TREND-TREND PELAYANAN MASA KINI

pelayanan

 Pendahuluan

             Setiap orang Kristen yang menyadari bahwa hidupnya telah ditebus oleh darah Yesus Kristus di kayu salib Golgota, telah dimerdekakan dari status sebagai hamba dosa, akan segera melibatkan dirinya dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu melayani dalam kasih Kristus itu sendiri (Galatia 5:13). Pelayanan yang dilakukan tentunya berada dalam suatu konteks tertentu, sehingga setiap anak Tuhan yang mau melayani diperhadapkan kedua dua hal yang amat krusial: mengikuti kehendak Allah yang telah memanggil dan memilih-Nya untuk menjadi mitra kerja-Nya, serta menyesuaikan pelayanan yang dilakukannya dengan konteks yang ada. Tugas ini bisa disebut sebagai impossible mission, sehingga dibutuhkan komitmen yang sangat kuat untuk berpegang pada prinsip yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, yaitu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10:16).

Konteks pelayanan di mana kita hidup pada masa kini sebenarnya bersifat netral. Artinya, perkenanan Tuhan atas pelayanan yang kita lakukan kembali bergantung kepada kita: apakah kita mengkompromikan prinsip-prinsip pelayanan yang Alkitab dengan konteks yang ada ataukan tetap berpegang kepada prinsip itu dengan sedikit modifikasi dan kreatifitas agar bisa diterima dengan lebih mudah.

Istilah trend berarti bisa berarti “arah; kecenderungan, kecondongan” atau “menuju ke”[1]. Jadi, trend-trend pelayanan masa kini berarti kecenderungan yang nampak nyata saat pelayanan tersebut dilakukan. Tentu kecenderungan ini lebih merupakan suatu persepsi atau pandangan secara umum, yang bisa benar atau salah. Namun setidaknya dengan memahami trend yang ada kita bisa mengambil langkah-langkah antisipatif atau bahkan pemulihan jika ternyata trend tersebut jauh menyimpang dari apa yang Allah inginkan bagi gereja-Nya. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk memahami beberapa trend yang ada, khususnya di bumi Indonesia ini. Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi, melainkan membuat kita lebih waspada sesuai dengan apa yang Rasul Paulus katakan kepada Timotius agar selalu mengawasi diri dan ajarannya (1 Timotius 4:16).

Serba Singkat dan Cepat

             Di zaman yang serba instant ini ada kecenderungan agar segala bentuk kegiatan rohani juga diproses secara instant. Prinsip yang berkembang di tengah masyarakat adalah: jika bisa dilakukan lebih cepat, mengapa harus diperlambat? Setidaknya ada dua bagian kegiatan yang kini dipercepat, yaitu: ibadah (worship) dan pendidikan (education).

            Ketika seseorang datang untuk beribadah kepada Tuhan , tentunya ia akan datang dengan iman, sebab tanpa iman tidak mungkin ia menikmati kuasa kehadiran Tuhan dan memberoleh berkat-berkat-Nya (Ibr. 11:6). Sayangnya semua kini serba dipercepat. Mulai dari pujian, doa, sampai kepada kebenaran firman Tuhan, semuanya minta dipercepat. Bahkan dalam ibadah, jemaat tidak mengikutinya dengan baik, karena masih mengadakan kontak komunikasi dengan pihak-pihak lain melalui peralatan gadget mereka: ada yang tetap berkirim pesan singkat (sms), chatting, mencari sesuatu di Internet (browsing), dan sebagainya. Alasannya karena ‘dikejar waktu’. Akibatnya, pelbagai berkat rohani dalam ibadah tidak bisa tertanam dengan baik di sanubari, karena ‘numpang lewat’ belaka. Padahal kita seharusnya duduk di bawah kaki Tuhan Yesus seperti Maria, menyediakan waktu yang cukup agar terjadi komunikasi yang mendalam dan berbobot dengan Tuhan.

Mengenai pendidikan, para pelayan Tuhan pun terjangkit penyakit serba cepat, sehingga tanpa katekisasi yang mendalam mereka yang mengaku percaya Tuhan Yesus segera dibaptis. Padahal ada yang punya motivasi guna memenuhi persyaratan menikah, bukan karena hasil pertobatan sejati. Tidaklah heran jika sesudah dibaptis, mereka hanya nampak dalam ibadah 3-6 bulan, dan setelah itu entah kemana.

Pendidikan terhadap jemaat yang mau melayani juga dipercepat. Hanya dengan bekal 1-2 sesi pembinaan tentang ilmu berkhotbah (homiletika), mereka langsung diberi jadwal tugas menyampaikan firman Tuhan di persekutuan doa atau kelompok sel. Jemaat tidak dilayani oleh orang yang mumpuni (skillful), sehingga pemahaman mereka terhadap firman Tuhan juga dangkal. Padahal jika kita melihat para hamba Tuhan di Alkitab, memperoleh pendidikan dari Tuhan yang tidak singkat. Perbedaan waktu pembinaan pasti berdampak pada kualitas hasil binaannya.

