GEREJA KRISTEN JALAN-JALAN

gereja

  1. Pendahuluan

Ketika membaca judul di atas mungkin kita merasa tidak enak di hati, karena menyangkut saudara seiman atau bahkan diri kita sendiri. Ya, ini memang menyangkut fakta kehidupan sebagian orang Kristen yang ibadahnya tidak pernah menetap di sebuah gereja lokal, melainkan beribadah di beberapa gereja.

Sebagian orang berpendapat bahwa urusan beribadah di mana saja dan kapan saja adalah urusan pribadi. Tidak ada individu lain yang dapat mengatur tempat dan waktu beribadah seseorang, termasuk pemimpin gereja.

Sebagian lagi menggunakan alasan oikumenis. Bukankah semua gereja adalah gereja Tuhan, dan Tuhan hadir di semua gereja itu? Jadi sah-sah saja kalau seseorang beribadah di banyak gereja. ‘Kan Tuhannya sama. Belum lagi bisa memiliki lebih banyak teman.

Artikel ini mengajak kita untuk melihat prinsip penggembalaan bagi jemaat-jemaat, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

  1. Pentingnya Ibadah

Dasar ibadah setiap orang percaya adalah Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Lama ditekankan tentang tempat di mana umat Tuhan bisa beribadah. Dalam perjalanan di padang gurun dari Mesir hingga Tanah Perjanjian atau Kanaan, umat Israel harus beribadah di Tabernakel. Tempat ibadah yang bersifat bongkar-pasang ini menjadi sentral seluruh upacara peribadahan umat Israel. Itu merupakan kehendak Tuhan sendiri, sebagai dinyatakan dalam Keluaran 25:8, Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Jadi Tuhan menyatakan diri dalam ibadah itu untuk berjumpa dengan umat-Nya yang diwakili oleh imam besar.

Setelah mereka menetap di Kanaan selama beberapa generasi, maka Raja Salomo membangun suatu Bait Allah yang begitu megah. Tabut TUHAN dipindahkan dari kemah Pertemuan ke Bait Allah di Yerusalem itu. Tuhan sendiri hadir dalam Bait Allah itu seperti dinyatakan dalam 1 Raja-raja 8:10-11, “ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian olah karena awan itu; sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN.

Sejak saat itu maka Bait Allah di Yerusalem menjadi pusat atau sentral dari peribadahan orang-orang Yahudi. Di mana pun mereka berada, ketika berdoa mereka berkiblat ke Yerusalem (Daniel 6:11, “… Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka kea rah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya; seperti yang biasa dilakukannya.”).

Dalam Perjanjian Baru, tempat tidak lagi ditekankan, melainkan hati yang sungguh-sungguh mau beribadah kepada Tuhan sebagaimana nampak dalam ayat-ayat berikut ini.

(a) Yohanes 4:23, Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Dalam ayat ini memang tidak tercantum perintah agar kita beribadah hanya di satu tempat tertentu saja. Yang penting adalah bahwa kita beribadah kepada Allah yang hidup dalam roh dan kebenaran.

(b) 1 Timotius 6:6, Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Di sini ditekankan manfaat dari ibadah itu sendiri dengan syarat disertai dengan rasa cukup atau hati penuh syukur.

(c) Surat Ibrani 10:25, Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Di sini juga tidak ditekankan masalah tempat, melainkan dorongan untuk semakin setia beribadah kepada Tuhan.

Itu berarti, di mana saja kita dapat datang sujud menyembah Tuhan, apakah di kamar seorang diri, dalam Mezbah Keluarga (Family Altar), dalam Komunitas Sel (Komsel), Kelompok Persekutuan Keluarga (KPK), dalam ibadah raya. Demikian pula dengan tempat, apakah di rumah, di jalan, di kantor, atau di gereja, di mana saja, kita dapat menyembah Tuhan.

  1. Prinsip Penggembalaan

Namun demikian, tidak berarti bahwa dengan sekehendak diri kita sendiri, lalu kita beribadah setiap minggu bergilir dari satu gereja ke geraja yang lain. Kita tidak bisa semau-maunya beribadah jalan-jalan dari satu gereja ke gereja yang lain. Mengapa? Karena di samping ayat-ayat yang meneguhkan kehadiran Tuhan di segala tempat, masih ada bagian firman Tuhan lainnya yang perlu diperhatikan, yaitu prinsip penggembalaan.

