YESUS BARABAS

Barabbas
  1. Pendahuluan

Memperbincangkan dan merenungkan kembali peristiwa dan makna penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus biasanya juga memperbincangkan dan merenungkan beberapa tokoh penting yang ada di sekitar peristiwa itu pada waktu itu. Nama-nama seperti Hanas dan Kayafas (imam-imam besar), Pilatus dan Herodes (para penguasa), Simon Petrus, Yohanes dan Yudas Iskariot (beberapa murid Yesus), Simon orang Kirene dan Yusuf orang Arimatea, bahkan beberapa perempuan, seringkali menjadi tempat kita bercermin karena mereka semua mewakili temperamen, karakter dan watak manusia, baik yang positif maupun yang negatif. Namun kali ini saya mengajak kita semua merenungkan tentang seseorang yang juga ada dalam peristiwa itu, namun sangat jarang dibahas, yaitu Barabas.

  1. Kehidupan Barabas

Nama lengkapnya Yesus Barabas. Nama “Yesus” yang diberikan oleh orang tuanya kepada Barabas berarti “Ia yang menyelamatkan.” Tentunya dengan memberikan nama itu kepada anaknya, mereka berharap agar kelak di kemudian hari, setelah dewasa, Yesus Barabas dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Seharusnya Barabas menjadi penyelamat mereka yang terbelenggu. Namun, apa yang terjadi?

Dalam kenyataannya Barnabas yang kita kenal dalam Alkitab adalah seorang pelaku tindak kriminal kelas kakap. Ini terbukti dengan hukuman mati berupa penyaliban yang harus ia terima. Yesus Barabas dihukum karena ia adalah seorang pemberontak dan pembunuh (Lukas 23:19,25). Bersama dengan beberapa rekannya ia membunuh dalam pemberontakan (Markus 15:7). Namanya terkenal karena kejahatannya (Mat 27:16). Jadi menurut undang-undang saat itu, karena segala kejahatan yang telah diperbuatnya, Yesus Barabas layak dihukum mati! Kita pun pasti setuju dengan keputusan itu! Masalahnya sekarang adalah … mengapa Yesus Barnabas memberontak? Kepada siapa ia memberontak? Mengapa pula ia membunuh? Mengapa pula ia melakukan pelbagai kejahatan yang membawanya kepada hukuman mati?

  1. Motivasi Barabas

Saya bukan kriminolog, bukan detektif, dan juga bukan seorang pengacara. Namun sebagai rohaniwan selalu tertarik untuk melihat motivasi di balik tindakan atau perbuatan seseorang. Dengan memahami motivasi yang berada di balik tindakan seseorang kita bisa bersikap bijaksana. Ini bukan berarti bahwa setelah kita mengobservasi motivasi seseorang maka otomatis kita setuju dan membenarkan kejahatan yang dilakukannya. Namun, dengan mengetahui motivasi yang ada setidaknya kita bisa mengambil keputusan yang seadil-adilnya.

Allah sendiri melihat adanya motivasi yang salah di hati Kain ketika ia mempersembahkan korban kepada-Nya.

Akhan mengaku dan memaparkan motivasi adanya hawa nafsu keinginan yang ada di dalam hatinya kepada Yosua, sehingga ia mengambil barang-barang yang dilarang Tuhan saat penyerbuan ke Yerikho.

Daud mengingatkan Salomo agar memiliki motivasi yang benar di hadapan Allah saat memerintah umat-Nya, karena Allah Mahatahu adanya.

Kembali kepada kasus Barnabas, mari kita mencoba menggali beberapa motivasi yang mungkin dimilikinya sehingga ia melakukan semua kejahatan itu. Apakah ia memang melakukannya demi dirinya sendiri, ataukah ia sendiri merupakan korban dari proses pendidikan yang telah keliru selama ini.

(a) Motivasi Pemberontakan

Seseorang bisa memberontak karena beberapa alasan.

· Ia sendiri memang berjiwa pemberontak dan sulit diatur. Orang yang seperti ini bukan berarti tidak bisa diatur, namun membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan orang lain. Ada orang-orang yang memang sejak awal tidak suka dengan ketertiban, keteraturan, kemapanan. Ia selalu ingin mengatur dirinya sendiri. Ia akan selalu memberontak kepada otoritas yang dipandangnya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

· Ia memberontak karena sudah tidak tahan dengan kondisi yang ada. Orang semacam ini pada mulanya mau menerima situasi dan kondisi yang ada, selama masih bisa ditanggungnya. Tetapi ketika situasi dan kondisi itu semakin menekan dia, bahkan telah melampaui ambang batasnya, maka api dalam sekam, yang selama ini terpendam dalam hatinya meledak. Akibat pemberontakan semacam ini cukup berbahaya. Ledakan api kekecewaan dan ketidakpuasan bisa merusak segalanya.

