CERDIK 81-90

81. TEAMWORK

teaching-teamwork-to-engineers_hero          Saya yakin banyak di antara kita yang suka akan pisang goreng. Tetapi tahukah Anda bahwa untuk membuat sebuah pisang goring dibutuhkan banyak orang. Apakah satu dengan yang lain saling mengenal atau tidak, tetapi mereka semua telah melakukan apa yang menjadi bagiannya, sampai pisang goreng terhidang di depan kita disertai … secangkir kopi hangat. Ada yang menanam pohon kelapa yang nantinya diambil santannya, ada yang menanam pohon pisang. Ada pula yang menanam pohon kelapa sawit untuk diambil minyaknya, dan yang lain lagi menanam tebu untuk diambil gulanya. Apa yang nampak di sini? Sebuah teamwork.

Bekerja dalam sebuat team jauh lebih baik dari pada mengerjakan segala sesuatunya sendiri, sebagai single fighter. Mengapa? Orang Barat menyatakan bahwa sebenarnya istilah TEAM merupakan akronim dari Together We Achieve More atau “(dengan) bekerja bersama-sama kita bisa mencapai hasil yang lebih (banyak dan baik). Jadi, Apa saja manfaat bekerja dalam sebuah team? Pertama, terjadinya check and balance. Sebagai manusia yang tidak sempurna, dalam team terjadi saling melengkapi satu terhadap yang lain sehingga mengalami kemajuan bersama. Yang terlalu cepat bisa menyeimbangkan diri dengan yang terlalu lambat. Kedua,terbentuknya sinergi. Jika dengan dua orang sebuah meja bisa dibawa sejauh 1 mil, maka dengan 4 orang sebuah meja bisa dibawa sejauh 10 mil. Dalam kata synergy terletak kata pelibatgandaan kekuatan yang luar biasa. Ketiga, soliditas dalam pengambilan keputusan. Karena seluruh team dilibatkan dalam pengambilan keputusan, maka dalam pelaksanaannya tidak mengalami banyak benturan. Semuanya menjadi kompak dan solid.

Keempat, terjadinya interaksi sosial. Kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, saling membutuhkan satu dengan yang lain. Dalam team kita bisa melihat setiap perbedaan yang ada, mampu menerima perbedaan itu bahkan dapat bekerja sama dalam keberbedaan itu. Kelima, terjadinya kesinambungan. Ketika kita berhalangan, pekerjaan tidak terhenti, karena adanya sistem dalam sebuah team. Pekerjaan terus berjalan karena bisa ditangani oleh rekan yang lain dalam team. Keenam, terjadinya regenerasi. Ketika usia kita semakin tua, ada orang-orang yang lebih muda dalam team yang bisa melanjutkan pekerjaan itu, bahkan dengan hasil yang lebih baik. Mari kita bekerja dalam team, atau tidak sama sekali!

 

82. NASIHAT

Pengalaman bepergian dengan mobil bersama keluarga ke beberapa daerah memberikan tantangan tersendiri, khususnya di daerah yang baru didatangi untuk pertama kalinya. Tantangan itu berupa ketidaktahuan rute yang harus ditempuh hingga tiba di tempat tujuan, apalagi ketika tiba di persimpangan jalan dengan petunjuk yang tidak jelas. Maka saya pun turun dan menanyakan kepada beberapa orang yang ada di situ tentang arah mana yang harus saya tempuh untuk tiba di tujuan. Saya bersyukur bahwa sebagian besar rai mereka– sekalipun tidak saya kenal dengan baik – mau memberi tahu kepada saya, arah mana yang harus saya ambil agar tidak tersesat. Memang ada satu dua pengalaman di mana nasihat ‘penunjuk jalan’ itu menyesatkan. Saya sudah menuruti petunjuknya namun ternyata keliru dan saya tersesat. Untunglah ada orang lain lagi di tempat di mana saya tersesat mau memberitahu arah yang benar.

