OTOBIOGRAFI

Pelbagai pengalaman dalam kehidupan saya yang Anda akan baca berikut ini dituangkan dalam bentuk tulisan bukan bertujuan untuk kebanggaan diri, melainkan menunjukkan cara Tuhan menyertai kehidupan anak-anak-Nya. Tak ada yang sempurna. Ada kesalahan yang dilakukan, ada kekonyolan yang diperbuat. Namun saya yakin anugerah Tuhan begitu besar. Oleh karya penebusan-Nya Ia telah mengampuni dosa dan kesalahan saya. Jika ada nama-nama yang saya sebutkan semata-mata untuk tujuan konfirmasi bahwa yang saya kisahkan benar adanya. Sedangkan nama-nama yang tidak tercantum, itu sekali lagi karena keterbatasan saya dalam mengingat. Jadi silakan memberi masukan dan komentar di mana perlu! Tuhan memberkati kita semua!

1. Saya dilahirkan di kota Sumenep, sebuah kota di ujung timur Pulau Madura, pada hari … Tanggal 15 April 1960, dengan nama Tionghoa: Tjhoa Tjiek Tiek. Saya lahir sebagai anak keempat, namun karena kedua kakak saya meninggal dalam kandungan maka saya menempati urutan kedua. Kakak sulung saya, Tjhoa Tjien Hoo (sekarang adalah Pdt. Yohanes Effendy Setiadarma, Sekretaris Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta Pusat Surabaya – GPPS), empat tahun lebih tua dari saya.

Ayah saya lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dengan nama Tjhoa Joe Hien, di desa Dungkek, sebuah desa nelayan berjarak 30 kilometer dari kota Sumenep. Saat bekerja sebagai sales,  beliau berjumpa dengan Ibu saya, Tan Kiem Nio, di desa Ketapang, Kabupaten Sampang. Mereka menikah dan tinggal di Kota Sumenep.

2. Saat saya berusia beberapa bulan saya mengalami sakit batuk rejan, yaitu sejenis penyakit batuk yang berlangsung 100 hari baru bisa sembuh atau jika tidak tertolong, bisa mati. Orang tua saya pun mencari pertolongan ke sana kemari termasuk ke Gunung Kawi. Namun saya belum juga sembuh. Sampai-sampai nama kecil saya yaitu “Waras” diganti menjadi “Seger”, kondisi saya tidak membaik. Seorang tetangga yang ikut bersimpati atas keadaan saya berkata kepada ibu saya, “Cik, bolehkah saya memanggil seorang pendeta untuk mendoakan anak ini?” Ibu saya menjawab, “Terserahlah. Saya sudah serahkan kepada Tuhan. Kalau memang Ia mau menyembuhkan lewat doa pendeta, saya mau jadi Kristen. Kalau Tuhan mau memanggil anak ini biar Tuhan ambil agar anak ini jangan terus menderita.” Kemudian Pendeta Yahya Redjo (Tan Hok Lay) ari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Sumenep datang mendoakan saya. Oleh kemurahan Tuhan saya berangsur-angsur sembuh. Orang tua saya begitu bersukacita dan memenuhi janji mereka. Mereka menerima Yesus Kristus. Sejak saat itu kami beribadah di gereja. Karena Sumenep adalah kota kecil, selain beribadah di GPdI, kadang-kadang kami beribadah pula di Gereja Pantekosta Serikat Indonesia yang saat itu digembalakan oleh Pdt. J.K. Rumimpunu.

3. Ketika saya berusia sekitar 2 tahun, saya mengalami suatu peristiwa yang cukup mengerikan. Saat itu Ibu saya baru saja memandikan saya dan mengolesi badan saya dengan minyak kayu putih. Sebagai seorang anak yang belum mengerti apa-apa saya mengambil botol minyak kayu putih dan membaliknya. Akibatnya, minyak kayu putih tercurah ke wajah saya termasuk kedua mata saya sehingga dua hari dua malam saya tidak dapat melihat. Sekali lagi hanya oleh anugerah Tuhan saya sembuh, walaupun nantinya di usia tujuh tahun harus berkacamata.

copy-b4. Saya memperoleh pendidkan dasar di TK-SD Katolik “Sang Timur” di Sumenep hingga di Kelas 3 saja, yaitu sampai tahun 1970, karena kemudian kami sekeluarga pindah ke kota Jember, masih di Provinsi Jawa Timur. Keberadaan sekolah Katolik sangat bermanfaat bagi warga kota sebagai alternatif pendidikan selain Sekolah Negeri dan swasta lainnya.

Perjalanan dari rumah ke sekolah kadang-kadang menggunakan becak antar jemput bulanan, kadang-kadang pula menggunakan dokar atau sado.

father_standing_with_his_son_with_jesus_christ_in_the_background_zz0230225. Di setiap gereja tentu ada kebaktian Sekolah Minggu untuk anak-anak. Saat itu saya belum pernah ke Sekolah Minggu. Ada seorang guru Sekolah Minggu yang rajin menjemput saya, tetapi saat itu saya tidak mau. Namun setelah saya melihat kesetiaan dan ketekunannya menjemput saya setiap minggu pagi, akhirnya hati saya luluh juga. Mulailah saya ke Sekolah Minggu. Ketekunan guru tersebut membuahkan hasil yang baik.

6. Pada suatu kali, menjelang Lebaran, beberapa tetangga mengantarkan kue-kue ke rumah kami. Ibu memberi dua buah onde-onde kepada kakak saya, sedangkan saya diberinya satu. Sebagai anak, saya iri dan meminta bagian yang sama. Mendengar tuntutan saya itu, ayah saya memberikan pelajaran yang tidak mungkin dapat saya lupakan. Beliau pergi membeli sepuluh buah onde-onde kemudian menyuruh saya memakannya satu per satu. Tiba pada onde-onde yang keempat saya tidak bisa memakannya lagi. Perut saya sudah penuh. Namun ayah menyuruh saya tetap memakannya. Sayapun muntah. Apa yang kemudian terjadi? Pasti Anda tidak menduganya sama sekali! Beliau menyuruh saya memakan muntahan itu! Dicambuk pula! Itu adalah salah satu bentuk pengajaran yang keras di kalangan orang-orang Madura, agar anak-anak mereka jera … tidak iri hati lagi.

Ayah saya pernah berkisah tentang masa kecilnya, bagaimana kakek saya (Tjhoa Thian Lioe) mendidik anak-anaknya. Mereka tinggal dekat pantai, sehingga anak-anak sering bermain di laut. Kakek mengingatkan agar jangan sampai bermain ke tengah laut, bisa tergulung ombak. Paman saya melanggar peraturan tersebut, sehingga ia pun dihukum dengan cara yang unik dan “kejam”. Ia diikat di pohon kelapa, kemudian ditaburi semut besar dan merah (semut angkrang). Anda bisa bayangkan betapa sakitnya! Namun menderita akibat hukuman semacam itu – kata kakek – masih jauh lebih baik dari pada mati tenggelam di laut. Efeknya sangat dahsyat, anak-anak beliau tak ada satu pun yang berani bermain-main ke tengah laut lagi.

7. Ayah saya bekerja sebagai tukang emas, yaitu membuat perhiasan emas, seperti cincin, gelang, kalung dan sebagainya. Pada mulanya kondisi ekonomi baik. Ayah saya bisa membeli sebuah mobil yang digunakan sebagai travel Sumenep – Kamal. Namun ia diperdaya paman saya yang menjalankan travel tersebut. Uang setoran tidak diberikan sejujurnya, sehingga saya merugi dan mobil itu pun akhirnya dijual kembali.

Selanjutnya kami mengalami kesulitan ekonomi karena ayah saya terpengaruh pergaulan yang salah hingga jatuh ke perjudian. Hasil pekerjaan dihabiskan di meja judi hingga ludes, bahkan memiliki hutang. Ekonomi keluarga terpuruk!

Guna memperoleh kehidupan yang lebih baik, ayah saya pindah ke Jember, menumpang di rumah adik kakek. Untuk sementara Ibu dan kami – anak-anaknya yang saat itu berjumlah 5 orang – dititipkan di rumah paman, Tjhoa Joe Liang, kakak ayah saya.

8. Setelah usai tahun pelajaran kelas 3 SD dan kakak saya akan masuk ke bangku SMP, ibu dan kami semua pindah ke Kota Jember. Kami ditampung di rumah adik kakek, nama suaminya Tan Siok Hoo. Rumahnya cukup besar dan dihuni oleh beberapa keluarga. Jadinya selalu ada keributan di sana sini, maklum banyak anak-anak. Itulah adik kakek yang mau menerima tumpangan. Tuhan memakai beliau sehingga untuk sementara keluarga kami tertolong. Padahal beliau hanya berjualan besi tua di Pasar Johar Jember. Salah satu penghuni dalam rumah itu adalah seorang mahasiswa yang cukup cerdas. Ia kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember (UNEJ). Namanya Filipus Dedijanto (hingga kini tetap tinggal di Jember dan menjabat sebagai Majelis GPdI Jember). Secara khusus ia menjadi inspirasi saya: dalam ketekunannya belajar, dalam kerapian kamarnya, dalam keindahan tulisannya, dan dalam kecerdasan intelektualitasnya. Rumah Tiokong Siok Hoo dekat dengan pasar sapi di Jalan Khairil Anwar Jember, yang disebut Pasar Sabtuan (karena hari pasarnya Sabtu). Di waktu libur saya sering berjalan-jalan di pasar sapi, melihat ada sulap, ada orang berjualan obat, mainan, dan sebagainya. Pokoknya dari pagi sampai sore di depan rumah ramai dengan orang-orang yang berdatangan dari pelbagai desa di sekitar Kota Jember.

download9. Saya melanjutkan bersekolah ke kelas 4 di SD Cantikan 2 lalu melanjutkan ke SMP Katolik “Putera” dan ke SMA Katolik “Santo Paulus”. Saya jarang sekali diberi uang saku, tetapi hampir setiap hari bisa jajan. Dari mana uangnya? Dari teman-teman saya. Oleh anugerah Tuhan saya sedikit lebih unggul dari teman-teman. Mereka bertanya kepada saya dan dengan segala senang hati saya menolong mereka dalam beberapa pelajaran, khususnya berhitung (sekarang matematika). Sebagai imbalannya saya ditraktir mereka. Teman yang lain lagi sering mengajak saya naik di becak langganannya untuk pulang ke rumah. Lumayan … dari pada jalan kaki.

10. Jujur, semasa sekolah saya suka iseng. Di bangku SD saya pernah dihukum gara-gara bermain alat peraut pensil yang ada cerminnya. Saya mengarahkan pantulan cahaya matahari ke dalam ruang kelas. Tentu saja hal itu mengganggu konsentrasi anak-anak yang sedang belajar. Saya dihukum dengan berdiri di depan kelas, menghadap ke tembok … selama 1 jam. Kenakalan lainnya adalah melakukan pendekatan dengan seorang teman perempuan. Namanya tak mungkin saya lupakan: Siauw Yin Yin. Setiap kali ia pulang sekolah saya ikuti dari jauh. Ia mulai merasa tergangu oleh ulah saya, dan melaporkan kepada kakaknya. Akibatnya? Keesokan harinya saya didatangani kakaknya dan melarang saya mengganggu adiknya. Saya pun menaati larangannya. Namun beberapa kali saya bahkan belajar kelompok di rumahnya. Jadi yang tidak boleh saya lakukan adalah membuntutinya. Namun kalau belajar bersama malah di rumahnya … boleh ‘kan? Akhirnya kakaknya juga bersikap ramah kepada saya.

11. Seusai SD, saya masuk ke SMP Katolik “Putera”. Ini sekolah menengah pertama yang dulunya khususnya untuk siswa, sedangkan para siswa bersekolah di SMP Katolik Maria Fatima yang juga disebut SMP “Puteri”. Namun pada tahun 1973 itu siswa maupun siswi bisa diterima di kedua sekolah tersebut. Menyadari akan keterbatasan ekonomi orang tua saya, maka saya tidak pernah menerima uang saku. Cukup sarapan di rumah dan makan berikutnya adalah makan siang sepulang sekolah. Lucunya, hampir setiap hari saya bisa menikmati jajanan di sekolah. Caranya? Rupanya Tuhan memberikan kepada saya otak yang sedikit lebih encer, sehingga saya bisa sedikit membantu teman-teman dalam beberapa mata pelajaran. Imbalannya? Secara bergantian mereka menraktir saya. Lumayan, kan? Inilah yang disebut dengan simbiose mutualistis alias kerjasama yang saling menguntungkan. Di SMP itu saya memperoleh beberapa piagam juara kecerdasan. Di Kelas 1 ada Piagam Juara 1, di kelas 2 Juara 2 dan di kelas 3 juara 3.

12. Di kelas 1 saya diajar oleh seorang guru aljabar (sekarang aritmatika) yang sangat disiplin. Pak Edi, namanya. Tiga kali ulangan saya mendapatkan angka sempurna, 10. Sekali waktu ada soal-soal yang dikerjakan oleh teman-teman di papan tulis. Pak Edi sudah membenarkan jawaban mereka. Namun ketika beliau ada keperluan ke luar kelas, teman-teman mendorong saya untuk maju ke papan tulis dan ‘mengoreksi’ beberapa jawaban yang mereka anggap salah. Nah, saya terjebak oleh keinginan untuk menjadi ‘pahlawan kesiangan’. Saya maju ke depan, mengambil penghapus dan dengan penuh keyakinan diri, saya ‘mengoreksi’. Ternyata yang saya koreksi adaah jawaban yang benar, dan justru hasil koreksian sayalah yang salah. Ketika saya berbalik, pak Edi sudah di depan pintu. Ia memarahi dan menghukum saya yang telah lancang ‘mengoreksi’ yang sudah benar. Itulah akibat orang yang ‘sok pintar’.

13. Beberapa kali menjadi ketua kelas menjadikan saya sering berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi harus menjaga ketertiban dan disiplin sekolah, di sisi lain harus memiliki rasa solidaritas dengan teman-teman. Pada suatu kali teman-teman ingin ngerjain salah seorang guru, yaitu Pak Darnali, guru Fisika. Dua kali ia dikerjain teman-teman. Pertama, ketika ia menjelaskan suatu prinsip fisika, teman-teman berlagak tidak memercayai prinsip atau teori itu dan meminta bukti melalui buku-buku teks fisika perguruan tinggi. Maka … pada jadwal mengajar berikutnya dengan bersusah payah Pak Darnali membawa sekitar 20 buku tebal-tebal. Dan setelah ia menunjukkan buku-buku itu kepada para siswa, teman-teman pun berujar, “Iya, iya pak. Kami percaya …!” Keduakalinya, Pak Darnali dikerjain lagi. Kali ini lebih runyam. Beliau punya kebiasaan begitu masuk ke kelas langsung duduk di kursi guru, tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah di kursi guru itu ada sesuatu atau tidak. Kebiasaan itu dipelajari oleh teman-teman. Pada suatu kali, teman-teman menempatkan tinta yang sangat banyak di kursi guru. Begitu Pak Darnali masuk, ia langsung duduk di kursi guru. Celananya yang lebar berwarna putih – karena beliau berbadan besar – langsung terkena tinta. Saat beliau menghadap ke papan tulis, teman-teman langsung cekikikan, sementara Pak Darnali belum menyadari bahwa dirinya sedang dikerjain. Akhirnya, ketika beliau selesai mengajar dan kembali ke ruang guru, barulah beliau tahu ada fleks tinta di celananya, karena guru-guru yang lain memberitahukan hal itu kepadany. Alhasil … Kami sekelas dihukum karena tak ada seorang pun yang mau mengaku bertanggungjawab atas peristiwa heboh itu.

14. Memang menjadi orang miskin banyak tidak enaknya. Sekali waktu, saya dipanggil ke depan kelas dan diberitahu bahwa sudah 3 bulan saya belum membayar uang sekolah. Pak Wahyudi, guru Ilmu Ukur saat itu dikenal sebagai seorang guru yang tegas. Ia berkata, “Jika besok pagi kamu belum melunasi uang sekolah, kamu tidak akan menerima raport”. Entah bagaimana, saya langsung spontan menjawab, “Tidak apa-apa pak. Saya sudah tahu kira-kira nilai saya selama caturwulan ini!” Mendengar jawaban saya, ia mulai marah dan berkata, “Tetapi ‘kan kamu sudah nunggak sekian lama!!!” Saya oun kembali menjawab, “Maaf, pak. Kami belum punya uang. Biarpun nunggak, tapi ‘kan nanti tetap bayarn pak!” Maka … tangan beliau yang besar itu melayang di pipi saya atas ‘kekurangajaran’ saya. Tak ada seorang pun yang mau menjadi orang miskin. Namun terkadang hal seperti itu bisa saja terjadi. ‘Kekurangajaran’ saya dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan ekonomi. Di akhir studi di SMP itu saya menemui Pak Wahyudi dan meminta maaf. Beliau pun memaafkan saya, sebab … toh semuanya administrasi keuangan sudah beres. Kalai tidak? Saya tidak akan mendapat ijazah yang tentunya sangat saya butuhkan untuk persyaratan melanjutkan studi di SMA.

comic-book15. Hal yang paling mengganggu jam-jam belajar saya sebagai siswa SMP adalah hobby membaca. Lho, kok? Sebab yang dibaca bukan buku pelajaran, melainkan buku cerita silat Tionghoa. Ada banyak pengarang cerita silat pada masa tahun 1970-an, seperti Gan K.L., S.D. Liong, namun yang paling kondang adalah Kho Ping Hoo. Cerita-cerita silat dengan judul-judul seperti Bu Kek Sian Su, Tjeng Hoa Kiam, Pendekar Pulau Es, dan sebagainya dilalap habis. Orang-orang sampai bersedia antri di tempat persewaan buku guna mendapatkan sambungan cerita yang sebelumnya menimbulkan rasa penasaran. Itulah kehebatan penulis sekaliber Kho Ping Hoo. Dalam setiap bukunya selalu diakhiri dengan tanda tanya besar tentang kelanjutan ceritanya. Demi memenuhi rasa penasaran semacam itu orang rela menyewa lebih mahal dari harga sewa yang tertera. Akibat kecanduan cerita silat, khususnya kekaguman akan seorang tokoh bernama Suma Han, maka ketika adik saya lahir – selisih 14 tahun dengan saya – saya ditanya orang tua nama apa yang sebaiknya diberikan kepada adik lucu itu. Maka saya pun spontan menjawab, “Han-han!” Nama lengkapnya Yakup Handoyo Setiadarma, nama panggilannya Han-han, dengan harapan ia tegar dan kuat seperti Pendekar Pulau Es! Jadi bukan diharapkan seperti Yakub yang bergumul dengan Tuhan, melainkan seperti tokoh legenda Suma Han! Saya mengaku dosa untuk hal yang satu ini: pikiran lebih dikuasai kecanduan membaca cerita silat dibandingkan Alkitab. You are what you read!

