REKAT (1001-1100)

PA-1001. “Tetapi orang-orang yang benar saleh akan menghakimi mereka …” (Yehezkiel 23:45). Tindakan menghakimi berarti menyatakan benar salahnya seseorang secara etika moral dengan menggunakan suatu standar yang mutlak. Berarti, tidaklah mudah untuk bisa menghakimi orang lain.

Pertama, ia harus mengenal standar yang mutlak itu. Adakah standar mutlak di dunia ini? Semua standar etika moral yang digunakan oleh manusia bersifat relatif, kecuali kebenaran firman Allah. Orang yang mau menghakini harus benar-benar mengenal dan memahami firman Allah sebagai standar yang mutlak itu.

Kedua, ia sendiri harus hidup benar-benar saleh. Artinya, ia harus telah menaati spenuhnya standar yang mutlak itu. Hal ini menjadi mustahil karena walaupun keinginan hatinya kuat, tetapi tubuhnya lemah, untuk bisa taat secara total. Berarti status benar-benar saleh hany abisa diperoleh sebagai anugerah, yaitu karya pembenaran (justification) dari pengorbanan Yesus Kristus di Golgota.

Ketiga, ia harus memperoleh panggilan dan tugas dari Tuhan untuk menghakimi sesamanya.

Keempat, ia harus tahu dengan benar kapan waktunya menghakimi. Kesimpulannya adalah kita tidak boleh menghakimi siapa pun, karena ketika menghakimi orang lain, kita juga menghakimi diri kita sendiri. Yesus Kristuslah yang ditetapkan Bapa untuk menjadi Hakim atas yang hidup dan yang mati. Dari pada menghakimi orang lain, jauh lebih baik kita melakukan introspeksi atas diri kita sendiri.-

PA-1002. “… Aku akan menghakimi engkau menurut perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 24:14). Dalam banyak kesempatan saat diajukan pertanyaan manakah yang lebih besar yang Allah miliki: keadilan-Nya atau kasih-Nya, sebagian besar menjawab: kasih-Nya. Jawaban yang benar adalah: dua-duanya sama besar. Allah itu kasih tetapi ia juga adalah hakim. Karena terlalu seringnya hanya kasih Allah yang diberitakan, maka banyak orang percaya lupa bahwa Allah itu juga adil. Dalam kemahaadilan-Nya itulah kelak Ia akan menghakimi kita. Penghakiman dari Allah berbeda dengan penghakiman manusia atas sesamanya.

Pertama, penghakiman-Nya berdasarkan kebenaran yang mutlak. Allah tidak bisa disuap dengan apapun, termasuk dengan persembahan atau perbuatan baik kita.

Kedua, penghakiman-Nya sangat obyektif. Semua yang dilakukan oleh umat manusia, pribadi lepas pribadi, dari lahir sampai mati, tercatat atau terekam dengan baik. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya.

Ketiga, penghakiman Allah berdasarkan kepada firman-Nya. Tidak ada hukum atau perjanjian yang dibuat Allah di luar firman-Nya yang telah diberikan kepada kita. Manusia tidak bisa menghindar dari penghakiman Allah ini dengan alasan tidak mengetahuinya, sebab “Ia memberi kekekalan dalam hati mereka” (Pengkhotbah 3:11b).

Keempat, penghakiman Allah hanya dapat luput atas diri seseorang apabila Allah sendiri menyatakan bahwa orang itu benar, not guilty. Hal itu hanya dapat diperoleh ketika manusia bersedia menerima solusi yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita yaitu karya pembenaran oleh Yesus Kristus.-

PA-1003. “… dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah yang membalas, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 25:14). Ada 4 suku bangsa yang disebutkan di sini yang memperoleh teguran dan penghukuman dari Tuhan, yaitu: Amon, Moab, Edom, dan Filistin. Salah satu penyebabnya adalah karena ada yang menertawakan saat umat Tuhan mengalami didikan Tuhan demi kebaikan mereka.