Dalam hidup ini seringkali kita menghadapi persimpangan jalan, bukan? Bukan hanya simpang tiga atau empat, bahkan bisa simpang tujuh, yang sering membuat kita pusing tujuh keliling. Pada saat itulah kita membutuhkan nasihat. Mulailah kita bertanya kepada beberapa orang, mulai dari teman dekat sampai kepada pembimbing rohani atau spiritual. Kemudian kita menghadapi kesulitan baru karena nasihat yang kita terima dari orang-orang itu sangat beragam. Bahkan tidak jarang ada nasihat yang justru saling bertentangan. Karena pengambilan keputusan ada di tangan kita sendiri, maka dibutuhkan kejelian untuk melihat nasihat mana yang bisa kita lakukan dan mana yang tidak. Bahkan ada nasihat yang ‘menyesatkan,’ sehingga jika kita tidak hati-hati, bukannya kita keluar dari masalah, malah bisa masuk ke masalah yang lebih pelik, masuk ke dalam lingkaran setan yang tidak ada ujungnya.

Seorang yang dipandang memiliki hikmat luar biasa, yang pernah memerintah sebagai seorang raja, yaitu Salomo atau Sulaiman berkata, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Berarti kita harus mampu menyaring atau menyeleksi pelbagai nasihat yang kita peroleh, yang diberikan oleh rekan-rekan kita, dan tidak ragu-ragu untuk menolak nasihat yang keliru. Mungkin bukan maksud mereka menjerumuskan kita, karena mereka sendiri menerima nasihat itu dari orang lain lagi.

Oleh sebab itu kita harus waspada dalam menerima pelbagai nasihat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerima nasihat orang lain adalah sebagai berikut. Pertama, nasihat harus berasal dari orang yang memiliki kompetensi atau keahlian di bidang itu. Misalnya, nasihat tentang keharmonisan harus berasal dari orang yang memahani prinsip hidup berkeluarga yang benar. Kedua, sang pemberi nasihat harus sudah menjalankan nasihat yang diberikannya dan menunjukkan keberhasilan nyata. Jangan menerima nasihat dari orang yang belum menjalankan nasihat itu, atau hidupnya penuh dengan kegagalan dari nasihat yang diberikannya. Dengan kata lain, kehidupannya tidak membuktikan kebenaran nasihat yang diberikan kepada kita. Ketiga, nasihat-nasihat yang diberikan orang itu ternyata telah banyak menjadi berkat dan memberikan pertolongan kepada orang yang menerimanya, tanpa mengorbankan iman, kebenaran, kekudusan, dan kejujuran. Misalnya, nasihat bagaimana mendidik anak diberikan oleh orang yang anak-anaknya terdidik dengan baik, banyak orang juga diberkati oleh nasihat itu, tanpa harus menggunakan cara-cara klenik, illegal, dan sebagainya. Keempat, kita harus melihat konteks dari nasihat itu sendiri. Artinya, mungkin sebuah masihat ternyata ampuh bagi seseorang dalan suatu konteks yang khusus, dan belum tentu efektif bagi kita yang konteksnya berbeda. Sebuah nasihat sangat spesifik, sehingga perlu pengamatan yang lebih mendalam.

 

83. STANDAR UTAMA

  standards          Kadang-kadang saya sendiri berpikir bahwa saya agak keterlaluan, bahkan terhadap putri sulung saya sendiri. Suatu ketika ia melaporkan kepada saya hasil studinya di semester 2. Saya cukup kaget, karena semua nilainya A, yang berarti ia berhasil mencapai indeks prestasi (IP) semester sempurna: 4! Ia begitu bersukacita, namun kemudian sedikit terkejut melihat raut muka saya. Di sinilah letak ‘keterlaluan’ sikap saya, yaitu ketika saya berkata, “Puji Tuhan! Papah senang kamu berhasil mencapai IP maksimal ini: 4! Tapi sepertinya masih bisa ditingkatkan lagi menjadi 4+!” “Hah, mana ada IP seperti itu? Kok 4+?” Lalu saya menjelaskan kepadanya, “Kamu memang pantas dapat IP 4, tetapi itu ‘kan baru IP akademik. Kamu hanya belajar untuk urusan akademismu, kan? Bagaimana dengan prestasi berorganisasi? Leadershipmu? ‘Kan belum kamu sentuh sama sekali? Jadi yang papa mau: prestasi akademik baik, tetapi prestasi dalam berorganisasi dan kepemimpinan juga baik. Bahkan prestasi dalam pelayanan bagi Tuhan dan sesame juga baik!” “Oh, gitu. Sekarang aku mengerti. Thanks, pap!” Mungkin Anda berpikir saya perfeksionis, padahal menurut saya tidak. Saya sedang berbicara tentang standar prestasi dengan putri saya.