16. Salah satu mata pelajaran yang saya suka sewaktu duduk di bangku SMP adalah Sejarah. Lho, kok? Ya, karena metode yang digunakan sang guru dalam mengajarkan sejarah berbeda dari guru lainnya pada umumnya. Biasanya banyak guru sejarah mengajarkan tentang tahun-tahun terjadinya suatu peristiwa sejarah, kemudian para siswa diminta menghafal tahun-tahun itu, dan pelbagai isi perjanjian antara bangsa Indonesia dengan pihak penjajah, dan sebagainya. Sungguh membosankan. Namun guru yang satu ini mengajar dalam suasana yang hidup. Seolah-olah ia membawa kami semua masuk dalam peristiwa itu. Misalnya: ketika ia mengajarkan tentang Revolusi Perancis, bagaimana Napoleon memimpin sejumlah pasukan dan mengadakan revolusi. Kami terbawa ke masa itu, sehingga kami menyukai pelajaran sejarah. Dan Anda bisa bayangkan nilai yang diperoleh seorang siswa ketika ia menyukai sebuah pelajaran. Semuanya mendapatkan nilai yang baik, minimal 70. Jadi, metode pengajaran akan sangat mempengaruhi prestasi yang dicapai oleh siswa!

17. Demi untuk bisa mendapatkan uang saku, sepulang sekolah saya nyambi kerja. Saya berjualan es lilin, tanpa modal uang. Modal dalam bentuk yang lainnya sudah diberi oleh Tuhan sendiri, yaitu organ-organ tubuh yang berfungsi dengan baik: paru-paru untuk bernafas, tangan yang bisa bergerak, kaki yang bisa berjalan, mulut yang bisa berkata-kata, dan … teman-teman yang baik. Ada teman yang punya pabrik es menawari saya menjadi penjaja es lilin. Semula saya berkeliling setiap hari, dan berjalan cukup jauh. Sampai akhirnya Tuhan memberikan ide kepada saya: sedikit gerak, hasil banyak. Di manakah ada orang yang kehausan? Di tempat orang berolahraga. Di dekat rumah saya ada markas Artileri Medan (Armed) Kebonsari, Jember, yang di dalamnya ada lapangan basket. Maka saya pun membawa dagangan saya ke sana. Sambil melihat orang berlatih dan bermain basket, jualan es saya laris manis. Yang agak saya sesalkan adalah mengapa saya saat itu tidak ikut bermain basket. Kalau saja saya mau berlatih, mungkin, sekali lagi mungkin, saya sudah memiliki tinggi badan lebih dari 165 cm.

alumni-reunion-high-school-days18. Usai SMP saya melanjutkan studi ke SMA Katolik “St. Paulus” Jember. Saat itu Kepala Sekolahnya adalah Romo Sarko, yang lalu digantikan oleh Romo Sulis (1976-1979). Di sekolah ini saya memperoleh teman-teman baru dari SMPK (Puteri) “Maria Fatima”. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang cerdas dan rendah hati. beberapa di antara mereka adalah: Siswanto (sekarang Guru Besar Biotek di IPB Bogor dan Unika Atmajaya Jakarta), Markus (Tjien Wie – bekerja dan berdomisili di USA), Dewi (menjadi dokter dan berdomisili di USA), Hardianto (Tek Tjien – tinggal di Jakarta), Ishak Imam (menjadi pendeta di GPPS Jember), dll.  Saya banyak belajar dari mereka. Semasa SMA – sebagaimana anak remaja lainnya – ada keisengan-keisengan yang dilakukan oleh teman-teman … termasuk saya. Suatu kali ada seorng guru biologi. Orangnya cantik dan baunya … wangi. Teman-teman pun mulai ngerjain guru ini. Pada suatu kali, saat pelajaran biologi, ada seorang anak yang mengangkat tangan dan meminta ibu itu menjelaskan gambar anatomi tubuh manusia yang ada di buku pelajaran. Sang guru pun mendekati siswa itu dan menjelaskan dengan baik. Tak lama kemudian ibu guru kembali ke depan kelas, dan siswa itu pun segera bersuara keras, “Ya ampun, wanginya …” Sang guru pun malu tersipu-sipu. Rupanya teman saya bukannya tidak mengeti gambar itu, melainkan sengaja ngerjain guru tadi. Sayang saya lupa siapa namanya. Suasana saat saya bersekolah di SMA berbeda dengan masa kini, di mana ada tawuran dan pengursakan-pengrusakan. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Kami dulu hanya ‘nakal’ biasa, namun tetap menghormati guru dan tidak merusak fasilitas sekolah.

images-119. Pertiswa lainnya adalah mengenai seorang guru Fisika, namanya Pak Tjandra. Entah bagaimana, salah seorang teman saya selalu memperoleh nilai buruk untuk pelajaran Fisika. Ketika test Fisika diberikan kepada siswa, teman saya ini bukannya mengerjakan soal test tersebut, melainkan justru mengarang puisi. Ia memang berjiwa seni, dan puisi yang dibuatnya mengenai Pak Tjandra. Celakanya, ketika ia sedang menulis puisi itu, angin berhembus dari jendela, kemudian kertas bertuliskan puisi itu diterbangkan angin dan … jatuh di kaki Pak Tjandra. Wajah teman saya mulai pucat karena ia tahu akibat yang akan diterimanya sangat berat. Mengapa? Inilah sebagaian isi puisinya: Guruku namanya Pak Tjandra / Ia adalah Guru Fisika / Mukanya lonjong seperti kuda … bayangkanlah hukuman apa yang akhirnya ia terima!

20. Guna menunjang ekonomi keluarga, mama saya membuat kroket dan menjualnya dengan menitipkan di cafe sekolah. Entah bagaimana, pada suatu hari, ada rapat guru di sekolah, di mana semua guru wajib hadir dalam rapat. Para siswa pun disuruh pulang, padahal waktu itu saya sudah membawa kroket buatan ibu saya … cukup banyak … untuk dititipkan di cafe sekolah. Akhirnya saya pun harus membawa kroket itu kembali pulang ke rumah. Sedikit panik memang, sebab modal usaha ada di kroket itu. Jika tidak terjual sama sekali, kami sekeluarga akan menghadapi kesulitan ekonomi. Untungnya memang tidak seberapa, tetapi mampu membuat kami bertahan. Dalam keadaan seperti itu, muncullah sebuah ide segar. Mama menyuruh adik saya, Ester, untuk membawa kroket itu ke depot atau warung, dan menitipkannya di sana. Tanpa banyak omong, adik saya pun berangkat. Tak lama kemudian ia kembali dengan tetap membawa kroket itu dalam jumlah yang utuh. Wajahnya pun nampak sedih. Kami bertanya, “Mengapa jumlahnya masih utuh?” Jawabnya, “Karena depot satu-satunya yang dituju menolak menerima titipan kroket ini!” Llho, di depot mana kamu menawarkannya?” Dengan lugu ia menjawab, “Di depot logistik!” “Hah?” Kami pun semua tertawa tertawa terbahak-bahak. Pantas saja ‘depot’ itu menolak, sebab bukan depot makanan, melainkan tempat penimbunan dan penyaluran beras milik Badan Urusan Logistik (Bulog). Namun oleh kemurahan Tuhan, akhirnya ada depot lain yang mau menerima dan kroket itu pun terjual habis. Yang ini depot betulan bukan ‘depot logistik’ lagi …

21. Cita-cita. Semua orang pasti memilikinya, termasuk saya. Tentunya dengan bersekolah di SMA terbaik di Kota Jember orang berkata bahwa saya sudah berada pada track yang benar. Tinggal belajar saja maka semuanya beres. Nyatanya tidak demikian. Saat duduk di kelas 1 SMA saya mengalami kesulitan biaya studi. Konsentrasi pun pecah antara belajar atau bekerja. Timbullah pikiran untuk meninggalkan bangku sekolah dan bekerja. Rencananya saya bekerja di ibukota (Jakarta) selama beberapa tahun, dapat uang banyak, dan bisa menyekolahkan adik-adik. Rencana itu saya utarakan kepada orang tua. Saya berkata, “Pah, besok sore saya akan berangkat bekerja ke Jakarta.” Tanpa diduga, ayah saya setuju. Mungkin pikirnya saya bercanda. Keesokan harinya, sepulang sekolah, saya berkemas dengan hanya menyiapkan pakaian seadanya. Saya mulai berjalan kaki dari Kota Jember ke arah timur, menuju ke Mayang. Sesampai di sana saya kemalaman dan bermalam di rumah salah seorang penduduk. Keesokan harinya saya melanjutkan petualangan nekad itu dengan terus berjalan kaki dan terkadang naik pedati cuma-cuma hingga tiba di Kota Bondowoso (jarak 30 km) dari Kota Jember. Saya kembali harus mencari tempat bermalam. Tuhan ingatkan saya untuk datang ke Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) yang ada di kota itu. Saya diterima oleh Ibu Kilala dan kepadanya saya utarakan tujuan perjalanan saya ke Jakarta. Ia begitu bijaksana dan berkata, “Baiklah Petrus, tante akan menanyakan informasi ke Jakarta. Karena hal ini membutuhkan waktu, sebaiknya kamu pulang dulu saja ke Jember. Ini tante beri uang transport naik kendaraan umum. Kalau sudah ada kabar, tante beritahu.” Saya pun dengan lugunya menerima nasihat itu. Saya pulang kembali ke Jember, dan … hingga kini saya tidak pernah menerima berita dari tante Kilala. Tentu beliau tidak bermaksud membohongi saya, tetapi dengan penuh bijaksana mencoba meredam semangat, tekad dan emosi anak muda yang seringkali kurang perhitungan. Orangtua saya yang saat itu panik mencari saya seharian, menjadi lega saat malam itu saya pulang ke rumah. No place like home, begitu kata pepatah. Saya kembali melanjutkan studi hingga lulus SMA dengan baik. Biaya studinya? Tetap terbayar lunas sekalipun … sering nunggak!

22. Sewaktu saya duduk di kelas 3 SMA, orang tua saya harus pindah lagi ke Sumenep, Madura. Saya tidak bisa ikut pindah sebab biaya pindah sekolah sangat besar. Saya dititipkan di pastori Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jember, yang kala itu digembalakan oleh Pdt. E.N. Soriton. Saya bersyukur kepada Tuhan, sebab selama setahun di pastori gereja, Tuhan membentuk saya. Banyak pengalaman yang saya peroleh di tengah-tengah pelayanan. Setiap hari para pengerja yang tinggal di pastori harus bangun jam 4 pagi, membuka pointu gereja bagi jemaat yang mengikuti Doa Pagi. Usai Doa Pagi saya bertugas membeli roti di Toko Roti Jeanette untuk sarapan ketiga anak pak Gembala: Evie, Lena dan Dody. Usai membeli roti harus dengan cepat menyapu dan membersihkan halaman gereja. Kemudian bergegas mandi dan berangkat ke sekolah. Lha, sarapannya kapan? Kadang-kadang sempat sarapan, tapi lebih banyak tidaknya. Pulang sekolah makan siang lalu istirahat sebentar, dan sore hari pergi visitasi, ikut pelayanan ke cabang, atau kembali mempersiapkan gereja untuk ibadah tengah minggu. Fisik saya sangat lelah sehingga sering tertidur di kelas, dan kesulitan waktu untuk belajar sehingga prestasi studi pun merosot. Nilai saya di akhir ujian SMA berurutan: Matematika 9, Fisika 8, Kimia 7, Biologi 6 dan Geografi 5.

a123. Sekali waktu saya bertugas menguras dan mengisi bak mandi dengan air yang ditimba dari sumur yang berjarak 30 meter. Setelah mengisinya hingga penuh saya merasa lega sebab tugas ‘berat’ sudah saya selesaikan. Tetapi kemudian anak bungsu pak Gembala, yang bernama Dody, berlari dengan tubuh penuh lumpur, menuju ke kamar mandi, dan langsung masuk ke bak mandi. Maka … air dalam bak mandi itu yang tadinya jernih menjadi keruh dan kotor. Ketika pak Gembala mengetahui hal itu, beliau memanggil saya dan seorang rekan pengerja lainnya, Sugiarso namanya, untuk menguras dan mengisinya lagi. Bak mandi itu cukup besar, sehingga kami berdua harus kembali bekerja keras. Sebagai manusia, kami sedikit mengeluh, tetapi kemudian tetap bersyukur. Itung-itung … olahraga!
Di waktu lainnya sesudah kami menyapu dan membersihkan ruang ibadah yang cukup luas, kami mandi, lalu berpoakaian rapi dan berdasi, siap menjadi ushers, bersama ibu Gembala, menyambut jemaat yang hadir dalam ibadah tengah minggu pada hari Rabu sore. Kembali si Dody berlarian dari bermain dengan kaki yang kotor, memasuki ruang ibadah dari pintu masuk sampai ke depan mimbar lalu keluar melalui pintu samping. Melihat hal itu ibu Gembala memarahi puteranya, dan … Menyuruh saya kembali ngepel dengan baju rapi berdasi dan disaksikan banyak jemaat. Inilah tugas seorang hamba …

slide124. Pada usia 17 tahun saya rindu melayani Tuhan dalam pelayanan bagi anak-anak atau Sekolah Minggu. Saya telah dibaptis pada usia 13 tahun dan saya berdoa agar Tuhan memakai saya menjadi alat-Nya. Saya menemui kepala Sekolah Minggu, yaitu Tante Sioe Hwa (yang kemudian menjadi isteri Pdt. Muhinar dan mendampingi pelayanan di Jenggawah, Kabupaten Jember), dan berkata, “Tante, saya mau membantu pelayanan di Sekolah Minggu.” Tante Sioe Hwa menjawab, “Baiklah. Mulai minggu depan hadirlah di Sekolah Minggu.” Saya pun hadir dan menanyakan apa yang menjadi tugas saya. Beliau menjawab, “Duduk!” Hah? Itu sajakah tugas awal menjadi guru Sekolah Minggu? Ya! Dan tugas “hanya” duduk itu saya jalani sekitar 6 bulan. Rupanya itu adalah ujian kesabaran, ujian pengamatan, ujian kesetiaan. Setelah saya dianggap lulus ujian pertama tersebut, saya diberi tugas mencatat kehadiran anak-anak (sebagai petugas absensi). Itupun berlangsung selama sekitar 6 bulan. Ini disebut ujian pengenalan. Seorang guru Sekolah Minggu harus mengenal anak didiknya satu per satu. Ujian ketiga adalah tugas khusus menjaga dan mendampingi putera pak pendeta, yaitu Dody. Ia sebenarnya tidak nakal, hanya saja hiperaktif. Pesannya jelas: jika saya berhasil menaklukkan seorang anak aktif, Tuhan percayakan menggembalakan anak-anak dalam jumlah yang lebih banyak. Setelah saya dianggap lulus mulailah saya dibina untuk mulai mengajar. Rupanya tidak mudah untuk menjadi seorang pelayan Tuhan. Tak ada cara yang instan untuk menghasilkan seorang pengerja yang baik. Perlu ada ujian pembentukan karakter seperti kesetiaan, dan kesabaran. Mungkin waktu lebih lama, tetapi hasil akan lebih baik.

youth25. Di lingkungan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) ada acara tahunan yang saat itu menjadi berkat bagi banyak orang. Namanya Youth Camp. Lokasinya di Sekolah Alkitab Gereja Pantekosta di Indonesia (SAGPdI) Beji, Batu. Dalam beberapa kali Youth Camp saya mengikutinya. Di sana saya dapat berkenalan dengan banyak teman dari seluruh Indonesia. Rohani saya pun ditingkatkan melalui sesi-sesi dengan pembicara yang diurapi Tuhan. Hingga saat ini nama-nama yang masih saya ingat adalah Pdt. R.G. Brodland, Pdt. J.E. Awondatu. Banyak anak muda yang dibakar oleh api Roh Kudus dan kemudian berkomitmen untuk melayani Tuhan. Selain sesi-sesi paripurna, setiap peserta masuk dalam sebuah kelompok. Di dalam setiap kelompok ada pembina rohaninya, yaitu hamba-hamba Tuhan alumni dari Sekolah Alkitab tersebut. Di sana terjadi interaksi dan dinamika kelompok, sehingga materi yang disampaikan dalam sesi besar bisa lebih dipahami. Hamba-hamba Tuhan yang melayani penuh kerendahan hati dan rela mendengar sharing dari anak-anak muda yang sedang mencari identitas diri. Berbagai kasus khusus pun dikonseling dan didoakan: kasus kecanduan pornografi, pergaulan bebas, keretakan hubungan dengan orang tua, kemalasan, ikatan dengan kuasa gelap, dan sebagainya. Saya pun dijamah oleh Tuhan sehingga terus melayani Dia yang telah rela berkorban bagi saya.

a126. Oleh kemurahan Tuhan saya dapat menyelesaikan SMA saya dengan baik. Namun ketika saya menyatakan kepada papah bahwa saya ingin mengikuti jejak kakak saya kuliah di Surabaya, beliau berkata bahwa tidak ada dana sama sekali untuk itu. Jadi? Saya harus langsung bekerja. Hati saya sedih, karena banyak teman saya yang bisa kuliah, sementara saya harus bekerja. Walaupun saya agak kecewa terhadap ayah saya, saya tetap menjalani cara Tuhan menuntun saya. Saya tetap memiliki cita-cita bahwa satu kali kelak saya harus kuliah. Saya diterima bekerja di Toko Mas “Naga Mas” Jember, milik Om Willem. Keluarga ini sudah saya kenal baik, sebab Om Willem adalah majelis di GPdI Jember, dan semua anak beliau: Robert, Magdalena, Hocky, Lilik, dan Ninik, dan si bungsu (maaf, sudah lupa namanya) adalah teman-teman sekolah minggu saya. Saya menjadi pramuniaga di toko mas itu. Sekali peristiwa si bungsu menaruh sepeda mainnya di lantai, sedangkan saya harus memasukkan nampan yang penuh dengan anting yang tertata baik ke dalam lemari besi menjelang tutup toko. Saya tidak melihat sepeda yang tergeletak di lantai itu. Akhirnya, saya tersandung, dan semua isi nampan jatuh berhamburan. Anda bisa bayangkan betapa marahnya Om Willem. Apa boleh buat. Saya meminta maaf dan bersedia menerima hukuman apapun yang akan dijatuhkan pada saya. Hukumannya adalah … saya harus bekerja di Kebun Kopi miliknya yang berlokasi di Rowosari Sumberjambe, sebuah desa berjarak 30 km dari Kota Jember. Akankah masa depan saya hancur berantakan?

27. Saya diantar oleh Om Willem ke Perkebunan Kopi Rowosari yang memiliki luas sekitar 33 hektar dengan menggunakan mobil Toyota Hardtop. Sesampai di sana saya disambut oleh seorang sinder, yaitu Hok Tjoe. ia berusia sekitar 30 tahun dengan wajah cukup tampan. Ada tahi lalat kecil di dagunya yang ditumbuhi rambut agak panjang. Saya disuruh oleh Om Willem untuk mendampingi dan menjadi asisten dari Hok Tjoe. Pada hari pertama saya diperkenalkan kepada para buruh kebun dan penjaga (waker) yang selalu  pedang panjang (klewang) dalam keadaan terhunus (tanpa sarung pedang) dan diayun-ayunkan di depan saya. Pada mulanya saya keder juga. Untunglah Hok Tjoe cukup smart dengan berkata kepada mereka bahwa saya adalah seorang pemuda yang cukup terkenal nakalnya, sehingga polisi di Kota Jember kewalahan dibuatnya. mereka pun percaya terhadap informasi yang “menyesatkan” itu. Setidaknya, hari-hari sesudahnya mereka cukup hormat kepada saya. Pada suatu malam, ketika Hok Tjoe berlatih karate (dan dia memang seorang karateka), saya disuruh bekerjasama dengannya. Ia yang bergerak, dan saya yang berteriak. Saya pun mengerti maksudnya, sehingga kami berdua cukup berkeringat. Waker pun datang dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Hok tjoe pun menjawab, “Kami sedang melemaskan otot-otot dengan berlatih karate!” Mereka pun kembali bungkam, hormat dan menaati perintah-perintah kami.