Hal ini dapat digambarkan seperti seorang anak yang menertawakan saudaranya yang sedang didisiplin oleh ayahnya. Bukannya ikut prihatin tetapi justru menertawakan mereka. Itulah sebabnya, setelah Tuhan selesai mendisiplin umat-Nya, Ia berurusan dengan mereka. Hal ini bisa saja terjadi pada masa kini.
Ketika ada sesama kita yang sedang menderita, lalu kita menari-nari dan bersukacita. Ada lagu rohani yang mengatakan bahwa ketika dunia mengalami resesi, anak-anak Tuhan mengadakan resepsi. Ini sama sekali merupakan perbuatan yang tidak sesuai firman Tuhan. Tidak ada rasa kemanusiaan, tidak ada keprihatinan.
Yesus Kristus tidak tertawa saat Maria dan Marta menangis karena Lazarus, saudara mereka mati. Yesus Kristus juga menangis saat melihat mereka menangis (Yohanes 11:35). Ia juga menangisi kota Yerusalem, kota yang selalu menolak kehadiran-Nya, kota penuh darah (Lukas 19:41). Firman Tuhan berkata, agar kita bersukacita dengan orang yang bersukacita, tetapi kita juga menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15).
Hal ini disebut dengan “pelayanan yang inkarnasional”, menjadi serupa dengan siapa yang kita layani, sebagaimana Yesus Kristus yang adalah Sang Firman, Allah sendiri, yang rela menjadi sama dengan manusia untuk mengangkat manusia dari lumpur dosa!

PA-1004. “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada saat Aku menjadikan engkau kota reruntuhan, seperti kota-kota yang tak berpenduduk lagi, kalau aku menaikkan pasang samudera raya atasmu dan banjir menutupi engkau” (Yehezkiel 26:19).

Ada orang yang suka bertempat tinggal di perbukitan, karena merasa aman di sana. Yang lain lagi lebih suka bertempat tinggal di daerah pesisir. Alasannya jug karena merasa aman di sana. Benarkah demikian? Bukankah yang tinggal di perbukitan sering terkena bencana longsor, dan yang tinggal di daerah pesisir mudah terkena bencana tsunami?

Tirus adalah kota pelabuhan yang besar di daerah Libanon, yang dahulu dihuni bangsa Fenisia. Dalam Perjanjian Baru biasa disebut “Tirus dan Sidon” karena keduanya adalah kota yang berdampingan. Namun karena keangkuhannya, merasa aman dan kaya, Tuhan menghukum Tirus dengan mengirimkan tentara dari Babilonia!

Tidak ada satu tempat pun yang aman, selama seseorang hidup dalam keangkuhan dan tidak mau hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tak ada yang bisa dibanggakan dan dijadikan tempat aman, selama hidup kita jauh dari Tuhan. Kekayaan bisa habis, perlindungan diri bisa dijebol, jika Tuhan menghendakinya.

Oleh sebab itu, apa pun kelebihan yang kita miliki, di mana pun kita berada dan kemana pun kita pergi, kita perlu senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan meletakkan Tuhan di atas segalanya!

PA-1005. “Ke lautan luas pendayungmu membawa engkau. Tetapi badai timur melandamu di tengah lautan.” (Yehezkiel 27:26). Masih tentang Tirus. Dalam pasal ini disebutkan begitu banyak mitra dagang Tirus. Ia layak disebut Kota Dagang Terbesar di kawasan itu. Kemajuan di bidang bisnis dan perdagangan selalu dimungkinkan terjadi, karena kepada manusia diberikan kemampuan akal budi yang baik. Dengan prinsip “yang kuat yang menang” maka siapa yang menguasai dunia perdagangan akan mampu menguasai dunia.

Sayangnya, dunia bisnis terkadang penuh dengan intrik-intrik yang jahat dan tidak berkenan kepada Tuhan: pemalsuan barang, penghindaran pajak, penindasan terhadap karyawan, pendewaan terhadap uang, keangkuhan, kemaksiatan, dan sebagainya. Itulah sebabnya, ketika Tirus membanggakan dirinya seakan-akan tak terkalahkan, TUHAN turun mengacaukannya … persis seperti ketika Ia mengacaukan pembangunan Menara Babel. Ingatlah akan beberapa bisnis masa lalu yang dilakukan oleh tokoh-tokoh bisnis tertentu? Banyak yang kemudian hancur, bukan?

