REKAT (601-700)

PA – 601. Pada hari ketiga Ester memberanikan diri lewat di depan raja, dan raja memanggilnya. Artinya Ester berkenan di hati raja dan raja tidak menghukumnya atas ‘kelancangannya’ itu. Doa selalu menghasilkan sesuatu yang dahsyat: yang mustahil menjadi niscaya. Kemudian Ester mengajukan permohonan agar raja dan Haman datang ke perjamuan yang diadakan- nya. Dalam perjamuan itu Ester kembali mengajukan permohonan agar raja dan Haman bersedia datang lagi ke perjamuan di esok harinya. Haman sangat senang karena dianggap ‘sangat istimewa’ dan menceritakan kepada keluarganya tentang “ge-er”-nya itu. Namun kesenangannya itu terhapus karena ia tetap dengki kepada Mordekhai yang masih tetap tidak mau menghormatinya. Kedengkian menghilangkan sukacita! Isteri Haman dan teman-temannya menyarankan agar Haman membuat tiang gantungan yang nantinya bisa digunakan untuk menghukum Mordekhai. Haman menyetujuinya (Ester pasal 5). Orang yang sedang dengki biasanya berpikiran pendek. Apapun usul orang lain yang mendukung kedengkiannya pasti akan langsung disetujuinya. Ia tidak pernah berpikir kalau-kalau tindakannya itu akan menjadi bumerang atau ‘senjata makan tuan’ baginya. Jadi sebaiknya buang jauh-jauh rasa dengki itu.-

 

PA – 602. Suatu kali raja Ahasyweros tidak bisa tidur dan ingin melihat catatan sejarah kerajaan. Di sana ia menemukan bahwa Mordekhai telah berjasa, namun belum mendapatkan pahala dari raja. Ia menanyakannya ke Haman – musuh Mordekhai – mengenai pahala apa yang patut diberikan kepada ‘pahlawan kerajaan’ tersebut. Haman menduga bahwa yang dimaksud raja adalah dirinya, sehingga ia mengusulkan agar kepada ‘orang itu’ dikenakan jubah raja, dan diberi mahkota, kemudian diarak melalui lapangan kota. Raja menyetujuinya dan Haman ‘kecele’, sebab yang dimaksud raja adalah Mordekhai, bukan Haman (Ester pasal 6). Dari kisah ini ada beberapa pelajaran pentng: (1) jasa kebaikan kita terhadap orang lain satu kali pasti akan membuahkan hasil, tinggal tunggu waktu, tak perlu menuntut; (2) jangan memiliki rasa ‘geier’ (gedhe rumangsa) jika ada pujian yang disampaikan kepada kita. Tetaplah rendah hati dan berpikir logis; (3) jika Tuhan yang meninggikan, tak ada yang bisa merendahkan. Jadi kita harus tetap yakn bahwa rencana Tuhan indah bagi kita.-

 

PA – 603. Haman dan raja Ahasyweros kembali menghadiri acarra perjamuan yang diadakan Ester. Pada saat itulah Ester berkata bahwa Haman berupaya membasmi bangsa Yahudi. Raja murka, apalagi setelah ia melihat Haman berlutut di katil tempat Ester berbaring dengan menduga Haman hendak menggagahi sang ratu. Haman akhirnya dihukum mati dengan digantung pada tiang gantungan yang dibuatnya sendiri, yang tadinya dibuat oleh Haman untuk menggantung Mordekhai (Ester pasal 7). Akhirnya kejahatan dikalahkan oleh kebenaran. Jika ada orang yang berniat jahat atas kita, jangan membalas dengan kejahatan, melainkan serahkan pada Tuhan yang pasti membela orang benar. Pelajaran lain: upaya mencelakai orang lain bisa menjadi bumerang mencelakai diri sendiri, menjadi ‘senjata makan tuan’. Oleh sebab itu jangan mau menjadi hamba dosa dan kejahatan, melainkan jadilah hamba Allah, hamba kebenaran!

 

PA – 604. Di akhir pergumulan antara mati dan hidup akibat ancaman Haman yang mau membasmi umat Tuhan, Ester masih memperjuangkan hingga tuntas sampai benar-benar umat Tuhan pasti aman. Raja Ahasyweros mengeluarkan perintah atas permintaan Ester agar umat Tuhan yang ada di kerajaan-Nya dilindungi sebaik-baiknya. Akibatnya, umat Tuhan bersukaria dan bersyukur kepada Tuhan sebab Ia telah mengaruniakan pembelaan dan kemenangan bagi umat-Nya (Ester pasal 8). Pertolongan Tuhan atas kita disebabkan oleh banyak faktor: (1) Tuhan yang berkenan menolong kita (2) Ada orang yang bersedia dipakai Tuhan, seperti Mordekhai dan Ester (3) Ada penguasa yang adil dan bijaksana seperti Raja Ahasyweros (4) Ada umat Tuhan yang banyak berdoa dan berpuasa meminta campur tangan Tuhan. Keempat faktor ini juga bisa berdampak dalam kehidupan kita di masa kini. Percayalah … di balik tantangan akan ada kemenangan, jika kita bersama Tuhan!

 

PA. 605. Festival and Celebration! Ini adalah kata-kata yang penting untuk dilakukan setelah mengalami kemenangan dalam pergumulan hidup bersama Tuhan. Kemenangan umat Tuhan atas rencana kejahatan pembasmian etnis Yahudi oleh Haman harus terus diingat dan disyukuri. Itulah sebabnya ditetapkan oleh Mordekhai sebuah hari raya, namanya Hari Raya Purim (dari kata Ibrrani “Pur” yang artinya “undi” – Ester 3:7; pasal 9-10). Inti dari setiap mengadakan syukuran bagi orang Kristen senada dengan yang ada di Alkitab, yaitu: (1) mengucapkan syukur atas segala pertolongan Tuhan; (2) merupakan sarana kesaksian bagi mereka yang hadir agar ikut dikuatkan imannya, (3) memberikan pengharapan bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar, sekalipun didahului dengan pergumulan yang tidak mudah, (4) menyenangkan hati Tuhan sebab Ia memuji dan semakin memberkati orang yang suka mengucap syukur. Rayakan juga setiap event penting dalam keluarga Anda: ulang tahun, anniversary pernikahan, keberhasilan dalam bisnis, kenaikan jenjang karier, kelulusan anak dari jenjang studi, dan sebagainya. Tidak harus mahal, yang penting maknanya. Jadikan event-event itu sebagai momen kebersamaan dan kerendahan hati atas segala penyertaan Tuhan dalam hidup ini.-

 

PA – 606. Mulai nomor ini dan seterusnya kita akan beralih ke Kitab AYUB. Dalam membahas kitab Ayub ini saya tidak membahasnya pasal demi pasal, tapi konsep demi konsep tokoh-tokoh manusia yang ada di dalamnya, yaitu: Ayub, Elifas, Bildad, Zofar, dan Elihu. Pertama kita lihat dulu kondisi kehidupan Ayub: saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan, memiliki 3 putra dan 7 putri, dan terkaya di Dunia Timur (memiliki 7000 ekor kambing domba, 3000 ekor unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, sangat banyak budak). Ia juga menjadi imam bagi keluarganya, berdoa syafaat dan menguduskan anak-anaknya (Ayub 1:1-5). Bisa dipastikan bahwa ia adalah seorang yang sangat sbuk dalam mengatur semuanya. Namun ia masih bisa menyeimbangkan urusan jasmani (aspek horizontal) dengan rohani (aspek vertikal). Bagaimana dengan kita? Jangan timpang dengan mengabaikan salah satunya. Keduanya penting untuk urusan dunia dan akhirat. Atur waktu untuk bekerja dan beriibadah, untuk memenuhi kebutuhan jasmani, dan batiniah (jiwani dan rohani).–

 

PA – 607. Bagaimana Ayub bisa memiliki kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani? Ternyata itu sudah dipupuk sejak ia masih muda usia. Sejak masa remajanya, ia sudah bergaul karib dengan Allah. Kata ‘bergaul karib’ berarti ‘walk in conversation with’ (berjalan bersama dan berkomunikasi dua arah dengan) Allah (Ayub 29:4). Hubungan yang intim dengan Allah bukan suatu hal yang mudah dan instan. Harus mulai dibina dan dibiasakan sejak kecil dan sejak usia remaja. Jika orang muda dibimbing dan dilatih untuk hidup dengan Allah, maka pada masa tuanya ia tidak akan menyimpang (Amsal 22:6). Perlu displin dan komitmen yang tinggi bagi orang tua dan anak, bagi seluruh keluarga. Jika tidak dari sekarang, kapan lagi?

 

PA – 608. Apakah yang dilakukan Ayub dengan kekayaannya itu? Ada banyak orang kaya yang tidak tahu bagaimana menggunakannya. Ada yang menggunakannya untuk berbuat dosa, ada pula yang menggunakannya untuk kepentingannya sendiri saja. Ayub tidak demikian! Ia tahu bahwa kekayaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya harus disalurkan kepada orang lain. Diberkati untuk menjadi berkat. Inilah yang dilakukan Ayub dengan kekayaannya: (1) menolong orang yang sengsara dan mendirikan panti asuhan anak piatu; (2) pelayanan diakonia bagi para janda; (3) mendirikan klinik dan rumah sakit berbiaya murah; dan (4) mendirikan lembaga bantuan hukum bagi yang tertindas (Ayub 29:12-17). Bagaimana dengan Anda?

 

PA – 609. Banyak orang berpendapat, termasuk si Iblis, bahwa kalau Ayub bisa memiliki rohani yang baik dan mudah bersyukur kepada Tuhan, itu karena Tuhan memberkatinya. Itu karena kehidupan Ayub mulus, tak ada pergumulan yang berarti. Pendapat ini logis. Semua orang bisa bersyukur karena segala hal baik yang ia alami, namun sangat sulit jika sesuatu yang buruk terjadi. Bagaimana kalau semua yang ada pada Ayub tidak ada lagi? Tuhan ‘mengijinkan’ Iblis melakukan sesuatu terhadap Ayub untuk membuktikan bahwa Ayub akan tetap takut akan Allah sekalipun segala-galanya diambil dari hidupnya (Ayub 1:9-11). Tetapi ‘ijin’ Tuhan bagi Iblis dibatasi. Iblis tidak dapat berbuat sekehendak hatinya untuk mengambil nyawa Ayub. Hal hidup dan mati ada dalam otoritas Tuhan, bukan Iblis. Dengan ‘ijin’ itu maka Alkitab menyatakan bahwa Allah superior, jauh di atas segala-galanya. Semua ada dalam pengendalian-Nya. Ia bisa menggunakan banyak orang, cara dan alat, untuk membentuk kehidupan kita. Hidup kita bukan di tangan orang, juga bukan di tangan kuasa kegelapan, melainkan di tangan Tuhan.-

 

PA – 610. Tiga ‘bencana’ yang didatangkan oleh Iblis terhadap Ayub atas ‘ijin’ Tuhan adalah: kehilangan harta benda, kehilangan semua anaknya, dan kehilangan kesehatannya. Tanggapan Ayub, “… TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil. Terpujilah nama TUHAN.” (Ayub 1:21). Ini adalah tanggapan yang benar, yang hanya bisa diberikan oleh orang yang dewasa rohani. Ayub sadar betul bahwa ia datang tidak membawa apa-apa ke dala dunia ini, demikian pula jika ia meninggalkan dunia ini. Apa yang ada padanya bukan miliknya secara mutlak, melainkan ‘titipan’ Tuhan, yang harus dikelola dan digunakan sebaik-baiknya bagi Tuhan dan sesama. Tuhanlah Sang Pemilik Mutlak. Jika Ia berkehendak mengambilnya, kita harus merelakannya dengan meminta kekuatan dari pada-Nya. Yang penting, Tuhan tidak hilang dari hidup kita. Dialah ‘harta’ yang paling berharga dalam hidup ini.-

 

PA – 611. Tanggapan Ayub terhadap penderitaan yang dialaminya tidak sama dengan tanggapan isterinya. Ia berkata agar Ayub, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! ” (Ayub 2:9). Ada yang berkata bahwa perempuan lebih rohani dari laki-laki. Ternyata pandangan tersebut tidak benar! Terbukti dalam keluarga Ayub. Isteri Ayub tidak tahan terhadap penderitaan yang datang bertubi-tubi dalam keluarganya. Di sisi kemanusiaan isteri Ayub bisa dimaklumi, tetapi di sisi kerohanian, ia jelas tidak dewasa rohani. Untunglah Ayub merupakan suami yang tetap kukuh imannya. Ia tidak mengutuki Allah, melainkan justru memberi arahan pada isterinya, “… Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Berarti Ayub benar-benar imam bagi keluarganya. Pada masa kini banyak suami yang ‘lemah’, diatur dan dikendalikan oleh isterinya. Banyak suami korupsi karena tidak tahan ‘diomeli’ isterinya. Seharusnya para suami tetap berpegang pada firman Tuhan dan membimbing isterinya untuk dekat pada Tuhan dan belajar bersyukur dalam segala hal. Itulah yang dikehendaki Allah bagi para suami.-

 