11971603141852423968molumen_audio_cassette-svg-hi28. Sungguh saya tidak menduga cara Tuhan membentuk saya. Semula saya pikir bahwa hidup saya akan berakhir di perkebunan kopi itu. Namun sesuatu yang ajaib terjadi. Hok Tjoe, atasan saya, meminjam kaset khotbah KKR Morris Cerullo di Jakarta tahun 1979 yang diterjemahkan oleh Bp. S. Damaris. Saya mendengarkan kaset itu berulang-ulang. Dengan tema berdasarkan ayat Yohanes 6:28 “… “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”, saya dikuatkan dan kembali memiliki pengharapan bahwa ada masa depan yang lebih baik bagi saya. Tidak ada hiburan lain, selain mendengarkan kaset itu terus-menerus. Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang dengan Roh Kudus-Nya melawat saya di tempat yang sunyi dan sepi itu. Seperti Nabi Yehezkiel yang melihat Tuhan sedang duduk di atas takhta-Nya justru di tepi Sungai Kebar bersama orang-orang buangan (Yeh. 1:1-3), atau seperti Nabi Yesaya yang juga melihat Tuhan dalam kemuliaan-Nya sesudah Raja Uzia mati (Yes. 6:1), maka saya pun bersyukur kepada Tuhan, karena justru di tempat ‘pembuangan’ itulah, di mana nampaknya ‘masa depan mati’, saya dapat melihat rencana-Nya yang indah dalam kehidupaqn saya. Jika ada di antara Anda yang merasa terbuang atau terpinggirkan, tetaplah memiliki pengharapan di dalam Tuhan, karena seringkali di situlah kita dapat memandang kemuliaan Tuhan.

k1349781729. Selama 9 (sembilan) bulan saya di perkebunan kopi, setiap minggu saya beribadah di GPdI Sukowono, yang saat itu dan hingga tulisan ini dibuat digembalakan oleh Pdt. Yahya Suharyono. Di sana saya melayani sebagai guru Sekolah Minggu dan memainkan musik (gitar). Menjelang rencana saya mengundurkan diri bekerja di perkebunan kopi dan melanjutkan studi di Surabaya, saya menghadapi kesulitan dalam pelayanan: siapakah nanti yang akan menggantikan saya memainkan gitar? Saya berdoa untuk hal itu, “Jika memang Engkau menghendaki aku melanjutkan studiku, kirimlah seorang pemain gitar untuk menggantikan pelayanan saya. Tepat pada waktunya Tuhan Yesus Kristus – Kepala Gereja – menjawab doa saya dengan mengirimkan seorang lulusan Sekolah Alkitab Beji untuk melayani di sana. Ia bisa memainkan gitar. Akhirnya dengan lega saya tinggalkan gereja itu dan pindah ke Surabaya. Jadi di ladang Tuhan, Ia tidak pernah membiarkan pekerjaan-Nya terbengkalai. Ia selalu punya orang-orang yang mau diutus-Nya, sehingga pelayanan di gereja Tuhan tetap berlangsung. Pelayan yang satu bisa datang dan pergi, tetapi pelayanan tetap bisa berlangsung dengan baik. Yakinlah saya bahwa memang itulah saatnya saya melanjutkan studi saya. Di kemudian hari saya kembali mengalami cara kerja Allah yang luar biasa seperti ini.

cute-antique-motorcycle-cartoon-vehicles-clip-art-theme-5948145030. Rencana untuk mengundurkan diri dari pekerjaan di perkebunan kopi dan melanjutkan studi saya utarakan kepada Om Willem. Beliau berkata, “Buat apa studi lagi. Tetap saja bekerja di sini. Nanti gajinya Om naikkan.” Saya pun menjawab, “Terimakasih Om. Tetapi saya tetap mau melanjutkan studi. Sebagaimana Om menginginkan supaya anak sulung Om, yaitu Robert, memperoleh jenjang pendidikan yang lebih baik, sampai-sampai Om menyekolahkannya kea Amerika, saya pun ingin sekolah lagi.” Karena keputusan saya sudah mantap maka akhirnya Om Willem mengabulkan permohonan pengunduran diri saya. Pengalaman bekerja 3 bulan di toko emas dan 9 bulan di perkebunan kopi memberikan berkat tersendiri dalam kehidupan saya. Salah satu pengalaman yang belum saya ceritakan adalah ketika saya belajar mengemudikan sepeda motor. Hok Tjoe mengajari saya cara mengendarai motor, akhirnya saya ‘bisa’. Akibatnya? Saya disuruh pergi membeli barang dengan menggunakan sepeda motor. Sekali waktu saya disuruh membeli beras dan gula untuk kebutuhan sehari-hari. Pulangnya, pada sebuah tanjakan yang cukup tinggi, saya terlambat memindahkan gigi persneling, sehingga sepeda motor miring dan saya bersama barang-barang belanjaan jatuh. Akibatnya? Tercampurlah gula dengan beras itu, sehingga selama beberapa hari kami makan ‘nasi manis’. Enak juga, lho! Di kesempatan lagi, saya disuruh ke kota Jember untuk menyampaikan laporan. Di tengah perjalanan pada salah satu tikungan yang tajam dan menurun, kembali saya melakukan kesalahan. Saya terus mengopling sehingga sepeda motor itu melaju kencang. Saya sangat terkejut karena setelah saya menikung ada lintasan kereta api dengan palang lintasan yang sudah tertutup. Saya hanya berseru, “Yesus, tolong selamatkan saya!” Puji Tuhan! Keajaiban terjadi. Sepeda motor yang saya kendarai bisa masuk ke celah sempit di samping palang pintu lintasan kereta api. Begitu saya masuk di celah sempit itu, sepeda motor terhenti dan … kereta pun lewat. Andaikan Tuhan tidak menolong saya, kisah ini tidak akan pernah Anda baca, karena saya pasti sudah bersama-Nya!

31. Saya tiba di Surabaya langsung menuju ke tempat om Tio Pak San dan tante Koei di daerah Pandegiling. Saat itu mereka memiliki 8 orang anak di rumah yang kecil (kini jumlah anak 10 orang – Gan, Djoen, Hong, Siong, Erlin, Ertin, Willy, Yongky, Hengky, Vicky – lihat Tan Family butir 1.6), namun masih mau menerima saya numpang beberapa bulan. Jadi rumahnya masuk tipe RSSSSSS (Rumah Sangat Sempit Sengsara Sehingga Selonjorpun … Sulit) Sungguh Tuhan Yesus baik memberikan kepada saya orang-orang yang penuh kemurahan hati. Mereka menjadi berkat buat saya, saya pun menjadi berkat buat mereka. Satu demi satu mereka mau beribadah kepada Tuhan di gereja, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Selama 3 bulan saya tinggal di sana guna mempersiapkan diri untuk mengikuti test Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Saya memilih Jurusan Matematika yang berada di Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA – sekarang F-MIPA). Kakak saya sudah kuliah di tahun IV di Jurusan Arsitektur ITS. Bagaimana saya mempersiapkan diri setelah setahun tidak memegang buku pelajaranb sekolah? Tuhan memberikan ide kepada saya. Saya ke toko buku dan membeli buku soal-jawaban test tahun-tahun sebelumnya. Dari situ saya bisa mengingat kembali mata pelajaran yang akan diujikan. Kakak saya mengingatkan saya bahwa kemungkinannya begitu kecil untuk bisa masuk ke ITS mengingat peminatnya begitu banyak. Apalagi saya lulusan SMA setahun sebelumnya. Dengan penuh kemantapan hati saya berkata, “Ya, memang peluangnya sangat kecil. Tetapi tak ada yang mustahil bagi Tuhab, bukan?” Saya mengikuti test. dan sementara menunggu hasilnya, saya terus berdoa. Pada suatu malam, saat saya tidur, saya bermimpi sedang memancing ikan, dan memperoleh seekor ikan besar! Keesokan harinya saya memberitahu kakak saya tentang mimpi itu. Saya yakin bahwa itu adalah tanda dari Tuhan bahwa saya akan lulus. Dan … puji Tuhan, pada saat pengumuman saya benar-benar dinyatakan lulus. Saat saya melihat pengumuman itu hati saya begitu bersukacita, sehingga ketika pulang dengan bersepeda saya nyaris menabrak orang karena tidak berkonsentrasi. Sungguh, bagi Tuhan kita Yesus Kristus, tidak ada yang mustahil!

32. Dalam menanti perkuliahan, saya bersama kakak saya beribadah di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Sawahan, yang berlokasi di Jalan Arjuno 90 Surabaya. Saya membantu pelayanan Sekolah Minggu dan menjadi anggota Paduan Suara. Pada bulan Mei 1980 saat diadakan Doa Sepuluh Hari di antara Peringatan Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga dan Hari raya Pentakosta, saya mengikuti acara doa itu bersama dengan dua rekan sepelayanan, yaitu Sdr. Lukas (yang kemudian menjadi suami Marta, adik saya), dan Sdr. Bobby Manuputty. kami berempat memiliki kerinduan yang sama yaitu supaya kami dipenuhi dengan Roh Kudus. Puji Tuhan, oleh anugerah-Nya, kami semua dipenuhi Roh Kudus dengan tanda bahasa lidah (glossolalia). Hati kami dipenuhi dengan sukacita yang meluap dan semangat melayani serta memberitakan Kabar Baik tentang kasih Allah bagi semua orang. Roh Kudus adalah Penolong yang diutus oleh Bapa di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan semua orang percaya. Ia akan tinggal di dalam hati kita selama-lamanya: menuntun kita kepada seluruh kebenaran,  menolong kita dalam berdoa kepada Allah sehingga doa kita penuh kuasa, dan melengkapi kita dengan kuasa untuk menjadi saksi-saksi-Nya!

33. Perkuliahan di ITS dimulai. Sistem yang digunakan untuk mahasiswa di tingkat satu adalah TSB (Tingkat Satu Bersama). Kampus yang digunakan adalah kampus ITS yang ada di Jalan Baliwerti, dan hanya hari Sabtu saya kuliah di Jurusan Matematika di Jalan Cokroaminoto. Jadi saya pindah kos ke Jalan Tembok Dukuh.  Di sana saya satu kamar dengan seorang karyawan. Keluarga di mana saya kos adalah keluarga Islami yang sangat religius namun mau bergaul dan menerima saya, mahasiswa Kristen. Sungguh suatu relasi yang harmonis. Untuk kebutuhan makan, saya banyak ditolong oleh keluarga tante yang lain, yaitu Tante Gien (kakak Ibu saya). Bersama dengan suaminya (Om Liep Gwan) dengan 8 orang anak (Lies, Emi, Na, Djoen Bie, Nyok, Agus, Nonik, Erna – lihat Tan Family butir 1.4) tinggal di rumah yang cukup besar di Sawahan Baru Gang I, tidak jauh dari tempat kos saya. melalui keluarga ini pun Tuhan Yesus memelihara kehidupan saya selama 6 bulan. Puji Tuhan!

practice-gods-presence-1024x76834. Sesudah melewati Semester Satu dengan IP 3,2, saya memasuki Semester 2. Kali ini muncul masalah baru. Kampus untuk TSB pindah ke kampus baru di Jalan Sukolilo, tempat yang berjarak sekitar 10 km dari kampus Baliwerti. Saya tidak mungkin setiap hari berkuliah dengan naik sepeda ke sana. Saya harus mencari tempat kos baru. dari mana pula uangnya? Saya berdoa, agar Tuhan membuka jalan! Saya juga sharing dengan seorang rekan mahasiswa, Harjono Tirtawijaya namanya (nama panggilannya Hiap), anak Teknik Kimia yang sangat cerdas. Saya bertanya kepadanya, “Har, tolong tanyakan papah mamahmu, apakah ada tempat kos di sekitar rumahmu.” Ia tinggal bersama orangnya, dr. Tirtawijaya, di Jalan Juwingan 126 Surabaya. Tanpa disangka beberapa waktu kemudian ia berkata, “Petrus, orangtuaku bilang kamu tinggal saja dengan aku di rumahku. kamarku cukup luas kok!” Puji Tuhan! Saya tinggal di rumah keluarga Tirtawijaya, rumah seorang dokter spesialis di mana segalanya terjamin dengan baik. Tuhan Yesus memakai mereka untuk memelihara saya selama 6 (enam) bulan dengan cuma-cuma (gratis). Makan yang sehat dan bergizi dan tempat tidur yang bersih). Di akhir semester 2, saya mesti pindah kos lagi, karena perkuliahan saya hingga selesai bertempat di Kampus Cokroaminoto. Om Tirta berkata, “Petrus, ini om bawakan sebuah sepeda motor Vespa tahun 1968. Gunakan dan rawat sebaik-baiknya untuk keperluan studimu ya.” Wow! God is so good! Keluarga yang diberkati dan memberkati ini memiliki 5 orang anak, yaitu: Sing, Hiap, Priska, Magda, dan Liep, yang tumbuh bersama. Bahkan hingga kini saya masih kontak dengan mereka. Saya tidak dapat membalas budi kebaikan mereka, selain berdoa agar Tuhan memberkati mereka.

bimbingan-belajar-les-privat-matematika-di-jogja35. Memasuki semester 3 orang tua saya pindah dari Sumenep ke Surabaya, dan mengontrak sebuah rumah di Jalan Sawahan Baru Gang I no 19A, dekat rumah Tante Gien. Saya berdoa agar Tuhan memberkati saya sehingga saya bisa membiayai perkuliahan saya selanjutnya dan juga menolong biaya sekolah adik-adik saya. Pada suatu hari Minggu, ketika saya mengajar di Sekolah Minggu, salah seorang anak bertanya, “Om, bisakah menolong saya?” “Menolong apa?” Saya balik bertanya. “Mengajari saya matematika.” Saya pun menjawab, “Bisa!” Dan sejak saat itu saya memberi les anak ini Matematika dan Fisika … selama 8 tahun, mulai dari kelas 1 SMP sampai ia duduk di tingkat 2 MIPA Jurusan Fisika ITS. Namanya Debby, putri dari penatua gereja, dan kini sudah menjadi pendeta, yaitu Bp. Junias Dharmasutedja. Saya pun memberi les beberapa temannya, dan juga adiknya, yaitu Yulia. Dengan cara inilah Tuhan menolong pembiayaan studi saya. Di dalam Dia selalu ada jalan keluar.

36. Sesuai dengan gelar-Nya, Allah Sang Pencipta (The Creator), maka Allah begitu kreatif, termasuk dalam mencukupi kebutuhan dana bagi studi saya. Di kampus ada pengumuman agar para mahasiswa yang berminat menerima suatu jenis beasiswa, yaitu Beasiswa Kering dan Langka (BKL), dapat mendaftarkan diri. Beasiswa ini disediakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bagi para mahasiswa yang memilih jurusan kering dan langka. Jurusan Matematika di FIPIA ITS termasuk dalam kategori ini, karena jumlah mahasiswa setiap angkatan berkisar hanya 20 orang. Saya pun berdoa dan mendaftarkan diri. Oleh kemurahan Tuhan saya memperoleh beasiswa tersebut …. hingga lulus. Anehnya, sesudah saya lulus pada tahun 1985, beasiswa jenis itu tidak disediakan lagi. Jadi, jika bukan karena Tuhan yang menolong saya dengan cara-cara-Nya yang ajaib, saya tidak akan pernah menyelesaikan studi saya.

35797911137. Pelayanan saya selama di Sekolah Minggu membuahkan anak-anak yang bertumbuh menjadi remaja. Saat itu hanya ada ibadah remaja di beberapa cabang GPPS, namun di pusat sendiri belum ada ibadah remaja secara khusus. Sedangkan Ibadah Pemuda yang berlangsung pada hari Sabtu sore jam 4 sore banyak dihadiri oleh ‘generasi muda’ yang berusia 20 tahun hingga 50 tahun. Ketuanya saja berusia 60 tahun. Jadi ada kesenjangan yang sangat jauh. Anak-anak itu meminta saya membina mereka dalam Ibadah Remaja secara khusus. Oleh sebab itu saya menggumulinya di dalam doa dan dengan persetujuan pimpinan gereja saya memulai Ibadah Remaja “Eirene” pada tahun 1983. Ibadah berlangsung semula pada hari Minggu siang tetapi kemudian dipindahkan ke Sabtu sore, jam 6. Dari 15 anak remaja – oleh pimpinan Tuhan – sepuluh tahun kemudian berkembang menjadi 150 orang pada tahun 1993. Saya dibantu oleh beberapa rekan, seperti Sdr. Michael, Sdr. Hosea, dan adik saya, Esterjana (yang kini menjadi misionaris). Anak-anak yang bertumbuh saya muridkan sehingga mereka bisa melayani dengan baik. Muncul nama-nama seperti Sdr. Awal Soediono, Sdr. Yan Riadi, Sdri. Lies Abinah, dan lain-lainnya, yang kini menjadi aktivis gereja. Tidak ada subsidi dana dalam setiap kegiatan. Saya mendidik mereka agar bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Roh Kudus memenuhi mereka dan pelayanan pun berkembang. Selanjutnya muncul Ibadah Tunas Remaja yang dirintis oleh Sdr. Samuel dan juga berkembang dengan baik. Dalam perkembangan selanjutnyan karena satu dan dua asalan tertentu pimpinan gereja ini di tahun 2005 melakukan ‘merger’ terhadap kelompok-kelompok ini sehingga nama Remaja “Eirene” tinggal kenangan, namun telah menghasilkan banyak aktivis gereja.