· Ia memberontak karena terprovokasi orang lain, baik provokasi yang disertai imbalan maupun tidak. Orang ini sebenarnya tidak setuju dengan situasi dan kondisi yang ada, tetapi tidak memiliki cukup keberanian untuk bertindak sendiri. Ketika ada pihak lain yang membujuk dan mengajaknya, maka pucuk dicinta ulam tiba. Ia pun ikut serta dalam pemberontakan itu.

· Ia memberontak bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain, bahkan kepentingan bangsanya. Ketika bangsanya ditekan dan diperas oleh penjajah, jiwa patriotismenya muncul. Maka ia pun melakukan pemberontakan melawan penjajah, bukan memberontak terhadap pemimpin bangsanya sendiri. Bukankah dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia terdapat cukup banyak pahlawan yang memberontak terhadap pemerintah Belanda, atau pemerintah Jepang yang menjajah dan menindas bangsa kita? Ini adalah pemberontakan yang membebaskan. Pemberontakan yang memerdekakan!

Yesus Barnabas hidup di zaman di mana bangsanya sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Saat itu sebenarnya telah cukup banyak golongan orang-orang yang sama sekali tidak suka akan adanya penjajahan. Misalnya, kelompok orang Zelot.

Partai Zelot didirikan oleh Yudas orang Galilea yang memimpin pemberontakan melawan Roma tahun 6 M. Orang Zelot keras Menentang penyerahan upeti oleh Israel kepada kaisar kafir, dengan alasan hal itu dianggap pengkhianatan terhadap Allah, Raja Israel yang sebenarnya. Mereka disebut orang Zelot karena mereka fanatik meneladani Matatias, anak-anaknya dan pengikutnya, yang menunjukkan zelos (semangat besar) untuk Allah melawan Antiokhus IV (1 Makabe 2:24-27). Juga meneladani Pinehas, yang menunjukkan semangat besar pada suatu masa kemurtadan (Bil. 25:11; Maz 106:30). Kendati pemberontakan tahun 6 M dibasmi, orang-orang Zelot tetap mempertahankan semangat zelotisme mereka hingga 60 tahun kemudian.

Alkitab tidak menjelaskan kepada kita motivasi apa yang dimiliki Yesus Barabas sehingga ia memberontak. Namun, jika Yesus Barabas memberontak dengan motivasi seperti orang Zelot, yaitu jiwa patriotik membela bangsanya, sehingga ia kemudian ditangkap dan dihukum mati, maka ia sebenarnya termasuk seorang pahlawan.

Tetapi apa pun motivasi pemberontakan Barnabas, ia tetap tidak memiliki roh penundukan diri atau ketaatan. Ia kurang sabar menantikan perubahan yang bisa dikerjakan oleh Tuhan, dan ia ingin menyelesaikan pelbagai masalah bangsanya dengan kemampuannya sendiri. Jadi Barabas adalah orang berdosa dalam pemberontakannya itu.

(b) motivasi pembunuhan

Seseorang bisa melakukan pembunuhan dengan beberapa kemungkinan motivasi, antara lain sebagai berikut.

· Ada orang yang membunuh karena ia terdesak secara ekonomi. Ada orang yang kemudian menawarinya untuk melenyapkan nyawa seseorang dengan sejumlah imbalan. Ia tergiur oleh imbalan itu untuk digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan diri dan keluarganya. Ia pun menerima tawaran itu dan kemudian membunuh.

· Ia sedang membela dirinya. Dalam keadaan terdesak di mana seseorang sangat terpojok sehingga satu-satunya jalan hanyalah memilih antara dibunuh atau membunuh, maka ada orang yang lebih memilih membunuh dari pada dibunuh. Jadi pembunuhan yang dilakukannya adalah dalam rangka membela dirinya, bukan pembunuhan yang dilakukan secara terencana. Dalam bagian ini termasuk di dalamnya tugas dalam ketentaraan. Ia membunuh karena menjalankan tugas bela negara.

