REKAT (1001-1100)

PA-1001. “Tetapi orang-orang yang benar saleh akan menghakimi mereka …” (Yehezkiel 23:45). Tindakan menghakimi berarti menyatakan benar salahnya seseorang secara etika moral dengan menggunakan suatu standar yang mutlak. Berarti, tidaklah mudah untuk bisa menghakimi orang lain.

Pertama, ia harus mengenal standar yang mutlak itu. Adakah standar mutlak di dunia ini? Semua standar etika moral yang digunakan oleh manusia bersifat relatif, kecuali kebenaran firman Allah. Orang yang mau menghakini harus benar-benar mengenal dan memahami firman Allah sebagai standar yang mutlak itu.

Kedua, ia sendiri harus hidup benar-benar saleh. Artinya, ia harus telah menaati spenuhnya standar yang mutlak itu. Hal ini menjadi mustahil karena walaupun keinginan hatinya kuat, tetapi tubuhnya lemah, untuk bisa taat secara total. Berarti status benar-benar saleh hany abisa diperoleh sebagai anugerah, yaitu karya pembenaran (justification) dari pengorbanan Yesus Kristus di Golgota.

Ketiga, ia harus memperoleh panggilan dan tugas dari Tuhan untuk menghakimi sesamanya.

Keempat, ia harus tahu dengan benar kapan waktunya menghakimi. Kesimpulannya adalah kita tidak boleh menghakimi siapa pun, karena ketika menghakimi orang lain, kita juga menghakimi diri kita sendiri. Yesus Kristuslah yang ditetapkan Bapa untuk menjadi Hakim atas yang hidup dan yang mati. Dari pada menghakimi orang lain, jauh lebih baik kita melakukan introspeksi atas diri kita sendiri.-

PA-1002. “… Aku akan menghakimi engkau menurut perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 24:14). Dalam banyak kesempatan saat diajukan pertanyaan manakah yang lebih besar yang Allah miliki: keadilan-Nya atau kasih-Nya, sebagian besar menjawab: kasih-Nya. Jawaban yang benar adalah: dua-duanya sama besar. Allah itu kasih tetapi ia juga adalah hakim. Karena terlalu seringnya hanya kasih Allah yang diberitakan, maka banyak orang percaya lupa bahwa Allah itu juga adil. Dalam kemahaadilan-Nya itulah kelak Ia akan menghakimi kita. Penghakiman dari Allah berbeda dengan penghakiman manusia atas sesamanya.

Pertama, penghakiman-Nya berdasarkan kebenaran yang mutlak. Allah tidak bisa disuap dengan apapun, termasuk dengan persembahan atau perbuatan baik kita.

Kedua, penghakiman-Nya sangat obyektif. Semua yang dilakukan oleh umat manusia, pribadi lepas pribadi, dari lahir sampai mati, tercatat atau terekam dengan baik. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya.

Ketiga, penghakiman Allah berdasarkan kepada firman-Nya. Tidak ada hukum atau perjanjian yang dibuat Allah di luar firman-Nya yang telah diberikan kepada kita. Manusia tidak bisa menghindar dari penghakiman Allah ini dengan alasan tidak mengetahuinya, sebab “Ia memberi kekekalan dalam hati mereka” (Pengkhotbah 3:11b).

Keempat, penghakiman Allah hanya dapat luput atas diri seseorang apabila Allah sendiri menyatakan bahwa orang itu benar, not guilty. Hal itu hanya dapat diperoleh ketika manusia bersedia menerima solusi yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita yaitu karya pembenaran oleh Yesus Kristus.-

PA-1003. “… dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah yang membalas, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” (Yehezkiel 25:14). Ada 4 suku bangsa yang disebutkan di sini yang memperoleh teguran dan penghukuman dari Tuhan, yaitu: Amon, Moab, Edom, dan Filistin. Salah satu penyebabnya adalah karena ada yang menertawakan saat umat Tuhan mengalami didikan Tuhan demi kebaikan mereka.

Hal ini dapat digambarkan seperti seorang anak yang menertawakan saudaranya yang sedang didisiplin oleh ayahnya. Bukannya ikut prihatin tetapi justru menertawakan mereka. Itulah sebabnya, setelah Tuhan selesai mendisiplin umat-Nya, Ia berurusan dengan mereka. Hal ini bisa saja terjadi pada masa kini.
Ketika ada sesama kita yang sedang menderita, lalu kita menari-nari dan bersukacita. Ada lagu rohani yang mengatakan bahwa ketika dunia mengalami resesi, anak-anak Tuhan mengadakan resepsi. Ini sama sekali merupakan perbuatan yang tidak sesuai firman Tuhan. Tidak ada rasa kemanusiaan, tidak ada keprihatinan.
Yesus Kristus tidak tertawa saat Maria dan Marta menangis karena Lazarus, saudara mereka mati. Yesus Kristus juga menangis saat melihat mereka menangis (Yohanes 11:35). Ia juga menangisi kota Yerusalem, kota yang selalu menolak kehadiran-Nya, kota penuh darah (Lukas 19:41). Firman Tuhan berkata, agar kita bersukacita dengan orang yang bersukacita, tetapi kita juga menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15).
Hal ini disebut dengan “pelayanan yang inkarnasional”, menjadi serupa dengan siapa yang kita layani, sebagaimana Yesus Kristus yang adalah Sang Firman, Allah sendiri, yang rela menjadi sama dengan manusia untuk mengangkat manusia dari lumpur dosa!

PA-1004. “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada saat Aku menjadikan engkau kota reruntuhan, seperti kota-kota yang tak berpenduduk lagi, kalau aku menaikkan pasang samudera raya atasmu dan banjir menutupi engkau” (Yehezkiel 26:19).

Ada orang yang suka bertempat tinggal di perbukitan, karena merasa aman di sana. Yang lain lagi lebih suka bertempat tinggal di daerah pesisir. Alasannya jug karena merasa aman di sana. Benarkah demikian? Bukankah yang tinggal di perbukitan sering terkena bencana longsor, dan yang tinggal di daerah pesisir mudah terkena bencana tsunami?

Tirus adalah kota pelabuhan yang besar di daerah Libanon, yang dahulu dihuni bangsa Fenisia. Dalam Perjanjian Baru biasa disebut “Tirus dan Sidon” karena keduanya adalah kota yang berdampingan. Namun karena keangkuhannya, merasa aman dan kaya, Tuhan menghukum Tirus dengan mengirimkan tentara dari Babilonia!

Tidak ada satu tempat pun yang aman, selama seseorang hidup dalam keangkuhan dan tidak mau hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tak ada yang bisa dibanggakan dan dijadikan tempat aman, selama hidup kita jauh dari Tuhan. Kekayaan bisa habis, perlindungan diri bisa dijebol, jika Tuhan menghendakinya.

Oleh sebab itu, apa pun kelebihan yang kita miliki, di mana pun kita berada dan kemana pun kita pergi, kita perlu senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan meletakkan Tuhan di atas segalanya!

 

Iklan