a138. Di Ibadah Pemuda sendiri saya cukup aktif. Saat itu yang menjadi Ketua Pemuda adalah Om Kristanto Tanutama (Tan Kee Hoo), paman dari Pdt. Alex Tanusaputra, Gembala Jemaat Gereja Bethany Indonesia. Sedangkan wakilnya adalah Bp. Petrus C. Njatawidjaja. Saya belajar banyak dari para senior ini, termasuk Ibu Lea Hanaya (Ibu mertua dari Bp. Kresnayana Yahya). Saya rajin mengikuti pelbagai kegiatan, baik sebagai anggota hingga menjadi pengurus Team Anugerah (kelompok pemuridan) di bawah bimbingan Bapak Hans J. S. Tee, penyanyi di Band Pemuda yang diketuai Budianto Gunawan (Soen Ing – sekarang pendeta GBI di Jakarta), dan kegiatan lainnya. Pada suatu kali. Bapak Tanutama berkata kepada saya, “Petrus, om minta kamu bisa menyampaikan firman Tuhan di Ibadah Pemuda tiga bulan lagi”. Saya cukup terkejut, karena biasanya yang berkhotbah di Ibadah Pemuda adalah hamba-hamba Tuhan senior, seperti: Pdt. R.F. Martino (Palu), Pdt. Junias Dharmasutedja (Surabaya), Pdt. Jusak Santoso (menantu Pdt. Ishak Lew), dan lain-lain. Saya berkata kepada Om Tanutama, “Terima kasih Om atas kepercayaannya. Dukung saya dalam doa ya Om.” Tiga bulan kemudian saya menyampaikan khotbah. Singkat. Hanya sekitar 20 menit. Om Tanutama lalu berkata, “Cukup baik. Om akan menjadwal kamu setiap tiga bulan sekali.” Saya berterima kasih kepada Tuhan yang memakai Om Tanutama dan para senior lainnya menjadi pembimbing saya sehingga saya dapat memperoleh kesempatan membagikan firman Tuhan. Sejak saat itu saya ditugaskan ke Ibadah Pemuda dan Remaja di cabang-cabang di Surabaya.
39. Salah satu tugas mahasiswa sebelum menulis skripsi adalah melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Saya kembali berdoa agar Tuhan menuntun saya ke tempat yang tepat untuk mengadakan PKL tersebut. Sementara saya berdoa, Roh Kudus mengingatkan saya ke suatu pusat penelitian di Kota Jember yang berdekatan dengan gereja di mana dulu saya bertumbuh. Kantor penelitian itu adalah Balai Penelitian Pertanian, yaitu pusat penelitian untuk kopi, kakao, tembakau, dan sebagainya. Saya tertarik untuk mengaplikasikan rumus-rumus matematika di bidang pertanian. Di sinilah saya melihat cara Tuhan bekerja. Pengalaman saya di Perkebunan Kopi Rowosari – walaupun hanya 9 bulan – menjadi sangat berarti. Jadi saya mengajukan permohonan mengadakan PKL di sana dan permohonan tersebut dikabulkan. Jadi selama 3 (tiga) bulan saya menjalani PKL di Kota Jember. Selama PKL saya diizinkan tinggal di pastori GPdI Jember, dan bisa ikut serta mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) di lingkuan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) yang diadakan di Kota Cirebon. Selesai PKL yang hasilnya diterima dengan baik,  saya harus menulis Skripsi tahap pertama. Saya pun kembali meminta petunjuk Tuhan, dan kali ini saya dituntun ke fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Saya menerapkan rumus-rumus matematika di bidang pertanian yang kala itu masih sangat langka. Skripsi tahap 1 ini pun dinyatakan lulus, sehingga saya boleh menyusun skripsi tahap 2. Ada sebuah bidang matematika yang sangat langka yang belum banyak diteliti oleh kakak tingkat saya, yaitu Persamaan Integral. Ketika saya mengajukan topik itu kepada dosen pembimbing saya, dosen pembimbing mengabulkannya. Jadi walaupun buku referensinya sangat jarang, saya tertarik meneliti Persamaan Integral tersebut. ternyata dalam ujian skripsi saya dinyatakan lulus, dan bahkan bagian kurikulum jurusan menetapkan agar diberikan mata kuliah baru: Persamaan Integral sebagai mata kuliah pilihan tingkat akhir. pengajarnya? Mereka meminta saya agar setelah diwisuda menjadi dosen luar biasa (part timer) untuk mengajarkan matakuliah tersebut. Saya diwisuda pada tanggal 23 Maret 1985 dan oleh kemurahan Tuhan, saya lulusan pertama untuk angkatan 1980, dan termasuk salah satu mahasiswa yang lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”.

40. Dua bulan sebelum saya lulus, salah seorang dosen saya, yaitu Pak Kresnayana Yahya, menawari saya suatu pekerjaan, yaitu menjadi asisten dosen. Saya menjadi asisten dosen matematika di Universitas Kristen Petra Surabaya bulan Januari hingga Mei 1985. Kemudian oleh kemurahan Tuhan, saya ditawari menjadi dosen matematika di UK Petra tersebut. Setelah menggumulinya dalam doa, saya menyambut tawaran itu dengan penuh sukacita: menjadi dosen matematika di Fakultas Teknik (FT) Sipil dan Perencanaan, FT Elektro dan FT Mesin. Jadi sambil mengajar di UK Petra, setiap hari Sabtu saya mengajar di almamater saya FIPIA ITS untuk matakuliah Persamaan Integral.  Bersamaan dengan itu adik saya, Daniel Jurijanto, masuk sebagai mahasiswa baru di FT Sipil dan Perencanaan, Jurusan Teknik Sipil. Saat wawancara, saya menjadi wali dari adik saya. Saat Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) menanyakan berapa uang gedung yang akan dibayarkan, saya balik bertanya berapa honor yang akan saya terima. “Apa kaitannya?” tanya petugas. Saya menjawab, “Sebab seluruh honor atau gaji pertama itu yang akan saya bayarkan sebagai uang gedung adik saya.” Walaupun berat hati, ia pun menyetujuinya. Sayangnya karena satu dan lain hal, adik saya tidak dapat menyelesaikan studinya hingga tuntas.

41. Mengajar matematika selama 3 (tiga) tahun di UK Petra sungguh memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Ada kegiatan vocal group dosen yang saya ikuti, ada kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru, ada retreat dosen, dan sebagainya, yang semuanya memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan iman saya. Pada suatu kali saya diberitahu oleh Dekan bahwa saya harus mempersiapkan diri untuk mengikuti Penataran P-4 Pola 125 jam di Kota Banyuwangi selama 10 hari. Saya senang menerima pemberitahuan itu, karena melalui penataran ini saya bisa memiliki jejaring (networking) yang lebih luas, semangat kebangsaan atau patriotisme dibangun, dan dengan sertifikat penataran saya bisa menjadi penatar serta menambah persyaratan kenaikan jenjang pangkat dan golongan dosen. Namun dua minggu menjelang keberangkatan, ternyata ada perubahan. Ada dosen lain yang diutus dan bagian saya ditunda. Jujur, saya sedikit kecewa. namun saya berdoa dan tetap percaya bahwa dibalik penundaan itu ada maksud Tuhan yang indah. Tiga bulan kemudian saya diikutsertakan dalam Penataran P-4 yang berlangsung di Surabaya! Jadi saya tidak harus meninggalkan kota Surabaya. Penundaan yang mendatangkan kebaikan! Saya dapat lulus dengan baik, dan memperoleh keputusan dari BP-7 Pusat sebagai salah seorang penatar.

42. Pengalaman mengajar lainnya adalah berkaitan dengan mahasiswa. Pada umumnya, matakuliah Matematika Dasar 1-4, ditakuti oleh para mahasiswa. Mengapa? Alasan pertama, materi yang diterima selama ini terlalu teoritis sehingga mahasiswa tidak bisa melihat relevansi materi yang dipelajari dengan jurusan yang mereka geluti (sipil, elektro atau mesin). Alasan kedua, soal-soal yang mereka harus selesaikan sangat sulit. Akibatnya, dosen matematika kurang populer. Pada saat saya mengajar, saya tidak terkecuali. Pada mulanya banyak yang tidak menyukai saya. Namun ketika pelajaran yang saya berikan saya kaitkan dengan jurusan mereka, mereka mulai melihat pentingnya matematika dan mau belajar keras. Hanya saja, mahasiswa ya tetap mahasiswa dengan tingkah polahnya yang kreatif. Suatu kali saya ke toilet untuk buang air besar. Sementara saya sedang ‘asyik’, saya mendengar beberapa mahasiswa sedang buang air kecil dan ‘ngrasani’ dosennya, termasuk saya. “Wah, Pak Petrus itu aku doakan sakit, kok ndak sakit-sakit saya. jadinya sebentar lagi aku tes matematika nih, padahal aku ndak siap!” Saya yang ada di dalam sedikit marah, kok ya ada mahasiswa yang mendoakan agar dosennya sakit. Mau keluar untuk mengetahui siapa mahasiswa yang ngomong juga ndak bisa. Jelas, doa dan harapan semacam itu tidak dikabulkan Tuhan, apalagi saya tahu saya sedang menjalankan amanah dari Tuhan dan pendiri negeri ini: mencerdaskan bangsa!

logo_jamu_jago43. Dari rumah kontrakan di Jalan Sawahan Baru I/19 kami pindah kontrakan ke Jalan Simo Magerejo II. Saat itu saya aktif di Karang Taruna. Salah satu teman di Karang Taruna adalah Saudara Bambang D.H., seorang sarjana matematika dari IKIP Surabaya dan kekasihnya, Diana. Beliau akhirnya pernah menjabat sebagai Walikota Surabaya selama dua periode dan saat ini (2012) menjadi Wakil Walikota Surabaya. Salah seorang murid les saya adalah Grace, puteri dari pengusaha toko swalayanan “Jago 81” yang terletak di Jalan Kartini Surabaya. Saya bertanya kepadanya mengapa diberi nama toko “Jago 81”. Ia menjelaskan demikian: angka 81 adalah nomor alamat tempat ini (Jalan Kartini 81), sedangkan nama “Jago” memiliki latar belakang sejarah, yaitu bermula dari jualan jamu Jago. Jadi dari jualan jamu terus berkembang menjadi tiko swalayan. Sebuah kisah yang menarik dan memberikan inspirasi kepada saya. Jadi saya mencoba cara yang sama. Saya pergi ke Jalan Tambaksari untuk kulakan jamu “Jago”. Saya sediakan meja kecil di depan rumah, dan mulai berjualan jamu. Tahukah Anda bagaimana kelanjutannya? Jamu habis, modal juga habis! Artinya, saya tidak memiliki bakat berdagang, tetapi mengajar. Tuhan telah memberikan kepada setiap orang bakat dan kemampuan yang berbeda-beda, agar saling melengkapi satu dengan yang lain.-

44. Pada bulan Januari 1985 saya dipanggil oleh Dekan dan diberitahu adanya tawaran beasiswa dari Monbusho (Kementerian Luar Negeri Jepang) untuk mengadakan riset di Jepang selama 2 (dua) tahun. Saya berminat dan segera mengisi formulir yang disodorkan kepada saya. Namun pada kolom: “Pernahkah belajar bahasa Jepang?” Saya tidak bisa menjawabnya. Jika saya isi “Pernah” nyatanya bahasa Jepang saya sama sekali belum pernah memelajarinya; jika saya isi “Belum” pastilah saya tidak akan lolos ke Jepang. Jadi saya isi “Sedang”. sesudah saya menyerahkan formulir pada hari itu, sore harinya saya menuju ke Kantor Konsulat Jepang di Surabaya. Dan, kebetulan, ada pendaftaran untuk peserta bary Kurus Bahasa Jepang. Jadi saya pun mendaftar, lalu diberi lembaran abjad Hiragana dan Katakana untuk dipelajari dan harus mengikuti test awal seminggu berikutnya. Saya lulus test dan diterima sebagai peserta Kursus Bahasa Jepang. Walaupun akhirnya saya tidak jadi pergi ke Jepang, tetapi saya tetap ikut pelajaran kurus hingga 3 tahun lamanya. Jadi, sekarang saya mahir berbahasa Jepang? Tidak juga! Mengapa? Karena setelah tidak lagi mengiuti kursus itu, saya tidak pernah menggunakannya lagi. Sebuah bahasa yang tidak lagi digunakan secara aktif akhirnya terlupakan. Mengapa saya tidak jadi pergi ke Jepang? Begini kisahnya.

godhasaplan45. Pada bulan Maret 1985 saya dipanggil oleh Pendeta Ishak Lew, Gembala Sidang GPPS Sawahan di mana saya beribadah dan melayani. Beliau berkata demikian, “Petrus, Om akan mendirikan Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS), tetapi tidak ada orang yang menanganinya. Om melihat bahwa Petrus setia melayani, dan Om sudah berdoa dan memperoleh beberapa tanda bahwa Petrus yang bisa menangani hal ini.” Saya berkata kepada beliau, “Baik, Om. Saya akan berdoa lebih dulu.” Di akhir bulan Maret saya memberitahu Om Ishak bahwa saya bersedia menangani STAS, tetapi pengunduran diri dari UK Petra baru bisa saya lakukan di bulan Juni, mengakhiri semester genap 1984/1985. Sebenarnya saya memang memiliki kerinduan sejak remaja untuk menjadi hamba Tuhan. Namun waktu itu nampaknya belum waktunya. Sampai-sampai, pada waktu saya masih duduk di semester 2 di ITS. saya nyari smengundurkan diri dari studi saya karen apanggilan yang begitu kuat. Namun kakak saya cukup bijaksana. Ia berkata, “Kalau Tuhan sudah membuka jalan bagimu kuliah di ITS, sesuatu yang langka, tentunya Tuhan juga menginginkan agar engkau menyelesaaikannya. Kalau nanti sudah selesai studi Matematikas, engkau mau studi lagi teologia dan menjadi hamba Tuhan fulltime, tidak masalah. Jadi, jangan emosional. Penuhi panggilan sesuai waktu Tuhan.” Setelah saya mengajukan pengunduran diri saya di bulan Maret itu kepada pimpinan UK Petra, bahwa tiga bulan lagi saya sepenuhnya di STAS. Dalam tiga bulan itu setiap pulang kantor dari UK Petrs saya berkantor di STAS. Di bulan Mei, saya memperoleh pemberitahuan bahwa pengajuan beasiswa Monbusho saya dikabulkan. Peserta dari Indonesia hanya 4 (empat) orang, termasuk saya. Namun karena saya sudah mengundurkan diri, maka pimpinan UK Petra menjawab kepada Monbusho, bahwa saya tidak lagi mengajar di UK Petra. Mendengar hal itu, hati saya sedih. Namun dalam doa saya berkata, “Tuhan, yang terbaik telah kuberikan kepada-Mu. Aku tahu ini sebuah pengorbanan, tetapi belum seberapa dibandingkan perngorbanan-Mu di kayu salib bagiku!” Apa yang menjadi kebanggaan bagiku kulupakan dan aku mengarahkan diri kepada apa yang di depan …

moment-clipart-il_fullxfull-11853706046. Ketemu Jodoh. Setahun saya di UK Petra, tiba waktunya mencari jodoh. Saya berdoa meminta Tuhan menyatakan kepada saya gadis mana yang akan diberikan-Nya kepada saya menjadi tulang rusuk saya. Sebenarnya ada beberapa gadis yang saya suka, baik di UK Petra maupun di tengah pelayanan di Gereja. Tetapi ketika saya bawa dalam doa, tidak ada konfirmasi jelas dari Tuhan. Sampai pada suatu ketika, saya berpapasan dengan salah seorang siswi SES. Namanya Yohana. Saya terus berdoa dan mengamati kegiatannya selama belajar di SES. Ia sederhana, rajin bekerja, dan nampaknya sungguh-sungguh saat jam doa. Saya meminta beberapa konfirmasi dari Tuhan. Pertama, kesamaan visi, misi, dan beban pelayanan. Ketika ia menjalani kerja praktek di GPdI Dampit (daerah Lumajang, Jawa Timur), saya berkirim surat mengenai pelayanan. Dalam beberapa kali ada kesamaan hati terhadap beban pelayanan. Berarti konfirmasi pertama beres. Kedua, restu orang tua. Saya berkunjung ke rumahnya di Krian, Mojokerto, dan berbincang-bincang dengan ayah ibunya. Saya cukup kaget karena ternyata ia adalah orang Jawa, sedangkan saya adalah orang Tionghoa. Perbedaan etnis bagi saya tidak masalah, tetapi bagi orang tua saya – khususnya ibu saya – merupakan masalah. Ketika saya berdoa untuk hal itu, Tuhan tetap memberi saya kemantapan hati dan damai sejahtera. Jadi saya mencoba menjelaskan pada ibu saya. Perlu waktu yang cukup lama untuk meyakinkan beliau. Akhirnya beliau setuju dengan syarat yang cukup berat: menyediakan rumah untuk ditempati orang tua dan adik-adik saya dulu. Ini syarat yang aneh. Kalau orang lain menikah disediakan rumah oleh orang tuanya, saya malah harus menyediakan rumah bagi orang tua. Saya nyatakan hal itu kepada Yohana, dan ia pun menyetujuinya. Jadi konfirmasi kedua pun beres. Sesudah kedua konfirmasi itu beres, dalam surat kepada Yohana saya beranikan diri menulis kalimat “Maukah berdoa agar persahabatan kita lebih ditingkatkan?” Ia pun setuju. Akhirnya saya mengubah sebutan akhir dalam surat saya kepada Yohana, dari kata “sahabat” menjadi “kekasih”. Tuhan sungguh baik. Kami menikah 17 November 1990, dan kini Yohana menjadi isteri saya.

self_study47. Sampai saat saya diminta untuk menangani STAS itu saya belum pernah mengikuti pendidikan teologi secara formal. Memang beberapa kali saya mengikuti Kursus Alkitab Tertulis. Juga selama beberapa bulan mengikuti School of Ministry (SOM) di Gereja Betel Indonesia “Bethany”. Saat itu Pdt. Abraham Alex Tanusaputra baru memulai GBI “Bethany” di Jalan Manyar Sindharu. Jadi yang belajar saat itu hanya beberapa orang saja. Pengetahuan teologi lainnya saya peroleh secara studi mandiri (self study) melalui buku-buku rohani yang saya beli dari uang saya sendiri. Saya diminta menjabat sebagai Pembantu Ketua (Puket) II (Administrasi dan Keuangan). Sedangkan yang menjabat Puket I adalah Ir. Wimbarko Firdaus, dan Puket III adalah Ir. Endro Wicaksono. Karena kedua rekan tersebut adalah pengusaha dan aktivis gereja, dan hanya saya yang fulltime di STAS, maka hampir semua urusan harus saya tangani. Pertama, saya harus menyusun tiga jadwal perkuliahan sekaligus para pengajarnya: Kuliah Padat untuk hamba-hamba Tuhan dengan sistem off-campus, Kuliah S1 Reguler, dan Kuliah Diploma di sore hari. Kedua, saya harus mengajar matakuliah “Studi Kasus”, yaitu mengisi jam kosong untuk pembentukan karakter dan kerohanian (character building and spiritual formation) di seluruh Kelas Reguler. Saya harus melatih sekaligus menjadi conductor Paduan Suara Mahasiswa STAS. Ketiga, saya juga harus menertibkan kehidupan asrama para mahasiswa. Puji Tuhan, ada beberapa staf saya yang sangat membantu, yaitu Sdri. Yohana Pattan (sekarang isteri dari Pdt. …, Gembala GPPS Luwuk), Sdri. Tio Sian Lie (sekarang melayani di daerah Jombang). Kemudian Tuhan mengirimkan dosen tetap baru, yaitu Bapak Melianus Liunessi, STh. Di luar tugas di STAS saya pun duduk sebagai Ketua Komisi Sekolah Minggu GPPS se Surabaya. Saya pun diminta ikut menangani Buletin (kemudian menjadi Majalah) “Gema GPPS”, bersama dengan Sdr. Handoyo, Sdr. Bobby Manuputty, Sdri. Meyke Liwandouw (sekarang isteri Pdt. Johan Bandi, melayani di Perth, Australia). Alhasil, saya harus berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Saya banyak dikuatkan dan didoakan oleh hamba Tuhan senior yaitu Pdt. Yunias Dharmasutedja. Jadi, hanya oleh kemurahan Tuhan saja jika saya bisa bertahan selama sekitar 5 tahun.