PA – 612. Kini mari kita melihat pandangan Ayub atas penderitaan yang dialaminya. Ia berkata bahwa apa yang ditakutkan, itulah yang menimpanya, dan yang dicemaskan, itulah yang mendatanginya (Ayub 3:25). Berarti sebagai manusia Ayub tidak lepas dari adanya ketakutan (fear), dan kecemasan (anxiety). Inilah beberapa fakta tentang ketakutan dan kecemasan (1) Seseorang bisa takut dan cemas karena ia adalah manusia yang terbatas. Ia membutuhkan Tuhan. Oleh sebab itu di saat kita takut kita semakin percaya kepada Tuhan (Maz. 56:4). (2) Ia terlalu banyak membaca, mendengar atau melihat berita tentang hal-hal yang mencemaskan. Seharusnya diimbangi dengan berita firman yang menguatkan dan menghibur (Maz. 19:8a). (3) Allah tak pernah memberi roh ketakutan, tapi roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban (2 Tim. 1:7).-

 

PA – 613. Selanjutnya Ayub berkata demikian, “Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat- lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus (Ayub 6:10). Luar biasa, bukan? Bagaimana kita dapat tetap bersukacita dalam penderitaan? (1) Tahu bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan di dunia yang berdosa ini, yang tidak bisa dihindari. (2) Tahu bahwa penderitaan bukan final/akhir, melainkan suatu proses (3) Tahu bahwa dala penderitaan ada banyak pelajaran berharga yang membuat kita lebih bijak. (4) Tahu bahwa dalam penderitaan kita bisa lebih dekat kepada Tuhan agar Ia menguatkan kita. (5) Tahu bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan kita pada saat kita menderita.-

 

PA. 614. Ayub juga mengatakan, “Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya (Ayub 7:9-10). Ketika seseorang meninggal, maka ia akan berada di suatu tempat ‘transit’. Jika ia adalah anak Tuhan dan hidup dalam kebenaran, maka ia akan berada di Firdaus. Ia berada di sana untuk sementara waktu, sama seperti orang yang akan menerima pahala dari raja, untuk sementara diinapkan di hotel berbintang. Ia pasti akan menerima pahala itu tetapi belum tahu sebesar apa. Ia calon penghuni sorga … selama-lamanya. Sebaliknya, jika ia tidak mengenal Tuhan dan hidup dalam dosa, maka ia akan berada di Alam Maut. Ia berada di sini seperti di rumah tahanan. Ia tidak bisa didoakan agar Tuhan eindahkannya ke Firdaus. Oleh sebab itu doa untuk orang mati tidak boleh dilakukan orang Kristen. Sesudah perkaranya diputus, ia akan dipindahkan ke penjara neraka … selama-lamanya. Jadi, orang yang sudah mati tidak akan bertamu, dolan, atau keluyuran ke mana-mana. Jika kita sepertinya pernah ‘didatangi’ oleh teman atau anggota keluarga kita yang sudah meninggal, hati-hati. Itupasti Iblis dan setan-setan yang datang untuk mengganggu dan menipu kita. Waspadalah!

 

PA – 615. Dalam Ayub pasal 9, Ayub menjelaskan tentang kedaulatan Allah. Ia berkata, “Allah itu bijak dan kuat, siapa dapat berkeras elawan Dia, dan tetap selamat?” (Ayub 9:4). Manusia pada zaman kini yang hidup di era demokrasi (pemerintahan di tangan rakyat) agak sulit menerapkan prinsip theokrasi (pemerintahan di tangan Allah). Dalam demokrasi ada kebebasan berbicara dan bertindak, bahkan melakukan protes atau unjuk rasa apabila ada keputusan pemerintah yang dianggap tidak memuaskan rakyat. Dalam theokrasi, manusia harus menerima apapun keputusan Tuhan. Apakah dengan demikian lalu Tuhan bertindak semena-mena? Tidak mungkin! Karena: (1) keputusan Tuhan bersifat kekal dan obyektif, keputusan manusia fana dan subyektif. (2) keputusan Tuhan benar, baik dan sempurna seluruhnya, keputusan manusia sering salah, tidak baik dan tidak sempurna. (3) keputusan Tuhan demi kebaikan kita, keputusan manusia demi kebaikan diri dan kelompoknya. (4) keputusan Tuhan adil dan tidak emihak, keputusan manusia sering tidak adil dan sering memihak. Oleh sebab itu belajarlah berserah, menerima dan bersyukur atas apapun keputusan Tuhan dalam hidup kita, termasuk jawaban-Nya atas doa-doa kita.-

 

PA – 616. Ayub berkata, “Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.” (Ayub 10:12). Dalam King James Version (KJV) disebutkan, “Thou hast granted me life and favour, and thy visitation hath preserved my spiriit”. Kata ‘grant’ berarti ‘mengakui’ atau ‘menanggung’. Tuhan yang menganugerahkan, mengakui dan menanggung kehidupan dan perkenanan. Ia melakukan ‘kunjungan’ (visitasi) guna menyegarkan roh kita. Dua kata kerja ‘to grant’ dan ‘to visit’ yang Tuhan lakukan atas hidup kita sangatlah penting dala hidup ini. “To grant’ bukan saja memberi tetapi di dalamnya ada jaminan. Tuhan memberi dan menjamin kehidupan kita dan memberikan perkenanan kepada kita untuk datang menghampiri dan menyembah-Nya. Perkenanan itu diberikan bukan karena kebenaran kita sendiri, melainkan karena karya pembenaran yang Yesus Kristus di kayu salib. Tuhan juga berkenan mengunjungi kita setiap saat, untuk memberikan pertolongan kepada kita. Jika ada badai yang menerpa kehidupan kita, serahkan pada-Nya, maka Ia akan bertindak meredakannya.-

 

PA – 617. Ayub juga berkata, “Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.” (Ayub 12:12-13). Memang pada umumnya, karena orang yang tua dan yang lanjut umurnya lebih banyak makan asam garam kehidupan ini, maka mereka dianggap memikili hkmat (wisdom) dan pengertian (understanding) yang lebih baik dibandingkan orang-orang muda. Namun, Ayub tidak menyatakan bahwa itu sepenuhnya benar. Masih ada hikmat dan pengertian yang jauh lebih baik dari yang dimiliki para orang tua, yaitu hikmat dan pengertian dari Allah sendiri. Bahkan ada bonusnya yaitu kekuatan (strength). Dari mana kita memperoleh hikmat, pengertian dan kekuatan dari Allah ini? Dari firman Tuhan! Firman Tuhan dapat memberikan hikmat kepada kita (2 Timotius 3:15). Ia juga memberikan pengertian dan kekuatan (Mazmur 119:98-100). Oleh sebab itu persekutuan dengan firman Tuhan setiap hari akan membuat kita lebih bjaksana, lebih berpengertian, dan lebih kuat.-

 

PA – 618. Ayub berkata, “Berapa besar kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu.” (Ayub 13:23). Saat Ayub menderita, maka diagnosa pertamma yang dilakukannya adalah menginrospeksi diri. Jika memang ada kesalahan, mengaku dan meminta pengampunan Tuhan. Dalam tempo yang tidak lama maka kita akan dipulihkan-Nya. Tapi jika memang tidak bersalah, maka penderitaan itu merupakan ujian man kita. Tidak perlu mencai-cari kesalahan diri. Begitu ‘lulus’ ujian tersebut pemilihan pasti datang. Yang sama sekali tidak boleh dilakukan saat kita menderita adalah menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan Tuhan. Memang nampaknya lebih mudah menyalahkan orang lain dari pada dii sendiri. Tapi kalau hal itu terus kita lakukan, dan tidak pernah mengintrospeksi diri maka kita sama seperti orang yang dikatakan Yesus ‘menghakimi’ orang laiin. Bukankah ada pepatah “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak”? (Bdk. Matius 7:3-5).-

PA – 619. Ayub berkata, “maka Engkau akan memanggil, dan akupun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan- Mu.” (Ayub 14:15). Pada saat Ayub menderita, ia masih memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan yang memanggilnya. Pertama, Tuhan bisa memanggil kita seperti ketika Ia memanggil Adam, yaitu untuk menegur sekaligus menolong agar masalah dosa terselesaikan, dan penderitaan berakhir. Kedua, Tuhan juga bisa memanggil kita seperti ketika Ia memanggil Musa, yaitu untuk bersekutu dengan-Nya. Ini adalah kerinduan hati Tuhan yang terdalam. Ketiga, Tuhan bisa memanggil kita untuk menjadi mitra kerja-Nya, memberitakan Injil-Nya dan menggembalakan domba-domba- Nya. Ia ‘membutuhkan’ kita untuk menggenapi rencana-Nya. Keempat, Ia juga bisa memanggil kita sewaktu-waktu untuk pulang ke rumah Bapa. Sudahkah kita siap?

PA – 620. Ayub berkata, “Ketahuilah, sekarang pun juga, Saksiku ada di sorga, yang memberi kesaksian bagiku ada di tempat yang tinggi.” (Ayub 16:19). Keberadaan saksi sangat penting dalam memutuskan suatu perkara. Sayangnya, saksi di dunia ini tidak semuanya jujur dalam menyampaikan kebenaran. Ada yang berdusta karena diancam, ada pula yang bersaksi dusta karena dibayar. Ayub mengadakan introspeksi diri dan mendapati dirinya benar di hadapan Allah, namun sejumlah sahabatnya meragukannya. Siapa yang benar-benar tahu tentang kesalehan Ayub? Hanya Allah saja! Itulah sebabnya jika kita hidup benar tetapi diragukan orang, kita tidak perlu melakukan pembelaan diri atau mencari saksi-saksi manusia yang mendukung kita. Jauh lebih baik jika kita mengandalkan Tuhan sebagai Saksi kita yang Mahatahu. Oleh sebab itu berkatalah ‘ya’ di atas ‘ya’ dan ‘tidak’ di atas ‘tidak’, sebab selebihnya adalah dari kuasa kegelapan (Matius 5:37). Artinya selalu bersikap dan berkata jujur dengan acuan: Tuhanlah Saksinya!

 

PA – 621. Ayub berkata, “Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat.” (Ayub 17:9). Sebutan ‘orang benar’ pada zaman Ayub, adalah orang yang menyembah Tuhan dengan memberikan korban-korban sembelihan, serta berusaha dengan segenap tenaga agar hidupnya sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan ‘orang benar’ pada masa kini adalah orang yang menerima karya pembenaran Allah di dalam Yesus Kristus, lalu dalam iman kepada Kristus ia hidup dalam ketaatan kepada firman. Status sebagai ‘orang benar’ nampak dalam perbuatan nyata, yakni ‘bersih tangannya’. Artinya, perbuatannya sesuai dengan statusnya. Status sebagai ‘orang Kristen’ ditandai dengan perbuatan yang sama seperti yang Yesus Kristus lakukan! Jika memang demikian, maka janji Tuhan akan berlaku, di mana ia akan tetap jalannya, dan bertambah kuat!

 

PA – 622. Ayub berkata, “Tetapi aku tahu: Penebusku hidupn dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu … mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” (Ayub 19:25-27). Di balik misteri ketidakmengertian Ayub, ia tetap percaya kepada Allah, bahwa Ia baik! Imannya tidak didasarkan pada apa yang dialaminya, melainkan pada kebenaran tentang siapa Allah. Iman seperti ini adalah iman yang dewasa, yang membuat seseorang tidak mengeluh sekalipun mengalami penderitaan, melainkan akan tetap bersyukur. Iman yang meyakini keadilan Tuhan, bahwa Ia tidak akan merencanakan yang jahat sedikit pun kepada umat-Nya. Yang menjadi kerinduan Ayub bukan hanya pada proses pemulihan hidupnya, melainkan pada Sang Pemulih itu sendiri. Ia merindukan Sang Penyembuh lebih dari kesembuhan itu sendiri; rindu kepada Sang Sumber Berkat lebih dari berkat itu sendiri.-

 

PA – 623. Ayub menyatakan bahwa orang fasik (orang yang tak ber-Tuhan) berkata kepada Allah: “Pergilah dari kami! Kami tidak suka mengetahui jalan-jalan-Mu. Yang Mahakuasa itu apa, sehingga kami harus beribadah kepada-Nya, dan apa manfaatnya bagi kami, kalau kami memohon kepada-Nya?” (Ayub 21:14-15). Dari pernyataan ini berarti orang fasik itu: (a) bodoh karena tidak mengenal Tuhan, (b) angkuh karena merasa tidak perlu Tuhan, (c) berdosa kaena tidak mau menaati firman Tuhan. Kita harus menjadi orang benar, bukan orang fasik. Orang benar itu: (a) memiliki hikmat karena mengenal Tuhan, (b) rendah hati karena membutuhkan pertolongan-Nya, (c) diselamatkan karena anugerah Tuhan yang diikuti oleh ketaatan terhadap firman-Nya.-

 