Andaikan saja semua bentuk kemajuan bisnis yang kita lakukan dipahami sebagai karya dan anugerah Tuhan melalui kita, maka Ia berkenan atas kita dan membuat bisnis kita tetap dapat berjalan dengan baik dan akan terus bekelanjutan. Lakukan bisnis dan perdagangan dengan cara Tuhan! Dunia bisnis tidak boleh dilepaskan dari relasi dengan Tuhan, karena Ia adalah Penguasa Sejati atas segalanya, termasuk dunia bisnis dan perdagangan.-

PA-1006. “Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi Kau kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya.” (Yehezkiel 28:17). Ucapan terhadap Tirus berlanjut dengan menjadikannya sebagai simbol kejatuhan malaikat Lucifer yang dicampakkan oleh Allah dari surga ke bumi.

Nama “Lucifer” disebutkan dalam King James Version, sedangkan dalam terjemahan Bahasa Indonesia disebut “Bintang Timur”. Ia juga disebut “puteraFajar”, penuh cahaya kemuliaan (Yesaya 14:12). Lucifer adalah pemimpin malaikat yang bertugas memimpin pujian kepada Allah di surga. Amat disayangkan jika kemudian dalam kesombongannya ia menempatkan diri sama dengan Allah (Yehezkiel 28:6).

Saat dicampakkan ke bumi, ia yang kemudian disebut Iblis (Setan), mampu menyeret sejumlah malaikat dari surga yang kemudian disebut dengan setan-setan. Ia juga disebut Pencuri yang selalu ingin mencuri, membunuh dan membinasakan. Ia masuk ke dalam dunia, mencobai orang-orang percaya, menimbulkan pemberontakan dan kehancuran. Terlebih di Akhir Zaman ini Iblis (juga disebut si Ular Tua – Wahyu 12:9) bekerja lebih giat dari sebelumnya, karena ia tahu bahwa saatnya hampir tiba dimana ia akan dicampakkan ke dalam lautan api dan belerang dan disiksa siang malam sampai selama-lamanya.

Iblis bukan penguasa neraka, melainkan ia akan disiksa selama-lamanya di neraka beserta orang-orang yang menyembahnya (Wahyu 20:10). Oleh sebab itu mintalah selalu kepada Roh Kudus untuk memberikan kemenangan atas segala pencobaan yang dipakai Iblis untuk menjatuhkan kita, agar kita tetap setia kepada Tuhan Yesus Kristus.-

