DOA

1. Pendahuluan

Banyak ungkapan tentang doa yang menggugah kita untuk hidup dalam doa. Ungkapan-ungkapan itu antara lain:

• Let us pray, not for lighter buderns, but for stronger backs (Berdoalah bukan agar beban menjadi lebih ringan, melainkan agar punggung menjadi lebih kuat).
• A Christian must get on his kness before he can get on his feet (Seorang Kristen harus berdoa dulu sebelum melangkah).
• P-U-S-H (Pray Until Something Happen) (Berdoalah terus sampai sesuatu terjadi).
• Life is fragile – handle it with prayer (Hidup ini rentan, jalani dengan doa).

Salah satu ungkapan lain tentang doa yang sangat baik adalah bahwa “doa adalah nafas orang percaya”. Itu berarti doa bukan sekedar kegiatan agamawi tetapi merupakan gaya hidup (life style) setiap orang percaya. Kali ini kita akan melihat kembali apa yang Alkitab katakan tentang hakekat doa, agar tidak terbiasa oleh banyak definisi lain yang dibuat manusia bagi kepentingannya sendiri. Baca lebih lanjut

LEBIH DARI PEMENANG

maxresdefault

1. Pendahuluan

 

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, maka mau tidak mau kita berada dalam sebuah arena peperangan rohani. Secara bertahap, sadar atau tidak, kita dihentar Tuhan dari satu babak kehidupan kepada babak kehidupan yang lebih tinggi.

Pertama, kita ‘dihindarkan’ dari peperangan rohani karena saat pertama kali mengenal Tuhan kita belum siap untuk berperang. Memang style atau gayanya seperti seorang prajurit, tetapi peperangan rohani yang sesungguhnya belum pernah dilakukan (Kel. 13:17-18)

Kedua, kita diijinkan TUHAN ‘melihat’ peperangan. TUHAN-lah yang berperang bagi kita dan kita berdiam diri saja. Kita senang menyaksikan bagaimana TUHAN menyatakan kuasa dan mukjizat-Nya dalam menghadapi musuh umat-Nya (Kel. 14:14).

Ketiga, kita diharuskan ‘turut’ berperang. Kita tidak bisa menolak hal ini. Negeri Perjanjian yang dijanjikan kepada umat Tuhan hanya bisa dinikmati jika mereka bersedia menghadapi pelbagai jenis musuh yang menghadang di tengah-tengah perjalanan mereka (Kel. 17:5-7)

Jadi hidup dalam ‘peperangan rohani’ merupakan ciri khas para pengikut Kristus. Tetapi mengapa ada orang Kristen yang ‘menang’ dan ada pula yang kalah’? Apakah memang orang Kristen ‘ditakdirkan’ untuk menang? Lalu apa rahasia memiliki hidup yang berkemenangan? Baca lebih lanjut

IMAN DAN KEPINTARAN

1. Relasi Iman dan Kepintaran

Bagaimanakah relasi yang benar antara iman dan kepintaran (kepandaian)? Untuk bisa menjawab pertanyaan ini, beberapa prinsip di bawah ini perlu dipahami dengan baik:

(1) Beriman kepada Allah, berarti beriman pula kepada Alkitab, yaitu firman-Nya yang merupakan wahyu khusus Allah kepada kita tentang Diri-Nya.

(2) Alkitab menyatakan bahwa kepada manusia Allah memberikan “mandat budaya” untuk memenuhi bumi ciptaan-Nya dan menaklukkan segenap alam semesta (kej. 1:28).

(3) Dalam rangka melaksanakan tugas itu Allah memberikan kemampuan kepada manusia berupa akal budi, sehingga manusia dapat menghasilkan
berbagai penemuan yang menakjubkan, misalnya:

Kej. 2:20 – taxonomi Adam dalam ilmu zoologi

Kej. 4:20-22 – Yabal menjadi pelopor real estate dan peternakan; Yubal menjadi pelopor dalam musik dan industri hiburan; Tubal-Kain menjadi pelopor dalam teknik industri.

(4) Namun, karena manusia jatuh ke dalam dosa, maka terjadilah kerusakan total dalam akal budi manusia, dimana mereka mencapai prestasi bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan memuliakan dirinya sendiri
(peristiwa Menara Babel dalam Kej. 11:1-9).

