REKAT (901-1000)

 

PA – 957. Yeremia 33:3 mengatakan “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”. Untuk bisa berseru kepada TUHAN, maka terlebih dahulu seseorang harus percaya bahwa Ia ada dan percaya bahwa Ia memberi upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6). Kemudian ia berseru kepada TUHAN, baik berupa pujian pengagungan, maupun doa permohonan. Dalam ayat ini TUHAN berjanji bahwa Ia akan menjawab seruan itu. Artinya, TUHAN tidak pernah mengabaikan doa seseorang, sesederhana apapun doa itu. Jawaban doa bisa berupa solusi atas masalah yang dihadapi, kelegaan karena beban kehidupan diangkat, atau kekuatan sehingga mampu menanggung beban kehidupan. Ada hal-hal yang besar yang diberitahukan kepada kita, yang tidak kita pahami dan tidak kita ketahui. Apakah itu? Firman-Nya yang kekal! Salah satu jawaban doa yang sebenarnya sangat kita butuhkan adalah firman Tuhan itu sendiri, karena firman-Nya adalah terang dan pelita bagi kita yang sedang hidup dalam kegelapan dunia ini. Firman-Nya adalah kompas kehidupan atau seperti GPS yang mengarahkan kita ke jalan atau arah yang benar, dan mengarahkan kita kembali apabila kita sedang berada di jalur yang salah. Oleh sebab itu doa dan firman Tuhan tidak bisa dipisahkan. Ketika kita berdoa, kitalah yang berbicara kepada Tuhan; ketika kita bersekutu dengan firman Tuhan, Tuhanlah yang berbicara kepada kita. Sungguh, suatu pola komunikasi antara Tuhan dengan kita yang sangat indah!

PA-958. Yeremia 34:15-16 mengatakan “Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku … Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku …” Umat Tuhan semula menaati firman Tuhan untuk melepaskan budak sesama orang Israel. Namun kemudian mereka berbalik dan mempekerjakan mereka sebagai budak kembali. ada sebuah kata yang sering dilakukan oleh banyak orang percaya, yaitu kata “tobat” alias “tobat kemudian kambuh/ kumat”. Pertobatan yang dilakukan hanya bersifat sementara, tetapi kemudian kembali berbuat hal-hal yang melanggar firman Tuhan. Apa yang seringkali membuat orang kembali berbuat dosa? Pertama, kalau pertobatan itu tidak mendatangkan manfaat atau berkat-berkat secara jasmani. Kedua, kalau penderitaan akibat dosa tidak terlalu besar. Dosa membuat mereka nyaman dan nampaknya Tuhan ‘diam’ saja. Ketiga, kalau mereka membandingkan dengan orang-orang berdosa lainnya yang nampaknya aman-aman saja. Tidak ada petir menyambar, tidak ada bumi terbelah. Mereka berpikir Tuhan sudah lelah mengurusi begitu banyaknya orang berdosa sehingga kemudian mendiamkannya. Alkitab menyatakan bahwa Allah itu adil. Ia menghendaki kita mengaku dosa kita, meminta pengampuan-Nya dan bertobat serta tidak mengulangi lagi dosa atau kesalahan yang kita perbuat. Satu kali kelak keadilan Allah akan dinyatakan dalam Penghakiman Terakhir. jadi, jangan punya semangat ‘tomat’ tapi bertobat dengan sepenuh hati …

PA-959. Yeremia 34:22 menyatakan ” … Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi ketandusan tanpa penduduk.” Pada masa Perjanjian Lama, ketika sebuah kota atau negeri mengalami ketandusan dan tanpa penduduk, itu merupakan salah satu bentuk murka dan hukuman Tuhan atas pemimpin kota atau negeri itu. Mengapa TUHAN murka? Karena pada saat itu para pemimpin Yehuda, di bawah kepemimpinan Raja Zedekia, berbalik pikiran. Tadinya mereka membebaskan pada budak sehingga menjadi orang merdeka, namun kemudian mereka ingkar janji dan memperbudak mereka kembali. Aspek penting ibadah kepada Tuhan adalah vertikal dan horizontal. Ada suatu kesia-siaan jika kita hanya menjaga aspek vertikal dalam beribadah kepada Tuhan, namun kemudian mengabaikan azpek horizontalnya. Sebaliknya, kita juga tidak boleh terpesona dengan ajaran yang hanya mementingkan aspek horizontal, berbuat baik kepada sesama, tetapi tidak menyembah Allah yang benar dan tidak menyembah Dia dengan cara yang benar pula. Kedua aspek harus dijaga keseimbangannya, agar kita berkenan kepada Tuhan.-