PA-1007. “Aku akan memberikan kepadanya tanah Mesir sebagai pahala atas pekerjaan yang dilakukannya, sebab mereka bekerja bagi-Ku, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 29:20). Negeri Mesir dan Babilonia, kedua-duanya adalah bangsa yang tidak mengenal YHWH, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Kedua-duanya juga pernah menyakiti umat Tuhan dan menimbulkan penderitaan bagi mereka. Umat Tuhan pernah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun lamanya, dan mereka pun berada sebagai bangsa buangan di Babilonia. Namun Tuhan memperlakukan keduanya berbeda. Mesir ditetapkan Allah menjadi taklukan Babilonia? Mengapa?
Menurut pasal ini ada dua sebab: pertama, sebab Mesir membanggakan Sungai Nil, bukan membanggakan Tuhan yang menciptakan Sungai Nil; kedua, sebab Mesir pernah ingkar janji saat dimintai pertolongan oleh umat Tuhan, sehingga umat Tuhan mengalami kekalahan dalam melawan Asyur. Sebaliknya, sekalipun Raja Nebukadnezar juga pernah membanggakan dirinya, tetapi ia segera bertobat. Dan, tanpa disadarinya, ia mau dipakai Tuhan untuk mendisiplin umat-Nya.
Jadi, ada dua kemungkinan ketika kita mendatangkan “penderitaan atas orang lain” yaitu: arogansi kita sehingga kita justru melawan Tuhan yang mengasihi mereka; atau kerendahan hati kita sehingga justru menjadi alat Tuhan dalam mendisiplin mereka.
Ini dapat diaplikasikan oleh orang tua kepada anak-anak: memukul mereka dengan rotan secara membabi buta dan semena-mena atau memukul mereka dengan rotan demi kebaikan mereka (2 Samuel 7:14; Amsal 23:14).-
PA-1008. “Dan Aku akan menjatuhkan hukuman atas Mesir dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” (Yehezkiel 30:19). Kata “menjatuhkan hukuman” merupakan terjemahan dari kata “execute judgments” (melaksanakan penghakiman). Mungkin mendengar kata “TUHAN menghukum” lebih sulit diterima daripada kata “TUHAN menghakimi”, walaupun keduanya bermakna sama.
Dari ayat tersebut ternyata orang akan “mengetahui bahwa Allah adalah TUHAN” bukan saja dari kasih dan pemeliharaan-Nya, tetapi juga dari keadilan-Nya. Ketika seseorang hanya melihat satu sisi saja yaitu kasih Allah, maka ia bisa memanfaatkan kasih Allah ini untuk beruangkali berbuat dosa dan menyakiti hati Allah. Seharusnya kasih Allah harus dimaknai sebagai anugerah besar dalam hidup ini sehingga kita tidak mau menyakiti hati-Nya. Namun dalam kenyataannya ketika kasih diberikan, ada yang semakin menjadi-jadi kejahatannya.
Sisi lainnya, yaitu keadilan Allah, bisa membuat seseorang terdorong untuk bertobat. Bentuk-bentuk keadilan dan penghakiman oleh Allah dalam Alkitab: menghukum bumi dengan Air Bah pada zaman Nuh, memusnahkan kota Sodom dan Gomora dengan api dan belerang pada zaman Lot, mengirimkan tulah-tulah atas Mesir pada zaman Musa, penghancuran Bait Suci dan pembuangan ke Babilonia pada zaman Daniel, seharusnya membuat manusia berhenti berbuat dosa. Kalaupun masih bisa jatuh ke dalam dosa, namun segera membereskannya dengan Tuhan dan memohon pengampunan-Nya, serta bertobat, tidak melakukannya lagi.
Jadi, jangan alergi terhadap keadilan Allah. Kita harus seimbang mengenal-Nya, yaitu melalui kasih-Nya dan keadilan-Nya.-
PA-1009. “Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena ia tumbuh tinggi dan puncaknya menjulang sampai ke langit dan ia menjadi sombong karena ketinggiannya.” (Yehezkiel 31:10). Kehebatan Mesir dengan rajanya Firaun digambarkan dalam pasal ini bagaikan tanaman yang sangat indah. Segala pohon-pohon yang di taman Allah tiada yang dapat disamakan dengan dia mengenai keelokannya.
Di sinilah ujian karakter berlangsung. Saat berada di puncak. Saat mencapai keberhasilan. Saat mampu mengatasi segalanya. Ujian karakter itu berkaitan dengan kerendahan hati. Apa dampak negatif yang bisa terjadi akibat kesombongan?
Pertama, ia tidak memuliakan Allah. Ia merasa bahwa keberhasilannya berasal dari dirinya sendiri, padahal itu adalah anugerah dari Allah. Kedua, pendewaan diri. Dengan kesombongannya itu ia bisa jatuh ke dalam penyembaan berhala, yaitu mendewakan dirinya sendiri sebagai yang paling hebat.
Ketiga, ia tidak akan pernah mengalami kemajuan lagi. Orang yang sombong pada umumnya sudah ada di puncak, sehingga tidak ada puncak gunung yang bisa didaki lagi. Padahal … di atas gunung yang tinggi masih ada gunung yang lebih tinggi. Keempat, ia akan merendahkan orang lain. Itulah yang sering terjadi dimana ia bersikap arogan dan menghina sesamanya.