(5) Dengan demikian diperlukan adanya pemulihan dan pembaharuan terhadap motivasi kepandaian manusia melalui karya penebusan Yesus
Kristus (Efs. 4:23).

Dengan demikian, relasi antara iman dan kepandaian adalah relasi yang saling melengkapi, yang menyeimbangkan kehidupan kita. Sekalipun demikian, Alkitab berkata bahwa bukan kepandaian yang mengalahkan dunia, melainkan iman kita (1 Yoh. 5:4). Itu berarti bahwa bagaimanapun juga iman memiliki nilai lebih di hadapan Allah dibandingkan kepandaian manusia (bdk. Daniel).

2. Ciri-ciri Kepintaran yang Alkitabiah

Sebagai mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi di mana Tuhan telah menempatkan kita, maka kita dituntut untuk memberdayakan akal budi dan potensi yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita
seoptimal mungkin. Untuk itu perlu diperhatikan ciri-ciri kepandaian yang
berkenan di hati Allah sebagaimana berikut ini:

(1) Permulaan dari kepandaian kita adalah takut akan TUHAN (Amsal
1:7)
.

(2) Penggunaan kepandaian itu harus sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu dalam kebenaran dan kekudusan (Kol. 3:17).

(3) Tujuan penggunaan kepandaian itu adalah untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat manusia (Kej. 12:3).

(4) Argumentasi dengan kebenaran Allah harus berakhir dengan penundukan akan budi kepada ketaatan total kepada kehendak-Nya (2 Kor. 10:5).

(5) Prestasi yang berhasil dicapai oleh kepandaian kita adalah semata-mata karena anugerah Tuhan, sehingga kita memiliki kerendahan hati dengan tetap mengakui kedahsayatan Tuhan (2 Kor. 3:5b; Roma 11:33-36).

—– 00000 —–

pdt. drs. petrus f. setiadarma, mdiv.

I WANNA BE LIKE HIM

I WANNA BE LIKE HIM

Mazmur 15:1-5

(1) Untuk bisa menjadi seperti Yesus Kristus, pertama-tama kita harus mengalami kelahiran kembali, yaitu kehidupan yang baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan setiap orang yang mau menerima-Nya (Yoh. 3:3; 1 Kor. 5:17).

(2) Dalam kehidupan yang baru itu, kita bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus -Nya dengan benar melalui roh hikmat dan wahyu (Efs. 1:17). Kita harus menjadikan pengenalan ini sebagai prioritas utama dalam hidup ini (Flp. 3:10).

(3) Pengenalan yang benar menghasilkan sikap yang benar, yaitu keinginan sekaligus ketaatan akan perintah-Nya agar kita meneladani-Nya (Yoh. 13:15).

(4) Inilah hal-hal yang harus kita teladani dari kehidupan-Nya (Maz. 15:1-5) –

  1. Berlaku tidak bercela (Lukas 2:52)
  2. Melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran
    dengan segenap hatinya
  3. Tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, tidak berbuat
    jahat terhadap temannya, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
  4. Tidak memandang hina orang yang tersingkir, tetapi
    memuliakan orang yang takut akan TUHAN (Yes. 42:3).

(5) Berpegang pada sumpah (berkomitmen), walaupun rugi

(6) Tidak membebani, tetapi justru memberkati (Yoh. 6:11).

(5)Akhirnya, oleh pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjadi teladan bagi orang lain: dalam perkataan, perbuatan, kasih, kesetiaan, kesucian (1 Kor. 1:11; 1 Tim. 4:12).

—– 00000 —–

pdt. petrus f. setiadarma, mdiv.

SUKACITA SEJATI

1. Pendahuluan

Sukacita (Ing.: joy; Yun. cara = chara) merupakan salah satu sifat buah Roh (Galatia 5:22-23). Itu berarti sukacita merupakan ciri khas (trademark) orang Kristen. Orang Kristen yang kehilangan sukacita kehilangan sesuatu yang sangat berarti, yaitu hakekat kekristenan itu sendiri. Dalam tulisan ini kita akan merenungkan bersama beberapa bentuk sukacita yang seharusnya kita miliki di dalam mengiring Tuhan kita Yesus Kristus. Baca lebih lanjut