhan sendiri adalah Allah yang Mahaadil dan menghendaki agar umat-Nya bertindak adil pula (Mikha 6:8)

Pendidikan demokrasi tidak boleh hanya sekedar belajar untuk tahu (learning to know), tetapi juga belajar untuk melakukan (learning to do), belajar untuk memiliki sikap demokratis (learning to be), bahkan hingga menjadi insan yang demokratis di segala bidang dan menularkannya kepada orang lain (learning to live together).

Kendala Pendidikan Demokrasi dan Solusinya

             Pendidikan Demokrasi bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Ada beberapa kendala yang perlu diamati dan dicari solusinya. Pertama, serbuan budaya dari luar yang, jika tidak diwaspadai, bisa memengaruhi alam demokrasi di negara kita. Kedua, minimnya keteladanan dari beberapa pejabat negara baik yang duduk di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif. Keteladanan sangat dibutuhkan dalam keluarga, di sekolah, dan di gereja dulu, karena orang tua, guru, dan para pelayan Tuhan merupakan yang terdekat dengan anak-anak kita. Ketiga, keengganan orang tua untuk menyediakan waktu yang cukup dalam mendidik putra-putri mereka. Kesibukan mencari nafkah menjadi alasan utama. Berarti sebaiknya ayah-ibu bisa berbagai peran, agar anak-anak bisa terdidik dalam iman sekaligus penanaman rasa nasionalisme yang tinggi, agar kelak di kemudian hari dapat menjadi insane yang demokratis di mana pun mereka hidup dan berkarya.

Penutup

Sekali lagi, pendidikan demokrasi bukan merupakan proses yang mudah seperti membalik telapak tangan, melainkan harus tarsus-menerus dilakukan, agar kelak muncul generasi yang berani mengambil keputusan penting bagi bangsa dan negara, terlibat aktif dan peduli sebagai warganegara yang bertanggung jawab, melindungi mereka yang tergolong minoritas, dan bertindak adil kepada sesame tanpa pandang bulu. Ketika mereka tampil sebagai insane yang demokratis yang disertai takut akan Tuhan, maka bangsa kita pun akan dipimpin oleh orang-orang yang berkenan di hati Tuhan dan pemulihan terhadap Indonesia sebagai bangsa yang besar dan demokratis benar-benar terjadi.-

 

 

M A R I A


… dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib,

Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. 

 

Yesaya 9:5

 

           

            Pernyataan Rasul Paulus yang berbunyi: Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat (Gal. 4:4), mengandung kebenaran yang sangat dalam.

            Pertama, mukjizat kelahiran Yesus Kristus berkenaan dengan waktu Allah sendiri. Ia tidak pernah salah dalam menetapkan waktunya. Bahwa pada waktu itu Kaisar Agustus yang memerintah di Roma, dan bahwa pada waktu itu Maria sedang bertunangan dengan Yusuf, serta pada waktu itu Raja Herodes yang memerintah di Yudea, semuanya berada dalam kendali Allah. Ia adalah Allah yang turu berkerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Allah tidak pernah terlalu cepat atau terlambat dalam melaksanakan rencana-Nya! Baca lebih lanjut

HIDUP PENUH WARNA

 

Jika di salah satu stasiun televisi ada tayangan reality show “Hitam Putih”, maka realitas kehidupan yang sesungguhnya tidak demikian. Hidup ini tidak hanya terdiri atas dua warna: hitam dan putih, melainkan penuh dengan warna-warni yang tak terbatas. Yang dimaksud dengan warna-warni kehidupan itu adalah pelbagai pengalaman hidup yang dialami setiap orang di muka bumi ini. Dalam artikel singkat ini kita akan melihat beberapa warna-warni kehidupan, apa yang menjadi penyebab dan tujuannya, serta bagaimana menyikapinya sesuai dengan tuntunan firman Allah.