Banyak orang berpikir telah hidup memenuhi standar kehidupan seperti yang Tuhan maksudkan. Mengapa kehidupan ini harus berurusan dengan Tuhan? Karena Dia adalah Pencipta kita, memiliki tujuan dalam menciptakan kita, dan kepada Dia kita akan kembali. Jika bukan harus hidup sesuai standar-Nya, dengan standar apa kita ukur prestasi dalam hidup ini? Seringkali kita berpikir bahwa kita sudah memenuhi standar-Nya. Padahal mungkin belum sama sekali! Seringkali yang kita jadikan standar dalam hidup ini adalah apa kata orang tentang kita, bukan apa kata Tuhan. Yang lain lagi meletakkan ukuran standar hanya pada penampilan di luar (outer beauty), padahal standar Tuhan justru lebih kepada apa yang ada di dalam (inner beauty). Menurut hemat saya kita perlu melakukan hal-hal berikut untuk bisa mencapai standar yang Tuhan inginkan dalam hidup ini. Pertama, kita harus mencari tahu sumber pengetahuan tentang kehendak Allah dalam kehidupan kita. Apa yang menjadi kehendak-Nya, dan apa yang dijadikan standar. Bagi saya, sebagai seorang Nasrani atau Kristen, Alkitab adalah sumber di mana saya bisa tahu apa yang Allah inginkan dalam hidup saya. Kedua, setelah kita mengetahui standar itu, kita mencoba mengukur diri kita apakah kita mampu memenuhinya atau tidak. Dan jawabnya sudah bisa saya terka: tidak! Tak ada seorang pun yang mampu memenuhi standar Allah dari dirinya sendiri . Saya sendiri juga tidak! Dengan adanya kesadaran ini maka kita membutuhkan pertolongan Allah sendiri dalam kehidupan kita, guna membimbing kita sehingga kita dapat belajar memenuhi standar Allah, yaitu: kekudusan, kasih, kebenaran, sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya.  Melalui siraman rohani atau membaca Kitab Suci dan merenungkannya secara rutin setiap hari kita dibimbing dan diarahkan untuk dapat memenuhi standar yang Allah tetapkan. Ketiga, kita harus melihat standar ini sebagai urusan pribadi kita dengan Tuhan. Jangan mudah terpengaruh oleh apa yang orang lain katakan tentang diri kita. Keempat, setiap saat kita harus mengintrospeksi diri di hadapan Tuhan, apakah saya sudah hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Jika belum, kita jangan frustrasi, karena Allah menyediakan pengampunan yang tiada taranya, dan kesabaran dalam menantikan kemajuan atau progresivitas kita. Asalkan kita mau belajar memenuhi standar-Nya, maka kita akan dimampukan oleh-Nya!

 

84. BATAS

limit          Pertikaian yang sering terjadi antara dua negara yang bertetangga: Indonesia dan Malaysia dipacu oleh terjadinya pergeseran batas di antara kedua negara yang ada di Pulau Kalimantan. Batas (border) suatu negara sangat penting karena berkaitan dengan kedulatan negara atas kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Apabila setiap negara dapat menghormati batas-batas yang telah ditetapkan, maka pertikaian yang tidak perlu dapat dihindari.

Dalam pergaulan antara pria dan wanita pun ada batas-batas kesopanan. Sekarang banyak istilah yang membuat hati ini miris. Betapa tidak! Ada istilah ­te-te-em (Teman Tapi Mesra). Apa batasannya? Istilah teman memiliki batasannya sendiri, dan istilah mesra atau kemesraan juga ada batasannya sendiri. Ketika keduanya dicoba untuk dipadukan, terjadilah kerancuan dan bisa menjadi sebuah masalah besar. Dalam dunia kerja juga ada batas antara pimpinan dengan bawahan. Ada batas-batas kesopanan, ada batas-batas kewenangan. Orang pada jabatan tertentu diberi kebebasan yang mungkin lebih  besar dibandingkan mereka yang berada di bawahnya. Namun kebebasan dalam kewenangan itu pun ada batasnya.