PA – 624. Ayub berkata, “Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat Ia bersemayam” (Ayub 23:3). Ungkapan “mencari Tuhan” bukan berarti Tuhan hilang sehingga Ia harus dicari, kaena Ia Mahahadir. Ungkapan itu menunjukkan kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya. Kerinduan itu sendiri merupakan tanda kasih. Ketika seseorang sedang memadu kasih, mereka saling rindu satu sama lain untuk berjumpa dan berkomunikasi. Namun jika kasih tidak ada lagi, maka kerinduan pun akan sirna. Bahkan untuk bertemu saja bisa merupakan suatu beban yang amat berat. Bagaimana bisa tetap memiliki kerinduan yang membara kepada Tuhan? (1) Pelihara dan pertumbuhkan kasih kita kepada-Nya, karena Ia telah lebih dulu mengasihi kita (2) Menyadari bahwa tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa (3) Mengerti bahwa ketika kita berjumpa dengan-Nya dalam iman, maka beban hidup ini akan diangkat-Nya, dan kita beroleh kelegaan (4) Menempatkan Tuhan di tempat yang utaa, sehingga Saat Teduh bersama-Nya menjadi prioritas setiap hari. (5) Bertekad untuk hidup berkenan dan menyenangkan hati-Nya senantiasa.-

 

PA – 625. Ayub juga berkata “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10). Allah yang Mahatahu pasti mengetahui keberadaan kita secara total. Itu berarti Ia tahu segala pergumulan hidup kita, tahu segala motivasi yang terdalam di hati kita, tahu segala yang kita lakukan dan katakan. Berarti kita tak perlu kuatir sekaligus harus hati-hati sebab tak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Kedua, Ia menguji kita dengan tujuan memurnikan iman kita. Proses pengujian itu berat, digambarkan seperti orang memurnikan emas. Namun jika kita meminta kekuatan dari Roh Kudus agar mampu bertahan dalam ujian itu, maka kita akan lulus. Sebaliknya, jika kita tidak lulus-lulus, maka di manapun kita berada, ujian itu akan terus kita hadapi, sampai kita lulus. Oleh sebab itu jauh lebih baik jika kita lulus saat ujian kesabaran, kasih, kejujuran, kebenaran, dan sebagainya datang atas hidup kita. Nilai kelulusan seperti emas … berharga mahal di hadapan Allah dan manusia.-

 

PA – 626. Ayub berkata, “Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya.” (Ayub 23:14). Ayub berbicara tentang rencana Tuhan yang indah dan tak berubah dalam hidupnya. Allah yang merencanakan yang baik itu adalah Allah yang sanggup menggenapinya juga. Kalaupun ada dalam hidup ini hal-hal yang nampaknya tidak menyenangkan dan mendatangkan penderitaan, Allah sanggup mengubahnya menjadi kebaikan demi menggenapi rencana-Nya itu. Yang Tuhan rindukan dari kita hanya satu hal: percaya kepada-Nya bahwa tak ada satu pun maksud jahat dalam rencana-Nya itu. Ketidak-percayaan akan kebaikan Tuhan justru membuat kita selalu hidup dalam kekuatiran dan tidak memiliki damai sejahtera.-

 

PA – 627. Ayub juga berkata “Ada lagi golongan yang memusuhi terang, yang tidak mengenal jalannya dan tidak tetap tinggal pada lintasannya” (Ayub 24:13). Yang dimaksud dengan terang adalah kebenaran, kejujuran, kebaikan, dan hal-hal lain yang diajarkan firman Tuhan. Itu adalah standar Tuhan Yesus Kristus. Ia adalah Terang Dunia. Kita pun dikatakan adalah garam dan terang. Jika seseorang membenci terang, maka: (1) ia tetap berada dalam kegelapan, (2) ia berniat menghancurkan terang, (3) ia tidak bisa memancarkan terang, (4) ia tidak bisa tinggal di dalam sorga, sebab sorga iti terang adanya. Allah tak pernah menciptakan kegelapan. Kegelapan berarti “tidak adanya terang”. Oleh sebab itu tetaplah tinggal dalam terang firman Tuhan. Niscaya kita tidak akan tinggal dalam kegelapan.-

 

PA – 628. Ayub juga berkata, “…betapa lembutnya bisikan yang kita dengar dari pada-Nya! Siapa dapat memahami guntur kuasa-Nya?” (Ayub 26:14). Artinya, pribadi dan sifat Tuhan, Allah kita, memliki dua sisi yang sama indahnya. Sisi kelembutan seperti bisikan, dan sisi kekuatan seperti guntur. Dalam pelayanan-Nya Yesus Kristus pun menampakkan kedua sisi ini: dengan lembut ia berkata kepada perempuan berdosa, “Aku pun tidak menghukum engkau, jangan berbuat dosa lagi”, namun Ia juga memiliki kekuatan menjungkirbalikkan meja para penukar uang di halaman Bait Allah. Ia bagaikan Anak Domba yang lemah tak berdaya, namun sekaligus Singa dari Yehuda yang perkasa. Terhadap orang benar Ia begitu lembut, terhadap orang berdosa yang tidak mau bertobat Ia begitu tegas! Dua sisi ini sangat kita butuhkan dalam hidup kita, dan dapat kita teladani dalam hidup ini. Sikap lembut dan tegas akan menjadi berkat bagi banyak orang jika ditunjukkan pada waktu dan tempat yang tepat!

 

PA – 629. Ayub juga berkata, “Aku akan mengajari kamu tentang tangan Allah, apa yang dimaksudkan oleh Yang Mahakuasa tidak akan kusembunyikan.” (Ayub 27:11). Belajar dan mengajar adalah kewajiban orang percaya. Setiap hari kita harus mau belajar lebih dulu dari firman Tuhan, yang akan membuat kita lebih berhikmat, lebih berakal budi, dan lebih berpengertian (Maz. 119:98- 100). Sambil belajar kita juga harus mau mengajar orang lain, dimulai dari keluarga kita dulu. Mengajar memiliki tiga aspek pentng: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), psikomotor (tindakan). Tujuannya adalah agar keluarga kita dan semua orang: tahu kebenaran (to know), melakukan kebenaran (to do), menjadi orang benar (to be), membagikan hidup dalam kebenaran (to live together). Jika bukan sekarang kita belajar dan mengajar .. kapan lagi?

 

PA – 630. Ayub berkata, “ketika itulah Ia melhat hikmat, memberitakannya, menetapkannya, bahkan menyelidikinya.” (Ayub 28:27) yang dimaksud dengan ‘hikmat’ di sini adalah ‘takut akan Tuhan’ (ayat 28). Kita harus memberitakan kepada semua orang termasuk keluarga kita sendiri. Ada resiko kita disalahmengerti atau dbenci, namun harus tetap kta lakukan dengan penuh kasih. Kita juga harus menetapkan takut akan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hdup ini. Setiap saat kita juga harus menyelidiki hikmat Allah ini. Orang yang memiliki hikmat Tuhan akan mampu mengambil keputusan yang terbaik, yaitu solusi win-win, sehingga tak ada seorang pun yang dirugikan.-

 

PA – 631. Ayub berkata, “Aku menentukan jalan mereka dan duduk sebagai pemimpin; aku bersemayam seperti raja di tengah-tengah rakyat, seperti seorang penghibur mereka yang berkabung.” (Ayub 29:25) itu berarti Ayub memiliki kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Ia tidak dipengaruhi orang lain. Sebaliknya, ia memengaruhi mereka dengan nilai-nilai luhur. Nasihatnya didengar dan dituruti, keberadaannya mampu mengayomi orang kecil sehingga mereka merasa nyaman dan aman. Jangan jadi orang yang menebar ‘teror’ ketakutan. Jadilah orang yang mendatangkan kesejukan. Bahkan kata-kata yang disampaikan mampu membangun semangat orang lain, menghibur mereka yang berduka. Sudahkah hidup kita berdampak secara positif bagi sekitar kita?

 

PA. 632. Ayub berkata, “Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku.” (Ayub 30:20). Tentu kita pernah mengalami hal seperti itu, di mana doa-doa kita sepertinya tidak terjawab. Mengapa ada doa yang tak terjawab? (1) Karena ada dosa (Yes. 59:1-2); (2) Karena yang diminta hendak dihabiskan untuk memuaskan hawa nafsu kita (Yak. 4:3); (3) Belum tepat menurut waktu Tuhan (Pengkh. 3:11); (4) Tidak sesuai dengan kehendak Bapa (Mat. 20:21-23); (5) Ujian iman (kasus Ayub). Untuk itu setelah berdoa kita berserah kepada Tuhan dalam iman. Apapun jawaban doa yang kita terima membuktikan Tuha itu baik. Tak perlu marah, kecewa, menggerutu, dan sebagainya. Doa harus selalu disertai dengan pengucapan syukur (Flp. 4:6).-

 

PA – 633. Ayub berkata, “Bukankah Ia, yang mebuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kam dalam rahim?” (Ayub 31:15). Artinya, pertama: Alkitab menentang pengguguran kandungan dengan alasan apapun juga, karena aborsi sama dengan membunuh! Jika menghadapi pilihan yang dilematis: memilih antara ibunya yang bisa mati atau anaknya yang bisa mati, biar Tuhan yang memilih. Upaya medis dilakukan bukan untuk menentukan hak hidup atau mati seseorang. Kedua, Ayub memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Ia menganggap dirinya sejajar dengan orang lain, sehngga ia menghormati dan mengasihi semua orang, termasuk budak-budak. Ayub tidak membeda-bedakan, tidak rasial! Warna kulit atau status sosial hanya ‘baju luar’ saja, semua orang sama berharganya di hadapan Tuhan.-

PA – 634. Elifas, sahabat Ayub berkata, “Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ayub 4:8). Yang dikatakannya adalah “Hukum Tabur Tuai seperti yang terdapat dalam Galatia 6:7 “… Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Di satu sisi prinsip ini benar sebab ajaran firman Tuhan. Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita lakukan, sebab ada akibatnya masing-masing. Namun, dalam hidup ini terkadang ada perkecualian: orang yang berbuat jahat ternyata hidupnya makmur (misalnya Nabal), sedangkan orang yang berbuat baik mengalami sengsara dan penderitaan (misalnya; Ayub dan Yesus Kristus sendiri). Berarti di samping Hukum Tabur Tuai ada Hukum Kasih Karunia, yaitu ‘menanggung penderitaan yang sebenarnya tidak harus kita tanggung’. Terkadang kita menderita sekalipun berbuat benar. Tetaplah kuat sebab itu memuliakan Tuhan (1 Petrus 2:19-20).-

 

PA – 635. Elifas, sahabat Ayub, juga berkata, “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula.” (Ayub 5:17-18). Ucapan Elifas ini mengingatkan kita bahwa kita mempunyai Bapa yang baik, yang menyadarkan kita. Roh Kudus-Nya menginsyafkan kita tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh. 16:8). Saat kita ditegur lewat firman yang kita dengar, atau lewat pengalaman hidup yang nyata, kita harus segera sadar. Jangan keraskan hati. Namun, hal ini tidak berlaku sebaliknya. Artinya, saat seseorang mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, jangan langsung dihakimi bahwa pasti ia sedang dihukum Tuhan karena dosa dan kesalahannya. Bisa saja orang itu hidup benar, namun Tuhan sedang menguji imannya. Contoh: para murid menghadapi badai gelombang di Danau Galilea. Apakah itu akibat dosa mereka? Tidak! Melainkan karena Tuhan Yesus sedang menguji iman mereka, dan sedang menunjukkan kemahakuasa- an-Nya atas alam supaya mereka semakin percaya kepada-Nya!

 

PA – 636. Elifas, sahabat Ayub, juga berkata “dan apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, maka sungguh- sungguh engkau akan bersenang- senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah.” (Ayub 22:25-26). Pandangan Elifas ini disukai banyak orang di mana prinsipnya adalah: jika Tuhan kita prioritaskan maka hidup kita akan nyaman dan lancar-lancar saja. Itu benar sebab Matius 6:33 juga berkata demikian: Cari dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepada kita! Namun demikian, ada kalanya orang yang sudah sungguh- sungguh dengan Tuhan masih mengalami banyak penderitaan. Bagaimana sikap kita? Tetaplah mengasihi Tuhan, seperti pemazmur katakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama- lamanya” (Mazmur 73:19).- Ini adalah standard Alkitab bagi kedewasaan rohani.-

 

PA – 637. Bildad, sahabat Ayub berkata, “Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.” (Ayub 8:5-6). Bildad menyatakan hal tersebut berdasarkan pengalaman dan rekaman sejarah, bukan pada kedaulatan Tuhan. ‘Biasanya’ memang begitu. ‘Pada umumnya’ demikian. Tetapi Tuhan tidak diatur oleh ‘kebiasaan’ dan ‘pada umumnya’. Ia adalah Allah yang berdaulat penuh, yang hikmat-Nya tak terduga, yang menentukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya yang mulia. Tak dapat dduga. Tak bisa diterka. Namun satu hal yang pasti, rencana dan kehendak-Nya indah bagi kita. Selalu akan ada pemulihan, tetapi waktunya dan bentuknya bukan kita yang enetapkan, melainkan Tuhan sendiri. Yang dituntut dari kita adalah: percaya kepada-Nya seutuhnya!