· Ada orang yang memang kerjanya adalah sebagai pembunuh bayaran. Ia bisa membunuh siapa saja dengan imbalan yang sangat besar. Ia tidak sedang dalam kebutuhan ekonomi yang mendesak, melainkan memang menjadikan dirinya memiliki profesi sebagai pembunuh bayaran.

· Ada orang lain lagi yang membunuh sebagai perwujudan rasa benci yang mendalam. Ia tidak menyukai seseorang karena orang itu telah menghina atau melukai hatinya. Kebenciannya memuncak sehingga menghasilkan pembunuhan.

· Ada orang lain lagi yang dalam keributan dan kerusuhan, secara membabi buta mengayunkan benda apa pun yang ada di tangannya, sehingga menewaskan satu atau beberapa orang. Ia pun kemudian ditangkap bersama-sama dengan perusuh lainnya dan dituduh sebagai pembunuh.

Yesus Barabas didakwa sebagai pembunuh bisa karena satu atau beberapa motivasi di atas. Apa pun alasannya dan bagaimana pun kondisinya, sebagai orang Yahudi Barabas tahu akan hukum Tuhan yang berkata, “Jangan membunuh!” (Keluaran 20:13). Lagi pula saat itu ajaran Tuhan Yesus Kristus sendiri yang tentunya disebarluaskan oleh banyak orang lebih menegaskan lagi hukum Tuhan itu. Dengan hanya membenci saja itu sudah sama dengan membunuh (Matius 5:21-22). Itu berarti jika memang Yesus Barabas telah membunuh, ia melakukan dosa di hadapan Tuhan, apa pun alasannya.

(c) motivasi kejahatan

Kejahatan juga bisa dilakukan oleh seseorang dengan beberapa motivasi. Penjelasan dari aparat keamanan menyatakan bahwa kejahatan bisa terjadi karena tiga faktor penting: kondisi hati manusia yang memang cenderung berbuat jahat semata-mata (Kejadian 6:5), keterpaksaan karena himpitan ekonomi, dan adanya kesempatan untuk melakukan kejahatan.

Yesus Barabas telah dihukum karena kejahatannya. Ia bukannya melakukan apa yang baik tetapi apa yang jahat. Apa pun motivasinya, Barnabas tetap adalah orang yang berdosa karena kejahatannya.

  1. Pembebasan Barabas

Tentunya Yesus Barabas begitu bersukacita ketika mengetahui bahwa dirinya – yang sepatutnya dihukum mati dengan disalibkan – memperoleh bukan hanya pengurangan hukuman melainkan pembebasan total. Apakah yang mungkin timbul dalam pikiran Barabas ketika ia mengetahui bahwa ada orang bernama Yesus menggantikan tempatnya? Dan apakah yang akan dilakukannya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari sejenak kitakembangkan imajinasi kita.

Pertama, jika Barabas belum pernah mendengarkan nama Yesus, maka ia akan bertanya-tanya siapakah Yesus itu. Kejahatan apa yang dilakukan-Nya sehingga Ia layak dihukum mati seperti dirinya.

Kedua, jika Barabas pernah mendengar tentang Yesus, maka ia akan lebih terheran-heran. Bagaimana orang sebaik Dia yang telah menolong banyak orang, melakukan banyak mukjizat, menyembuhkan banyak orang, berbuat banyak kebajikan bisa diperlakukan seperti seorang pesakitan dan penjahat besar.

Ketiga, jika Barabas termasuk orang Yahudi yang sangat merindukan Mesias, dan pernah mendengar berita bahwa Yesus orang Nazaret itu adalah Mesias yang dijanjikan, maka ia akan kecewa. Ia – seperti orang Yahudi lainnya – mengharapkan Yesus tampil secara patriotik mengangkat senjata memberontak terhadap kerajaan Romawi yang telah menjajah bangsa-Nya. Dan ketika saat itu Yesus diam saja seperti orang yang tidak berdaya, maka Barabas akan kecewa terhadap-Nya.

Keempat, namun jika Barabas mengenal Yesus lebih baik lagi, ia akan sangat bersyukur atas kasih-Nya. Karena kesediaan Yesus untuk disalibkan itulah maka dirinya dibebaskan. Itulah karya Mesias yang sesungguh: bukan membebaskannya dari penjajahan Roma, melainkan dari kuasa dosa, dari kerajaan kegelapan.