Orang-orang percaya digambarkan sebagai domba-domba yang berada dalam satu kawanan untuk digembalakan. Beberapa prinsip penggembalaan berikut ini akan membawa kita ke dalam suatu loyalitas untuk beribadah, bertumbuh dan melayani di sebuah gereja lokal.

(a) Dalam kehidupan umat Israel pada zaman Musa dikenal adanya kelompok-kelompok, yaitu kelompok 10, 50, 100, dan 1000 (Keluaran 18:25). Tujuannya adalah agar jika ada permasalahan yang harus diselesaikan, bisa tertangani lebih baik. Anggota kelompok yang satu tentunya tidak bisa berpindah-pindah seenaknya.

(b) Dalam suatu penggembalaan, domba mengenal suara gembala dan gembala itu pun mengenal domba-dombanya (Yohanes 10:14). Itu berarti seorang gembala memiliki data akurat tentang kondisi setiap domba yang dipercayakan untuk digembalakan.

(c) Pada zaman Rasul Paulus ada jemaat-jemaat di kota-kota tertentu, seperti Korintus, Efesus, Filipi, Kolose, dan sebagainya. Terhadap jemaat di kota-kota itu ditetapkan penatua dan diaken yang bertanggung-jawab menggembalakan mereka. Sekalipun yang disebutkan di sini adalah nama kota di mana jemaat itu berada, tetapi tentunya setiap jemaat beribadah di gereja lokal , dan tidak berpindah-pindah, agar penatua dan diaken dapat mengenal dan melayani dengan baik.

(d) Dalam sebuah persekutuan atau gereja, setiap orang percaya tidak hanya menikmati berkat-berkat rohani untuk dirinya sendiri, tetapi juga bertumbuh dalam melayani sesama anggota tubuh Kristus di gereja atau jemaat itu. Kebanyakan orang percaya yang berpindah-pindah gereja bertujuan mencari makanan rohani yang dipandangnya cukup “bergizi”, tatepai ia mau melepaskan tanggung jawabnya untuk melayani sesuai dengan karunia yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Setiap orang percaya perlu diperlengkapi bagi tugas pelayanan (Efesus 4:11-12).

(e) Apabila ternyata seorang anak Tuhan mengalami kekecewaan karena pelayanan di sebuah gereja yang kurang memuaskan hatinya, ia tidak boleh serta-merta berpindah-pindah mencari “gereja sempurna”. Mengapa? Karena sebenarnya ia tidak akan pernah menemukan sebuah gereja yang sempurna. Di setiap gereja selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Yang harus ia lakukan adalah mendoakan pelayanan dan para hamba Tuhan atau aktifis di gerejanya dan memberikan masukan yang positif guna peningkatan kualitas pelayanannya.

(f) Hubungan di antara gembala jemaat yang satu dengan gembala jemaat yang lain dalam satu kota tentunya harmonis dalam suasana oikumenis yang baik. Bahkan secara berkala ada fellowship di antar apara hamba Tuhan itu. Tetapi adanya jemaat yang suka berpindah-pindah bisa menimbulkan kecurigaan antara pimpinan gereja yang satu terhadap yang lain, bahkan bisa terjadi pertengkaran dengan topik “curi-mencuri domba”. Akhirnya hubungan antara pemimpin gereja tidak bisa harmonis lagi, dan ini sangat merugikan pekerjaan Tuhan.

Jadi, menurut prinsip penggembalaan, berpindah-pindah gereja bukan suatu kebiasaan yang baik dalam kehidupan berjemaat. Kesetiaan kepada Tuhan dapat diukur pula dari kesetiaan seorang anak Tuhan dalam beribadah dan melayani di sebuah gereja lokal.