 

PA – 638. Bildad, sahabat Ayub juga berkata, “Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang, begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah” (Ayub 18:21). Ada orang yang mengaku beragama dan taat menjalankan kewajiban agamanya. Tapi yang sebenarnya lebih penting adalah apakah kita ‘mengenal’ Allah? Kata ‘mengenal’ bukan sekedar tahu nama, sifat, dan karya Allah, tetapi memiliki hubungan yang intim dengan-Nya. Tahu benar rencana dan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Allah menghendaki pengenal akan diri-Nya ini melebihi apapun juga. Kita dapat mengenal Allah dengan benar melalui pewahyuan umum (alam, sejarah, hati nurani) dan pewahyuan khusus (Alkitab dan Yesus Kristus). Tanpa kedua hal itu pengenal kita terhadap Allah tidak lengkap dan tidak benar. Setelah kita mengenal-Nya, kita mengasihi-Nya, dan hidup menyenangkan hati-Nya. Jadilah Godly people, bukan Godless people!

 

PA – 639. Bildad, sahabat Ayub, berkata, “Bagaimana manusia benar d hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?” (Ayub 25:4). Ini adalah pernyataan yang senada dengan Roma 3:10 bahwa tdak ada seorang pun yang benar. Mengapa? Pertama, karena manusia mewarisi dosa Adam. Status seorang bayi yang lahir adalah berdosa! Ia bukan seperti ‘kertas putih’ melainkan ‘kain kotor’. Kedua, karena keberdosaannya itu maka kebenaran yang dihasilkannya tidak murni dan tidak mutlak benar. Ada cacat di dalamnya! Ketiga, karena manusia terbatas dalam memahami kebenaran Allah. Oleh sebab itu manusia membutuhkan ‘karya pembenaran’ oleh penebusan Yesus Kristus. Oleh darah-Nya kita dibenarkan. Ini merupakan kasih karunia yang kita terima dengan cuma-cuma (Roma 3:24). Dengan adanya perubahan status tersebut maka kita layak menghadap takhta kasih karunia Allah, diangkat menjadi anak-anak Allah dan menjadi ahli waris untuk mwnikmati berkat-berkat-Nya, sehingga satu kali kelak kita akan tinggal bersama dengan Dia di sorga.–

 

PA. 640. Zofar, sahabat Ayub berkata, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? …” (Ayub 11:7-9). Dalam memahami hakekat Allah, ada 3 kelompok orang: (1) Menganggap manusia sama sekali tidak mungkin memahami hakekat Allah. Ini disebut kelompok agnostik; (2) Menanggap manusia bisa memahami hakekat Allah hanya dari alam ciptaan-Nya atau dari penalaran/pemikirannya sendir. Ini disebut kelompok naturalis atau rasionalis; (3) Menganggap manusia bisa memahami hakekat Allah melalui penyataan Allah sendiri tentang pribadi, sifat, dan karya-Nya yang disebut dengan pewahyuan. Iman Kristani berada di kelompok 3 ini, di mana kita dapat memahami hakekat-Nya melalui Kitab Suci (Alkitab) dan pribadi Yesus Kristus. Pemahaman ini harus diperoleh dalam tuntunan Roh Kudus, sebab Dialah yang menyatakan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1 Korintus 2:10). Jika kita memahami hakekat Allah dengan benar, maka kita akan memiliki sikap yang benar pula, baik dalam ibadah (vertikal) maupun terhadap sesama (horizontal).-

 

PA – 641. Zofar, sahabat Ayub, juga berkata, “Dalam kemewahannya yang berlimpah-limpah ia penuh kuatir; ia ditimpa kesusahan dengan sangat dahsyatnya.” (Ayub 20:22). Zofar sedang berbicara tentang orang kaya yang fasik, yang tidak takut Tuhan, yang memperoleh kekayaannya dengan cara berdosa. Alkitab menyatakan bahwa Allah tidak anti terhadap orang kaya, tetapi Ia murka terhadap orang yang memperoleh kekayaannya atau menggunakannya dengan cara berdosa: (1) dengan mencuri milik orang lain, termasuk korupsi; (2) dengan tidak jujur, misalnya memalsukan barang atau membajak hasil karya orang lain; (3) dengan ilegal, yaitu menjual barang-barang terlarang, termasuk narkoba dan jual-diri; (4) dengan memeras orang lain, termasuk menggunakan tenaga buruh dan memangkas hak-hak mereka; (5) menggunakannya untuk kehidupan dalam dosa, termasuk perzinahan dan percabulan. Mari kita memperoleh berkat Tuhan dan menggunakannya dengan cara yang berkenan kepada-Nya.-

 

PA – 642. Elifaz, Bildad dan Zofar, ketiga sahabat Ayub, salah dalam menganggapi penderitaan Ayub. Kini Elihu, sahabat Ayun yang termuda berkata, “Aku tidak akan memihak kepada siapa pun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapa pun, karena aku tidak tahu menyanjung- nyanjung; jika demikiann maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku.” (Ayub 32:21-22). Sekalipun masih muda, Elihu memiliki hikmat dan etika yang baik. Pertama, ia tidak memihak siapa pun. Keberpihakan seseorang kepada orang lain bisa membuatnya subyektf. Jauh lebih baik jika kebenaran firman yang disampaikan. Kalau memang ada sahabat yang salah harus dinyatakan salah. Sebaliknya kalau ada yang benar – sekalipun orang itu tidak0 kita sukai – harus dinyatakan benar. Kedua, ia tidak menyanjung-nyanjung. Mengapa? Sebab ia tidak sempurna dalam melihat sesama manusia, dan sanjungan bisa membuat seseorang jatuh lalu yang menyanjung kecewa. Kita boleh memuji keberhasilan seseorang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, tetapi tidak boleh menyanjung atau mengidolakannya. Akibatnya bisa mendatangkan kejatuhan bagi orang itu dan bisa mengecewakan diri kita sendiri. Kembalikan segala pujian dan sanjungan hanya kepada Tuhan saja!

 

PA – 643. Elihu, sahabat Ayub juga berkata, “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.” (Ayub 33:4). Ada dua pandangan ekstrim tentang manusia di mana kedua-duanya salah. Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah ‘serpihan tubuh Allah’ seperti halnya air raksa. Satu kali kelak semuanya akan melebur menjadi satu. Ini disebut paham pantheisme: satu dalam semua, semua dalam satu. Kedua, manusia memiliki jiwa dan roh yang ‘dipenjara’ oleh tubuh. Untuk membebaskannya ada dua cara: keinginan tubuh harus ditolak, dirusak dan dihancurkan (asketisisme); atau sebaliknya, keinginan tubuh dipuaskan sepuas-puasnya (hedonisme). Alkitab mengajarkan bahwa tubuh ini bukan penjara tetapi ‘bait Roh Kudus’ (1 Korntus 3:16), tidak boleh dirusak atau dipuaskan semau-maunya, harus dikendalikan. Jiwa dan roh adalah hembusan nafas Allah yang sekali kelak kembali kepada-Nya. Jadi ketiganya harus dipelihara secara seimbang sehngga ketiganya ‘terpelihara sempurna’ (1 Tesalonika 5:23).-

 

PA – 644. Elihu, sahabat Ayub, juga berkata, “Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.” (Ayub 34:14-15). Artinya, Tuhan adalah pemilik hidup kita seutuhnya. Ia berdaulat dan memiliki hak penuh, yang sama sekali tidak bisa diganggu gugat, saat Ia hendak membuat kita tetap hidup atau mati. Oleh seba itu kita tidak perlu takut dan kuatir akan apapun juga. Jika memang belum waktunya, seutas rambut pun tak akan gugur dari kepala kita. Orang atau Iblis bisa berupaya membunuh atau membinasakan kita, tapi jika Tuhan tidak menghendakinya, upaya itu akan sia-sia belaka. Sebaliknya, jika Tuhan menetapkan tugas kita sudah selesai di muka bumi ini – berapapun usia kita – maka nyawa kita pun diambil-Nya. Oleh sebab itu kita harus selalu siap sedia dan memiliki kepastian keselamatan di balik kematian.-

 

PA – 645. Elihu, sahabat Ayub, juga berkata, “Sungguh, teriakan yang kosong tidak didengar Allah dan tidak dihiraukan oleh Yang Mahakuasa.” (Ayub 35:13). Tidak semua doa didengar dan dihiraukan oleh Tuhan. Ada doa yang ‘kosong’ atau ‘hampa’ di hadapan Tuhan, yaitu: (1) doa sebagai kebiasaan saja, tanpa disertai kesungguhan hati, sekedar kewajiban agamawi; (2) doa yang dinaikkan dengan kata-kata yang indah untuk dipamerkan di depan banyak orang; (3) doa dari orang yang tidak mau bertobat dari dosanya (doa orang berdosa memang didengar Tuhan, asalkan ia mau bertobat – misal: doa pemungut cukai dalam Lukas 18:13-14); (4) doa orang yang tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Mari kita berdoa dengan doa yang padat berisi, bukan doa yang kosong, agar Tuhan mau mendengar dan memperhatikan doa kita.-

 

PA – 646. Elihu, sahabat Ayub juga berkata, “Ketahuilah, Allah itu perkasa, namun tidak memandang hina apa pun, Ia perkasa dalam kekuatan akal budi.” (Ayub 36:5) Keperkasaan Allah dapat diketahuu dalam banyak hal: (1) dalam karya-Nya menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta, termasuk kita, anak-anak-Nya; (2) dalam membela umat-Nya saat menghadapi musuh; (3) dalam membangkitkan Yesus Kristus dari kematian (Kisah 13:30). Keperkasaan Allah bukan hanya untuk menolong kita dalam menghadapi masalah yang besar, namhn juga dalam mengatasi masala yang kecil dalam hidup sehari-hari. Keperkasaan-Nya nampak ketika Ia memberikan hikmat melalui akal budi kita sehjngga kuta dapat memilik intelek dan rasio/nalar yang logis dan benar. Oleh sebab itu akal budi harus terus diasah dan digunakan semaksimal mungkin untuk menemukan solusi dalam hidup ini. Yang dilarang Alkitab bukan menggunakan akal budi, jelainkan bersandar pada akak budi! Menggunakan akal budi itu harus, tapi janfan mengandalkan akal budi, sebab sehebat apapun masih tetap terbatas. Sandaran kita adalah Tuhan sendiri yang mampu melakukan lebih dari akal budi kita.-

 

PA – 647. Elihu, sahabat Ayub juga berkata, “Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia” (Ayub 37:13). Semua yang Allah kerjakan memiliki tujuan, baik saat menciptakan alam raya (makrokosmos) maupun alam renik (mikrokosmos). Tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semuanya dirancang Allah dengan tujuan yang jelas. Ada tujuan untuk mendidik (pentung), ada tujuan untuk menyatakan kasih. Ini adalah dua sisi prinsip kerja Allah yang saling melengkapi dan yang sangat kita butuhkan. Didikan tanpa kasih akan membentuk manusia menjadi keras dan bisa menimbulkan sakit hati. Namun kasih setia tanpa didikan akan membuat seseorang manja dan tidak disiplin. Jadi kedua-duanya saling mengisi dan melengkapi.-

 

PA – 648. TUHAN berkata kepada Ayub dengan gaya oratoris, “Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?” (Ayub 38:31-32). Ada empat jenis rasi atau gugusan bintang yang disebutkan di sini: Kartika (Pleiades), Belantik (Orion), Mintakulburuj (Mazzaroth), dan Biduk (Arcturus). Dalam bahasa Jawa disebut: Wulu, Wluku, Bima Suci, dan Prau. Mari kita lihat satu per satu. Gugus bintang Kartika merupakan gugus bintang paling jelas dilihat dengan mata telanjang, dan salah satu yang terdekat dengan bumi. Gugus tersebut didominasi oleh bintang-bintang biru panas.Tuhan ‘memberkas’ gugusan ini. Apa artinya bagi kita? Tuhan Yang Mahakuasa mampu menyatukan hal-hal tersebar menjadi satu berkas. Ini bicara tentang ‘kesatuan’. Allah menghendaki agar kita yang berbeda-beda bisa bersatu. Kesatuan mendatangkan berkat besar sebab menggenapi doa Yesus Kristus sendiri, “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” (Yohanes 17:22).-

 

PA – 649.Tuhan ‘membuka belenggu’ bintang Belantik (Orion). Rasi bintang ini disebut juga Sang Pemburu. Rasi ini mungkin merupakan rasi yang paling dikenali di angkasa. Bintang-bintang terangnya terletak pada ekuator langit dan terlihat dari seluruh dunia. Apa artinya jika seorang ‘pemburu’ yang biasanya terkenal kuat dan pemberani sedangvterbelenggu? Ia tidak berdaya. Perlu ada orang lain yang menolong untuk melepaskannya dari belenggu itu. Sebagai manusia kita juga adalah ‘pemburu-pemburu’, mengejar banyak hal yang dibutuhkan dalam hidup ini. Namun manusia sering tidak berdaya karena ada belenggu dosa dan hawa nafsu dalam dirinya. Yang diburu bujan lagi kebutuhan, tetapi keinginan, bahkannmenjurus pada ketamakan. Hanya Tuhan yang mampu membuka belenggu kehidupan manusia. Miliki kebebasan di dalam Kristus, kebebasan yang mengarah pada kebenaran, kebebasan yangb bertanggungjawab. Maka kehudupan kita pun akan nampak terang di hadapan semua orang, seperti rasi bintang Orion.-

 

