ENGLISH

EFFECTIVE WITHOUT MANIPULATIVE

Nowadays we hear and read pseudo-news which are spread through social media, that is hoax. Many people are cheated and their emotion are involved so they spread the issues too, even blow it up and mislead more people than before. In the ministry we also discover much more pseudos or manipulative even hypocritical ministry that makes deviation of church members’ faith and spiritual growth.

In this short article we will discover from the Bible some forms of manipulative ministry that getting God’s punishment. We will also discover how the Holy Spirit works in the life of the believers and make someone’s ministry be effective without manipulation.

Manipulative Ministry

            The term “manipulate” means “influencing  or  attempting  to  influence  the  behavior or emotions of others  for  one’s  own purposes.” The effort of those influencing use ways which break the norms and ethics and tends to be negative ones. We will discover some examples of manipulative living and ministry from the Bible: sacrificing without obedience, bones covered by tombstones.

            Sacrificing without Obedience – Para nabi dalam Perjanjian Lama menyampaikan teguran keras dari Tuhan kepada umat Tuhan yang pada saat itu rajin mempersembahkan korban kepada Tuhan. Namun di sisi lain mereka tidak hidup dalam pengenalan akan Allah, tidak hidup dalam kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya. Mereka tidak hidup dalam kebenaran. Nabi Hosea menegaskan bahwa TUHAN “… menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6). Artinya, persembahan korban kepada Tuhan hanya berupa formalitas belaka agar dilihat oleh orang lain, padahal tidak berasal dari hati yang mengasihi Tuhan. Ini termasuk kehidupan yang manipulatif, penuh kepalsuan. Yang Tuhan lihat adalah hati. Jika hati mengasihi Tuhan, maka korban yang dipersembahkan akan berkenan kepada-Nya.

Nabi Yesaya juga memberikan teguran dari Tuhan, “Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,” (Yesaya 58:5-6). Ibadah kepada Tuhan tidak hanya bersifat vertikal (doa dan puasa kepada Tuhan), melainkan juga bersifat horizontal (kebajikan kepada sesama). Jika tidak, maka ibadah vertical bersifat manipulatif!

           Tulang Bertutup Nisan – Dalam pelayanan-Nya Tuhan Yesus memberikan taguran yang senada kepada orang-orang hanya mementingkan ibadah yang nampak di luar saja. Pujian bisa datang dari manusia yang melihat hanya di depan mata, tetapi perkenanan dari Tuhan berdasarkan lubuk hati yang terdalam. Inilah yang Tuhan Yesus katakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” (Matius 23:27).

Bukankah pada zaman sekarang ini hal serupa sering terjadi? Di media sosial mengirimkan banyak ayat Alkitab dan renungan yang menyentuh hati, namun dalam kehidupan sehari-hari tidak ada kasih dan kesetiaan terhadap pasangan dan keluarga. Atau, di gereja nampak melakukan pelayanan di depan jemaat, tetapi di perusahaan melakukan tekanan kepada pegawai tanpa rasa perikemanusiaan sedikit pun. Pegawai hanya dianggap sebagai alat, bukan sebagai manusia yang berjasa terhadap perusahaan. Menjadi pejabat nampak membagi-bagikan uang dan melakukan amal kebaikan, namun semua berasal dari korupsi. Yang lebih mengerikan adalah ketika ada hamba Tuhan yang menyatakan di depan orang banyak bahwa telah terjadi mukjizat dan kesembuhan ilahi, padahal orang yang memberi kesaksian telah disewa lebih dahulu.

           

Pelayanan Efektif tanpa Manipulatif

Sebaliknya, Alkitab juga menyatakan adanya pelayanan yang penuh urapan Roh Kudus yang sangat efektif namun tidak manipulatif, antara lain: terjadinya mukjizat dan tanda ajaib, pertobatan sejati, dan integritas para rasul. Kata “efektif” berarti “1. ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya); 2. manjur atau mujarab (tentang obat); 3. dapat membawa hasil; berhasil guna (tentang usaha, tindakan); mangkus;  4. mulai berlaku (tentang undang-undang, peraturan).” Pelayanan yang efektif berarti pelayanan yang berdampak dan menjadi berkat bagi sesama.

            Mukjizat dan Tanda Ajaib – Berbagai mukjizat dan tanda ajaib yang dicatata oleh Alkitab merupakan karya Allah yang luar biasa. Tuhan membelah Laut Teberau, Tuhan menyediakan manna di padang gurun bagi umat-Nya, air keluar dari gunung batu, kesembuhan yang dialami Naaman dari penyakit kustanya, dan sebagainya, merupakan karya-Nya yang tak terbantahkan. Roh Kudus memberikan karunia mukjizat dan kesembuhan ilahi kepada orang-orang tertentu (1 Korintus 12:9-10). Orang lumpuh dapat berjalan, orang buta dapat melihat, bahkan orang mati dibangkitkan, semuanya merupakan karya Roh Kudus yang ajaib. Mukjizat dan kesembuhan ilahi semacam itu masih dapat terjadi di zaman akhir ini, karena Tuhan kita tidak berubah (Ibrani 13:8). Kita harus mempercayai dan mengakuinya jika Roh Allah memang bekerja dan menyatakan kuasa-Nya.

            Pertobatan Sejati – Orang yang dijamah oleh Roh Kudus akan mengalami pertobatan sejati. Ada sida-sida dari Etiopia yang bertobat melalui pelayanan yang efektif dari Filipus. Ada Kornelius yang bertobat bersama seisi keluarganya melalui pelayanan Rasul Petrus. Ada kepala penjara yang juga bertobat bersama sisi keluarganya melalui pelayanan Rasul Paulus dan Silas. Pertobatan sejati (tidak manipulatif, tidak berpura-pura), nampak dari adanya perubahan atau transformasi: dari orang yang egois menjadi orang yang peduli, dari orang yang penuh hawa nafsu kedagingan menjadi orang yang penuh buah Roh. Perubahan itu tidak hanya bersifat sementara melainkan terus berkelanjutan, bahkan semakin bertumbuh ke arah yang lebih baik.

            Integritas – Orang yang melayani dalam pimpinan Roh Kudus juga akan memiliki integritas yang baik. Orang yang berintegritas berarti ada memiliki kesamaan antara yang dikatakan dengan yang dilakukan, antara yang diimani dengan yang dialami. Jika dalam keadaan lemah, ia akan menyatakan bahwa ia sedang lemah dan membutuhkan orang lain untuk mendoakan dan menguatkannya. Kita tidak bisa terus hidup secara manipulatif seakan-akan iman kita adalah superman: tidak pernah gagal, tidak pernah lemah, dan sebagainya. Jauh lebih baik jika kita mengakuinya dan meminta Tuhan memulihkan kita. Justru dengan mengakui keberadaan kita, maka Tuhan akan mengampuni dan menyucikan kita (1 Yohanes 1:9). Jika kita berkata dalam persekutuan atau dalam ibadah raya bahwa kita mengasihi Tuhan dan sesama, maka kita akan menyatakannya dalam karya nyata (1 Yohanes 3:18).-

 

petrus f. setiadarma

 

Iklan