Dalam tradisi kuno, dikisahkan bahwa Barabas mengikuti peristiwa penyaliban Yesus di Golgota. Bahkan setelah menyaksikan itu semua dan mendengar bahwa Yesus telah bangkit, akhirnya Barabas bertobat dari segala kejahatannya. Ia kemudian menemui para murid Yesus dan menyatakan diri untuk menjadi pengikut Kristus. Ia bahkan ikut menjadi saksi Kristus yang telah membebaskannya. Sampai akhirnya ia pun kembali ditangkap – bukan karena kejahatan yang diperbuatnya – melainkan karena keberaniannya memberitakan Kabar Baik atau Injil Kerajaan Allah. Ia disalibkan. Dan di atas kayu salib itu ia mengucapkan kata terakhir … “Aku adalah barabas!”

  1. Implikasi Masa Kini

Yesus Barabas adalah tipologi dari kita manusia pada umumnya. Secara nyata atau baru berangan-angan, kita penuh dengan pemberontakan, pembunuhan, dan kejahatan. Sebenarnya tak ada satu kebaikan dan kebenaran pun dalam diri kita (Roma 3:10). Kitalah yang patut dihukum mati seperti Barabas. Tetapi kasih Allah di dalam Yesus Kristus telah membebaskan kita. Yesus Kristus telah menggantikan tempat kita. Dan sekarang kita telah dibebaskan-Nya. Kita telah dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Apakah yang seharusnya kita lakukan sekarang?

Kita harus menyerahkan semua anggota tubuh kita, bahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya. Bukankah kita telah ditebus dengan darah-Nya yang mulia? Kita adalah milik-Nya … sepenuhnya! Mari kita mengasihi dan melayani Dia dengan lebih sungguh-sungguh lagi!

Iklan

8 thoughts on “YESUS BARABAS

  1. Nama “Yesus” yang diberikan oleh orang tuanya kepada Barabas berarti “Ia yang menyelamatkan.”

    Pada saat pembebasan salah 1 diantara 2 Yesus, maka terjadilah penyamaran, hingga yang sebenarnya terjadi adalah Yesus Kristus keluar dari tahanan, dan Yesus Barabas menjalani hukuman, seperti disebut dalam Ulangan 21:22-23, ini sangat bertentangan dengan anggapan Paulus yang menyebutkan Yesus Kristus menjadi kutuk karena kita.

    Mazmur 34 juga menyebutkan bahwa Tuhan Allah akan melepaskan manusia (Yesus Kristus) yang berdo’a kepada Bapa dengan hati yang sedih 1/2 mati dan sangat ketakutan hingga keringatnya seperti tetesan darah.

    Masih dalam Mazmur 34 yang bertolak belakang dengan Yohanes 19, bahwa SEGALA tulangnya dilindungi, tidak ada yang dipatahkan. Kata SEGALA tentu bukan hanya tulang kaki, melainkan juga tulang ditelapak tangan yang ketika disalib bisa dipastikan tulangnya akan remuk ditembus paku pasak yang besar.

    Penyamaran Yesus Kristus dari penjara dibuktikan dengan kemunculannya setelah 3 hari peristiwa itu yang tidak dikenali oleh murid terdekatnya sekalipun, dan Kleopas di Emaus bertanya-tanya : Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret, DIA ADALAH SEORANG NABI, … (Lukas 24)

    Benarlah keterangan Al-Qur’an 4:157 bahwa mereka tidak membunuh Yesus, mereka tidak pula menyalibnya, tetapi seseorang (Yesus Barabas) telah disamarkan untuk terbunuh di tiang salib menjalani hukuman yang adil sesuai dengan kejahatannya.

    Ulangan 24:16 Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.

    • Terima kasih untuk komentarnya. Maaf, ini menyangkut iman. Yesus Kristus telah mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, termasuk dosa Anda dan saya. kemudian pada hari yang ketiga Ia bangkit. Empat puluh hari kemudian Ia naik ke sorga, dan satu kali kelak akan datang kembali menjadi Hakim yang menghakimi orang yang hidup dan yang mati, juga termasuk Anda dan saya.

  2.  
    Terima kasih atas penjelasannya … saya hanya ingin mempertebal iman saya kepada Yesus yang sangat saya muliakan & beliau tidak pernah terkutuk seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 3:13 dan SEGALA tulangnya dilindungi termasuk tulang telapak tangan & telapak kaki (Mazmur 34:20) bukan hanya tulang paha/betis seperti keterangan Yohanes 19:36.