328518_05025602052015_kerjasama48. Saya akan sampaikan pengalaman di STAS. Berkaitan dengan pengajar. Pdt. Ishak Lew yang mendapatkan visi dari Tuhan untuk membuka STAS segera melaksanakannya walaupun belum memiliki dosen pengajar. Jauh sebelumnya, GPPS yang beliau gembalakan sudah memiliki Sekolah El-Kitab Surabaya (SES) dengan lama belajar 3 x 6 bulan secara bergantian antara siswa dan siswi. Bulan Januari-Juni giliran siswa, dan bulan Juli-Desember giliran siswi. Saat memulai STAS beliau bisa mengontak Pdt. E.N. Soriton, yaitu Gembala Sidang GPdI Jember, bapa rohani saya ketika tinggal di Jember. Jadi kedua bapa rohani dari dua organisasi yang berbeda, dipertemukan Tuhan untuk melayani bersama dalam pendidikan teologi. Jika bukan karena karya Roh Kudus, tidak mungkin hal itu terjadi. Pdt. E.N. Soriton sendiri sudah membuka Jember Bible College (JBC) di Kota Jember. Dengan demikian kedua lembaga pendidikan teologi (JBC dan STAS) dapat bekerja sama. Dosen-dosen JBC banyak yang ikut mengajar di Kuliah Padat STAS, antara lain: Pdt. Yan Lumempouw (Sokaraja), Pdt. Febe Batubara, Pdt. Yahya Lesmana (Muntilan), Pdt. Yahya Suharyono (Sukorejo Jember), Pdt. Moes Arief (Yogyakarta), Pdt. Lapian. Hamba-hamba Tuhan lain GPdI lain yang ikut mengajar di Program Reguler STAS adalah alm Pdt. Theofilus Karunia Djaja (Semarang), Pdt. Gunawan Tjahjadi (Semarang), Pdt. Harry (Pasuruan). Dari organisasi gereja dan lembaga pelayanan lainnya juga banyak yang Tuhan kirimkan membantu mengajar di STAS, a.l.: dari STT Gamiel Solo (Sdr. Timotius Haryono, sekarang sudah bergelar Doktor Teologi), STII Cabang Surabaya (Juadi Iswanto), Perkantas (Sdr. Tadius), STTA Lawang (Sdr. Sia Kok Sin), Yayasan Lahai Roi Surabaya (Sdr. Ir. Anto BCU, Sdr. Hendraris, Sdri. Ria Savitri, Sdr. Oegik), dan lain-lainnya. Di samping itu dari GPPS sendiri juga banyak yang ikut mengajar seperti: Sdr. Supriyadi (Malang), Sdr. Agus Iswanto (Kediri), Sdr. Darto Sachius (sekarang dosen di Harvest International Theological School – HITS) dan lain-lainnya.
Untuk dosen-dosen matakuliah umum, Tuhan mengirimkan hamba-hamba-Nya dari Unair (Bapak Prof. Dr. J.E. Sahetapy beserta Ibu), dari UK Petra (Drs. Thomas Santoso – sekarang sudah doktor dan Guru Besar, serta alm. Drs. Lukas Musianto). Perkuliahan dapat berjalan dengan baik oleh karena tangan Tuhan yang bekerja. Bukan dengan kuat dan gagah, melainkan oleh Roh Tuhan saja …

info-beasiswa49. Setelah setahun saya di STAS, mahasiswa ada yang menanyakan tentang gelar pendidikan teologia saya. Dengan jujur saya berkata bahwa saya belajar teologia – hingga saat itu – secara mandiri. Mereka mendesak agar saya mengambil studi lanjut. Saya meminta mereka mendukung dalam doa: pertama untuk ijin studi lanjut yang saya tahu tidak mudah diperoleh dari Pdt. Ishak Lew; kedua untuk sekolah teologia yang akan dituju. Akhirnya oleh kemurahan tuhan saya bisa mengambil studi teologia di Institut Alkitab Tiranus (IAT) Bandung, dengan biaya sendiri dan menerima bantuan dari Pdt. Junias Dharmasutedja. Saya mengikuti sistem off campus, yaitu kuliah padat untuk program Master Divinity (MDiv.) di tahun 1989. hasil saya belajar sendiri bahasa Yunani dan Ibrani sangat menolong studi saya. Namun di tahun 1991 saya cuti studi sebab tidak ada biaya. Hanya oleh kemurahan Tuhan sajalah – yaitu adanya beasiswa dari Majelis Gereja Isa Almasih Pringgading Semarang – saya dapat melanjutkan studi lagi di tahun 1994 dan selesai tahun 1996. Rekan-rekan studi saya pada saat itu adalah Pdt. Eddy Fances (Los Angeles – USA), Pdt. Bambang Widjaja (Gereja Kristen Perjanjian Baru – GKPB), Pdt. Agnes Maria Layantara (Holy Family Surabaya), Pdt. Ruben Adi Abraham (Gereja Betel Indonesia dan STT Kharisma Bandung), Bp. Harianto G.P. (STT Bethany Surabaya), Bp. Anto B.C.U. (Solo), Pdt. Dr. Timotius Haryono (STT Gamaliel Solo), Pdt. Ruslan (GKKA Surabaya), dll.

74585_173149599366254_100000136443295_627138_461577_n150. Pengalaman menarik lainnya di STAS adalah tentang pelajaran bahasa Yunani dan Ibrani. Pada awal STAS berdiri, untuk kuliah padat bahasa Ibrani diajar oleh Pdt. Yahya Suharyono (gembala Sidang GPdI Sukowono Jember), dan untuk bahasa Yunani diajar oleh … (nah di sini saya lupa lagi, ada yang tahu?). Namun untuk program S-1 reguler kami dibantu oleh Pdt. Gunawan Tjahjadi (Gembala Sidang GPdI Petra Semarang). Beliau dengan penuh pengorbanan mengajar dengan sistem block teaching, yaitu dipadatkan dalam seminggu, setiap hari 2 sesi, sehingga dalam satu semester harus datang dua kali. Setelah beberapa kali, beliau berkata kepada saya supaya menggunakan cara lain, sebab beliau tidak sanggup mengajar lagi karena beban pelayanan di penggembalaan. Beliau berkata kepada saya, “Begini saja, saya akan tinggalkan buku wajib mahasiswa untuk Pak Petrus pelajari secara mandiri baik bahasa Yunani dan bahasa Ibrani. Kemudian Pak Petrus kirim jawaban soal-soal latihan yang ada di buku tersebut kepada saya. Saya akan menilainya. Apabila saya pandang sudah menguasai, maka saya akan mengusulkan kepada pimpinan STAS, agar Pak Perus yang mengajar Yunani dan Ibrani.” Saya menyetujuinya. Mengapa? Karena pada saat itu saya sendiri belum pernah tahu yang namanya Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani. Dalam tempo sekitar setahun saya mempelajari Buku Yunani Koine karangan J.W. Wenham yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Asia Tenggara (SAAT) Malang, dan Buku Pelajaran Bahasa Ibrani karangan J. Weingreen (judulnya A Practical Grammar for Classical Hebrew). Akhirnya saya mengajarkan bahasa Yunani dan Ibrani kepada mahasiswa. Namun itu tak lama. Kemudian Tuhan mengirimkan seorang dosen yang menguasai kedua bahasa itu. Untuk Bahasa Yunani adalah Ir. Anto Bambang C.U. (sekarang bergelar MTh – alumni Institut Alkitab Tiranus Bandung), dan untuk bahasa Ibrani adalah Pdp. Ishak Surya (sekarang Gembala Jemaat Gereta Tabernakel Indonesia – Malang, doktor alumni STT Jaffray Jakarta). Beliau adalah saudar akandung Prof. Dr. Yohanes Surya, pakar fisika yang berhasil mengharumkan nama bangsa Indonesia di forum Olimpiade Fisika International (IPhO). Saat itu Pak Ishak Surya adalah staf dari Pdt. dr. Jusuf B.S., Gembala Sidang Gereja Tabernakel Indonesia Taman Simpang, Surabaya. Jadi saya menjadi pengajar cadangan jika beliau-beliau ini berhalangan. Walaupun pemain cadangan, tapi … sangat dibutuhkan. Sungguh luar biasa cara Tuhan bekerja dalam menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang kami butuhkan …

it-s-a-girl51. Oleh kemurahan Tuhan, keluarga saya dianugerahi seorang puteri yang lahir pada tanggl 16 November 1991, tepat satu hari sebelum ulang tahun yang pertama pernikahan kami. Ia kami beri nama Eunike Gloria Setiadarma. Nama Eunike berarti “menang dengan baik” sebagai bukti bahwa Tuhan telah memberi kami kemenangan. Apa bentuk kemenangan itu? Begini. Pada waktu saya bekerja di UK Petra, membeli sebuah rumah di Perumahan Kutisari Indah dengan angsuran. Rencananya rumah itu akan saya tempati kelak jika saya sudah menikah. Namun karena salah satu syarat menikah yang diajukan mamah saya adalah menyediakan tempat tinggal bagi mereka, maka rumah itu ditempati oleh orang tua dan adik-adik saya. Saya sendiri? Sementara tinggal di rumah mertua saya, di rumah Bapak Kasiyan di Krian. Jadi setiap hari saya ikut bus umum untuk mengajar di STAS dan kembali sampai di rumah mertua sekitar jam 9 malam. Akhirnya saat usia Nike 6 bulan kami pindah ke Surabaya, kontrak sebuah rumah kecil di dekat lokalisasi Dolly. Jadi kemenangan kami adalah bahwa kami lebih mendahulukan orang tua yang telah 13 kali pindah kontrak rumah. Setelah kemudian kami melayani di Semarang, kami dianugerahi Tuhan sebuah tempat tinggal yang besar. Statusnya HM alias Hak Makai, yaitu rumah dinas pelayanan dengan 7 buah kamar, yang masih kami tinggali hingga kini. Sungguh Tuhan baik … Selanjutnya rumah yang di Kutisari dijual dan dibelikan sebuah rumah di Jalan Sawahan Baru I/18-A yang masih ditinggali hingga kini oleh orang tua dan adik saya.

jasa-konsultasi-skripsi52. Seingat saya, di bulan November 1992 saya diajak Pdt. Petrus Hendrawan (Gembala Jemaat Gereja Isa Almasih Diponegoro Surabaya) ke Kota Semarang. beberapa waktu sebelumnya memang saya sharing dengan beliau tentang beberapa pergumulan dalam pelayanan saya di STAS. Saat itu kelas mahasiswa dan mahasiswi STAS dipisah. Perpustakaan pun sendiri-sendiri. Saya memahami prinsip pimpinan yaitu agar di antara mereka tidak saling berpacaran. Namun dampaknya kurang baik.  Pertama, terhadap para pengajar. mereka harus mengajar dua kali dengan materi yang sama dengan jumlah mahasiswa dan mahasiswa yang tidak terlalu banyak. Tentunya hal ini bisa menjemukan. Kedua, ada pemborosan pembiayaan. Ketiga, dampak psikologis dan sosial yang kurang baik bagi mahasiswa. Usulan saya selama beberapa kali agar digabung saja tidak dikabulkan. Pergumulan lainnya adalah adanya intervensi dari pihak keluarga Gembala yang memandang saya seolah-olah bukan sebagai mitra kerja, tetapi lebih sebagai karyawan mereka. Pak Hendrawan memberikan respons yang cukup baik, yaitu memperkenalkan saya dengan Pdt. Indrawan Eleeas, ipar beliau sendiri, yang saat itu menggembalakan di Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. Saya berjumpa dengan Pak Indrawan di pastori Jalan Taman Halmahera 45. Ada formasi rohaniwan yang perlu diisi, yaitu sebagai Gembala Wilayah di Kelompok Persekutuan Keluarga (KPK). Formasi itu ditawarkan kepada saya. Saya berkata mau menggumulinya dalam doa, dan meminta waktu 3 bulan. Saya diminta melihat dulu ibadah yang berlangsung pada hari Minggu, tetapi saya menolaknya. Saya tidak ingin ada faktor-faktor eksternal yang bisa memengaruhi pergumulan saya. Saya kembali ke Surabaya dan menggumulinya di dalam doa bersama isteri saya.

message-from-god53. Setelah beberapa lama kami menggumulinya dan memperoleh beberapa konfirmasi, tinggal dua konfirmasi lagi: siapa yang akan menggantikan saya di STAS, dan izin dari Pdt. Ishak Lew. Kurang dua bulan dari keputusan yang harus saya berikan kepada Pdt. Indrawan, saya ditemui oleh Bp. Ishak Surya, salah seorang dosen pengajar Bahasa Ibrani. ia berkata kepada saya begini: “Pak Petrus, tadi saya dipanggil oleh Pdt. Jusuf B.S. beliau berkata bahwa ada pesan dari Tuhan untuk disampaikan kepada saya. Pesan itu adalah bahwa saya akan melayani lebih banyak lagi di Sekolah Teologia. Saya tanya pak Yusuf di Sekolah Teologia mana om? Beliau menjawab ya di STAS sini. Saya kemudian berkata kepada beliau bahwa di STAS sudah ada Pak Petrus. Namun beliau berkata pokoknya pesan Tuhan begitu.” Mendengar hal tersebut, saya terkejut melihat bagaimana konfirmasi Tuhan begitu luar biasa dinyatakan kepada saya. Saya berkata kepadanya, “Pak, apa yang disampaikan Pak Yusuf benar adanya. Saya memang akan meninggalkan STAS ini. Jika memang Pak Ishak dipanggil dan ditempatkan Tuhan di sini, akan saya sampaikan kepada Om Ishak.” Ia pun menyetujuinya. Jadi selama beberapa hari saya berdoa lagi. Seminggu kemudian Pak Ishak datang memberitahu bahwa ia tidak akan bisa mengajar selama beberapa hari karena pendeta yang dulu mendidiknya di Kertosono Jawa Timur meninggal. Jadi ia bermaksud melawat ke sana. Yang cukup mengagetkan saya adalah ketika ia berkata bahwa ada kemungkinan saya akan diminta menggantikan beliau menggembalakan di sana. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Jika memang Pak Ishak ditempatkan Tuhan di Kertosono, berarti akan ada orang lain yang ditempatkan Tuhan di STAS untuk menggantikan saya. Anehnya, dua jam sesudah kepergian Pak Ishak ke Kertosono, ia kembali menemui saya di kantor STAS. Saya bertanya, “Lho, kok masih di sini. Katanya Pak Ishak mau ke Kertosono?” Ia berkata, “memang saya sudah berangkat dengan bus. Namun di tengah jalan, saya mendengar Tuhan berkata agar saya kembali ke STAS. Melayatnya besok saja. Tuhan berkata bahwa saya ditetapkan Tuhan di STAS.” Kembali hati saya bersyukur kepada Tuhan yang mengatur segala sesuatu begitu indah. Jadi Tuhan sudah menetapkan orang yang akan menggantikan saya di STAS, yaitu Pak Ishak Surya.

502203154. Konfirmasi terakhir adalah memperoleh izin dari Pdt. Ishak Lew sendiri bukan hal yang mudah, mengingat kharisma beliau. Namun satu hal yang kami percaya, bahwa jika memang Tuhan Yesus Kristus menghendaki kami melayani di Semarang, maka tidak akan ada hambatan apapun. Tuhan sendiri yang akan menolong semuanya. Kami menghadap beliau, dan sungguh suatu hal yang tidak kami duga: beliau mengabulkan permohonan pengunduran diri kami untuk melayani di Kota Semarang. Apalagi ketika beliau tahu bahwa kami akan melayani di Gereja Isa Almasih yang dirintis oleh alm. Pdt. Tan Hok Tjoan, rekan beliau sendiri di bawah binaan Pdt. van Gessel. Beliau berpesan agar kami melayani dengan baik di Semarang. Siang itu juga saya mengontak Pak Indrawan dan menyatakan bahwa saya siap melayani di GIA Pringgading Semarang. Sesudah keputusan itu saya ambil, terjadi sesuatu …

issue55. Dengan telah lengkapnya konfirmasi dari Tuhan itu, saya mengontak Pak Indrawan dan menyatakan bahwa sebulan lagi kami siap berangkat ke Semarang dan memulai pelayanan di sana. Namun apa yang terjadi. Saya memperoleh ‘surat cinta’ dari Pdt. Ishak Lew yang menyatakan bahwa pengunduran diri saya dari STAS adalah keputusan kedagingan saya dan beliau mengutuk saya. Surat itu ditembuskan kepada seluruh anggota Majelis Besar (MB) GPPS karena pada waktu itu saya juga adalah anggota MB dan surat pengunduran diri saya juga saya tembuskan kepada mereka. Juga surat itu ditembuskan kepada Pak Indrawan. Saya langsung share dengan isteri saya mengenai surat tersebut. Setelah kami berdoa, ada dua hal yang harus saya lakukan: memberikan klarifikasi kepada Om Ishak Lew, dan menanyakan kepada Pak Indrawan apakah surat tersebut memengaruhi penerimaan saya melayani di sana atau tidak. Saya segera menghadap Om Ishak dan menanyakan latar belakang pengiriman surat tersebut. Ternyata, beliau mendengar kabar burung bahwa saya pergi untuk memperkaya diri dan akan mengambil sebagian besar jemaat untuk hengkang dari GPPS. Saya berkata kepada beliau bahwa jika memang saya bermaksud memperkaya diri, saya tidak akan memenuhi panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya. Saya berkata bahwa selama sekitar 12 tahun saya melayani di GPPS, keteladan kesederhanaan Om Ishak telah memengaruhi kehidupan saya: asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Juga isu mengenai ‘memengaruhi’ sejumlah jemaat untuk hengkang dari GPPS, karena saya tidak pernah berkhotbah pada hari Minggu di GPPS Sawahan. Jemaat tidak mengenal saya, karena saya hanya mengajar di STAS, SES, dan SLAM. Akhirnya Om Ishak menerima penjelasan saya, hanya saja tidak bersedia mencabut ‘surat cinta’ tersebut. Selanjutnya saya menghubungi Pak Indrawan dan bertanya kepada beliau apakah ‘surat cinta’ itu memengaruhi keputusan Majelis GIA Pringgading dalam menerima saya? Jawaban beliau sangat bijaksana, yaitu tidak! Saya bersama isteri sempat memikirkan alternatif kedua: jika memang tempat pelayanan di Semarang tertutup bagi kami, kami akan kembali ke Universitas Kristen Petra untuk kembali mengajar di sana, atau memulai pelayanan baru. Namun rupanya Tuhan Yesus Kristus – Sang Kepala Gereja – menghendaki kami melayani di Semarang.