Dalam bermasyarakat dan bernegara pun ada batas-batasnya. Pejabat publik yang menggunakan kendaraan dinas perlu memahami batas-batas penggunaan kendaraan inventaris kantor itu. Begitu pula dalam mengambil kebijakan. Batasan kerja (job description) itulah yang menjadi batas kewenangannya. Ia tidak bisa berbuat semaunya sendiri. Demikian pula dengan keberadaan kita sebagai rakyat. Alam demokrasi yang penuh eforia tidak bisa dilakukan secara sembrono. Demokrasi didefinisikan sebagai “pemerintahan di tangan rakyat.” Kata “definisi” (Ing. definition) sendiri berarti “batasan.” Jadi kebebasan berekspresi dalam alam demokrasi pun perlu diberi batasan tertentu agar tidak terjadi kebablasan. Koreksi yang membangun tentu diperlukan oleh pemerintah, namun harus disampaikan dengan santun dan dalam batas demokrasi yang baik. Demokrasi yang destruktif bukanlah yang kita harapkan. Pelajari dengan baik batas berdemokrasi jika kita ingin menyampaikan pendapat kita.

Relasi kita dengan Tuhan juga tidak luput dari batas-batas. Ada hal yang Tuhan nyatakan kepada kita melalui Kitab Suci yang kita percaya masing-masing. Namun tentunya ada hal-hal yang masih merupakan misteri. Itu adalah hak prerogatif Tuhan untuk tidak memberitahukan kepada kita hal-hal tertentu. Kita pun tidak dapat memaksa-Nya agar Ia memberitahukan kepada kita tentang masa depan kita.

Mari kita belajar lebih dewasa dalam memahami pelbagai batasan yang telah ditetapkan bagi kita masing-masing. Dengan demikian kita akan terlindungi dari kehidupan yang lepas kendali, yang sedikit banyak akan merugikan baik diri kita sendiri maupun orang lain.

 

85. PERATURAN

22068882-know-the-rules-red-grunge-rubber-stamp-vector-illustration-stock-vector  Tentunya kita tidak setuju dengan ungkapan sebagian besar orang, bahwa peraturan itu dibuat memang untuk dilanggar. Peraturan dibuat tentunya untuk ketertiban sebuah komunitas dan seluruh masyarakat. Peraturan dibutuhkan dalam rumah tangga, dalam dunia pendidikan, dalam dunia bisnis dan perdagangan, dalam dunia pemerintahan, dalam dunia profesi, dan sebagainya. Jadi merenungkan tentang peraturan juga penting untuk dilakukan.

Kata “peraturan” berasal dari kata “atur”. Sesuatu yang dilakukan sesuai dengan peraturan akan menjadi teratur. Tuhan Pencipta sendiri telah menciptakan alam semesta ini dengan teratur. Planet-planet pada sistem tata surya kita berotasi dan berevolusi dengan kecepatan yang telah diatur oleh Tuhan, sehingga semuanya berjalan dengan baik. Ini semua bukan sekedar karena faktor kebetulan, melainkan karena Sang Pencipta yang mengaturnya. Itu berarti Tuhan menghendaki agar semua kehidupan yang ada di planet bumi ini diatur dengan sebaik-baiknya. Maka para pemilik otoritas pun mulai menyusun peraturan-peraturan.

Dalam memahami peraturan ini ada beberapa hal penting yang perlu dicermati. Pertama, pihak yang membuat peraturan. Ada sekelompok pemimpin yang membuat peraturan dengan motivasi mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Ada partai politik yang berkesempatan duduk sebagai penguasa membuat peraturan bukan untuk rakyat yang memilihnya, melainkan juga hanya untuk kepentingan partai politik itu sendiri. Ada pimpinan keagamaan yang harusnya membuat peraturan yang bisa mengayomi seluruh praktek keagamaan yang sangat beragam, justru membuat peraturan hanya untuk praktek agamanya sendiri. Seyogyanya para pembuat peraturan harus memperhatikan aspirasi semua pihak yang berkaitan dengan peraturan itu, dan bukan hanya pihak atau golongan tertentu saja.