    Maaf, bolehkah saya memanggil YESUS dengan sebutan NABI seperti disebutkan oleh murid-Nya bernama Kleopas di Emaus ?

    Lukas 24:19
    “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. DIA ADALAH SEORANG NABI, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.”

    NABI YESUS KRISTUS
    Amsal 11:8
    Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya
    Mazmur 34:17-22 vs Matius 26:39
    Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.
    Matius 26:39
    Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
    Lukas 22:44
    Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
    Markus 14:36
    Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
    Mazmur 34:18
    TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
    Mazmur 34:19
    Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;
    Mazmur 34:20
    Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.
    Mazmur 34:21
    Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.
    Mazmur 34:22
    TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.
    Mazmur 37:32
    Orang fasik mengintai orang benar dan berikhtiar membunuhnya;
    Mazmur 37:33
    TUHAN tidak menyerahkan orang benar itu ke dalam tangannya, Ia tidak membiarkannya dinyatakan fasik pada waktu diadili.
    Mazmur 37:28 vs Markus 15:34
    sebab TUHAN mencintai hukum, dan IA TIDAK MENINGGALKAN orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.
    Markus 15:34
    Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau MENINGGALKAN Aku?”

    NAPI YESUS BARABAS
    Amsal 11:21
    Sungguh, orang jahat tidak akan luput dari hukuman, tetapi keturunan orang benar akan diselamatkan
    Amsal 21:18
    Orang fasik dipakai sebagai tebusan bagi orang benar, dan pengkhianat sebagai ganti orang jujur.
    Imamat 24:17
    Juga apabila seseorang membunuh seorang manusia, pastilah ia dihukum mati.
    Imamat 27:29
    Setiap orang yang dikhususkan, yang harus ditumpas di antara manusia, tidak boleh ditebus, pastilah ia dihukum mati.
    Bilangan 35:31
    Janganlah kamu menerima uang tebusan karena nyawa seorang pembunuh yang kesalahannya setimpal dengan hukuman mati, tetapi pastilah ia dibunuh.

    NABI YESUS vs RASUL PAULUS
    Ulangan 21:22-23 vs Galatia 3:13
    Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, … terkutuk oleh Allah …
    Galatia 3:13 vs Matius 5:19
    Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan MENJADI KUTUK KARENA KITA, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
    Matius 5:19 (18-19-20)
    Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

     

  3. ini mengenai anggapan anda , apakah anda menganggap Yesus itu Tuhan ataukah manusia/nabi.

    Ia adalah Firman yang menjadi manusia (yohanes 1:14)

    dalm galatia 3:13
    sebenarnya kita, manusialah yang dikutuk tetapi Yesus mengambil kutuk itu agar kita dibebaskan dari kutuk, agar saya dan anda diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal.

    kis 26:23 “yaitu, bahwa Mesias HARUS MENDERITA SENGSARA dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati…..”

    • Yesus Adalah TUHAN..Karena Tiada nabi yang berani mengatakan Dosa mu telah di ampuni ..Hanya TUhan lah yang bisa menghapus Dosa manusia..ini menunjukkan Jati diri YESUS