Baca lebih lanjut

ROH KUDUS DAN ALKITAB

Roh Kudus dan AlkitabROH KUDUS DAN ALKITAB

            Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, terus berkarya dalam kehidupan kita. Kali ini kita akan belajar tentang karya Roh Kudus yang dahsyat bagi kita, yaitu dalam kaitannya dengan Alkitab, firman Allah yang berkuasa. Dengan memahami karya Roh Kudus ini, maka sikap kita terhadap Alkitab akan jauh lebih baik dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Sikap seseorang terhadap sesuatu merupakan akibat dari pengetahuan atau pengenalannya terhadap sesuatu itu. Jika ia mengenal lebih baik, maka sikap pun akan menjadi lebih baik. Jemaat di Berea yang mengenal firman Allah lebih baik karena bersedia menerima dan menyelidiki lebih lanjut ternyata lebih baik hatinya dibandingkan jemaat di Tesalonika (Kisah 17:11). Demikian pula halnya dengan orang yang mengenal lebih baik karya Roh Kudus akan mengalami perubahan dalam hidupnya. Apa saja karya Roh Kudus dalam kaitannya dengan Alkitab? Baca lebih lanjut

KASIH MEMBAWA KEMENANGAN

            Makna kata ‘kasih’ yang sering dikatakan oleh banyak orang di sekitar kita sama sekali berbeda dengan makna yang dimaksudkan oleh Alkitab. Kasih yang dipahami banyak orang seringkali bermakna ‘jikalau’, misalnya muncul dalam kalimat: “Jikalau kamu …. barulah aku mau mengasihimu.” Sedangkan kasih dalam Alkitab bermakna ‘walaupun’, artinya “Walaupun kamu …. Aku akan tetap mengasihimu.” Kasih dalam Alkitab – yang sering juga disebut sebagai ‘kasih agape’ – adalah kasih Allah sendiri yang dinyatakan kepada seisi dunia ini. Allah menghendaki agar kita pun mengasihi Allah dan sesame kita dengan kasih agape ini. Baca lebih lanjut

PRIBADI DAN KARYA ALLAH SEBAGAI BAPA

Pendahuluan            

Hubungan antara Allah dengan umat-Nya digambarkan oleh Alkitab dalam banyak bentuk. Pelbagai bentuk hubungan itu bersifat anthropomorfistik, artinya bersifat seperti yang ada dalam kehidupan umat manusia. Artinya, sebenarnya hubungan Allah dengan umat-Nya begitu dalam, indah, dan agung. Namun agar manusia mampu memahaminya dengan baik, Allah menyatakan hubungan itu dengan menggunakan bahasa kiasan yang mudah dipahami oleh manusia. Sayangnya kemudian manusia terjebak dalam peristilahan itu, sehingga tidak sampai kepada makna dan simbolisasi kiasan tersebut. Contoh sederhana adalah ketika dikatakan “tangan Allah memegang tangan kita,” maka seolah-olah Ia hanya memegang tangan kita. Padahal Ia juga memegang tangan orang-orang lain di seluruh muka bumi ini yang percaya kepada-Nya. Apakah itu berarti penggunaan kiasan itu tidak penting? Justru sangat penting! Hanya saja untuk memahami penggambaran secara kiasan itu kita harus tetap meminta Roh Kudus menyatakan kebenarannya yang seutuhnya, sehingga kita dapat memahaminya dengan sebenar-benarnya. Salah satu bentuk hubungan antara Allah dengan umat-Nya adalah hubungan antara Bapa dengan anak-anak-Nya. Apabila kita memahami hubungan ini dengan sebaik-baiknya, maka berkat yang besar dan luar biasa akan kita alami. Kita akan melihat sejauh mana Alkitab menyatakan hubungan itu kepada kita, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan apa dampak hubungan itu dalam kehidupan kita. Baca lebih lanjut

DAMPAK KEHADIRAN TUHAN

Kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan umat-Nya menimbulkan dampak yang luar biasa. Dalam Perjanjian Lama, kehadiran Tuhan berdampak dalam kehidupan setiap individu dan seluruh umat Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, kehadiran Yesus Kristus mendatangkan berkat dan pertolongan bagi orang-orang yang membutuhkan; kehadiran Roh Kudus melalui pelayanan para rasul yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul juga menimbulkan dampak yang luar biasa. Melalui tulisan ini kita akan melihat lebih rinci tentang dampak kehadiran Tuhan ini, agar kita juga boleh mengalaminya. Baca lebih lanjut