Kedua, pihak yang harus menaati peraturan. Sosialisasi sebuah peraturan diperlukan agar komunitas yang harus menaati peraturan itu mengerti tujuan disusunnya peraturan itu dan manfaat dalam menaati peraturan itu. Jika ini tidak dilakukan, maka ketaatan terhadap peraturan bisasnya dilakukan hanya jika ada petugas. Begitu tidak ada petugas, maka pelanggaran pun dilakukan. Baik di sekolah, di jalan raya, di mana saja, hal semacam ini sering terjadi. Orang-orang tidak melihat manfaat peraturan itu bagi diri mereka. Mengapa saya harus memakai helm saat berkendara sepeda motor? Supaya saya aman jika mengalami kecelakaan dan saat kepala membentur aspal atau benda keras lainnya. Namun yang terjadi, orang memakai helm ketika berkendara di jalan raya saja di mana ada polisi yang bisa menilang mereka. Sedangkan jika berkendara di jalan-jalan kampung? Helm itu tidak digunakan lagi.

Ketiga, pihak yang mendisiplin pelanggar peraturan. Pelanggaran terhadap suatu peraturan selalu merupakan keniscayaan. Itulah sebabnya dalam setiap peraturan selalu dicantumkan sanksi apa yang akan diperoleh orang-orang yang melanggar peraturan itu. Mulai dari teguran lisan, tertulis, denda, sampai kepada hukuman penjara. Bahkan di bdberapa negara ada hukuman badan (cambuk, jemur atau pepe, dan sebagainya). Namun urutan sanksi itu sering tidak dilakukan. Sebagai contoh saya ambil dari peraturan di jalanan,

Jarang sekali ada polisi yang memberikan teguran lisan saat ada yang melanggar peraturan lalu lintas. Mereka langsung menilangnya bahkan mau menerima upaya “damai” agar petugas itu memperoleh uang. Maka, jadilah penilangan sebagai bentuk disiplin satu-satunya bagi pelanggar peraturan lalulintas. Itu menyebabkan banyak orang melecehkan polisi lalu lintas. Jika keadaan lalu lintas sedang macet atau semrawut, hanya satu dua orang polisi saja yang bertugas. Namun saat sepi, banyak polisi bertugas dengan harapan ada yang melanggar sehingga bisa ditilang. Ini bukan suatu dugaan tetapi fakta yang ada di lapangan.

Keempat, fleksibilitas peraturan. Manusia tidak sempurna. Itu berarti dalam setiap peraturan yang dibuat selalu ada klosula yang memberikan sedikit kelonggaran atau fleksibilitas jika ada hal-hal yang belum diatur dalam peraturan itu. Keputusan biasanya diambil berdasarkan kebijakan. Harus ada fleksibilitas dalam peraturan yang dibuat orang tua untuk anak-anak. Jika tidak, maka berarti manusia dibuat untuk peraturan, padahal yang benar: peraturan dibuat untuk manusia. Itu berarti pendekatan kemanusiaan harus lebih diutamakan dari pada pendekatan peraturan.

Kelima, relevansi peraturan. Zaman terus berubah. Itu berarti jika ada peraturan yang memang sudah tidak relevan lagi juga harus diubah. Bagaimana peraturan dalam rumah tangga kita, bagi anak-anak kita yang hidup di zaman yang telah berubah? Masihkah kita mempertahakan peraturan di zaman kita masih kecil terhadap anak-anak kita yang zamannya sudah berubah? Relevansikan peraturan tanpa mengubah esensinya, maka semuanya kembali akan berjalan dengan teratur.-

 

86. RUMAH

consider-before-buying-home-hp-orig            Banyak orang yang menyatakan bahwa sekalipun mereka telah melanglangbuana ke seluruh dunia, tidak ada tempat seindah rumah. Itulah sebabnya orang Barat menyatakan home sweet home. Dengan digunakannya istilah home untuk ‘rumah’ dan bukan house, berarti yang membuat sebuah rumah itu indah dan manis bukanlah gedungnya, bukan lengkap dan mahalnya perabotan yang ada di dalamnya, bukan pula mewahnya masakan yang disajikan, melainkan pada suasana kedamaian yang ada di dalamnya.

Secara mendasar, sebuah rumah dihuni oleh sebuah keluarga inti yang terdiri dari ayah ibu dan anak(-anak). Ketika setiap anggota keluarga dalam rumah itu menjalankan fungsinya dengan baik, maka keluarga itu akan berjalan dengan harmonis. Bagaimana membangun sebuah keluarga yang harmonis? Mungkin Anda sudah mempersiapkan jawbannya, “Cinta, Pak.” Ya, saya setuju. Tapi tunggu dulu. Cinta itu harus diwujudkan dalam hal-hal nyata, bahkan yang nampaknya sederhana.