gwczjirc56. Beberapa saat setelah saya berada di GIA Pringgading, saya berjumpa dengan dua orang hamba Tuhan yang dipakai Tuhan dan menempati tempat pelayanan baru setelah mengambil keputusan tidak lagi melayani di GIA Pringgading. Yang pertama adalah Pdt. Christopher Mark Dirk Estefanus. Beliau pernah menangani Pemuda Bagi Kristus (PBK), berhasil membuka beberapa pos penginjilan dan memberikan pembinaan. Yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuannya menjadi editor penulisan sejarah GIA Pringgading sehingga dokumen karya Tuhan bagi gereja-Nya itu dapat menjadi acuan perkembangan lebih lanjut GIA Pringgading. Sejak meninggalkan GIA Pringgading di tahun 1993 hingga kini – tahun 2014 – beliau melayani sebagai Gembala Sidang Gereja Utusan Pentakosta di Indonesia (GUPDI) Pasar Legi, Solo, didampingi isteri beliau yang tadinya juga banyak memberikan pembinaan di GIA Pringgading, yaitu Pdt. Debora Setiawati, MTh.  Hamba Tuhan kedua yang saya jumpai adalah Sdr. Peter Tjondro Santoso. Di GIA Pringgading beliau mengembangkan pelayanan Doa Malam hingga mengalami perkembangan yang luar biasa, dan juga perintisan beberapa pos penginjilan. Dari GIA Pringgading, beliau kemudian mendirikan lembaga pelayanan MissionCare, dan kini memimpin WorldCare, sebuah lembaga pelayanan yang membantu banyak hamba-hamba Tuhan di pedesaan. Melihat hamba-hamba Tuhan yang ‘digodok’ di GIA Pringgading ini, maka saya bersyukur kepada Tuhan, karena ‘tempat penggodogan’ itu disediakan Tuhan bagi saya supaya bisa menjadi hamba-Nya yang melayani Tuhan dan sesmaa lebih efektif lagi.-

kpk57. Tugas awal saya melayani di GIA Pringgading adalah di KPK, yaitu sebagai Gembala Wilayah Semarang Barat. KPK bukan singkatan dari Komisi Pemberantasan Korupsi, melainkan Kelompok Persekutuan Keluarga. Pelayanan ini telah dimulai tahun 1979 setelah beberapa pemimpin gereja ini berkunjung ke Yoido Full Gospel Church yang digembalakan oleh Pdt. David Yonggi Cho di Seoul, Korea Selatan. Bapak Pdm. Djudju Hendra (telah dipanggil pulang ke rumah Bapa pada tahun 2002) yang saat itu enjabat sebagai Ketua Pengurus Harian (PH) menugaskan saya membuka 3 (tiga) KPK baru di daerah Tanah Mas. Saya diajaknya mengadakan survey ke daerah itu. Waktu yang diberikan adalah 6 bulan. Setelah saya tahu daerahnya, saya pun memulai tugas saya. Anehnya, saya bisa masuk ke daerah itu, tapi mengalami kesulitan sebab blok-bloknya sulit diingat, sehingga saya sulit keluar. Saya pun berdoa meminta hikmat Tuhan agar tahu jalan-jalan di daerah itu dengan cepat. Tuhan memberikan hikmat agar saya datang ke Kantor Pemasaran Tanah Mas guna meminta denah daerah itu, agar saya tidak terus-menerus kesasar atau tersesat. Semula saya kuatir akan mendapatkan halangan, apalagi ini berkenaan dengan pembinaan iman (keagamaan). Namun ternyata apa yang saya kuatirkan tidak terjadi. Orang yang menemui saya justru mendukung apa yang hendak saya lakukan, yaitu memberikan pembinaan iman kepada jemaat GIA Pringgading yang berdomisili di sana. Ia pun memberikan denah yang lengkap dan penjelasan yang sangat menolong saya merampungkan tugas saya. Dari waktu 6 bulan yang diberikan, saya mampu melaksanakannya dalam 3 bulan. Puji Tuhan. Bukan karena kuat dan gagah, melainkan karena Roh Tuhan saja.

printable-its-a-boy-sign58. Di bulan September 1993 isteri saya melahirkan anak kedua, seorang anak laki-laki yang lucu, yang kami beri nama Stevie Kristiadi Setiadarma. Setelah selama 6 bulan kami tinggal di lantai III Gedung Yehovah Nissi, maka pada bulan Oktober 1994 kami pindah ke mess yang baru dibangun oleh Majelis GIA Pringgading, yaitu di Jalan Cakrawala Barat III/2, tepi jalan arteri Yos Sudarso, Semarang. Ada 4 (empat) bangunan mess di sana, yang kemudian dihuni oleh kami sekeluarga, Pdt. Yahya Mulyono sekeluarga (sekarang beliau menggembalakan di GIA Kelapa Gading Jakarta), Pdt. Suharto sekeluarga, dan Pdt. Djudju Hendra sekeluarga. Ada yang bertanya bagaimana mungkin saya sebagai rohaniwan baru bisa memperoleh fasilitas menggunakan mess gereja dibandingkan rohaniwan yang lebih senior. Jawabannya adalah karena saya bukan ‘orang baru’. Memang saya rohaniwan ‘baru’ di GIA Pringgading, tetapi sebelumnya telah melayani Tuhan, hanya saja di organisasi gereja yang berbeda, yaitu di GPPS Sawahan Surabaya. Rupanya Tuhan memperhitungkan apa yang telah saya korbankan, yaitu sebuah rumah yang dihuni orang tua dan adik saya di Surabaya, Kini Tuhan menyediakan sebuah rumah dinas (mess) dengan ukuran 90 m2 terdiri dua kamar tidur, yang cukup bagi kami. Statusnya sama, yaitu HM, hanya saja kalau rumah yang di Surabaya adalah Hak Milik, maka yang di Semarang adalah Hak Make’.-

59. Oleh kemurahan Tuhan saya dinyatakan lolos masa orientasi selama 1 tahun, dan di tahun 1994 saya diikutsertakan dalam Training Centre (TC) Sinode Gereja Isa Almasih. Lulus TC, saya pun diberi kesempatan untuk kembali ke kampus Tiranus untuk melanjutkan studi saya yang sempat terbengkalai karena ‘cuti terpaksa’ selama 2 tahun. Oleh kemurahan Tuhan pula, saya dapat menyelesaikan program Master Divinity (MDiv.) di Institut Alkitab Tiranus (IAT) di tahun 1996 dengan predikat ‘Sangat Memuaskan”. Setahun sebelumnya, yaitu di tahun 1995, saya mengajak isteri dan kedua anak saya (Eunike dan Stevie) tinggal di kampus Tiranus selama 2 (dua) minggu. Itu merupakan kewajiban setiap mahasiswa Program Pascasarjana, karena pimpinan IAT mewajibkan selama sedikitnya 2 (dua) minggu keluarga ikut tinggak di kampus. Tujuannya adalah agar keluarga (isteri dan anak) memahami pergumulan pasangan atau orang tuanya dalam studi sehingga dapat memberikan dukungan yang berarti.-

147673156213959. Selain melayani sebagai Gembala Wilayah, saya pun melayani sebagai pengajar di Pusat Latihan Pengerja (PLP) yang waktu itu dipimpin oleh rekan rohaniwan Drs. Yonathan Subur Pribadi, MA (sekarang – tahun 2014 – adalah seorang Pendeta, sebagai Penanggung Jawab Tempat Pembinaan Iman (TPI) Jatinegara, sebuah pos pelayanan Gereja Isa Almasih Jemaat Rajawali, Jakarta. Pusat Latihan Pengerja merupakan wadah pembinaan dan pengaderan pembicara di KPK. Di kemudian hari, PLP ini memiliki program Bertumbuh Bersaksi Melayani (BBM) dan Gali Alkitab Sederhana (GAS). Kedua program itu dikomandani oleh Saudara Suryanto Tasman, STh. (di kemudian hari dan hingga kini – tahun 2014 – melayani sebagai misionaris di sebuah negara di Amerika Latin). Bahkan sebelum saya melayani di GIA Pringgading, pernah ada program Latihan Pemenangan Jiwa (LPJ – dibaca ‘elpiji’). Nampaknya dari dulu GIA Pringgading selalu mementingkan pembinaan, sehingga istilah-istilah yang digunakan berkaitan dengan power, atau kuasa yang mampu meledak dan menerobos. Pada tahun 2002, wadah pembinaan itu berganti nama menjadi Training Orientasi Pelayanan (TOP), dan terus menjadi wadah pembinaan bagi pengerja internal di GIA Pringgading. Bahkan juga telah mendidik dan membina pengerja dari gereja-gereja di seluruh Indonesia. Ada TOP Pagi dengan pembinaan intensif setiap hari selama 1 tahun, namun juga ada TOP Sore dengan pembinaan selama seminggu sekali (setiap Selasa0 selama 1 tahun pula. Beberapa lulusannya telah melayani di pelbagai tempat, bahkan ada yang melayani di luar negeri, yaitu Pdt. Gunawan Ciswondo, yang melayani sebagai Penanggung Jawab di pos pelayanan dari GIA Jemaat Elshadday, Los Angeles, di Little Rock, Arkansas, Amerika Serikat. Puji Tuhan …

blessed-main60. Sesudah melayani sebagai Gembala Wilayah, maka saya dipercaya melayani sebagai Ketua Pengurus Harian KPK, menggantikan Pdt. Djudju Hendra, yang pada tahun 1996 diutus sebagai Penanggung Jawab Pos Pelayanan di Batam. Setelah selama dua periode saya melayani sebagai Ketua PH KPK (1996-1999) dan (1999-2002). Pada tahun 2001 saya diminta duduk di Kemajelisan GIA Pringgading, yaitu sebagai Ketua Majelis Bidang I/Penggembalaan (2001-2004). Pada tiga periode berikutnya saya ditunjuk menjadi Sekretaris Majelis (2004-2007), (2007-2010), dan (2010-2014). Saya bersyukur karena selama menangani pelayanan-pelayanan tersebut saya banyak belajar dari rekan-rekan sepalayanan yang ada, baik rohaniwan, majelis, para pengerja, dan jemaat. Pelajaran yang sangat penting dalam pelayanan adalah kerjasama tim. Tidak ada single fighter dalam pelayanan. Tuhan memberikan karunia Roh Kudus-Nya kepada semua orang percaya, berbeda-beda sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dengan kapasitas sesuai kemampuan masing-masing. Perbedaan itu tidak menjadi kendala, justru menjadi pelengkap sehingga bisa saling mengisi dan melengkapi.

pendidikan-jadi-masalah-tiap-tahun61.Ketika tiba waktunya mengirimkan anak-anak ke sekolah, kami memilih sekolah yang berkualitas baik. Bukan untuk membanggakan diri, melainkan dalam menanamkan investasi bagi masa depan anak-anak. Untuk TK dan SD kami mengirimkan anak-anak ke SD Kristen 3 YSKI yang ada di Jalan Tanjung. Anak pertama, Nike, kemudian melanjutkan ke SMP PL Dominico Savio, lalu ke SMA Sedes Sapientiae, dan kemudian berkuliah di FISIP Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Jurusan Hubungan Internasional (HI). Anak kedua, Stevie, kemudian melanjutkan juga ke SMP PL Dominico Savio, lalu ke SMA Nasional Karangturi, lalu berkuliah di Fakultas Desain dan Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra di Surabaya. Anak ketiga, Lea, melanjutkan ke SMP Nasional Karangturi, lalu ke SMA Nasional Karangturi, dan berkuliah di Fakultas Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) di Tangerang. Biaya pendidikan yang tidak murah telah dicukupi oleh Allah Bapa yang penuh kasih dan limpah kemurahan-Nya.

g-clef62. Di samping pendidikan formal, kami juga melihat adanya potensi lain dalam diri anak-anak kami, yaitu karunia memainkan alat musik. Pada mulanya saya setiap anak, selama setahun, saya ajar sendiri di rumah dengan menggunakan piano, yaitu tentang pengenalan not balok. Barulah kemudian saya mengirimkan mereka ke guru les piano. Semuanya sampai Grade 5. Seluruh biaya les musik yang juga tidak murah dicukupi oleh Bapa Sorgawi. Puji Tuhan! Ketika mereka berada pada Grade 3, saya menyisipkan lagu-lagu pujian supaya kelak mereka mampu melayani Tuhan di bidang musik. Puji Tuhan, upaya itu berhasil. Dan sesudah Grade 5 mereka juga mempelajari secara otodidiak musik-musik sekuler yang baik, sehingga memperkaya kemampuan mereka. Kini mereka semua melayani sebagai keyboardist di gereja. Nike melayani di Remaja GIA Pringgading,, kemudian saat kuliah melayani di GIA Lengkong Besar Bandung, dan saat bekerja di Jakarta, melayani di GIA Kelapa Gading. Stevie, saat di Semarang, melayani juga di Remaja (namun saat itu banyak melayani sebagai bassist), kemudian saat kuliah melayani di salah satu satelit dan di pusat Gereja Mawar Saron (GMS) Surabaya. Lea, juga melayani di Remaja, dan saat kuliah akan melayani di GISI, gereja yang berdekatan dengan kampus UPH.

mitsubishi_kuda_super_exceed_front_tuban63. Kebijakan Majelis GIA Pringgading bagi kesejahteraan para rohaniwan yang melayani sangat baik, termasuk dalam menyediakan sarana transportasi untuk pelayanan. Semula saya memperoleh inventaris kendaraan roda dua. Kendaraan inventaris ini saya rawat seperti milik sendiri sehingga bisa awet. Ketika Gembala Jemaat, yaitu Pdt. Indrawan Eleeas kembali dari studi lanjut selama 3 tahun di Fuller Theological Seminary, Pasadena, Amerika Serikat, pada tahun 1999, kepada beliau dipersiapkan sebuah mobil dinas baru, sebuah mobil Mitsubishi Kuda sebagai pengganti Mobil Toyota Kijang. Namun beliau menolak dan berkata bahwa mobil dinas yang beliau pakai masih cukup baik. Ketika diberitahu bahwa mobil itu sudah terlanjur dibeli, beliau mengatakan agar digunakan oleh saya. Saya cukup terkejut, sebab selama ini kebijakan majelis untuk mobil dinas hanya untuk Gembala Jemaat, tidak untuk staf rohaniwan lainnya. Jadi, sejak tahun 1999 saya menggunakan Mitsubishi Kuda itu untuk pelayanan di dalam dan di luar kota. Ini merupakan jawaban Tuhan bagi keluarga kami, sebab pada tahun 1999 itu kami kesulitan mengatur pelayanan antara saya dengan isteri. Dengan adanya mobil dinas, maka saya kemudian membeli sebuah sepeda motor yang bisa digunakan oleh isteri saya. Kami merawat mobil itu dengan baik hingga 12 tahun. Pada tahun 2011 mobil itu diganti oleh majelis dengan Toyota Avanza, yang saya gunakan sampai sekarang. Pelajaran penting dari pengalaman ini adalah bahwa jika jemaat terberkati oleh pelayanan para hamba Tuhan, sudah sepantasnya hamba Tuhan memperoleh fasilitas pelayanan yang lebih baik agar pelayanan mereka pun bisa lebih lancar.-

f35601397c3b77864. Pada tahun 2003 saya diminta oleh Majelis Pusat Harian (MPH) Sinode GIA untuk menjadi Ketua Yayasan STT Abdiel. Sebelumnya saya memang telah mengajar sebagai dosen tidak tetap di STT Abdiel, dan suara saya cukup keras dalam memberikan pelbagai masukan kepada pimpinan STT Abdiel. Rupanya rekan-rekan hamba Tuhan melihat vokalitas saya memang dibutuhkan untuk menolong STT Abdiel. Saya menyanggupinya, dan memimpin Yayasan tersebut selama dua periode (2003-2006) dam (2006-2010). Beberapa hal yang Tuhan anugerahkan kepada saya selama memimpin Yayasan STT Abdiel antara lain adalah: (a) mengajar para mahasiswa bukan saja mengenai materi perkuliahan melainkan juga pengalaman dalam pelayanan, baik ketika mengajar Bahasa Yunani (Eksegese), Pastoralia, dan Kreatifitas Pelayanan; (b) mendorong dan mengutus beberapa dosen untuk studi lanjut (Pdt. Minggus Minarto ke Manila Filipina – sekarang Ketua STT Abdiel, Pdm. Aris Margianto ke Jerman untuk gelar doktor, Pdm. Y. Utomo dan Sdri. Debby Rosvianc ke Korea Selatan); (c) membangun gedung auditorium dengan kapasitas 200 orang. Dalam program pembangunan gedung auditorium tersebut, ada banyak tantangan, khususnya dalam pendanaan. dari biaya Rp. 1 milyar,- hingga 3 bulan sebelum saya mengakhiri jabatan, baru ada dana Rp. 400 juta,- yaitu hasil dari roadshow ke jemaat-jemaat GIA dan acara pengumpulan dana, sehingga bangunan baru selesai 40%. Saya berdoa kepada Tuhan agar Tuhan membuka jalan dan menyediakan dana yang kami butuhkan. Dalam pergumulan doa saya, Tuhan mengingatkan perlunya membersihkan ‘saluran berkat’ jika ada kotoran yang menyumbatnya. Seluruh pengurus Yayasan saya mohon kesatuan hati untuk melakukan audit dan kedapatan ada sejumlah dana yang disalahgunakan oleh salah saorang rekan pimpinan di STT Abdiel. Kami pun bertindak tegas dengan memberhentikan rekan tersebut, dan Tuhan pun mencurahkan berkat-Nya. Seminggu sesudah keputusan yang berat itu, ada seorang anak Tuhan yang terbeban untuk menutup kekurangannya. Puji Tuhan …

p18qca87vao78ph81q1c14481f23365. Bulan Februari 2008 saya berkesempatan mengikuti Haggai Institute, yaitu suatu lembaga pelayanan Kristen Internasional yang memberikan pengayaan kepada para pemimpin muda Kristiani baik di dunia pelayanan gerejawi maupun marketplace untuk menjadi Pemberita Kabar Baik di bidang masing-masing. Ada dua tempat yang sebelumnya telah ditawarkan, yaitu di Maui (Hawaii, Amaerika Serikat), atau di Singapore. Oleh kemurahan Tuhan saya mendapat tempat di Singapore. kalau ditanya tentu lebih menginginkan di Maui, Hawaii. Tetapi Tuhan begitu baik bagi saya dengan menempatkan saya di Singapore sebab saya kurang bisa menikmati makanan a la Barat. kalau di Singapore ‘kan taste-nya masih Asia. Sebuah pengalaman menarik dalam Seminar Kepemimpinan yang berlangsung selama 3 minggu itu perlu saya sampaikan, yaitu mengenai rekan sekamar saya, Ashok Kumar, yang berasal dari India. Sekali waktu saya bermaksud meninggalkan hotel untuk suatu keperluan. Saya meminta tolong Sdr. Ashok agar ia bersedia mengambilkan makanan saat makan malam dan membawanya ke kamar, agar sepulang dari urusan di luar tersebut saya bisa menikmati makan malam saya di kamar hotel. Menanggapi permohonan saya, Sdr. Ashok menggelengkan kepalanya. Bagi saya yang adalah orang Indonesia, gelengan kepala merupakan tanda ketidaksediaan Sdr. Ashok memenuhi permohonan saya. Sesaat saya kecewa dan berpraduga yang keliru: orang India tidak bisa dimintai tolong. Ternyata, setelah saya kembali ke hotel, di kamar saya sudah tersedia makanan cukup lengkap, berikut buah-buahan sebagai dessert-nya. Saya pun bertanya kepada Ashok: “Bukankah tadi Anda menyatakan tidak mau menolong saya?” Jawabnya, “Kapan saya mengatakan hal itu?” “Bukankah tadi Anda menggelengkan kepala? Bagi saya itu tanda ketidakbersediaan.” Lalu ia berkata, “Oh, ternyata Pak Petrus salah mengerti. Di India, kalau menggelengkan kepala berarti ‘ya'” Saya pun bertanya, “Jadi kalau mau mengatakan ‘tidak’ harus mengangguk?” “Bukan,” katanya. “Kalau mau mengatakan ‘tidak’ harus menolah ke kanan dan ke kiri!” Saya pun sadar, bahwa kesalahpahaman bisa terjadi karena adanya perbedaan budaya. Saya pun memeluknya dan berkata, “Saya mohon maaf karena telah menganggap Anda teman sekamar yang kurang baik. Ternyata Anda begitu baik. Terimakasih atas bantuanmu, Tuhan Yesus memberkati.”