Yang lebih memperihatinkan adalah pendidikan bagi hamba Tuhan (baca: pendeta) pun ingin serba singkat. Hanya 3-6 bulan langsung bergelar MA, MDiv., bahkan doktor teologia.  Lama waktu pendidikan diganti dengan sejumlah uang pendidikan, padahal keduanya sama sekali tidak ekivalen, apalagi identik. Mari kita mau lebih hati-hati dalam menerima para hamba Tuhan. Jauh lebih baik menerima mereka yang telah mendapatkan pendidikan formal dengan waktu yang wajar, daripada menerima mereka yang lulus secara instant namun kualitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Ketidakseimbangan

             Kecenderungan lainnya adalah terjadinya ketidakseimbangan di pelbagai bidang. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, ada yang tidak seimbang dalam pengajaran, yaitu antara yang doktrinal dan praktikal. Di satu sisi ada yang menyampaikan pengajaran sangat dogmatis dan dogmatis sehingga nampak terlalu teoritis. Di sisi yang lain, pengajran disampaikan terlalu praktis dan keluar dari akar doktrin yang Alkitabiah. Seharusnya kita meneladani pengajaran Tuhan Yesus Kristus yang dilanjutkan oleh pengajaran para rasul, yang menyeimbangkan antara yang dogmatis dengan yang praktis.

Kedua, ketidakseimbangan penerapan kebenaran firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang menekankan hidup kekristenan dengan pelbagai bentuk penderitaan, sehingga seakan-akan keselamatan akan diperoleh bukan lagi sebagai anugerah, melainkan sebagai kompensasi atas penderitaan yang dialami. Di sisi lain ada yang terlalu menekankan keberhasilan dan kemuliaan tetapi tanpa melalui penderitaan. Penderitaan dipandang sebagai kutukan dosa. Alkitab mengajarkan bahwa kemuliaan itu merupakan kelanjutan dari penderitaan. Penderitaan yang kita alami karena berbuat baik justru merupakan bentuk iman Kristiani (1 Pet. 2:21), dan di balik penderitaan aka nada kemuliaan. No cross, no crown. Tidak ada salib tidak ada kemuliaan. Keduanya harus disampaikan secara seimbang, agar jemaat tidak frustrasi karena penderitaan yang dialami, dan tidak sombong karena berkat yang dia peroleh.

           

Magistis

            Trend pelayanan lainnya adalah munculnya upaya atau rekayasa magistisasi atau memagiskan pelbagai bentuk sarana pelayanan. Tentu kita percaya bahwa di dalam urapan Roh Kudus ada kuasa yang mampu menerobos segala tembok yang dibangun oleh keangkuhan manusia. Di mana ada Roh Allah di situ ada kemerdekaan (2 Kor. 3:17). Namun tidak berarti bahwa kita bebas atau merdeka menggunakan pelbagai peristiwa dalam Alkitab untuk ditiru secara hurufiah pada masa kini, dan dibuang dari konteksnya pada masa itu.

Bahwa ada orang yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui bayangan Rasul Petrus (Kisah 5:15), dan ada yang disembuhkan karena saputangan Rasul Paulus (Kisah 19:12), Ada pula yang disembuhkan karena dan doa dan olesan minyak (urapan) (Yak. 5;14), dan sebagainya. Itu adalah demonstrasi kuasa Allah yang mendatangkan mukjizat. Gereja Tuhan yang berdiri pada pengajaran Alkitab adalah Gereja yang tetap percaya akan mukjizat. Namun yang disayangkan adalah adanya rekayasa atau pemaksaan secara hurufiah dan kurang ditekannya inti dari peristiwa Alkitab itu. Akibatnya banyak jemaat yang menggangap pelbagai bentuk sarana pelayanan itu sebagai jimat.

Trend semacam itu sepertinya merupakan pengulangan dari apa yang pernah terjadi di Perjanjian Lama. Ketika umat Israel menggerutu kepada Tuhan karena bosan akan manna, Tuhan mendisiplin mereka dengan membiarkan mereka digigit ular-ular tedung yang sangat berbisa. Kemudian mereka berseru kepada Tuhan. Tuhan menyuruh Musa agar membuat ular tembaga dan menyuruh umat Tuhan agar memandang ular tembaga itu untuk memperoleh kesembuhan. Mukjizat pun terjadi. Yang memandang ular tembaga memang memperoleh kesembuhan (Bil. 21:4-9). Namun karena tidak diawasi dengan baik, akhirnya umat Tuhan mengkramatkan ular tembaga itu dan memberikan persembahan dalam rangka memuja ular tembaga itu, yang disebut Nehustan. Umat Tuhan jatuh ke dalam penyembahan berhala hingga berabad-abad lamanya (2 raja 18:4).