  4. Nama Barabas ‘muncul sebagai bar- Abbas di Yunani teks. Hal ini pada akhirnya berasal dari bahasa Aram אבא – רב, Bar-Abba, “anak ayah”. Menurut teks-teks Yunani awal, nama lengkap Barabas ‘adalah Yesus Barabas. Kemudian teks mempersingkat namanya hanya Barabas. Benjamin Urrutia , co-penulis The Logia Yeshua : The Sayings Yesus, setuju dengan Maccoby dan orang lain yang mengatakan bahwa Yeshua Bar Abba atau Yesus Barabas harus tidak lain adalah Yesus dari Nazaret, dan bahwa pilihan antara dua tahanan adalah sebuah fiksi . Namun, Urrutia menentang gagasan bahwa Yesus mungkin telah baik memimpin atau merencanakan pemberontakan kekerasan. Yesus adalah pembela yang kuat dari “memberikan pipi yang lain” – yang berarti tidak tunduk tapi kuat dan berani, meskipun tanpa kekerasan , pembangkangan dan perlawanan. Yesus, dalam pandangan ini, pasti perencana dan pemimpin perlawanan tanpa kekerasan Yahudi rencana Pilatus untuk mendirikan Roman standar Eagle di Yerusalem Temple Mount . Kisah perlawanan ini sukses diberitahu oleh Josephus – yang tidak mengatakan siapa pemimpin itu, tetapi tidak memberitahu penyaliban Pilatus Yesus . hanya dua paragraf kemudian di bagian yang keasliannya adalah sangat diperdebatkan.
    Tidak ada kebiasaan melepaskan tahanan di Yerusalem tercatat dalam dokumen sejarah selain Injil. Sebuah perayaan Romawi Kuno disebut Lectisternium terlibat pesta dan kadang-kadang termasuk pemindahan sementara rantai dari semua tahanan.
    Pelepasan tahanan hanya mitos, begitupun dgn penyaliban, semua hanya mitos, tapi lebih kpd kisah perumpamaan.
    keduanya adl yesus yg sebenarnya, kisah itu hanya utk pemisahan karakter saja,
    yesus dgn ajaran kasih (kristus) namun bisa juga keras (barabas).
    kisah tsb adl upaya roma utk menghabisi para pengikut setia yesus dgn mengangkat karakter kristus dan membunuh karakter barabas..

    referensi:
    http://en.m.wikipedia.org/wiki/Barabbas

  5. Teolog Kristen Swedia: Tak Ada Bukti Yesus Mati Disalib

    GOTHENBURG (voa-islam.com) – Gunnar Samuelsson, seorang Kristen fanatik dan pakar teologi Swedia menyimpulkan bahwa Yesus tidak mungkin mati disalib karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang Romawi menyalib tahanannya pada 2000 tahun yang lalu.

    Dalam tesis berjudul “Crucifixion in Antiquity: An Inquiry into the Background of the New Testament Terminology of Crucifixion” (Penyaliban pada Jaman Dahulu: Sebuah Penyelidikan terhadap Latar Belakang Terminologi Penyaliban dalam Perjanjian Baru), Samuelsson menyebut kisah penyaliban Yesus hanya didasarkan pada tradisi gereja Kristen dan ilustrasi artistik, bukan pada teks-teks kuno.

    Tesis Samuelsson setebal 400 halaman itu adalah hasil studi penelitian yang saksama terhadap teks asli.

    Teolog dari Universitas Gothenburg Swedia ini menyebut Alkitab telah disalahartikan, karena tidak ada referensi atau pernyataan yang secara eksplisit menyebut penggunaan paku atau untuk penyaliban. Menurutnya, dalam Alkitab hanya tercantum bahwa Yesus membawa “staurus” menuju Kalvari, tapi ini bukan berarti salib tetapi bisa juga berarti ‘tiang’

    “Masalahnya adalah deskripsi dari penyaliban tidak ada dalam literatur kuno,” kata Samuelsson dalam sebuah wawancara dengan Daily Telegraph, Sabtu (3/7/2010).

    “Sumber-sumber yang Anda harapkan untuk menemukan pemahaman yang sesungguhnya tentang peristiwa itu benar-benar tidak mengatakan pernyataan apapun,” tegasnya.

    …deskripsi dari penyaliban tidak ada dalam literatur kuno…
    Dalam literatur Yunani Kuno, Latin maupun naskah Ibrani dari Homer ke abad pertama menggambarkan sejumlah hukuman gantung, tapi tidak menyebutkan “salib” atau “penyaliban.”

    “Jika Anda mencari teks yang menggambarkan tindakan seseorang yang dipaku pada salib, maka Anda tidak dapat menemukan di manapun kecuali pada Injil. Banyak literatur kontemporer yang memberikan terminologi samar, termasuk literatur Latin,” lanjutnya.

    “Konsekuensinya, pemahaman kontemporer tentang penyaliban sebagai hukuman, sangat diragukan,” ujar Samuelsson kepada koran Inggris tersebut.

    “Dan yang lebih diragukan lagi, apakah hal yang sama bisa disimpulkan atas peristiwa penyaliban Yesus. Perjanjian Baru tidak mengatakan sebanyak apa yang ingin kita percayai,” tandas Samuelsson.

    Hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa Yesus dibiarkan mati setelah dipaku di atas tiang salib, baik dalam literatur kuno pra-Kristen dan ekstra-Alkitab kuno maupun Alkitab.