ks-lgflag66. Pada tanggal 26-30 Mei 2008 saya diajak Pdt. Dr. Indrawan Eleeas, bersama Ibu Lea Indrawan dan Ibu Pdt. Lydia Sulistyawati ke Seoul, Korea Selatan. Saya diajak dalam kapasitas sebagai Ketua Yayasan STT Abdiel. Mengapa? Beberapa waktu sebelumnya, Yayasan STT Abdiel mengadakan pertemuan dengan Pdt. Kim Chang Gih, seorang misionaris Korea Selatan yang bertempat di Salatiga. Tujuan pertemuan itu adalah menyangkut perlunya nota kesepahaman (memorandum of understanding – MOU) mengenai rencana beberapa orang Korea Selatan yang berdomisili di Salatiga, Ungaran, dan sekitarnya, untuk meminjam lokasi di STT Abdiel dengan beberapa kompensasi. Dalam pembicaraan itu terjadi kesalahpahaman, yaitu adanya anggapan bahwa kami terlalu itung-itungan dengan rekan dari Korea Selatan, padahal selama ini telah terjalin hubungan yang baik antara STT Abdiel dengan Presbyterian Church of Korea (PCK). Akibat kesalahpahaman itu, hubungan menjadi kurang harmonis. Pak Indrawan mengajak saya dan Ibu Pdt. Lydia (Sekretaris Yayasan), untuk memberikan penjelasan sekaligus klarifikasi, agar hubungan kembali harmonis. Di sini saya melihat cara Tuhan bekerja: kesalahpahaman karena keterbatasan saya sebagai manusia, justru membawa saya ke Korea Selatan. Pak Indrawan sendiri ke sana bermaksud menjalin kerjasama dalam bidang pendidikan dan kesehatan dengan Gereja Myungsung di Seoul, Korea Selatan, yang digembalakan oleh Pdt, Kim Sam Wan. Kami transit di Hong Kong. Kemudian setiba di Incheon, kami disambut oleh Pdt. Shin Ban Hyon (pernah menjadi misionaris di Indonesia dan sudah kami kenal baik, dan saat itu menjabat sebagai Sekretaris Departemen Misi dari PCK). Selama berada di Korea Selatan, kami tinggal di asrama Kampus Presbyterian Theological School (PTS). Kami ikut dalam acara Doa Pagi di Gereja Myungsung yang dihadiri oleh ribuan orang. Kami juga mengunjungi Andhong, sebuah kota kecil di mana terdapat rumah sakit yang baik, dan juga mengunjungi Bukit Doa. Dalam acara makan malam, saya menjelaskan pokok permasalahan yang sebenarnya, khususnya dengan Pdt. Suh Sung Min, dan hubungan pun kembali harmonis. Puji Tuhan. Di Seoul kami juga berjumpa dengan Pdt. Abraham Kim, mitra kami yang melayani di Batam yang sedang pulang cuti, dan dengan Pdt, Goenawan Soesanto (mantan Rektor STT Abdiel, yang sedang mengambil program doktor misiologi di PTS).
church-150204_960_72067. Pada bulan Juli 2008, saya menjadi utusan Majelis GIA Pringgading di Sidang Sinode Gereja Isa Almasih yang berlangsung di Hotel Patra Jasa, Semarang.  Sebelum berangkat saya berkata kepada keluarga bahwa ada kemungkinan saya akan diminta menjadi Sekretaris Umum (Sekum). Ini bukan masalah gede rumangsa, tetapi mengantisipasi apa yang akan terjadi selama Sidang Sinode. Isteri dan anak-anak belum rela, sebab nantinya pasti saya akan banyak bepergian keluar kota, padahal anak-anak masih membutuhkan pendampingan. Saya hanya berkata agar kami semua berdoa, meminta agar kehendak Tuhan yang jadi. Pada tanggal 30 Juli 2008 itu, sementara saya mengikuti Sidang Kelompok, sehari sebelum pemilihan personalia Majelis Pusat Harian (MPH) periode 2008-2012, saya menerima berita yang sangat mengejutkan. Ibu saya mendadak dipanggil pulang ke Rumah Bapa di sorga. Wafatnya juga bukan di Surabaya, melainkan di Sumenep, Madura. Saat itu beliau sedang mengunjungi sanak keluarga di Sumenep. Saat akan mandi sore, kemudian tubuhnya lemas di kamar mandi, dan langsung meninggal di tempat. Dengan demikian saya in absensia saat akan diusulkan sebagai nominator. Doa isteri dan anak-anak saya dijawab Tuhan dengan cara yang unik. Saya pun bersyukur karena ibu tidak jatuh sakit berlarut-larut, melainkan langsung meninggal. Ini juga sesuai dengan doa beliau agar di masa tuanya tidak merepotkan anak cucunya. Puji Tuhan.

68. Pada tahun 2008 itu saya bersama Pdt. Lukas Budijana kembali ke Kampus Tiranus untuk mengambil Program Doktor dari Konsorsium Pendidikan Pascasarjana Kristen (KPP) yang berafiliasi dengan Fuller Theological Seminary (FTS) Pasadena, California, Amerika Serikat. Saya harus menempuh 4 semester penyesuaian pradoktoral (karena dari Master of Divinity). Tidaklah mudah kembali ke kampus setelah 12 tahun (dari lulus MDiv tahun 1996), karena harus menyesuaikan pola pikir dari praktis ke akademis. ada tiga teman lain yang mengambil program yang sama, yaitu Pdt. Johan Kusmanto dari Hong Kong, Pdt. Julius Tode dari Cimahi, dan Bp. … dario PESAT Samarinda. Seusai pradoktoral, saya mengajukan Rastional Statement yaitu semacam proposal penelitian mengenai penjangkauan terhadap orang M. Rastional Statement disetujui. Tahun 2010 saya mengikuti studi mengenai Metodologi Penelitian (Kuantitatif dari Pdt. Dr. Yakob Tomatala dan  Kualitatif dari Prof. Dr. Thomas Santoso, MSi., sosiolog dari Universitas Airlangga yang menjabat sebagai Sekretaris Yayasan UK PETRA). Tahun 2011 saya mengikuti Tutorial I dengan Tutor Pdt. Gideon Tambunaan, PhD. Tahun 2012 saya melakukan penelitian lapangan di 6 daerah: 4 di pulau M dan 2 di luar pulau M untuk mengetahui potret orang M dengan Tutor Prof. Dr. Thomas Santoso, MSi.. Tahun 2013 saya kembali mengikuti tutorial dengan Pdt. Dr. Yakob Tomatala, yaitu mengenai Analisa Hasil Penelitian Lapangan. Tahun 2014 saya mengikuti Tutorial 4 dengan Bp. Purnawan Tenibemas, PhD. Hingga tulisan ini dimuat saya masih dalam proses studi tersebut.

mxa3xmk869. Pada bulan November 2010, putra kami, Stevie, mendaftar di Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Desain dan Seni di Universitas Kristen Petra (UK Petra Surabaya). Ia diterima melalui jalur prestasi, tetapi tidak bisa mendapatkan beasiswa sekalipun putra seorang pendeta. Mengapa? Pihak kampus menjelaskan karena pembiayaan di DKV cukup besar, sehingga dari pengalaman ada putra/i pendeta yang sudah diberi beasiswa tetap putus di tengah jalan karena ketidaktersediaan dana. Kami mengantar Stevie di bulan Mei 2011 untuk mendapatkan tempat kos. Memang ada rumah di Jalan Sawahan Baru Gg. I tetapi jaraknya terlalu jauh dari kampus.

486041_508504842529350_503661823_n70. Oleh kemurahan Tuhan, pada tanggal 14-22 Maret 2013 saya bersama dengan rohaniwati Sdri. Lydia Lianawati kami membawa rombongan berjumlah 36 orang melaksanakan wisata rohani mengunjungi beberapa tempat di Tanah Perjanjian, yaitu di Israel, dan juga di negara Jordania. Sepanjang perjalanan ada pemandu wisata dari Indonesia, yaitu Sdri. Priscilla, dengan nama panggilan Sisil. Kami berangkat pada hari Kamis (14 Maret 2013) sore dari Semarang menuju ke Jakarta, dan pada hari Jumat (15 Maret 2013) pukul 00.30 kami terbang dengan pesawat Emirat ke Amman, Jordania dengan transit selama 2 jam di Dubai. Ini adalah perjalanan saya yang kedua ke Tanah Perjanjian (lihat no. …).

Saat transit di bandara Dubai, rombongan terpesona akan kondisi bandara yang super modern. Sungguh suatu kemajuan yang luar biasa. Dari padang gurun gersang bisa diubah menjadi lokasi bisnis dan hunian yang sangat indah. Manusia dikaruniai Tuhan dengan kemampuan akalbudi yang luar biasa untuk menaklukkan alam ciptaan (Kej. 1:28). Manusia tidak boleh hanya menerima alam ‘apa adanya’, melainkan harus mengelola sebaik-baiknya bagi kesejahteraan seluruh umat manusia, sesuai dengan potensi yang Tuhan berikan.

Sesampai di Amman, kami disambut dengan ramah oleh seorang pemandu wisata perempuan bernama Mana, seorang mantan pramugari Air Jordan. Kami langsung naik bus wisata menuju ke perbatasan Allenby Bridge untuk memasuki Tanah Perjanjian. Karena terbatasnya waktu, kami makan siang di bus wisata. Setelah urusan paspor selesai di Kantor Imigrasi Perbatasan, kami disambut oleh pemandu wisata yang menguasai 7 (tujuh) bahasa, termasuk bahasa Indonesia, yaitu Bapak Ravi. Kami langsung menuju ke beberapa tempat wisata.

Pertama, kami mengunjungi Gereja Kenaikan (Ascension Church), di mana diyakini bahwa Yesus Kristus naik ke sorga dari tempat itu. Kedua, dari sana kemudian sedikit berjalan kaki kami menuju ke Gereja Bapa Kami (Pater Noster Church). Di dinding terpampang Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus (Matius 6:9-13) dalam pelbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Di perjalanan kami melihat dari jauh Gereja Yesus Menangis (Dominus Flevit Church), tempat Yesus menangisi kota Yerusalem (Lukas 21:20-24). Ketiga, kami mengunjungi Gereja Segala Bangsa (All Nations Church), sebuah gereja yang biaya pembangunannya dikumpulkan dari umat Kristen dan Katolik dari pelbagai bangsa. Gereja ini berseberangan dengan Pintu Gerbang Emas (Golden Gate), yaitu pintu gerbang ke kota Yerusalem lama yang tetap tertutup, dan diyakini oleh umat Yahudi, bahwa Mesias nantinya akan datang melalui pintu tersebut. Keempat, karena mengejar waktu kami segera menuju ke Taman Getsemani, di mana Yesus Kristus pernah berdoa dengan keringat seperti darah, dalam menggumuli ketaatan kepada kehendak Bapa-Nya (Matius 26:36-36). Dari sana kami menuju ke Tembok Ratapan (Wailing Wall), yaitu 30 menit sebelum pukul 18.00 waktu setempat, yaitu memasuki Hari Sabat. Kami melihat banyak orang Yahudi yang menari dan bersukacita menyambut Hari Sabat, dan sebagian besar mereka berdoa menghadap Tembok Ratapan. Dari sana kami menuju ke Hotel untuk beristirahat.

Keesokan harinya adalah hari Sabat (Sabtu, 16 Maret 2013). Jalanan tampak sunyi. Usai sarapan kami menuju ke Betlehem, yaitu mengunjungi Gereja Padang Gembala (Shepherd’s Field Church), tempat di mana para malaikat memberitakan berita sukacita lahirnya Sang Juruselamat (Lukas 2:8-20), dan mengunjungi Gereja Kelahiran Yesus (Church of Nativity), tempat Yesus Kristus dilahirkan. Dari Betlehem kami kembali ke Yerusalem. Sesudah makan siang di Rumah Makan ‘Dewi Cinta’, kami mengunjungi Kamar Loteng (The Last Upper Room), di mana Yesus Kristus mengadakan Perjamuan Terakhir dengan para murid-Nya, dan sekaligus tempat 120 murid dipenuhi oleh Roh Kudus pada Hari Pentakosta (Kisah 2:1). Kemudian kami mengunjugi Gereja Ayam Berkokok (Church of St. Peter in Gallicantu). Dulunya ini adalah tempat Imam Besar Kayafas, di mana Simon Petrus pernah menyangkal Tuhan Yesus Kristus (Matius 26:69-75). Selanjutnya kami mengunjungi Makam Yesus versi Kristen (Garden Tomb). Di sini kami mengadakan Perjamuan Kudus, di mana semua peserta dalam rombongan tersentuh oleh kasih Tuhan Yesus Kristus, yang telah mati dan bangkit bagi kita semua. Karena masih ada sedikit wakti pada hari itu, sebelum kembali ke Hotel, kami mengunjungi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Pemerintahan Israel yang dikenal dengan nama Knesset. Simbol yang Nampak besar terletak di halaman depan, berupa Pelita Emas (Menorah), yang diukir dengan kisah-kisah dalam Perjanjian Lama.

Pada hari Minggu (17 Maret 2013), di tengah gerimis hujan kami menuju ke Jalan Sengsara (Via Dolorosa) dan Makam Kudus versi Katolik (Holy Sepulchre). Namun karena jalanan licin, dan hujan bertambah lebat, kami kuatir peserta rombongan yang sebagian besar berusia lanjut terjatuh. Jadi sampai di pintu gerbang ada anggota rombongan yang terkena serangan jantung (usia 76 tahun). Kami bersyukur karena Tuhan menyertakan seorang dokter di antara rombongan kami, yaitu dokter Lukito. Jadi setelah kami doakan dan diberi obat, Tuhan menyembuhkannya. Kami mengubah jadwal, yaitu mengunjungi Holocaust Memorial terlebih dahulu. Tempat ini adalah museum yang besar yang isinya penuh dengan foto-foto dan alat multimedia mengingat kembali kekejaman Hitler yang telah membantai sekitar 6 juta orang Yahudi. Dari sana kami menuju ke Yerikho untuk makan siang dan melihat dari kaki bukit tempat Tuhan Yesus dicobai Iblis, yaitu di Bukit Pencobaan (Mount of Temptation). Kemudian dalam perjalanan kembali ke Yerusalem kami mampir di sebuah tempat di mana terletak Pohon Ara yang cukup besar, sejenis pohon ara yang pernah dipanjat Zakheus ketika ia hendak melihat Yesus (Lukas 19:1-10).

Selanjutnya kami ke Qumran, tempat ditemukannya beberapa gulungan kitab (scroll) oleh seorang anak penggembala suku Bedouin pada tahun 1947. Gulungan-gulungan itu merupakan ayat-ayat Perjanjian Lama dan peraturan ibadah Yahudi yang ditulis oleh sekelompok orang yang disebut Kaum Esseni. Mereka adalah kelompok yang menjaga kemurnian hidup dari penjajah Yunani dan Romawi sebelum abad I. lalu kami kembali ke Via Dolorosa dengan rute lewat Pintu Sion dan keluar dari Pintu Yope. Tidak lupa kami mampir ke Kolam Betesda, di mana Yesus pernah menyembukan seorang yang lumpuh 38 tahun lamanya (Yohanes 5;2-9). Namun sesampainya di Pintu Sion pintu gerbang ditutup, sehingga kami memperoleh penjelasan tentang ke-14 tahap proses sengsara, penyaliban, dan penguburan Tuhan Yesus menurut versi Katolik, di depan pintu gerbang itu. Dengan penjelasan itu peserta tur tidak kecewa sekalipun tidak napak tilas di Via Dolorosa. Kembali kami makan malam di Rumah Makan ‘Dewi Cinta’. Kembali Tuhan menyatakan pertolongan-Nya, karena Ia menyembuhkan peserta rombongan yang saat itu kambuh lagi sakitnya. Setiap peserta rombongan mendapatkan Sertifikat Kunjungan dan Surat Penghargaan dari Kementrian Pariwisata Israel. Pemilik restoran juga memberikan kenang-kenangan kalung salib, permen dan biji sesawi.

Pada hari Senin (18 Maret 2013) kami menuju ke Kota Haifa, kota nomor tiga tersebsar di Israel, sesudah Yerusalem dan Tel Aviv. Kami mengunjungi Gereja Stella Maris yang ada di pegunungan Karmel (tempat Elia melawan nabi-nabi Baal – 1 Raja-raja 18:20-46). Kami juga mengunjungi Taman Baha’i yang sangat indah, penuh dengan bunga-bunga dan dari kejauhan Nampak Laut Tengah (Laut Mediterania).

Dari sana kemi ke kota Nazaret, mengunjungi Gereja Kabar Sukacita, di mana Maria memperoleh kabar sukacita dari malaikat Gabriel, dan Gereja St. Yoseph, tempat tinggal Yusuf, suami Maria. Selanjutnya kami menuju ke Tiberias, dan naik perahu di Danau Galilea. Disambut oleh awak perahu dengan lagu “Indonesia Raya” dan ada bendera Merah Putih yang dikibarkan, membuat hati kami tersentuh. Di danau Galilea inilah Yesus Kristus pernah menghentikan angin ribut (Markus 4:35-41).

Keesokan harinya (Selasa, 19 Maret 2013), kami menuju ke kota Kana, tempat Tuhan Yesus mengadakan mukjizat pertama: mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11). Ada lima pasangan yang saya doakan di tempat ini, setelah mereka berjanji untuk semakin berkomitmen dalam pernikahan mereka. Kelima pasangan tersebut adalah: Bp/Ibu Alex Tabrani, Bp/Ibu Bintoro, Bp/Ibu Hardjo Susanto, Bp/Ibu Lukito, dan Bp/Ibu Sudiarto Rahardjo (Tan Hok Chai). Dari sana kami mengunjungi Tabgha, tempat Yesus Kristus memberkati lima roti dan dua ikan (Yohanes 6:1-5), dan Gereja Primat Petrus (Mensa Christi), tempat Simon Petrus dipulihkan oleh Tuhan Yesus di tepi Danau Galilea (Yohanes 21:1-19).

Kami menikmati makan siang di dekat kapernaum, kampong asal Simon Petrus, dengan menu khusus: ikan Petrus. Ikan Petrus adalah ikan tangkapan dari Danau Galilea dan rasanya seperti ikan gurami, dan tidak pernah dilewatkan oleh siapapun yang mengunjungi tempat itu. Dari sana kami ke Bukit Sabda Bahagia, tempat Tuhan Yesus menyampaikan pengajaran-Nya (Matius 5-7), dan mengunjungi Yardenit, tempat di mana Yesus Kristus dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis. Dari sana kami langsung menuju Gunung Hermon. Rute yang diambil menuju Hermon melewati Dataran Tinggi Golan, yaitu perbatasan dengan Suriah. Peserta rombongan terus berdoa dan berharap agar perjalanan tidak terkendala, mengingat saat-saat ini Suriah masih terus bergolak. Beberapa peserta yang tahan dingin naik cable chair hingga ke puncak Bukit Hermon yang masih bersalju. Benarlah firman Tuhan yang menyatakan bahwa embun turun dari Hermon hingga ke Bukit Sion, di mana berkat Tuhan melimpah dalam kehidupan umat-Nya yang hidup dalam kesatuan (Masmur 133).