Akhirnya ia menjadikan dirinya musuh Allah, dan dihancurkan oleh Allah, karena Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati.-
PA-1010. “Oleh karena ia menimbulkan ketakutan di dunia orang-orang hidup, …” (Yehezkiel 32:32). Ini adalah alasan lain mengapa TUHAN menghukum Mesir dan Firaun, rajanya.
Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing, yang menyangkut cara dan metode memimpin agar orang-orang yang dipimpinnya atau pihak-pihak lain mau tunduk kepadanya. Salah satu cara yang paling banyak digunakan oleh para pemimpin adalah “menimbulkan ketakutan” atau terror. Ketika seseorang takut maka ia akan melakukan apa yang diinginkan oleh si pemimpin itu. Rasa takut di sini memiliki konotasi negatif, karena adanya ancaman. Pemimpin itu juga bisa memiliki rasa takut apabila ada pemimpin lain di atasnya yang jauh lebih kuat daripadanya.
Ini sangat berbeda dengan versi King James, “For I have caused my terror in the land of the living; …” (“Sebab Aku telah menimbulkan ketakutan di negeri orang-orang hidup: …”). TUHAN menimbulkan ketakutan dari sisi positif, yaitu rasa hormat, kewibawaan, bukan ancaman. Itu pun demi kebaikan kita, umat-Nya. Ketika kita takut akan TUHAN, maka kita akan menaati perintah-Nya, dan itu merupakan awal dari segala hikmat dan pengetahuan (Amsal 1:7). Takut akan TUHAN berarti mengasihi-Nya, karena Ia telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Oleh sebab itu, jangan menebarkan terror, melainkan menebarkan kedamaian dengan mengajak semua orang untuk takut hanya kepada TUHAN, Sang Pemilik Kehidupan.-
PA-1011. “Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.” (Yehezkiel 33:9).
Yehezkiel mendapat tugas untuk menjadi penjaga bagi bangsanya. Jika ada yang berdosa, maka ia harus memperingatkan mereka. Peringatan atau teguran itu bisa membuat si pendosa bertobat tetapi bisa juga tidak karena yang bersangkutan memang tidak mau bertobat. Namun jika Yehezkiel berdiam diri saat ada orang yang berbuat dosa, berarti Yehezkiel melalaikan tugasnya sebagai penjaga. Kalau orang itu ternyata kemudian terkena hukuman Tuhan atas dosanya, maka Ia akan menuntut pertanggungan jawab dari Yehezkiel sebagai penjaga itu.
Tugas sebagai penjaga ini dipercayakan Tuhan kepada kita: orang tua atas anak-anak dan sebaliknya, isteri terhadap suami dan sebaliknya, hamba Tuhan atas jemaat dan sebaliknya, pemimpin bangsa atas rakyat dan sebaliknya, bahkan kita adalah penjaga bagi sesama kita. Kita tidak boleh tidak peduli dengan berbagai kesalahan dan dosa yang terjadi di sekitar kita dan berkata, “Yang penting saya sendiri tidak berdosa atau melakukan kesalahan tersebut.”
Ketidakpedulian itu sendiri merupakan kekeliruan di hadapan Tuhan.
Yang harus kita lakukan adalah: meminta Roh Kudus senantiasa memimpin kehidupan kita agar kita tidak berdosa kepada Tuhan; kemudian, oleh pertolongan Roh Kudus itu pula kita berikan teguran atas dasar kasih kepada siapa saja yang kita tahu melanggar firman Tuhan. Apabila yang kita tegur ternyata kemudian bertobat, maka malaikat di sorga bersorak. Namun jika mereka tetap tidak mau bertobat, itu adalah urusan mereka dengan Tuhan. Kita sudah lepas dari tanggung jawab atas nyawanya, karena kita sudah menegur dan memperingatkannya.-
PA-1012. “Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.” (Yehezkiel 34:15-16).
Ada kesejajaran antara pernyataan Tuhan di atas dengan pengakuan Daud bahwa TUHAN adalah Gembalanya (Mazmur 23) serta pernyataan Yesus Kristus sendiri sebagai Gembala Yang Baik (Yohanes 15). Ini adalah metafora atau kiasan yang sangat indah. Sebagai domba kita sama sekali tidak akan pernah tahu jalan pulang, mudah tersesat, rentan dan mudah terluka, serta mudah menjadi mangsa binatang buas. Hanya dekat dengan gembala sajalah domba-domba itu akan terawatt dan terlindungi dengan baik.
Di sisi lain, pernyataan Tuhan kepada Yehezkiel itu merupakan hal yang sangat berbeda dengan keberadaan para pemimpin umat Tuhan yang digambarkan sebagai gembala yang menikmati susu domba, pakaian dari kulit domba, makan daging domba, tetapi domba-domba itu sendiri tidak mereka gembalakan (Yehezkiel 34:3). Apabila kepada kita dipercayakan sejumlah domba – berapapun banyaknya – mari kita menggembalakannya dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana Tuhan sendiri telah memberi contoh penggembalaan kepada kita. Ia bahkan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba itu.
Sudahkah kita rela berkorban bagi domba-domba yang dipercayakan kepada kita? Atau sebaliknya, kita justru memperkaya diri dengan memanfaatkan domba-domba itu?