    …Konsekuensinya, pemahaman kontemporer tentang penyaliban sebagai hukuman, sangat diragukan…
    Samuelsson mengakui bahwa umat kristiani lebih mudah untuk bereaksi secara emosional, bukan logis untuk penelitian yang sangat seksama ke jantung imannya. Dia menambahkan, teks-teks yang berbicara tentang eksekusi, tidak menjelaskan bagaimana Yesus dilekatkan pada alat eksekusinya.

    “Ini adalah inti masalahnya. Teks tentang kisah-kisah sengsara yang dialami oleh Yesus adalah tidak tepat dan informasinya ditambah-tambahi, sebagaimana yang diinginkan oleh kita orang Kristen,” jelas Samuelsson.

    “Jika anda mencari teks yang menggambarkan kisah pemakuan orang di atas tiang salib, anda tidak akan menemukan apapun kecuali dalam Bibel,” tambahnya.

    …Jika anda mencari teks yang menggambarkan kisah pemakuan orang di atas tiang salib, anda tidak akan menemukan apapun kecuali dalam Bibel…
    Semua literatur kontemporer menggunakan terminologi yang samar-samar, termasuk yang ditulis dalam bahasa Latin. Sementara itu, kata Latin “crux” tidak selalu berarti salib, dan kata “patibulum” tidak selalu berarti palang salib. Kedua kata tersebut digunakan dalam arti yang lebih luas daripada itu.

    Meski hasil penelitiannya menegaskan bahwa tidak ada bukti Yesus disalib, Samuelsson mengatakan ia masih percaya bahwa Yesus anak tuhan. Ia hanya meminta agar umat Kristen memperbaiki pemahamannya terhadap Bibel.

    “Saya percaya bahwa orang yang disebutkan (Yesus) adalah anak Allah. Saran saya orang Kristen harus harus membaca teks itu, tidak seperti yang ingin kita pikirkan. Kita harus membaca di tiap kalimat, bukan yang tersirat. Teks Alkitab cukup dibaca tanpa perlu menambahkan apa-apa,” pungkas dosen Gothenburg University itu. [aa]