PA – 650. Rasi bintang berikutnya yang disebutkan dalam Ayub 38:31-32 adalah rasi bintang Mazzaroth. Istilah ini hanya muncul satu kali dalam Alkitab, yang menunjuk kepada 12 rasi bintang yang berbentuk lingkaran. Di kemudian hari rasi bintang ini menjadi zodiac, yaitu penanda ciri-ciri seseorang sesuai bulan kelahirannya. Bahkan secara salah dijadikan sebagai sarana ramalan atas apa yang akan terjadi dalam hidup seseorang. Alkitab menentang praktek peramalan semacam itu. Dalam ayat itu disebutkan bahwa TUHAN ‘menerbitkan Mazzaroth pada waktunya’. Artinya adalah (1) Tuhan berdaulat penuh atas pengaturan alam semesta. Ia adalah Allah yang tetap turut bekerja dalam mengatura alam semesta, bahkan kehidupan kita (Yesaya 40:26; Roma 8:28). Kedua, segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkh. 3:11).. Tuhan tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. Perencanaan waktu-Nya sempurna. Ketiga, manusia sering menyalahgunakan maksud Allah yang indah: astronomi digantikan dengan astrologi, yang ditentang oleh Alkitab (Ulangan 4:19; 2 Raja 23:5).-

 

PA – 651. Rasi bintang keempat yang disebutkan Allah dalam Ayub 38:31-32 adalah rasi hintang Biduk (Arcturus). Bintang biduk merupakan bintang paling terang ketiga sesudah Suruus dan Canopus. Namanya berarti “penjaga beruang”. Di Arab disebut “salah satu pelempar lembing yang ditinggikan”. Arcturus ini merupakan bintang raksasa berwarna merah sebab memancarkan terang 110 kali Marahari, dan memancarkan energi 180 kali Matahari. Tuhan “memimpin bintang Biduk dan pengiring-pengiringnya”. Artinya, sebesar apapun ukuran bintang itu, ia tetap tunduk pada pimpinan Tuhan, penciptanya. Ketika manusia merasa besar, banyak pengikutnya, biasanya ia sulit tunduk kepada Tuhan. Ia cenderubg menjadikan dirinya sendiri sebagai Tuhan. Sehebat apapun prestasi kita, itu merupakan anugerah-Nya. Mari kita terus belajar rendah hati seperti Yesus (Mat. 11:30).-

 

PA – 652. Sesudah Allah menggunakan rasi bintang untuk menyatakan kemahakuasaan-Nya, selanjutnya Ia menggunakan kiasan dari dunia binatang, yaitu: kambing gunung, rusa dan keledai liar (Ayub 39:4-11). Kambing gunung dan rusa punya ‘masa mengandung’ tertentu, ‘cara’ melahirkan anak-anaknya, dan ‘status’ anak-anaknya. Keledai liar pun punya ‘pola kehidupan’ yang unik. Apa maksud Tuhan? Pertama, kagumi kreatifitas Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu. Kedua, hargai setiap keunikan ciptaan Tuhan, jangan suka ‘menyeragamkan’ segala hal yang berbeda, termasuk anak-anak kita, kecuali untuk tujuan tertentu. Ketiga, lakukan tugas mulia yang telah Allah tetapkan bagi kita masung-masing. Fokuslah pada potensi yang kita miliki, jangan iri kepada orang lain. Keempat, yakini cara Tuhan memelihara ciptaan-Nya, termasuk diri kita. Tuhan selalu menyediakan berkat bagi kita, asalkan kita mau bekerja keras, tidak bermalas-malas.-

 

PA – 653. Ada dua ilustrasi tentang kedahsyatan Allah dan ketidakberdayaan manusia, yang dikatakan oleh Allah sendiri kepada Ayub, yaitu ilustrasi tentang Kuda Nil (Ibr. behemoth) dan Buaya (Ibr. leviathan) (Ayub ps 40-41). Istilah ‘kuda nil’ dan ‘buaya’ sebenarnya masih kurang tepat, sebab kedua makhluk itu jauh lebih besar. Tepatnya mereka adalah binatang raksasa serupa ‘monster’. Apa maksud Tuhan dengann ilustrasi ini? (1) Allah bukan saja mampu menciptakan hal-hal yang kecil dan lemah (kambing hutan, rusa), tetapi juga hal-hal yang super besar. (2) Manusia tidak akan mampu menyelami kedahsyatan Allah dan mengendalikan-Nya, sebab menyelami dan mengendalikan kedua ‘monster’ itu saja pasti tidak mampu. (3) Manusia hanya perlu percaya akan kehebatan rencana Allah dalam mengatur hidupnya, dan berserah kepada-Nya.-

 

PA – 654. Ada dua pernyataan Ayub yang luar biasa, yaitu “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” dan “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:2,5) Kedua pernyataan ini saling bertautan, yaitu tentang bagaimana Ayub mengenal Allah. Ia mengenal Allah bukan hanya dari kata orang (termasuk textbook teologia), melainkan dari proses kehidupan, dari pengalaman realitas kehidupan sehari-hari. Ayub tahu bahwa Allah selalu bersamanya dalam setiap musim kehidupan. Allah yang dikenalnya adalah Allah yang: (1) merencanakan segala sesuatu dengan baik dan sempurna, dan (2) mampu menggenapi rencana-Nya juga dengan sempurna. Oleh sebab itu percayalah bahwa segala sesuatu yang kita alami merupakan bagian dari proses penggenapan rencana Allah, baik kita menyadarinya atau tidak.-

 

PA – 655. Salah satu ayat yang sangat disukai oleh orang percaya adalah ayat yang berbunyi, “Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.” (Ayub 42:10) Ayub dipulihkan! Pemulihan atas Ayub pertama-tama terjadi atas imannya. Sekalipun ia telah hidup saleh tetapi melalui penderitaan yang dialaminya, ia semakin mengenal Allah dengan benar. Kedua, pemulihan terjadi dalam relasi dengan teman-temannya. Tidak muda untuk mendoakan orang-orang yang telah salah menilai kita, kecuali tidak ada lagi kekecewaan dan sakit hati terhadap mereka. Ketiga, pemulihan terjadi secara jasmani, di mana TUHAN ‘mengembalikan’ kepada Ayub apa yang telah ‘diambil-Nya’, baik kesehatan, kekayan, dan anak-anaknya. Bahkan pemulihan itu terjadi dua kali lipat dari ‘milik’ Ayub sebelumnya. Jangan hanya menginginkan pemulihan melainkan seluruh proses kehidupan yang mengarah pada pemulihan itu!

PA – 656. Mulai nomor ini kita akan membahas Kitab Mazmur. Mazmur pasal 1 mengungkapkan rahasia keberhasilan hidup. Kata berbahagia bukan happy melainkan blessed, ‘diberkatilah’. Rahasianya adalah: (1) Tidak “bergaul, mengikuti cara hidup” (following a manner of life) orang jahat yang tidak ber-Tuhan; atau membenci dosa. (2) Sebaliknya, suka akan firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Kedua hal ini harus dilakukan serentak: benci dosa, cinta kebenaran. Tidak bisa hidup dalam dua sisi yaitu cinta dosa dan kebenaran, hidup dalam ‘daging’ (hawa nafsu dosa), daan hidup dalam ‘roh’ sebab keduanya saling berlawanan (Gal. 5:16-17). Gunakan kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita untuk memilih ‘cinta kebenaran’ dan sedikit pun tidak berkompromi (tidak berjalan, tidak berdiri, tidak duduk) dengan dosa.-

 

PA – 657. Dalam Mazmur 2:8 ada tawaran dari Allah agar kita meminta sesuatu yang berkenan kepada-Nya, “Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu”. Daru tawaran ini ada beberapa hal penting: (1) Permohonan doa harus ditujukan kepada Allah yang benar, bukan kepada ilah-ilah atau berhala; (2) Tuhan suka kepada orang yang “meminta bangsa-bangsa” (termasuk su-suku bangsa), yaitu keselamatan orang lain. Ini adalah doa misi. (3) Tuhan menjamin akan menjawab doa kita sesuai dengan kehendak-Nya, sebab doa semacam ini bukan doa yang bertujuan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan Tuhan. Naikkan doa misi semacam ini setiap hari.

 

PA – 658. Ketika Daud melarikan diri dari kejaran Absalom, ia berkata, “Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela (Mazmur 3:3-5). Salah satu pergumulan yang sangat berat dalam hidup ini adalah pergumulan dalam keluarga. Saat anak-anak masih kecil, kita kuatir kalau-kalau mereka terkena celaka atau menjadi korban kejahatan (bullying, pelecehan seksual, dsb.). Saat mereka beranjak remaja, terjadi perselisihan karena sudah mulai berani membantah. Saat mereka dewasa, orang tua dipusingkan dengan pergaulan yang buruk, narkoba, free sex, judi, dsb. Bahkan ada yang memberontak seperti Absalom terhadap ayahnya. Kita hanya dapat berseru kepada Tuhan dan menjadikan Dia sebagai tempat perlindungan kita. Berdoa juga supaya anak-anak sadar dan bertobat. Jangan bersandar kepada anak-anak agar kita tidak kecewa. Tetaplah bersandar kepada Tuhan.-

 

PA – 659. Daud berkata, “Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.” (Mazmur 4:8). Sukacita merupakan salah satu ciri utama orang yang percaya kepada Tuhan. Sukacita ini bukan didasarkan pada kelimpahan materi (gandum dan anggur), karena hanya akan bersifat sementara. Sukacita sejati didasarkan pada hati yang selalu bersyukur karena kasih setia Tuhan. Tantangan hidup yang kita hadapi harus dipandang sebagai bagian dari proses yang Tuhan rancangkan untuk membentuk kita sehingga kita menjadi pribadi yang semakin dewasa di dalam Dia. Sukacita ini juga bersifat menular, artinya bisa membuat orang lain di sekitar kita juga bersukacita.-

 

PA – 660. Mazmur 5:13 mengatakan, “Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” Dalam Perjanjian Lama, ‘orang benar’ adalah orang yang hidup dalam ketaatan terhadap Hukum Tuhan, yaitu Taurat. Sedangkan dalam Perjanjian Baru ‘orang benar’ adalah orang yang memperoleh karya pembenaran oleh penebusan Yesus Kristus. Orang benar diberkati oleh Tuhan dalam bentuk proteksi atau perlindungan dari orang yang berbuat jahat dan kuasa Iblis. Jika ada orang benar menjadi korban kejahatan, ada tiga kemungkinan: ia keluar dari perlindungan Tuhan, Tuhan sedang menguji imannya seperti yang dilakukan-Nya terhadap Ayub, atau Tuhan menjadikannya sebagai ‘contoh’ bagi orang lain, seperti contoh kesetiaan Stefanus yang dirajam batu karena kesaksiannya tentang Yesus Kristus.-

 

PA – 661. Dalam mengalami pergumulan yang sangat dahsyat dalam hidupnya, Daud berseru kepada TUHAN dan ia mengalami kemenangan dalam pergumulan itu, sebab dalam Mazmur 6-10 ia berkata “TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.” Pergumulan hidup adalah sesuatu yang wajar dalam hidup ini. Mengapa? (1) Membuktikan bahwa kita hidup dalam dunia yang gelap, penuh dosa. (2) Membuktikan bahwa sebagai manusia kita sangat terbatas, sehingga kita membutuhkan Tuhan. (3) Melalui pergumulan Tuhan menguji kekuatan iman kita. (4) Pergumulan merupakan awal dari mukjizat yang akan kita alami, sama seperti awan yang tebal muncul sebelum hujan deras dan pelangi yang indah. Jadi jangan berdoa agar tidak ada pergumulan, melainkan berdoalah agar kita diberi kekuatan iman agar menang dalam pergumulan.-

 

PA – 662. Dalm Mazmur 7:18 Daud berkata, “Aku hendak bersyukur kepada TUHAN karena keadilan-Nya, dan bermazmur bagi nama TUHAN, Yang Mahatinggi.” Sifat-sifat Allah memiliki kualitas yang sama. Kasih-Nya sama kualitasnya dengan keadilan-Nya. Karena yang lebih banyak kita dengar adalah lagu-lagu pujian dan khotbah tentang kasih Allah, maka tidak heran jika orang menganggap kasih-Nya lebih besar dari keadilan-Nya. Padahal Alkitab menyatakan kedua sifat itu sama bobotnya. Artinya: pertama, di satu sisi kita dikasihi oleh Allah Bapa sehingga kita diselamatkan dan dipulihkan-Nya. Namun di sisi yang lain kita harus hidup dalam pertobatan yang sungguh-sungguh, agar kita luput dari murka Allah karena keadilan-Nya. Kedua, jika hidupmkita benar, danbada orangvyangbberbuat jahat terhadap kita, kita tidak perlu membalasnya. Ampuni dan serahkan pembalasan itu kepada Allah yang adil. Ia akan membela orang-orangvyang henar.-

 

PA – 663. Pemazmur Daud berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mazmur 8:4-5). Kita patut bersyukur atas karya Allah yang menciptakan kita menurut citra-Nya, dan yang juga memuliakan kita. Sebenarnya kita hanyalah debu tanah belaka, penuh dengan kelemahan dan keterbatasan. Namun Tuhan mengingat dan mengindahkan kita. Ia menjadikan kita jauh lebih mulia dari ciptaan lainnya. Ia memberikan mandat dan otoritas kepada kita untuk menaklukkan alam ciptaan-Nya. Oleh sebab itu: (1) Jangan rendah diri seakan-akan kita sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Di dalam diri kita Tuhan memberikan potensi yang besar untuk menghasilkan karya-karya yang baik bagi kita dan sesama. (2) Sebaliknya, setelah memperoleh prestasi atau pencapaian yang baik, jangan tingi hati. Kita harus selalu sadar bahwa semuanya karena anugerah Tuhan. Tetaplah rendah hati.-

 

PA – 664. Mazmur 9:16 berkata “Bangsa-bangsa terbenam dalam pelubang yang dibuatnya, kakinya tertangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri.” Dalam sebuah acara Young Master Chef di Amerika Serikat, peserta tinggal 4 orang. Sebut saja namanya: A, B, C, dan D. Mereka disuruh juri memasak ayam. A diberi kesempatan pertama untuk membagi tugas. Karena A ingin menjatuhkan C dan D, saingan terberatnya, maka sesudah ia memotong seekor ayam menjadi 4 bagian, A memberikan hativayam kepada C dan sayap kepada D. Sedangkan A sendiri memilih dada dan kepada B, teman dekatnya, diberinya paha ayam. Variasi dan kreasi memasak hati dan sayap jauh lebih sulit dari pada dada dan paha ayam. Namun hasil akhirnya mengejutkan! Yang menang justru C dan D. Yang kalah adalah A dan B. Niat jahat seperti jni juga ada dalam Kitab Ester, di mana Haman mendirikan tiang gantungan untuk Mordekhai. Akhirnya ia sendiri yang digantung pada tiang gantungan yang dibuatnya itu! Oleh sebab itu jangan rancangkan kejahatan bagi orang lain, sebab bisa-bisa kita sendiru yang jatuh ke dalamnya!