  1. Perkecualian

Apakah memang sama sekali tertutup kemungkinan seseorang berpindah gereja? Tentunya tidak. Masih bisa dimungkin seseorang berpindah gereja dengan beberapa alasan berikut:

(a) Tuhan sendiri yang menempatkan orang itu di gereja lain. Karena adanya kebutuhan seorang pelayan Tuhan, bisa saja Tuhan memanggil seseorang dari gereja A untuk melayani di gereja B. Tetapi tentu ia akan terus melayani di gereja B, sampai Tuhan memindahkannya kembali. Tentunya hal ini bersifat langka, dan membutuhkan pergumulan yang cukup lama dan mendalam.

(b) Karena akan membina rumah tangga, seorang gadis yang setia di sebuah gereja lokal bisa berpindah ke gereja lain mengikuti suaminya. Tetapi di gereja di mana suaminya itu beribadah, ia harus menunjukkan kesetiaan dan loyalitasnya. Memang bukan suatu teladan yang baik jika suami dan isteri beribadah di gereja yang berbeda, khususnya bagi anak-anak. Dalam hal ini isteri harus mengikuti suami.

(c) Kadang-kadang di suatu gereja diadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau kebaktian tengah minggu. Seorang anak Tuhan yang telah beribadah di sebuah gereja lokal bisa saja menghadiri KKR atau kebaktian tengah minggu tersebut untuk lebih menumbuhkembangkan imannya (daripada nongkrong di depan pesawat teve atau melamun di rumah), atau untuk membawa jiwa baru kepada Tuhan. Namun sesudahnya harus kembali ke gereja asal.

(d) Ada lagi seorang anak Tuhan yang memiliki talenta tertentu, misalnya pemain keyboard. Ia telah melayani di gerejanya dengan setia, dan ada sebuah gereja lain yang memintanya untuk melayani juga di sana. Melayani di gereja yang lain itu bisa saja dilakukan asalkan seijin pimpinan gereja setempat, dan ia pun tidak menelantarkan pelayanannya di gerejanya sendiri. Di sini berlaku prinsip yang kuat menolong yang lemah.

  1. Penutup

Melalui renungan ini biarlah kita semua bersyukur dengan gereja lokal di mana Tuhan menempatkan kita untuk bertumbuh dan melayani. Kita tidak perlu iri hati dengan keberhasilan atau keistimewaan gereja lain, karena di mana ada dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama Tuhan, Ia hadir di situ.

Tanpa harus berpindah-pindah gereja, kita tetap menghargai semua aliran gereja Tuhan dalam semangat oikumenis. Memang dalam menjalankan liturgi ibadah bisa berbeda-beda, namun itu justru memperkaya keberagaman gereja Tuhan.

—– 00000 —–

pdt. petrus f. setiadarma

Iklan

4 thoughts on “GEREJA KRISTEN JALAN-JALAN

  1. Haleluyah, artikel ini memang sangat relevan di masa kini dimana seringkali orang berprinsip “yang penting saya beribadah, walau harus gonta ganti gereja”. Ini seperti sebuah pohon yang baru saja bertumbuh sudah dipindahkan ke lahan lain, kemudian setelah beberapa saat pohon tersebut dipindahkan lagi ke tempat lain. Lama kelamaan pohon itu akan mati karena tidak diberi pupuk dan dirawat dengan baik. Terima kasih atas materi yang diupload di blog ini. Tuhan memberkati bapak dan keluarga. Puji Tuhan

  2. Puji TUHAN, saya dan keluarga sudah cukup lama memikirkan hal ini, bahkan dampaknya pun sudah saya rasakan, namun sebagai manusia saya mempunyai pergumulan yang cukup beralasan untuk senantiasa berbincang dengan Tuhan,dukung doa ya pak agar saya segera dapat mengambil keputusan.
    TUHAN senantiasa memberkati.

  3. Puji Tuhan, saya bersyukur dgn artikel ini akan membuat orang akan terbuka baik hati,pikiran maupun rohnya bhw ibadah yg berpindah pindah akan membuat orang tdk akan tumbuh imamnya hrs slalu adaptasi dgn lingkungan & tdk ada kepastian greja yg menudungi & bertanggung jwb, klu terjadi masalah thd jemaat tsb krn statusnya hanya jd jemaat tamu. Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s