    • Terimakasih untuk komentarnya. Sebagai jawaban atau balasan saya kutip penjelasan berikut ini.
      Dalam disertasinya yang kemudian dibukukan berjudul “Crucifixion in Antiquity” Samuelsson tidak bermaksud mempertanyakan kebenaran historis Perjanjian Baru; melainkan yang dikatakannya adalah bahwa generasi orang-orang Kristen berikutnya telah salah dalam memahami dokumen-dokumen tersebut. Ia seperti seorang ali Perjanjian Baru yang berargumentasi, misalnya, bahwa tidak dilahirkan di palungan tetapi di sebuah rumah Yahudi, yang secara tipikal termasuk ruang untuk hewan di bawah atap yang asma. Ketika Lukas mengatakan rumah penginapan (kataluma) penuh, arti kata itu adalah, bukan “rumah penginapan”, sebagaimana diterjemahkan secara tradisional, tetapi “kamar tamu” (guest room). Karena kamar tamu telah berpenghuni, Yusuf dan keluarganya diberi ruang di bagian rumah di mana hewan ditempatkan. Hipotesa ini bisa mengungkapkan gambaran kelahiran Yesus yang telah kita pahami selama ini ke dalam suasana aslinya, tetapi itu sama sekali tidak mengubah historisitas penjelasan Injil. Sebaliknya, hal itu menolong kita memahami lebih akurat lagi.
      Demikian pula halnya dengan apa yang ditulis oleh Dr. Samuelsson, yaitu bahwa terminologi Yunani yang digunakan dalam Perjanjian Baru seperti “stauros” (salib) dan “stauroo” (menyalibkan) tidak membuat kita mengambil kesimpulan bahwa Yesus disalibkan pada kayu salib ketimbang pada rangka kayu lain. hal itu bisa serupa dengan huruf abjad dalam Bahasa Inggsris “T,” atau “X,” atau “Y,” atau “I.” Tak ada satu pun di antaranya yang mempertanyakan fakta penyaliban Yesus (yang dipahami bahwa keberadaan-Nya dipakukan di rangka kayu tertentu sampai kehabisan darah), atau reliabilitas penjelasan Injil terhadap penyaliban tersebut.
      Memang benar bahwa kata-kata yang relevan bisa memiliki sejumlah makna. tetapi studi kata yang dilepaskan dari konteks akan menghasilkan makna yang sedikit dari teks itu. Misalnya, jika Anda mendengarkan berita pagi, “Polisi menembak tersangka yang sedang mencoba lari.” Jika Anda melakukan studi kata dalam Bahasa Inggris yaitu terhadap kata “menembak”, maka itu bisa berarti menembak dengan pistol, atau busur dan anak panah, atau dengan ketapel! tetapi jika dikaitkan dengan konteks laporan berita itu, pasti yang dimaksudkannya adalah bahwa tersangka ditembak dengan peluru yang keluar dari pistol polisi. Demikian pula dengan konteks dalam menentukan makna “stauros”.
      Bagian masalah untuk memahami bagaimana Yesus disalibkan adalah bahwa kita memiliki sedikit informasi dari zaman kuno tentang bagaimana penyaliban dilakukan. Faktanya, Injil menjeleaksn, di mana mereka sendiri dalam mencoba menggambarkan peristiwa itu tidak berkaitan dengan deskripsi rinci tentang penyaliban dari zaman dunia kuno. Tetapi deskripsi tentang Yesus yang memikul kayu salib konsisten dengan praktek orang Romawi dalam memaksa korban memikul balok salib ke tempat penyaliban. Pemakuan tangan dan kaki Yesus ke rangka kayu bisa saja terjadi. Dalam Yohanes 21:18-19 jenis kematian yang akan dialami Petrus digambarkan dengan kalimat “engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan menggiring engkau pergi ke tempat yang tidak kau ingini.” Seorang penulis di abad II Artemidorus juga menunjuk para kriminal yang “disalibkan tinggi dan dengan tangan terulur” (Oneirocritica, I. 76. 35). Tangan yang diulurkan dapat diartikan terentang. Artemidorus mengkorfirmasi hal ini ketika kemudian ia berkata, “salib itu terbuat dari sepihan kayu dan paku-paku seperti sebuah perahu, yang membentuk rangka salib”(II. 53. 3). Kematian Petrus yang digambarkan lebih dulu serupa dengan penyaliban, kematian yang sama yang dialami Tuhannya. Berarti Yesus disalibkan dengan tangan terentang, yang mengesampingan kerangka bentuk I. Hukuman yang menimpa Yesus (rincian yang secara umum dianggap sebagai tempat berbaring) saat Ia dipakukan pada kerangka di atas kepalanya, berarti mengesampingkan kerangka bentuk T, X, atau Y. Jadi, rincian narasi penyaliban menurut Injil semuanya konsisten dengan pemahaman tradisional bahwa Yesus disalibkan pada kerangka salib.
      Itulah sebabnya mengapa Gereja Mula-mula memahami narasi penyaliban, suatu bukti dari ukiran lebih awal tentang salib membawa kita ke abad I. Disertasi Samuelsson berfokus secara eksklusif pada filologi (linguistik) dan tidak berkaitan dengan arkeologi atau sejarah seni.
      Fakta bahwa humanis Swedia sedang mencoba mengeksploitasi karya Dr. Samuelsson menentang kesengajaanya yang menyebutkan satu atau dua hal tentang mereka: baik apakah mereka belum memahaminya atau sebaliknya mereka bukan orang-orang yang berintegritas, tetapi sekedar para ahli propaganda yang merasa senang apabila bisa mengguncang karya orang lain dengan tujuan akhir mereka. Kebingungan publik tidak mengimplikasikan bahwa ada implikasi serius dari tesis Samuelsson. Ada sejumlah kepercayaan yang menggemberikan tentang Yesus yang tidak punya dasar pada penjelasan Injil: misalnya, gagasan bahwa tiga orang raja dari Timur yang mengunjungi Yusuf dan Maria di malam saat Yesus lahir (bdk. kunjungan orang majus dalam Matius 2:1-12) atau bahwa ibu Yesus yaitu Maria menerima tubuh Yesus saat diturunkan dari salib, seperti yang dipertunjukkan dalam lakon Pieta. Kesalahpahaman populer yang keliru ini tidak memberikan kontribusi apapun terhadap kredibilitas Alkitab yang adalah firman ALlah. Sebaliknya, hal-hal itu justru menolong kita untuk memahami secara lebih akurat.

      Lebih lanjut baca: http://www.reasonablefaith.org/was-jesus-crucified-on-a-cross#ixzz4EfHmtH9r

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s