Pertama, pemeliharaan fisik. Rumah ditata dengan baik, barang-barang diletakkan pada tempatnya, ruangan demi ruangan dijaga kebersihannya, penerangan lampu sewajarnya. Udara pun diberi tempat sewajarnya, sehingga seisi rumah sehat. Saya menjumpai seorang nenek yang sering sakit-sakitan. Ketika saya menanyakannya kepada putrinya, ia berkata, “Yah, begitulah orang tua pak. Memang sudah waktunya sakit-sakitan.” Namun saya merasa ada sesuatu yang nampaknya perlu dibenahi. Jadi saya menyempatkan diri menengok tempat tinggal nenek ini. Nah, ketahuanlah penyebabnya. Ternyata nenek ini tinggal di sebuah kamar yang pengap, penuh dengan barang dagangan. Tidak ada sirkulasi udara sama sekali. Pantas saja ia sakit-sakitan. Ketika saya menyampaikan temuan itu, mereka sekeluarga akan mencoba mengaturnya. Setelah beberapa waktu, saya mendapati nenek ini dalam kondisi yang sehat, bahkan bisa bepergian cukup jauh. Mengapa?  Karena sekarang ia tinggal di rumah yang bersih dan tertata rapi.

Kedua, penerimaan diri. Ketika setiap orang dalam keluarga bisa menerima satu dengan yang lain apa adanya dan saling mengisi, maka keharmonisan pun terjadi. Kata “harmoni” berasal dari kata Yunani “harmonia”, yang berarti “hubungan, persetujuan, kesesuaian.” Kata kerjanya adalah harmozo, yang berarti “menggabungkan, atau mencocokkan.” Untuk bisa dihubungkan perlu ada kesesuaian. Tetapi kata “kesesuaian” tidak selalu sama dengan “kesamaan”. Lebih tepat dikatakan ‘keterpaduan”. Gambaran yang sangat jelas adalah dalam dunia musik. Keharmonisan dalam dunia musik bisa dicapai oleh beberapa alat musik yang dimainkan. Nada-nadanya bisa berbeda satu dengan yang lain, tetapi tetap tercapai keterpaduan. Nada do, mi dan sol tentunya berbeda satu dengan yang lain. Namun ketika dinyanyikan bersama, menjadi nada harmoni dasar do-mi-sol. Bahkan nada-nada miring seperti ri, fi, sel, tetap bisa membentuk keterpaduan. Oleh sebab itu setiap anggota keluarga hendaknya bisa menerima perbedaan yang ada dan memadukannya.

Ketiga, komunikasi. Para ahli telah memelajari pentingnya komunikasi ini di antara anggota keluarga, baik komunikasi verbal melalui perkataan maupun non-verbal melalui sikap dan tingkah laku. Setiap orang harus mau memahami cara berkomunikasi dengan baik dan benar. Dalam berkomunikasi kita menyampaikan pesan. Dalam prosesnya bisa terjadi kesalahpengertian atau distorsi dari apa yang dimaksud oleh pemberi pesan. Dibutuhkan adanya feedback untuk melihat sejauh mana pesan diterima dengan benar dan ditanggapi dengan pesan berikutnya. Dalam komunikasi juga dibutuhkan kreatifitas. Tuhan sendiri menggunakan banyak cara, dan berulang-ulang berkomunikasi dengan manusia, baik melalui alam, sejarah, hati nurani, dan juga para nabi. Kita dapat menggunakan cara-cara kreatif dalam berkomunikasi. Komunikasi yang baik dan benar menentukan keharmonisan.

Keempat, kehidupan sosial. Kita tinggal di sebuah rumah yang berdekatan dengan para tetangga. Kita harus menjaga keharmonisan juga dengan lingkungan kita. Tidak mengganggu tetangga dengan suara musik yang terlalu keras, menyempatkan diri berbincang-bincang dengan tetangga, dan sebagainya, merupakan hal-hal yang nampaknya sepele tetapi sangat penting. Jangan menjadi orang yang eksklusif, sehingga dengan tetangga terdekat pun tidak tahu. Kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, yang perlu berinteraksi dengan sesamanya. Yang perlu diwaspadai dalam pertetanggaan ini adalah munculnya gossip yang tidak perlu, yang bukannya membangun keharmonisan melainkan justru bisa merusak keharmonisan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s