PA – 960. Yeremia 35:19 mengatakan “maka beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Keturunan Yonadab bin Rekhab tak terputus melayani Aku sepanjang masa.” Mengapa mereka memperoleh kepercayaan dari Tuhan semacam itu? Karena mereka setia kepada Tuhan. APa bentuk kesetiaan mereka? Dalam pasal ini kaum orang Rekhab “digoda’ untuk melanggar hukum Tuhan dengan minuman yang memabukkan. namun ternyata mereka tetap konsisten terhadap apa yang diajarkan oleh nenek moyang mereka, yaitu Yonadab bin Rekhab agar tetap setia kepada Tuhan, dan tidak melanggar firman-Nya. Banyak orang hanya setia dan konsisten di awal pengiringannya kepada Tuhan. Namun di kemudian hari, ketika berada dalam keadaan terjepit, mereka ingkar terhadap iman mereka di dalam Tuhan. Mereka tergoda oleh dosa dan menyangkal Tuhan. Konsistensi iman dibutuhkan di tengah dunia yang semakin jauh dari Tuhan ini. Dibutuhkan keberanian untuk tetap tampil beda di tengah kehidupan yang penuh dosa. Kekuatan untuk dapat bertahan menghadapi segala godaan hanyalah jika kita dekat dengan Tuhan, mengasihi Dia senantiasa. Tuhan pun menghormati mereka yang setia dan berpaut kepada-Nya. Hidup kita akan selalu berkenan kepada-Nya, dipakai menjadi alat kemuliaan-Nya … dari generasi ke generasi.

PA-961. Yeremia 36:25 berkata “Elnatan, Delaya, dan Gemarya memang mendesak kepada raja, supaya jangan membakar gulungan itu, tetapi raja tidak mendengarkan mereka.” Raja Yoyakim tetap membakar gulungan kitab yang ditulisi firman Tuhan berisi teguran keras agar umat Tuhan bertobat, karena Kerajaan Yehuda akan diserbu oleh Kerajaan Babilonia. Seruan pertobatan seringkali diabaikan bahkan dibungkam. Manusia lebih suka tetap tinggal dalam dosa, bahkan semakin berdosa, Seruan untuk bertobat datang dari Tuhan karena Ia memberi mereka kesempatan untuk luput dari penderitaan akibat hukuman atas dosa-dosa mereka. Gulungan pertama telah dibakar, namun Tuhan menyuuruh Yeremia menuliskan kembali firman Tuhan. Artinya kesempatan untuk bertobat tidak hanya datang satu kali namun beberapa kali. Namun jika kemudian ajakan untuk bertobat itu diabaikan, berarti dengan sengaja manusia membuang kesempatan. Tidaklah salah jika kemudian hukuman Tuhan jatuh atas mereka.-

PA-962. Yeremia 37:19 berkata “Di manakah gerangan para nabimu yang telah bernubuat kepadamu, bahwa raja Babel tidak akan datang menyerang kamu dan negeri ini?” Itu adalah perkataan nabi Yeremia kepada Raja Zedekia yang sama maknanya dengan pernyataan bahwa Kerajaan Yehuda pasti jatuh ke tangan raja Babel karena Tuhan yang menyatakannya melalui nubuat nabi sejati, Yeremia. Kata “nubuat” sudah mulai jarang kedengaran, padahal nubuat masih ada pada hari ini. Sayangnya banyak yang diselewengkan demi kepentingan pribadi orang yang bernubuat atau bersifat sangat subyektif. Kini orang banyak beralih pada predikisi para ahli masa depan (futurolog), yang memprediksi masa depan dengan hanya melihat pola atau siklus zaman. Nubuat dalam Alkitab banyak yang sudah digenapi tetapi ada pula yang belum digenapi. Ada nubuat mengenai Akhir Zaman yang tanda-tandanya semakin banyak digenapi. Manusia boleh berusaha menghindarinya, namun nubuat Tuhan akan tetap digenapi. Orang yang bijak tidak akan menyangkal nubuat Akhir Zaman itu, yaitu bahwa Yesus Kristus sebagai Hakim yang adil, akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, melainkan ia akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya alias berjaga-jaga senantasa.-

PA-963. Yeremia 38:27 mengatakan “… Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatu pun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapa pun.” Nabi Yeremia baru saja menyampaikan nubuat kejatuhan Yerusalem di tangan bangsa Babilonia kepada Raja Zedekia, dan pembicaraan itu tidak bocor ke mana-mana. Mengapa tidak boleh bocor? Pertama, karena pemimpin yang lain tidak siap mental menerima nubuat kehancuran negeri itu. Orang yang tidak siap menerima sebuah pesan – baik atau buruk – sebaiknya tidak diberi informasi itu. Kedua, pertimbangan bagi keamanan bagi si pemberi informasi. Ketika pesan yang bocor tiba pada orang yang tidak siap mental tadi, bisa menimbulkan kegaduhan dan kemarahan, sehingga kemudian bisa mendatangkan celaka atas diri si pemberi informasi. Ketiga, menghindari praktik blow up terhadap pesan yang bocor. Ketika suatu informasi sampai di telinga orang yang tidak bijaksana, maka informasi itu bisa dilebihi atau dikurangi sedemikian sehingga tidak lagi sesuai dengan informasi aslinya. istilahnya “hoax”. Inti infonya benar, tetapi bumbu-bumbunya itu yang bias. Oleh sebab itu berhati-hatilah dalam menjaga informasi penting. Sesuaikan dengan waktu, tempat, dan orang yang tepat.-