 

PA – 665. Di dunia ini ada orang yang memiliki prinsip tidak mau mengakui adanya Allah. Mereka disebut ‘orang fasik’. Termasuk di dalamnya kaum ateis (a=tidak; teiis dari theos= Allah). Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: “Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!”, itulah seluruh pikirannya (Mazmur 10:4). Ada yang secara nyata mengaku di depan orang lain bahwa ia tidak percaya adanya Allah. Tetapi ada pula yang mengaku beragama, tetapi sikap dan perbuatannya menyangkali keberadaan Allah. Mereka bisa membunuh, menindas, merampok (termasuk korupsi), dengan mengatasnamakan agama/Allah. Karena tidak percaya adanya Allah, mereka tidak percaya adanya penghakiman akhir, tidak percaya adanya kehidupan di balik kematian. Sesudah mati habis perkara! Alkitab justru menyatakan sebaliknya: Allah itu ada, dan Ia adalah adil, yang akan menghakimi semua umat manusia pada waktu-Nya (2 Timotius 4:1 – Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, …).-

 

PA – 666. Daud menggambarkan kemahatahuan Tuhan sebagai berikut: “TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.” (Mazmur 11:4). Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap kemahatahuan Tuhan ini? (1) Kita harus memiliki integritas yang baik, sama antara ucapan dengan isi hati, tidak munafik. (2) Kita harus berhati-hati agar tidak melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi. Semuanya kelak akan dinyatakan (Mrk 4:22). (3) Sebaliknya, dalam melakukan kebaikan kepada sesama, atau ketika kita berdoa, kita tidak perlu pamer, sebab yang penting Tuhan tetap melihatnya (Matuus 6:4). Jika orang lain memang harus tahu pebuatan baik kita, itu bertujuan supaya mereka memuliakan Bapa (Mat 5:16). (4) Roh Kudus bisa menyatakan kepada kita hal-hal yang tidak kita ketahui, yang tersembunyi dalam diri Allah. Oleh sebab itu ada karunia nubuat dan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Contoh: Rasul Petrus diberitahu oleh Roh Kudus bahwa Ananias dan Safira tidak jujur (Kisah 5:1-11).-

 

PA – 667. Pemazmur berkata:”Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” (Mazmur 12:7). Allah kita adalah Allah Perjanjian. Ia bertindak atas dasar janji-Nya. Ada dua jenis janji Tuhan:tidak bersyarat dan bersyarat. Janji yang tidak bersyarat tidak membutuhkan peran manusia sama sekali, dengan ciri khas “Aku akan … ” tanpa adanya syarat apapun. Misalnya janji Tuhan Yesus Kristus akan meminta kepada Bapa agar kepada kita diberi Penolong, yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:16). Tetapi janji bersyarat membutuhkan ketaatan kita, dengan ciri khas “Jika engkau … ” Misalnya janji berkat dalam Ulangan 28:1-14. Kedua jenis janji itu sama-sama penting dalam hidup kita sebab kita memiliki pengharapan yang pasti sebab Allah pasti akan menggenapi janji-Nya. Dengan adanya kepastian itu kita tidak ragu-ragu berdoa, hanya dibutuhkan kesabaran dan ketekunan menantikan waktu Tuhan. Selidiki dan simpan janji-janji Tuhan dalam Alkitab bagi hidup kita, karena akan membuat kita tetap kuatvdan penuh semangat.-

 

PA – 668. Pergumulan hidup yang tiada hentinya membuat pemazmur bertanya-tanya tentang pertolongan Tuhan. Nampaknya Tuhan melupakan dirinya. Benarkah demikian? Tidak! Terbukti bahwa akhirnya ia berkata “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (Mazmur 13:6). Berarti pergumulan hidupnya terselesaikan dengan baik. Mengapa sepertinya Tuhan lambat menolong kita? (1) Kita tidak mengerti waktu Tuhan. (2) Kita tidak memiliki kesabaran, semuanya ingin cepat-cepat terselesaikan, padahal Tuhan sedang berproses dalam menolong kita. (3) Tuhan sedang mempersiapkan kualitas pertolonganbyang lebih baik. Maria dan Marta mengharapkan Tuhan Yesus menyembuhkan Lazarus saat ia sakit. Tetapi denganbsenfaja Tuhan Yesus menunda sehingga Lazarus mati. Akhirnya Tuhan Yesus datang dengan pertolongan yang lebih dahsyat, yaitu membangkitkan Lazarus dari kematian (Yohanes 11:1-44). Dengan mukjizat itu Yesus punya maksud lain, yakni agar semakin banyak orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan punya agenda tersendiri! Tetaplah percaya bahwa Ia akan menolong kita yang berseru kepada-Nya.-

 

PA – 669. Firman Tuhan berkata, “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak (Mazmur 14:2-3). Sungguh tragis jika Allah melihat bahwa tidak ada seorang pun di bumi yang berakal budi dan mencari Dia. Semua orang menetapkan kebenaran bagi dirinya sendiri. Mengambil keputusan apapun berdasarkan keinginannya sendiri. Apa yang ia suka itu yang ia lakukan, bukan apa yang Allah suka. Kehendak dirinya diutamakan, bukan kehendak Allah. Itulah sebabnya maka semua manusia telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Tak ada seorang pun yang benar di hadapan-Nya. Dosa bukan hanya berarti melakukan kejahatan; ketika kita tidak mau tahu kehendak Allah dan hanya hidup berdasarkan kehendaknya sendiri, itu adalah dosa, dan upah dosa itu maut – keterpisahan dengan Allah. Itulah sebabnya kita membutuhkan Juruselamat. Juruselamat tidak mungkin berasal dari manusia sebab semauanya sudah berdosa. Allah sendirilah yang kemudian mengaruniakan Yesus Kristus sebagai Juruselamat seluruh umat manusia. Ketika kita menerima-Nya, maka kita dibenarkan di hadapan Allah.-

 

PA -670. Daud berkata, “TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya” (Mazmur 15:1-2) Ayat ini seringkali dimengerti sebagai syarat seseorang untuk bisa datang kepada Tuhan, di mana ia harus hidup kudus lebih dulu. Padahal Yesus Kristus berkata bahwa hanya orang sakit yang perlu tabib, hanya orang berdosa yang perlu Juruselamat (Mrk 2:17). Itulah sebabnya banyak orang Yahudi marah melihat Yesus Kristus ‘blusukan’ ke rumah orang berdosa, seperti makan bersama pemungut cukai, dsb. (Matius 11:19). Jadi mana yang benar? Alkitab mengajarkan bahwa kedua-duanya benar. Artinya, Tuhan Yesus mau menerima kita apa adanya sebagai orang berdosa, tetapi Ia tidak akan terus membiarkan kita tetap apa adanya. Ia akan membersihkan atau menguduskan kita dengan darah-Nya yang mulia (1 Pet. 1:18), dan membentuk kita sehingga kita layak di hadapan-Nya.-

 

PA – 671. Pemazmur berkata: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mazmur 16:11) Dalam ayat tersebut ada 3 (tiga) hal yang dibutuhkan oleh manusia yang disediakan oleh Tuhan, yaitu: jalan kehidupan, sukacita, dan kenikmatan. Ketiganya harus ada secara seimbang dalam hidup ini. Jalan kehidupan diberitahukan kepada kita, yaitu hikmat dalam mengambil setiap keputusan yang benar, sebab banyak jalan yang disangka orang lurus, padahal berujung kepada maut (Amsal 14:12). Jalan kehidupan juga berarti jalan kepastian keselamatan. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan logika, tetapi dalam tuntunan Tuhan juga. Sukacita yang melimpah juga kita butuhkan, juga di saat kita berada dalam tekanan dan pergumulan. Sukacita merupakan salah satu sifat buah Roh. Orang yang hidup penuh dengan Roh Kudus akan memiliki sukacita ini. Kenikmatan yang Tuhan sediakan bukan kenikmatan dosa atau hawa nafsu, tetapi kenikmatan hidup dalam kekudusan. Kenikmatan dosa berakhir di neraka, kenikmatan kekudusan berakhir di sorga.-

 

PA – 672. “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu” (Mazmur 17:8). Ini adalah curahan hati pemazmur yang bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Tak ada seorang pun yang rela jika biji mata (apple of the eye) yang dimilikinya terusik. Ia pasti akan melindungi biji matanya itu dengan sebaik-baiknya. Pemazmur juga menggambarkan dirinya seperti anak ayam yang merasa aman di bawah naungan sayap induknya. Tuhan Yesus Kristus sendiri menyatakan bahwa Ia rindu melindungi umat-Nya seperti induk ayam ingin melindungi anak-anaknya, tetapi mereka tidak mau (Matius 23:37). Padahal dengan berlindung pada Tuhan, kita akan merasa aman dan nyaman. Iblis, musuh kita, tidak akan bisa menyentuh kita. Ketika ada badai kehidupan, kita pun akan tetap aman. Mengapa ada yang tidak mau? Karena memang tidaklah mudah memiliki sikap hidup penuh kepasrahan kepada Tuhan. Sebagai manusia kita selalu merasa bisa, angkuh, dan kurang menyadari keterbatasan kita. Mari kita datang berlindung pada-Nya. Ia akan melindungi kita dari segala marabahaya.-

 

PA – 673. Ketika Daud lepas dari cengkeraman oara musuhnya, yaitu orang-orang yang berniat menjatuhkannya, ia berkata, “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” (Mazmur 18:7). Dalam mengatasi konflik, pada umumnya orang menggunakan salah satu dari 5 kemungkinan: menghindar, menekan, mengalah, kompromi, atau win-win solution. Apapun cara yang digunakan dalam mengatasi konflik tersebut, sebaiknya tidak dilakukan dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Daud mengandalkan Tuhan. Ia mencurahkan isi hatinya saat berada dalam kesesakan kepada Tuhan. Dan Tuhan pun mendengar seruan anak-anak-Nya. Ia menyatakan kuasa-Nya yang dahsyat untuk memberikan pertolongan. Dengan pertolongan Tuhan ini Daud lolos dari bahaya dan jerat yang dipasang lawan-lawannya. Jangan hadapi kesesakan atau konflik dalam hidup ini dengan kekuatan diri sendiri. Berserulah kepada Tuhan, danbIa akan melepaskan kita.-

 

PA – 674. Dalam Mazmur 19 ada dua bentuk pewahyuan atau penyataan Allah, yaitu penyataan umum melalui alam (ayat 2 – Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya), dan pewahyuan khusus melalui firman (ayat 9 – Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya). Di samping melalui alam, secara umum Allah menyatakan diri-Nya melalui sejarah dan hati nurani. Sedangkannsecara khusus, di samping melalui firman yang tertulis, Allah juga menyatakan diri-Nya melalui pribadi dan karya Yesus Kristus. Kedua bentuk penyataan ini sangat penting karena bisa membawa manusia kepada pengenalan akan Allah, dimulai dari yang umum kemudian yang khusus. Oleh sebab itu kita bisa belajar terus dari alam, sejarah, hati nurani, Alkitab, dan kehidupan Yesus Kristus, hingga kita bertumbuh menjadi semakin dewasa di dalam iman.-

 

PA – 675. Sebagai seorang raja, Daud membandingkan dirinya dengan raja-raja lain, di mana mereka merasa kuat karena mengandalkan kekuatan kuda dan kereta mereka. Ia berkata, “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita. Mereka rebah dan jatuh, tetapi kita bangun berdiri dan tetap tegak” (Mazmur 20:8-9). Pada masa kini orang-orang di sekitar kita berperilaku sama, yaitu mengandalkan diri pada hal-hal yang tidak kokoh dan tidak tahan lama, seperti: kekayaan, kepandaian, kedudukan, dan sebagainya. Hal-hal itu memang kita butuhkan, tetapi tidak boleh kita megahkan atau andalkan, karena sifatnya rapuh! Satu kali semuanya bisa lenyap bersama angin. Jauh lebih baik kita mengandalkan Tuhan, Allah yang hidup. Kalaupun kita pernah jatuh, kita dapat berdiri kembali dan tetap tegak. Berhentilah mengandalkan diri pada hal yang semu. Mulailah dan tetaplah mengandalkan Tuhan! Daud telah membuktikan hal itu dan kita pun akan membuktikannya, bahwa dengan mengandalkan Tuhan kita akan tetap tegar.-

 

PA – 676. Sebagai seorang raja yang memperoleh kemenangan dari Tuhan, Daud berkata, “Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu. Sebab raja percaya kepada TUHAN, dan karena kasih setia Yang Mahatinggi ia tidak goyang.” (Mazmur 21:7-8). Tidaklah mudah bagi seorang raja untuk percaya dan mengandalkan Tuhan, sebab biasanya seorang raja lebih percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Namun Daud tidak demikian. Ada 4 hal penting dalam pernyataan ini: (1) Hidup ini disebut berkemenangan bukan hanya ketika kita diberkati, melainkan ketika kita menjadi berkat; (2) Hidup yang berkemenangan selalu menampilkan sukacita penuh dari Tuhan; (3) Kemenangan atas pergumulan diperoleh karena percaya kepada Tuhan, bukan kepada yang lain; (4) Kemenangan itu bersifat terus menerus, bukan sesaat, selama kita tetap mengandalkan Tuhan.