Keesokan harinya (Rabu, 20 Maret 2013), kami menuju ke perbatasan Allenby Bridge. Seusai urusan keimigrasian kami langsung menuju ke Petra, untuk melihat peninggalan kaum Nabatean yang berupa ukiran istana pada bukit cadas yang begitu indah. Petra juga disebut dengan Kota Mawar Merah (Red Rose City), karena bebatuan yang berwarna merah. Peserta yang kuat berjalan sejauh 2,5 km, yang tidak terlalu kuat naik kuda dulu 1 km, kemudian berjalan kaki 1,5 km. Sedangkan yang benar-benar tidak kuat bisa naik kereta kuda pulang pergi dengan biaya hanya USD 40/ pax. Pada malam harinya kami bermalam di hotel di tepi Laut Mati.

Pagi-pagi sekali kami bangun, kemudian bergegas menuju ke tepian Laut Mati yang menyatu dengan hotel. Beberapa peserta menikmati tiduran mengapung di Laut Mati yang sangat tinggi kadar garamnya. Laut Mati hanya menerima aliran air dari sungai Yordan tetapi tidak mengalirkannya keluar, sehingga di sini sama sekali tidak ada ikan yang berkeriapan. Berbeda dengan Danau Galilea yang menerima sekaligus mengalirkan air. Ini adalah tanda kehidupan iman Kristiani yang menerima dan menyalurkan berkat Tuhan.

Sesudah sarapan, kami menuju ke Gunung Nebo, tempat Musa berdiri memandang Tanah Perjanjian. Di sana ada tiang berupa tongkat dengan ular tembaga di atasnya, seperti yang pernah dibuat Musa atas perintah Tuhan (Bilangan 21:9; Ulangan 32:48-52). Lalu kami makan siang di Rumah Makan ‘Taipei’ di Amman, dan mengucap syukur karena ada beberapa orang peserta yang berulang tahun. Lalu kami ke bandara di Amman untuk pulang ke Jakarta via Dubai.

nike wisuda71. Hari ini, Sabtu, 27 Juli 2013, saya bersama seluruh keluarga sangat bersuka dan bersyukur kepada Tuhan. Betapa tidak! perjuangan Nike selama 4 tahun di Jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, membuahkan hasil yang luar biasa. Dengan IPK 3,72 ia dapat menyelesaikan studinya dengan baik. Acara wisuda bersama sekitar 800 orang winisuda lainnya membuat kami terharu sekaligus bangga, karena Tuhan tak pernah meninggalkan hamba-Nya yang belajar beriman kepada-Nya. Bagi kami, proses pembiayaan studi bukan hal yang mudah. Hanya oleh anugerah Tuhan Yesus Kristus sajalah kalau kami dapat menuntaskan tugas dan kewajiban kami sebagai orang tua, yaitu membekali generasi berikutnya dengan pendidikan yang baik, sehingga ia dapat menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan nama-Nya. Pergumulan berikutnya adalah bagaimana mencari kehendak Tuhan bagi Nike untuk masalah pekerjaan. Satu hal yang kami percaya adalah bahwa Tuhan akan terus berkarya dalam hidupnya sehingga dapat menyumbangkan apa yang dimilikinya, termasuk bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita semua kasihi: Indonesia.

doa72. Nike melamar pekerjaan di beberapa tempat, tetapi ada dua tempat yang sangat diharapkan, yaitu di Milward Brown, perusahaan jasa marketing research ranking 3 secara global, dan di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Ubud Bali. Bagaimana menentukan piilihan yang paling tepat di antara keduanyaa? Saya memberinya nasihat untuk berdoa agar Tuhan membuka pintu. Perusahaan yang lebih dulu menjawab surat lamarannya itulah yang bisa dijadikan tanda perkenanan dari Tuhan. Ternyata Milward Brown (MB) yang pertama membalasnyaa. Seminggu sesudah Nike masuk di MB datanglah surat dari Ubud Bali yang juga mau menerimanya. Karena keputusan sudah diambil, maka LSM Ubud pun ditolak. Setelah setahun Nike di MB dan pernah dikirim ke Macau dan Thailand, ia pun mengajukan pengunduran diri guna peningkatan karier. Kemudian ia bekerja di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.

logouph73. November 2013. Tiba saatnya mendaftarkan Lea di ke Perguruan Tinggi. Ada beberapa opsi di hadapannya. Ia pernah berencana ke Jerman hingga belajar bahasa Jerman walaupun hanya tiga bulan, tapi membatalkannya. Pernah pula berencana ke Aussie tetapi kami tidak memiliki biaya. Akhirnya ia memilih kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) di Karawaci Tangerang. Ia diterima sebagai mahasiswi di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan beasiswa 25 % untuk 3 trimester pertama. Kami pun kemudian mencarikannya tempat kost di dekat kampus. Ternyata ada rekan yang mengijinkan apartemennya yang berada di Paragon Village untuk digunakan dengan biaya sewa seperti uang kost. Tuhan Yesus sungguh baik. Selama setahun ia tinggal di sana. Kemudian ia pindah ke sebuah tempat di Taman Diponegoro hingga usai kuliah.

foto-prewedding-untuk-seserahan-pernikahan74. Kami juga bersyukur kepada Tuhan ketika kami mendengar keponakan-keponakan kami berumah tangga. Pertama, Pernikahan Yoel Nugraha Setiadarma (putra sulung kakak saya) dengan Siska Kristiana Marjadi pada tanggal 7 September 2013. Pemberkatan berlangsung di Gereja Satu Jam Saja (SJS) di daerah Jalan Wijayakusuma, dan resepsinya berlangsung di Hotel Satelit, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Kemudian pada tanggal 12 Oktober 2014 kami kembali ke Surabaya menghadiri pernikahan keponakan kami, adik Yoel yang bernama Rebekah Felenia Setiadarma (Rika) dengan Sugiarto, menggunakan tempat di Hotel dekat Taman Simpang. Kami sendiri bermalam di sebuah Hotel 81. Tempat resepsi berlangsung di Rumah Makan Tristar dekat Tugu Pahlawan. Semua berlangsung dengan sangat baik. Januari 2015 kembal kami ke Surabaya guna bertemu dengan Keluarga Lukas dan Marta berkenaan dengan pernikahan keponakan kami (Markus Teddy Kurniawan) dengan Lusi, cewek dari Tuban. Karena pernikahan berlangsung hari Sabtu kami datang hari Jumat, dan malamnya langsung pulang. Generasi demi generasi terus bermunculan bagi kemuliaan nama-Nya.-

natal 201575. Hari ini: Sabtu, 29 Agustus 2015. Kami sekeluarga bersukacita sebab Stevie, putra kedua kami, menjalani wisuda di UK Petra, Surabaya. Ia lulus tepat waktu dan menjadi Sarjana Desain. Satu hari sebelumnya, yaitu pada hari Jumat, kami makan bersama dan Stevie mengajak seorang gadis yang sedang didekatinya, seorang mahasiswi dua tingkat di bawahnya: nama panggilannya Mepin. Sebelum acara wisuda, kami berfoto bersama dengan penuh ceria (lihat hasilnya di samping ini). Setelah wisuda Stevie mengantar Mepin pulang ke rumahnya. Hatinya berbunga-bunga sebab cintanya kepada Mepin memperoleh sambutan positif. Selanjutnya Stevie berencana bisa menempuh studi S2 di Korea Selatan, sebab beberapa bulan sebelumnya ia memperoleh kesempatan mendapatkan beasiswa sebulan untuk belajar di Universitas Dongseo di Busan, Korea Selatan. Namun karena ada isu MERS di Korea Selatan, pihak Universitas Dongseo membatalkannya. Tentu hal ini mengecewakan hatinya. Tetapi kami tetap bersyukur sebab kami memegang janji firman Tuhan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya. Ia akan berada di Semarang beberapa waktu mempersiapkan IELTS dan menunggu panggilan dari Universitas Dongseo itu.

b76. Selama di Semarang, Stevie belajar bekerja sendiri sambil menunggu panggilan beasiswa dari Korea Selatan. Oleh kemurahan Tuhan ada beberapa perusahaan yang memesan desainnya. Ada yang memintanya membuat company profile, ada yang memesan kotak obat. Ada pula yang memesan logo usaha kuliner dan menu warung. Oleh kemurahan Tuhan juga selama di Semarang Stevie bisa melayani di Bidang musik, memainkan keyboard di ibadah umum. Juga melatih desain dan melatih musik dalam program Musicologic di PRBK GIA Pringgading. Kemampuan bermusik yang Tuhan berikan kepadanya dibagikannya kepada teman-teman yang yunior, agar mereka pun memainkan musik lebih baik. Test IELTS telah dilaluinya tetapi hingga kini panggilan dari Korea Selatan tidak kunjung datang. upaya mengontak via email pun telah dilakukannya. Tetapi tetap tak ada tanggapan. Akhirnya di akhir bulan April 2016, Stevie bekerja di Jakarta.

Project Manager77. Proses melamar pekerjaan di Jakarta pun tidak mudah. Ketika ia dipanggil untuk wawancara, semua portofolionya dinyatakan “sampah”. Sebagai anak muda pada umumnya, tentu Stevie  shock mendengarnya. Prestasi yang dibanggakannya selama ini dianggap “sampah”. Namun oleh kemurahan Tuhan ia tidak marah atau sakit hati, namun tetap berdoa. Jika memang kehendak Tuhan ia akan diterima bekerja di perusahaan itu. Puji Tuhan. Sebulan kemudian ia memperoleh panggilan bekerja di perusahaan “Good Reason” itu – tidak sebagai desainer – melainkan justru sebagai Project Manager. Ajaib, bukan? Kami berangkat ke Jakarta untuk mencari tempat kost baginya. Dalam dua hari pencarian kami menemukan tempat kost sederhana di daerah Menteng, berjarak dua kilometer adri perusahaannya. Selama tiga bulan bekerja, Stevie ternyata lulus masa probasi. Bahkan ia bercerita sering diajak boss dan ayah dari boss makan enak di tempat-tempat istimewa seperti di Hotel Shangri-La, dan sebagainya. Tuhan Yesus sungguh baik!

old_quadrangle_manchester_178. Selama 19 bulan Nike bekerja di Kedutaan Besar Inggris, oleh kemurahan Tuhan, ia berkesempatan menjalani training di London, Inggris, selama 3 minggu. Kemudian ia mengajukan beasiswa ke Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Puji Tuhan, permohonanya dikabulkan untuk mengambil studi S2 di Manchester University, UK. Ia akan berangkat September 2016. Jadi pada bulan Mei 2016 ia mengundurkan diri dari Kedutaan Besra Inggris. Kami berpikir, bagaimana dengan 3 bulan (antara Juni-Agustus 2016) jobless saat menunggu keberangkatan ke Manchester? Apakah akan hidup dari tabungan terbatas yang ia miliki? Ternyata Tuhan mencurahkan berkat-Nya dengan memberinya pekerjaan freelance sebagai asisten peneliti dengan durasi waktu tepat 3 (tiga) bulan. Tuhan kembali menyatakan keajaibannya kepada kami.

kuliah79. Hari ini: Selasa, 12 Juli 2016. Kembali kami bersyukur kepada Tuhan, sebab tepat hari ini saya menyelesaikan studi doktoral saya di Konsorsium Pendidikan Pascasarjana Kristen (KPPK). setelah menjalani studi selama 8 tahun (2 tahun pra-doktoral, 1 tahun metodologi, 4 tahun tutorial 1-4, dan 1 tahun penulisan disertasi), akhirnya saya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (sangat memuaskan). Dari KPPK saya lulus dengan gelar Doctor of Theology (D.Th.) in Mission, sebagai lulusan ke-6, dan diwisuda dalam acara Dies Natalis ke-50 (Jubelium) Sekolah Tinggi Alkitab “Tiranus”. predikan “sangat memuaskan” yang tercantum dalam Buku Acara cukup mengejutkan saya, karena ketika Judisium sesaat sesudah Ujian Disertasi pada hari Jumat, 17 Juni 2016, saya dinyatakan lulus dengan sedikit perbaikan. Itu saja. Namun ternyata Tuhan Yesus Kristus benar-benar memberi sesuatu lebih dari yang saya pikirkan dan doakan. Ini semua bukan untuk kebanggaan diri, melainkan bagi kemuliaan nama-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11 thoughts on “OTOBIOGRAFI

  1. ​ †h♌nk γ☺u diijinkan utk mengetahui lbh banyak campur tangan Tuhan lewat otobiografi om petrus. ​♣•Góð♥˚*Bléss*˚♥Y☺u•♣‎​ keep on fire to serve our God..

  2. wow ikut bisa membaca riwayatnya Pak Petrus senang dech rasa nya sambil linangan air mata tak terasa mulai mengalir akibat terharu buanget atas segala karya Tuhan dalam hidup pak Petrus dan Kak Edwi Gbu all Maju terus dalam ladang Tuhan ya….

  3. Wooouuuwww…….ckckckck………buanyakkk banget lika liku hidup Pak Petrus ya, ternyata,,,,,!
    saya acungkan jempol buat kegeniusan Pak Petrus, nama-nama yg begitu banyak Pak Petrus sebut,,,,
    woowww, banyak yg diingat daripada yg terlupakan,,,, saya tunggu lanjutan otobiografi yg belum selesai ini kan???
    Tuhan memberkati pelayanan Pak Petrus sekeluarga………

  4. saya telah membaca otobiografinya pak ,saya mengenal Bapak Pdt Petrus FS sudah sejak lama , seingat saya masuk SES tahun 1980 sd 1986 saya masih di asrama GPPS jl bromo I /11 , beliau gigih dalam pelayanan dan pekerjaan , otobiografi nya menyentuh hati setiap yang membaca , ingat tokoh tokoh penginjil seperti di www john sung dari china atau www sadu sundar singh …dari india lah pak Pdt Petrus Fs dari Meduro ..ternyata ada juga dari ujung madura yang menjadi Saksi Yesus … ingat saya dulu kalau ke gereja GGP sawahan pake sepeda jadul hitam .. saya yang jaga parkirnya ya sekolah alkitab tapi juga praktek jaga pos dan parkir .. ter infirasi tulisan pak petrus saya juga ingin menulis ..banyak gagasan yang ada dalam ingatan namun belum tertulis .. ini merupakan pengalaman yang indah dari duka ke suka ya suka cita dari Tuhan ……selamat berjuang sampai Tuhan datang pak Petrus ………………dari rekan Yohanes Supriyanto , pendiri Yayasan sosial Pelayanan Kasih Anugerah Tanjung Pinang yang bergerak di bidang Pelayanan Sosial Desa Pulau Pulau , Panti Asuhan .Werdha /jompo , Sekolah Anugerah Play Group, TK ,SD FB YSPK ANUGERAH TANJUNG PINANG
    Jl.Merpati gg Pipit No18 Kp Bangunsari Rt 02/X Telp.0771 7010062 Fax 0771 442088 email yohanes_supriyanto@yahoo.co.id

  5. Shalom dan selamat pagi/siang. Senang sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan bapak/ibu.
    Kami dari penerbit buku dan majalah Rohani Yogyakarta. Memberi informasi Mengenai tawaran menulis buku, kami sampaikan bahwa penerbit ANDI sedang membuka program kerja sama dengan para hamba Tuhan melalui MoU Pribadi. Program ini sendiri baru kami laksanakan mulai Mei 2013 sehingga orang-orang yang nantinya bersedia (deal kerja sama) akan menjadi pionir yang dapat mendapatkan manfaat lewat program ini.
    Intinya, kami rindu untuk memfasilitasi para hamba Tuhan yang rindu menjadi berkat melalui buku yang diterbitkan melalui Penerbit ANDI Yogyakarta. Ada pun kriteria maupun syarat kerja sama tersebut kami lampirkan bersama e-mail ini, supaya bapak/ibu dapat membaca dan mempelajari lebih lanjut. Jika ada hal yang perlu ditanyakan, jangan segan untuk langsung menyampaikan supaya kami bisa mengetahui maupun berdiskusi mengenai hal tersebut.
    Mengenai Mou perorangan adalah penulis memesan buku dan menjualnya sendiri sebanyak 1000 eksempalar selama satu tahun. 1000 eksemplar bisa di ambil bertahab. Pertahap bisa diambil 350 eks atau 500 eks bahkan bisa di ambil sekaligus jika penulis membutuhkan. dan jika pesan banyak penerbit bisa menerbit lebih dari 1000 sesuai pemesanan. Dalam hal ini keuntungan MOU pribadai yang pertama adalah, penjualnya cepat jika penulis membantu menjualnya. kedua, penulis mendapat keuntungan dari penjualan buku yang dijualnya. Selain itu royalti diberikan kepada penulis oleh penerbit setiap 6 bulan sekali. penulis mendapat royalti 10% dari penerbit. Jika penulis memesan buku akan diberi diskon 30&. yang ketiga keuntungannya adalah penulis cepat dikenal oleh komunitas di mana mereka ,melayani. Yang terpenting dari bagian ini adalah buku dari penulis tentunya menjadi berkat bagi orang yang membacanya, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Jika penulis keberatan kami juga menawarkan 500 eks hanya resikonya di bukunya, artinya harga buku lebih mahal dari yang seribu.
    Penerbit juga akan membanatu mempromosikan penulis melalui toko-toko buku cabang-cabang Andi Offset di seluruh Indonesia dan menjualnya.
    Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian bapak/ibu kami ucapkan terima kasih. Kami tunggu kabar dari bapak/ibu dan kiranya Tuhan membuka jalan supaya kerja sama dapat berlangsung.
    Dibawah ini kami melampirkan kriteria penulisan dan MoU perorangan. Silahkan di unduh untuk melihatnya.

    Kami juga melayani MOU Buku umum, seperti Psikologi, sejarah, matematika dan lain-lainnya, jika berminat segera menghubungi kami.

    Mohon maaf, jika ada nomor telphone(PIN BB) dan email atau twitter yang bisa kami hubungi untuk mempermudah komunikasi. Terima kasih. Tuhan Yesus Memberkati.
    Hormat kami,

    Kirenius
    P&RD ANDI
    Jl. Beo 38-40 Yogyakarta 55281.

    Kirenius, S.PdK. (Staf PNRD).
    CP: 081327713987./088216104140
    0274-561881 (Eks. 208).
    Pin BB: 321B021B.
    E-mail: bukumajalahrohani@gmail.com/ pnrd.andioffset@gmail.com

    Catatan:
    Bagi bapak/ibu saudara/i yang ingin pesan buku-buku dan majalah rohani di penerbit Andi Offset Yogyakarta, hubungi staff kami di 081327713987/088216104140. Pin BB: 321B021B. Kirenius (Staf P&RD).Facebook. bukumajalahrohani

  6. Pdt Petrus sangat terkesan dengan liku liku hidup yg diungkapkan
    Luar biasa akan campur tangan Tuhan dalam Dia membentuk hambaNya.
    Kisah hidup ini dapat dipastikan memberi kekuatan kpd kaum muda yg sedang menapaki masa depannya.
    Terima kasih sdh berbagi kisah kehidupan didlm Tuhan.
    Maju terus dlm pelayanan pekerjaan Tuhan

    • Doakan terus pak, sebab tanpa pertolongan Tuhan saya tidak akan seperti yang ada sekarang ini. Otobiografi memang saya tulis untuk memberikan inspirasi bagi generasi muda, agar mereka mau menggunakan masa mudanya bagi kemuliaan nama Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s