PA-964. Yeremia 39:18 mengatakan “tetapi dengan pasti Aku akan meluputkan engkau: … , sebab engkau percaya kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Serbuan pasukan tentara Babel ke Yerusalem sangat dahsyat. Kota Yerusalem direbut, temboknya diruntuhkan, para pangeran dan pembesar dibunuh, Orang-orang yang kuat dibawa tertawan ke Babilonia, hanya tertinggal orang-orang yang lemah dan miskin. Namun ada dua orang juga yang terluput, yaitu Nabi Yeremia dan seorang Etiopia yang bernama Ebed-Melekh (arti namanya adalah “Hamba Raja”). Tuhan meluputkan mereka berdua karena mereka percaya kepada firman Tuhan yang menubuatkan keruntuhan Yerusalem. TUHAN sangat menghargai orang yang percaya kepada-Nya. Untuk percaya kepada TUHAN yang tak terlihat tidaklah mudah, sebab memang percaya atau iman itu adalah “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Manusia lebih mudah percaya kepada apa yang dilihatnya dengan mata jasmani, atau apa yang dianggap masuk akal. Padahal, iman tidak bertentangan dengan akal, melainkan melampauinya. Belajalah hidup dengan iman kepada TUHAN dan firman-Nya, maka kita akan mengalami hal-hal yang “belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah diengar oleh telinga, belum pernah timbul dalam pikiran dan hati kita.” (1 Korintus 2:9).-

PA-965. Yeremia 40:10 berkata ” …, kumpulkanlah saja hasil anggur, buah-buahan dan minyak, kemudian simpanlah sebagai persediaan, dan tinggallah di kota-kota di mana kamu hendak menetap.” Ketika umat Yehuda tertawan di Babel, masih ada orang-orang yang biarkan tinggal di kota-kota Yehuda. Gedalya berkata agar mereka menerima kenyataan itu dan tidak terus-menerus menyesalinya. Jauh lebih baik jika mereka mensyukuri keberadaan “sisa negeri” mereka dan tetap menikmati hasilnya. Mereka mematuhi anjuran Gedalya sehingga bisa memperoleh anggur dan buah-buahan amat sangat banyaknya (ayat 12). Banyak orang menyesali peristiwa yang telah dialami dan yang tidak mungkin diubah kembali. Penyesalan itu membuang waktu, energi dan emosi. Banak hal kemudian justru terbuang percuma. Jauh lebih baik kita menatap ke masa depan, mensyukuri dan melipatgandakan “sisa berkat” yang masih Tuhan izinkan untuk kita nikmati. Niscaya hati kita akan lebih tenteram, dan kehidupan ini dapat terus berlanjut dengan berkat-berkat-Nya. Untuk hal-hal yang masih bisa kita ubah kita harus memperjuangkannya. Tetapi untuk hal-hal yang tidak bisa kita ubah, lebih baik kita menerimanya dan fokus pada hal-hal yang Tuhan berikan kepada kita. Mintalah hikmat Tuhan6untuk membedakan dua hal itu: apa yang bisa diubah dan apa yang tidak bisa diubah.-

PA-966. Yeremia 42:11 berkata, “Janganlah takut kepada raja Babel yang kamu takuti itu.Janganlah takut kepadanya, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangannya.” Yohanan bin Kareah dan kelompoknya bermaksud mencari tempat aman dan nyaman di Mesir dan mereka berkata kepada Nabi Yeremia agar memintakan petunjuk Tuhan apakah mereka boleh ke Mesir atau tidak. TUHAN berkata bahwa mereka tidak usah pergi ke Mesir. Justru di Mesir mereka akan mengalami banyak penderitaan. Namun ternyata mereka tidak menaati firman TUHAN, Mereka tetap bermaksud pergi ke Mesir. Apa gunanya mereka menanyakan petunjuk Tuhan. Dalam banyak konseling pastoral, banyak orang datang kepada hamba Tuhan dengan kalimat rohani meminta petunjuk Tuhan. Tetapi ketika nasihat berdasarkan firman Tuhan diberitahukan mereka menolak dan tetap melanjutkan niat hati mereka. Berarti mereka sebenarnya punya motivasi bukan mau menanyakan kehendak Tuhan, melainkan mau meminta Tuhan merestui keputusan yang hendak mereka ambil. Mari kita benar-benar jujur dan rendah hati. Ketika kita membutuhkan tuntunan Tuhan melalui firman-Nya, benar-benar taatilah. Jangan hanya ingin tahu kemudian menolaknya. Jangan keras kepala dengan memaksakan kehendak sendiri. Jadikan firman Tuhan benar-benar kompas dalam kehidupan kita yang akan mengarahkan kita kepada jalan yang benar. Jika semula sudah ada niat tertentu, batalkan apabila ternyata bertentangan dengan firman Tuhan.-

Iklan