 

PA – 677. Seruan Daud kepada Allah dalam menghadapi pergumulan hidupnya dalam Mazmur 22 sangat unik, sebab seruan itu sekaligus merupakan nubuatan Mesianis, yaitu nubuatan tentang Yesus Kristus. Nubuatan itu digenapi oleh Yesus Kristus saat Ia melakukan karya penebusan atas seluruh dosa umat manusia di kayu salib. Ayat 2 misalnya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? …” merupakan salah satu dari tujuh perkataan Yesus Kristus.di kayu salib. Demikian pula dengan ayat 8 tentangvYesus Kristus yang diejek, ayat 15 tentang lambung-Nya yang tertikam hingga mengeluarkan darahbbercampur air, ayat 19 tentang pakaian dan jubah-Nya yangvdibagikan dan diundi. Apa artinya bagi kita? (1) Alkitab Perjanjian Lama juga adalah firman Allah, jangan diabaikan begitu saja, karena banyak nubuatan yang sudah, sedang, dan akan digenapi. (2) Seruan kita kepada Tuhan dalam pergumulan hidup tidak pernah lepas dari rencana Tuhan dalam hidup kita. Oleh sebab itu kita harus tetap kuat karena Ia tidak pernah meninggalkan kitaY.-

 

PA – 678. Dalam Mazmur 23 yang sangat terkenal ini, Daud menyatakan tentang Tuhan sebagai gembala yang baik. Hubungan Gembala-Domba ini sangat indah, dan ditegukan oleh pernyataan Yesus Kristus tentang Diri-Nya sebagai Gembala Yang Baik (Yohanes 10:1-18). Dalam mazmur ini ada 5 ‘P’ yaitu: (1) Pemeliharaan (‘Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang’), (2) Penyegaran (‘Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.’), (3) Perlindungan (‘Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku’), (4) Pengurapan (‘Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah’), (5) Pemuliaan (‘Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHANsepanjang masa’).-

 

PA – 679. Ada dua kondisi orang yang bisa datang menghampiri Tuhan. Pertama, orang yang berdosa. Sebagaimana orang sakit perlu tabib/dokter, maka orang berdosa perlu Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kedua, jika ia sudah memperoleh pengampunan dari Tuhan dan menjadi hamba-Nya dan sekaligus anak-Nya, maka syarat untuk menghampiri Tuhan menjadi lebih ketat, seperti berikut ini: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.” (Matius 24:3-4) Jadi baik hati, pikiran, perkataan maupun perbuatan harus sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Artinya, untuk menjadi orang yang diselamatkan semuanya oleh anugerah semata-mata, tetapi kemudian, untuk melayani Tuhan, harus ada tindakan iman dengan membayar harga yaitu kehidupan dalam kebenaran dan kekudusan. Tindakan iman ini hanya dapat dilakukan dengan pertolongan Roh Kudus.-

 

PA – 680. Daud memohon dalam doanya kepada Tuhan, “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.” (Mazmur 25:4-5). Setiap saat, seperti Daud, kita dihadapkan pada persimpangan jalan, di mana kita harus mengambul keputusan tentang arah mana yang akan kita tuju. Keputusan yang diambil tidak bisa hanya berdasarkan pada apa kata orang, pengalaman pribadi atau hasil analisa dan konsultasi dengan para ahli. Ketiga dasar itu baik tetapi tidak cukup, karena semuanya hanya bersumber pada hasil pemikiran manusia yang serba terbatas. Masih dibutuhkan tuntunan Tuhan melalui firman-Nya yang kita baca dan dengar. Setelah kita diberitahu oleh Tuhan berupa suara Roh Kudus dalam hati kita, masih dibutuhkan keberanian untuk hidup dalam ketaatan, apalagi kalau ternyata jalan yang ditunjukkan-Nya sangat berbeda dengan jalan yang kita rencanakan sebelumnya. Beranikah dan relakah kita meletakkan jalan kita dan menggantinya dengan jalan Tuhan? Jika ya, maka kita akan mengalami penyertaan-Nya yang luar biasa!
PA – 681. Daud berkata, “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” (Mazmur 26:2-3). Kesediaan diri untuk diuji atau dicheck sendiri oleh Tuhan Yang Mahatahu merupakan perbuatan yang langka namun mulia. Hal ini mendatangkan beberapa manfaat dalam hidup kita: (1) Membuat kita jujur di hadapan Allah dan manusia, tidak berlaku munafik; (2) Rela mengganti kehendak dan kemauan diri-Nya sendiri dengan kehendak Tuhan; (3) Mudah mengadakan introspeksi diri sebelum bertindak atau menyalahkan orang lain; (4) Tidak mudah menghakimi orang lain berkaitan dengan motivasi dalam hati seseorang. Ingat pepatah: ‘Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu?” Hanya Tuhan yang tahu isi hati manusia!

 

PA – 682. Daud berkata, “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” (Mazmur 27:10). Artinya, ia pernah mengalami penolakan (rejection syndrome) dari orang tuanya. Penolakan semacam ini banyak dialami manusia. Ada yang tertolak saat masih dalam kandungan karena kehamilan yang tidak dikehendaki (hamil di luar nikah, belum siap materi dan mental untuk menerima kehadiran seorang bayi, terlalu banyak anak, diprediksi berjenis kelamin yang tidak diinginkan, atau diprediksi cacat). Ada pula yang tertolak setelah lahir (cacat); saat masa pertumbuhan dan perkembangan (mengalami bullying dari teman sepergaulaan), bahkan di masa dewasa (penolakan usul, prestasi), dsb. Akibatnya bisa rendah diri dan sulit mencapai prestasi yang baik. Atau, ia bisa memacu diri sekuat tenaga dengan motivasi yang ambisius guha menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Ujungnya, ia bisa sombong dang hanya mengandalkan diri sendiri. Hanya satu jalan pemulihan dari sindrommpenolakan, yaitu: datang kepada Tuhan yang tak pernah menolak kita, dan menyadari bahwa kita amat berharga di mata-Nya.-

 

PA – 683. Daud berkata, “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.” (Mazmur 28:2). Ada dua cara seseorang berkomunikasi, termasuk dengan Tuhan, yaitu secara lisan/verbal (‘berteriak minta tolong’), dan secara non-verbal (‘mengangkat tangan’). Biasanya yang non-verbal menguatkan dan menegukan yang verbal. Ada seorang pengemis yang mendatangi seseorang sambil berkata, “Kasihani saya pak”, tapi pandangan matanya tidak tertuju pada orang itu, melainkan ‘jelalatan’ melihat ke sana kemari. Alhasil, ia tidak mendapatkan apa-apa. Jika kita mempunyai permohonan doa yang dinaikkan kepada Tuhan, mari kita fokuskan iman kita kepada-Nya, bukan pada yang lain. Memohon kepada Tuhan dengan penuh harap bahwa jika Ia tidak menolong kita, maka habislah kita. Ia harus menjadi satu-satunya sumber pertolongan, bukan salah satu di antara sumber pertolongan lain. Ingatlah akan lirik sebuah lagu pujian There Is None Like You (Tiada Sperti Kau).

 

PA – 684. Daud berkata, “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!” (Mazmur 29:2). Bahaya terbesar dalam kehidupan seseorang saat ia mencapai prestasi yang baik adalah pemuliaan atau pengagungan terhadap diri sendiri. Di satu sisi, ungkapan “Saya bisa! Saya hebat!” yang diajarkan kepada anak-anak, mampu membangkitkan semangat dan percaya diri (self confident) yang baik. Tapi di sisi lain bisa mengabaikan Tuhan yang telah mengaruniakan potensi atau kemampuan besar kepadanya. Kita harus mengembalikan segala pujian dan hormat kepada Tuhan, sebab segala sesuatu berasal dari Dia. Manusia tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan. Cukup banyak contoh di mana keangkuhan menghancurkan segalanya, antara lain: menara Babel, Raja Nebukadnezar, Raja Herodes. Kembalikan segala pujian dan hormat kepada Tuhan. Hanya Dialah yang hebat dan perkasa!

 

PA – 685. Daud berkata, “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.” (Mazmur 30:12-13) Ada dua kemungkinan seseorang mengalami perubahan dari kondisi berdukacita menjadi bersukacita. Yang pertama, penyebab dukacita itu dihalau atau disingkirkan oleh Tuhan. Kemungkinan yang pertama ini yang paling banyak diinginkan orang … hidup tanpa masalah. Yang atakedua, Tuhan memampukan kita mengubah sikap saat menghadapi dukacita atau masalah itu. Kemungkinan yang kedua ini paling sering diinginkan Tuhan. Oleh sebab itu ketika kita brrdoa ungkapkan selalu dua kemungkinan ini, “Tuhan, hapuskan masalah ini dari hidupku, atau mampukan aku mengubah sikap dalam menghadapi masalah itu.” Tuhan menghendaki agar semakin hari otot rohani kita semakin kuat. Dukacita atas masalah yang datang diijinkan Tuhan guna memperkuat otot rohani kita.

 

 

PA – 686. Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong. (Mazmur 31:23). Ada orang yang beranggapan seperti Daud yakni ketika kita berada dalam kesesakan, Tuhan membuang kita. Anggapan seperti itu muncul karena banyak orang sering ditinggalkan oleh teman-temannya saat berada dalam kesulitan. Karena beranggapan demikian, tidakkah heran jika ada orang yang justru menjauh dari Tuhan. Bahkan lari kepada kuasa gelap agar mendapatkan pertolongan. Tuhan tidak demikian. Ia tidak pernah membuang kita. Ia justru dekat dengan orang yang mengalami kesesakan. Ia adalah Sobat Sejati kita, yang sangat memahami pergumulan hidupmkita dan pemberi sousi terbaik. Saat kita berseru kepada-Nya, Ia mendengar dan menjawab.