PA-1013. “Oleh karena dalam hatimu terpendam rasa permusuhan yang turun-temurun … waktu saatnya tiba untuk penghakiman terakhir.” (Yehezkiel 35:6). Salah satu sebab TUHAN murka kepada bangsa Edom (keturunan Esau) adalah karena mereka menyimpan dendam turun temurun, alias tidak mau mengampuni orang yang bersalah kepada mereka.

Dengan menyimpan dendam: (1) kita menyimpan sesuatu yang bisa merusak kesehatan tubuh kita karena dendam akibat kebencian atau kepahitan akan menjadi lahan subur bangkitnya sel-sel penyakit yang mematikan dalam tubuh kita; sebaliknya, hati yang mengampuni akan mematikan sel-sel penyakit tersebut. (2) kita menyangkal keberadaan kita sebagai anak-anak Allah yang seharusnya mau mengampuni sebagaimana Allah Bapa kita telah, sedang, dan akan mengampuni dosa-dosa kita. (3) kita bisa menjadi alat penyebar kebencian sebab pada umumnya orang yang suka mendendam akan menyebarkannya kepada orang lain;

(4) dengan menjadi pendendam berarti kita hanya fokus kepada kesalahan orang lain, padahal diri kita sendiri pun tidak luput dari dosa dan kesalahan; (5) dengan menjadi pendendam kita tidak menaati firman Tuhan yang berkata supaya kemarahan kita hanya sampai matahari terbenam (Efesus 4:26)

Singkat kata, tidak ada manfaatnya sama sekali menjadi seorang pendendam. Sebaliknya, pendendam akan menerima murka Tuhan. Oleh sebab itu mari kita tinggalkan sifat pendendam, dan diganti dengan sifat mudah memaafkan dan mengampuni sama seperti Bapa yang mengampuni segala kesalahan kita.-

PA-1015. Yehezkiel 37:34 – “Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. …”
 
TUHAN melihat bahwa pengharapan umat-Nya telah pudar. Mereka sama sekali tidak mampu melihat akan adanya hal-hal yang baik di masa depan. Mereka pesimis. Mereka digambarkan seperti tulang-tulang yang amat kering, berserakan di sebuah lembah. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.
 
Itulah sebabnya TUHAN memberikan kehidupan melalui Roh-Nya kepada mereka. Segera saja terjadi perubahan yang sangat dramatis. Tulang-tulang itu kemudian bergerak, diberi urat, daging, dan kulit. Cukupkah itu? Tidak! Kehidupan sejati tidak hanya terdiri dari kumpulan benda-benda mati seperti tulang, urat, daging dan kulit. TUHAN memberikan nafas hidup dan kemudian mereka menjadi sekumpulan tentara yang sangat besar. Dari tulang kering menjadi pasukan pemenang! Itu hanya terjadi apabila Roh Allah tinggal di dalam kita.
 
Jangan terus berputus asa dalam hidup ini. Jangan pesimis memandang masa depan. Di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Di dalam Tuhan selalu ada masa depan. Sikap pesimis tidak akan mendatangkan faedah sedikit pun. Sikap pesimis tidak mendatangkan perubahan yang positif. Sebaliknya justru akan menghancurkan diri sendiri dan orang lain.
 
Miliki sikap optimis, sebab di dalam Tuhan selalu akan ada jalan keluar. Orang yang optimis tidak akan pernah berhenti berharap, karena ia tahu bahwa Tuhan sudah menyediakan sesuatu yang lebih baik baginya. Izinkan Roh Tuhan mengubah hidup yang kering dan tidak berguna menjadi hidup yang segar dan bermanfaat bagi banyak orang.-
Iklan