 

PA – 687. “Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” (Mazmur 32:1) Semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa karena mewarisi dosa Adam. Dosa berarti kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Jika status keberdosaan dibiarkan akan mendatangkan maut atau kebinasaan (Roma 6:23). Dosa yang dikakukan oleh manusia merupakan kekalahan terhadap godaan atau pencobaan dari Iblis. Untuk dapat bersekutu dengan Allah kembali, maka manusia membutuhkan pengampunan dari Allah sendiri. Pengampunan diberikan setelah manusia memenuhi syarat dan ketentuan berikut. Pertama, manusia mengaku di hadapan Tuhan bahwa ia telah berdosa. Kedua, Pengakuan dilanjutkan dengan pengorbanan. Daud yang hidup di zaman Perjanjian Lama, harus mempersembahkan korban berupa binatang yang disembelih; sedangkan kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru, korban itu adalah Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Ketika dosa diampuni, kita dapat memperoleh kelegaan dan sukacita. Segeralah menyelesaikan masalah dosa ini dengan Tuhan, jangan menunda-nunda.-

 

PA – 688. Pemazmur berkata, “Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.” (Mazmur 33:18-19). Berarti ada pembedaan perlakuan Tuhan terhadap umat manusia, yaitu terhadap mereka yang takut kepada-Nya, dan terhadap mereka yang tidak. Pembedaan ini merupakan suatu hal yang wajar, sama seperti tanaman. Dahan dan ranting yang tetap melekat pada batang akan tetap hidup, sedangkan yang lepas akan menjadi kering lalu mati. Untuk bisa menjadi orang yang takut akan Tuhan perlu beberapa bentuk kesadaran: 1. Tuhan Allah maha segala-galanya, kita tidak; 2. Tuhan yang menetapkan hidup mati kita; 3. Takut akan Dia bukan karena Ia kejam, melainkan karena kasih-Nya dannkarena kita mengasihi-Nya; 4. Takut akan Tuhan mendatangkan perlakuan istimewa dari Tuhan atas hidup kita. Orang yang takut akan Tuhan tidak membutuhkan pengawasan dalam bekerja dan beraktifitas, karena ia tahu bahwa mata Tuhan sendiri yang mengawasinya. Tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

 

PA – 689. Daud berkata, “Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.” (Mazmur 34:11). Salah satu metode pengajaran yang efektif adalah dengan menggunakan metafora atau kiasan yang ekstrim, seperti yang digunakan oleh Daud. Singa-singa muda adalah hewan pemburu mangsa yang luar biasa. Sebenarnya tidak mungkin mereka bisa kelaparan. Namun, setangkas dan sehebat apapun, mereka tetap bisa kelaparan. Hal ini dikontraskan dengan orang yang mencari Tuhan. Mereka pasti tidak akan kekurangan suatupun yang baik sebab ia datang kepada Sumber segala sesuatu yang baik. Karena Tuhan baik, maka apa pun yang dilakukan-Nya atas kita tentu baik. Dari Tuhan tidak mungkin ada yang tidk baik. Keyakinan ini harus kita pegang teguh. Sekalipun kita nampaknya mengalami tantangan, itu pun pasti akan mendatangkan kebaikan. Kita jauh lebih berharga dari singa-singa muda itu. Mereka kuat dari kekuatannya sendiri. Kita kuat karena Tuhan yang menguatkan kita.-

 

PA – 690. Daud berkata, “Tetapi aku bersorak-sorak karena TUHAN, aku girang karena keselamatan dari pada-Nya; segala tulangku berkata: “Ya, TUHAN, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” (Mazmur 35:9-10). Di dunia ini, hingga saat ini, di antara manusia masih berlaku semacam hukum rimba: siapa yang kuat dialah yang menang. Orang dengan tega menjadi pemangsa sesamanya (homo homini lupus). Hanya yang kuat yang akan mampu bertahan (survival for the fittest). Dari mana kekuatan untuk bertahan itu? Ada yang memperkuat kehidupan ekonominya, pendidikannya, posisi atau kedudukannya, status sosialnya,mdan sebagainya. Daud memperoleh kekuatan dari Tuhan semata-mata. Kekuatan lainnya bersifat rapuh dan sementara, sedangkannkekuatanbdari Tuhan kokoh dan abadi. Daud tahu bahwa Tuhan berada di pihak orang yang sengsara karena adanya penindasan dan tekanan. Tuhan yang akan menjadi pembelanya. Saat kita mengalami tekanan dan tidak berdaya, jangan memberontak. Jangan pula lari kepada hal-hal yang semakin merusak: alkohol, narkoba, pelacuran, dsb. Belajarlah melibatkan Tuhan. Biarlah Dia yang bertindak bagi kita. Sebagaimana Tuhan mampu membebaskan umat-Nya dari penindasan di Mesir, maka Ia pun mampu membebaskan kita.-

 

PA – 691. Daud berkata, “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:10). Dalam versi King James, untuk kata “sumber hayat” digunakan kata “fountain of life” atau “mata air kehidupan”. Di era pertanian dan peternakan, keberadaan sebuah sumber atau mata air bagi hewan dan tanaman, merupakan suatu kebutuhan utama. Begitu ada sumber, hati menjadi lega, sebab tanaman dan ternak akan terpelihara dengan baik. Ada orang yang mencoba membuat ‘kolam air’ dengan caranya sendiri, dan menolak Tuhan sebagai sumber air kehidupan. “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” (Yer. 2:13). Harta, posisi, ketenaran, dan hal lainnya yang ada di dunia sama sekali tidak dapat kita andalkan sebagai sumber kehidupan. Semuanya bisa seperti ‘kolam yang bocor’, dan upaya mereka menjadi sia-sia. Jadikan Tuhan sebagai sumber hidup dan Terang sehati.-

 

PA – 692. Dalam Mazmur 37:3-6  Daud berkata, “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.” Ada tujuh hal penting yang ditekankan di sini: iman, kebajikan, nasionalisme yang sehat, kesetiaan, sukacita, penyerahan diri, dan kebenaran. Jika semuanya ada dalam hidup kita, maka hidup ini berkenan kepada Tuhan. Untuk dapat memiliki semuanya, kita harus belajar dari Kitab Suci secara teratur, yaitu dari tokoh-tokoh Alkitab, bahkan dari Yesus Kristus sendiri. Sediakan waktu yang cukup dan teratur untuk melakukan bible study pribadi. Minta Roh Kudus membimbing kita, maka kekayaan firman Allah akan limpah dalam hidup kita dan jika kita menaatinya, hidup kita akan memberikan dampak besar bagi orang lain.-

 

PA – 693. Daud berkata, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmurc37:23-24). Orang benar bisa jatuh? Bisa, tetapi tidak sampai tergeletak. Artinya, setiap orang bisa mengalami kegagalan, termasuk orang benar, karena ia adalah tetap manusia yang tidak sempurna. Namun kita tidak boleh putus asa. Tuhan mau mengangkat kita kembali. Banyak contoh dalam kehidupan ini di mana orang-orang yang bangkita dari kegagalan akhirnya bisa meraih keberhasilan. Abraham Lincoln beberapa kali gagal menjadi presiden Amerika Serikat, akhirnya bisa menjadi presiden. Regina, yang berulangkali gagal di Indonesia Idol, akhirnya bisa menjadi juara. Di dalam Tuhan, kegagalan bukan bersifat final, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Kegagalan harus menjadi tempat pembelajaran agar kita bisa kebih bijaksana dalam beroikir, berkata, dan bertindak.-

 

PA – 694. Pemazmur berkata, “Orang-orang yang memusuhi aku besar jumlahnya, banyaklah orang-orang yang membenci aku tanpa sebab; mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik, mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik.” (Mazmur 38:20-21). Kondisi seperti yang dialami Daud di atas juga banyak dialami manusia yang hidup di masa kini. Selalu ada orang yang tidak suka, bahkan banyak jumlahnya, ketika kita berbuat baik. Olokan mereka antara lain: sok suci, orang aneh, orang kuno, fanatik, dsb. Mengapa? Pertama, karena mereka sendiri tidak mampu dan tidak mau berbuat baik. Kedua, karena mereka mau dipakai Iblis untuk menghentikan kebaikan kita. Ketiga, karena mereka iri melihat sukacita yang kita miliki saat kita berbuaf baik. Sikap yang benar yang harus kita mikiki dalam keadaan dibenci seperti itu adalah: (1) Mendoakan dan mengampuni mereka, (2) Tetap berbuat baik sekalipun dibalas kejahatan, (3) Meminta perlindungan Tuhan dari celaka yang mereka rancangkan, (4) Menerima debgan penuh ucapan syukur jika kita harus menderita karena berbuat baik, yaitu neneladani Yesus Kristus sendiri (1 Petrus 2:20-21).-

 

PA – 695. Daud berkata, “Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela. Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.” (Mazmur 39:6-7). Ketika seseorang menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, apakah yang seharusnya ia lakukan? Pertama, ia harus mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam kekekalan, yaitu agar tidak binasa melainkan beroleh kehidupan kekal, yaitu dengan: (a) mengenal Tuhan, Sang Khalik, dengan benar, (b) menerima penetapan-Nya khususnya yang membuat seseorang bisa tinggal bersama-Nya kelak di sorga, (c) menaati perintah atau hukum-hukum-Nya. Kedua, mempersiapkan generasi yang akan melanjutkan kehidupan kita, yaitu dengan mendidik anak-anak kita dalam takut akan Tuhan. Jangan memberikan sesuatu kepada mereka yang justru membuat mereka jauh dari Tuhan. Ketiga, memegang teguh prinsip tabur tuai. Taburlah yang baik, agar kelak kita atau anak cucu kita juga menuai yang baik.-

PA – 696. Daud berkata, “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada TUHAN.” (Mazmur 40:4).

Dalam ibadah Kristiani, lagu pujian dan penyembahan kepada Tuhan menempati posisi yang sangat penting. Bahkan dalam ibadah penghiburan saat kedukaan karena ada anggota keluarga yang meninggal pun tetap ada nyanyian bagi Tuhan. Mengapa? Perrama, sebab pujian adalah pola Kerajaan Sorga. Di sorga kelak, di mana kita akan tinggal untuk selama-lamanya dengan Tuhan, yang ada hanyalah pujian dan penyembahan (Why. 5:9; 19:5). Kedua, karena memuji Tuhan adalah kehendak Tuhan sendiri, dan Ia berjanji untuk bertakhta di atas pujian umat-Nya (Maz. 22:3). Ketiga, karena ada kuasa dalam pujian sehingga tembok Yerikho runtuh, belenggu terlepas, dan kemenangan diperoleh (2 Taw 20:21-22). Keempat, karena pujian bisa menjadi kesaksian di mana orang-orang yang mendengarnya dikuatkan dan menjadi percaya kepadavTuhan. Jadi teruslah memuji Tuhan!

 

PA – 697. “Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.” (Mazmur 40:6) Ayat ini menyatakan beberapa hal penting. Pertama, Tuhan itu tidak mati. Ia adalah Pribadi Ilahi yang hidup, aktif bekerja dan dinamis. Ia terus bekerja secara ajaib bagi kita. Kedua, Tuhan tidak asal bekerja, hamun dalam setiap karya-Nya ada maksud atau tujuan yang indah, yaitu untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Ketiga, pribadi dan karya Allah tidak tertandingi. Dia berada di atas segala-galanya. Ini termasuk sifat keesaan Allah. Keempat, orang yang telah mengalami kedahsyatan Tuhan pasti punya kerinduan untuk memberitakan-Nya kepada siapa saja, di mana saja, kapan saja. Kelima, kesaksian tentang Tuhan tidak akan pernah ada habisnya. Mulai dari karya mencipta, memelihara, mengatur, hingga menyelamatkan umat manusia oleh kasih-Nya melalui karya penebusan Yesus Kristus.

 

PA – 698. Mazmur 41 merupakan mazmur yang dinaikkan pada waktu sakit. Sakit yang diderita menjadi lebih menyakitkan ketika ada sahabat yang berkhianat. “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (Mazmur 41:10) Ayat ini juga merupakan nubuatan terhadap Mesias atau Yesus Kristus, di mana salah seorang murid-Nya, yaitu Yudas Iskariot, mengkhianati-Nya (Mat. 26:23) Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tak ada Sahabat Sejati di dunia ini. Semua orang punya kepentingan. Ketika ia diperhadapkan pada dilema: sahabat atau profit, banyak yang memilih profit dengan mengorbankan persahabatan atau sahabatnya. Kepercayaan yang selama ini dibangun dengan mencurahkan seluruh isi kepada orang yang dipercayai menjadi hancur berantakan. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini bisa mendatangkan sakit hati yang juga berdampak pada tubuh. Minta Tuhan yang menyembuhkan sakit tubuh dan membalut luka hati, serta kemampuan untuk bisa mengampuni.-

 

PA – 699. “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” (Mazmur 42:2). Ayat ini telah menginspirasi banyak penggubah lagu, karena memberi gambaran yang sangat tepat tentang kerinduan seseorang terhadap Allah. Seekor rusa akan berlari sangat cepat, melompati segala rintangan, ketika ia haus. Tidak ada istilah berlambat-lambat. Tidak ada istilah menyerah saat menghadapi rintangan. Demikian halnya jika jiwa ini haus akan Allah. Pertama, kerinduan itu muncul karena kebutuhan. Ia adalah sumber satu-satunya yang dapat memuaskan dahaga kita. Tidak bisa digantikan yang lain: harta benda, pangkat dan jabatan, kehormatan dan ketenaran, dan sebagainya. Kedua, kerinduan muncul karena adanya kasih. Saat seseorang mengasihi dan ingin berjumpa dengan kekasihnya, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memuaskan kerinduannya. Seseorang yang mengasihi Tuhan juga demikian. Kerinduan di dalam hati dapat dilihat dari perilaku luarnya. Orang yang berlambat-lambat untuk berjumpa dengan Tuhan bisa menunjukkan pudarnya kasih kepada-Nya.–

 

PA-700. Permohonan yang dinaikkan oleh pemazmur yang tertulis dalam Mazmur 43:3, “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!” amat indah. Mengapa? Karena kita hidup di tengah-tengah dunia di mana terang dan kesetiaan sudah semakin memudar. Dunia berasa dalam keadaan yang sangat gelap. Buktinya? Orang tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya dijadikan relatif, tidak ada yang mutlak. Ini sangat menyedihkan karena setiapmorang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Kesetiaan antarpasangan suami-isteri juga mulai langka. Orang lebih suka hubhngan tanpa status atau hidup bersama, daripada dalam lembaga pernikahan. Banyak orang jngin bebas, tanpa ikatanbtanggung jawab apapun. Oleh sebab itu mari kita selalu merindukan terang Tuhan dan kesetiaan Tuhan, supaya kita dapat menerangi dunia ini dan memberikan teladan dalam kebenaran dan kesetuaan.–

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s