Sikap Dualistis: Profan dan Sakral

             Pada masa kini masih ada pelayanan yang memiliki trend memilah antara pelayanan yang bersifat profan dan pelayanan yang rohani. Ada yang sangat intens hanya dalam pelayanan profan diakonia karitatif dan tidak memerhatikan pertumbuhan iman dan rohani orang tersebut. Sementara yang lain hanya kegiatan rohani, dan sama sekali tidak memerhatikan kebutuhan jasmani yang ada. Alkitab mengajarkan pelayanan yang holistik yaitu menyeluruh terhadap kebutuhan manusia, baik secara rohani, jiwani dan badani (1 Tes. 5;23). Yesus Kristus sendiri menyatakan kebenaran Kerajaan Allah namun juga disertai dengan melakukan mukjizta dalam memenuhi kebutuhan makan lebih dari 5000 orang laki-laki (Yoh. 6:1-15). Para rasul mengatur dengan sebaikn-baiknya pelayanan doa dan firman, tetapi juga memerhatikan kebutuhan diakonia pada janda (Kisah 6:1-7).

Gereja Tuhan seharusnya melakukan keduanya secara seimbang. Unsur salib Tuhan Yesus Kristus adalah vertical dan korisontal. Hukum kasih juga menyangkut dua aspek itu: mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia (Matiua 22:37-39). Anak-anak diajar mengenal Kristus dengan kisah-kisah Alkitab, tetapi juga dibantu dengan beasiswa sehingga dapat menempuh studi sebaik-baiknya. Orang dewasa diajar untuk tidak menyimpan kepahitan dan kekecewaan yang bisa membuat sakit penyakit berdatangan, tetapi juga menyediakan klinik bagi mereka yang sakit. Seluruh jemaat diajar untuk berharap pada Allah Bapa yang pasti akan memelihara anak-anak-Nya, tetapi juga dibina dalam entrepreneurship atau kewirausahaan.

Pengabaian Amanat Agung

             Kita patut bersyukur dengan semakin baiknya sikap toleran antarumat beragama, di mana satu dengan yang lain saling menghormati. Namun sikap toleransi ini tidak boleh mematikan semangat melaksanakan Amanat Agung Tuhan kita Yesus Kristus. Injil atau Kabar Baik harus tetap diberitakan … baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Tentunya bukan dengan memaksakan iman kepada mereka, melainkan memberitahukan siapa Yesus Kristus yang sebenarnya. Rasul Petrus setia terhadap misi Allah dengan mendatangi Kornelius, karena sekalipun Kornelius seorang yang religious, ia tetap membutuhkan Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya (Kisah 10:1-48). Ketidaktaatan dalam melaksanakan Amanat Agung merupakan dosa besar dalam kehidupan umat Tuhan.

Jadi, secara iman, kita harus eksklusif, namun dalam kehidupan bersama dengan seluruh lapisan masyarakat kita bersikap inklusif, pluralis dan humanis.

Pengabaian Kategorial

             Trend terakhir yang akan kita lihat adalah pengabaian kategorial. Maksudnya adalah ada kelompok usia tertentu yang diabaikan dalam pelayanan. Ada yang mengabaikan pelayanan anak, dan ada yang mengabaikan pelayanan terhadap generasi muda.

Bangsa Indonesia akhir-akhir ini sedang ‘menikmati’ bonus demografi, yaitu munculnya generasi muda yang begitu berlimpah. Jika mereka diabaikan begitu saja penanganannya, bukan mustahil akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Selama ini mereka hanya menjadi obyek pelayanan, dan tidak diikutkan untuk berkontribusi dalam kepemimpinan jemaat. Terjadinya peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia di satu sisi sangat menggembirakan, karena banyak orang sehat di usia senja. Namun di sisi lain hal itu mendatangkan bahaya bagi gereja Tuhan, karena mereka yang senior enggan melepaskan posisi mereka kepada generasi muda.

Sementara itu, generasi muda itu sendiri kurang memperoleh tantangan, akhirnya mereka menciptakan tantangannya sendiri dengan tawuran, bermain game di dunia maya, dan menjadi cuek dengan apa yang terjadi di sekitar mereka.

Sebaliknya, ada pula pelayanan yang mengabaikan generasi tua. Ada gereja yang penuh dengan anak muda dan lupa bahwa nantinya mereka akan menjadi tua. Gereja lalu membuat ‘tidak betah’ generasi tua, dan mengharapkan secepatnya mereka hengkan dari gereja tersebut. Caranya? Dengan sengaja memunculkan lagu-lagu baru yang sulit dinyanyikan generasi tua. Seharusnya gereja mempersiapkan diri mereka masuk dalam kekekalan, dan bukannya membuat mereka menjadi terpinggirkan.

Jadi pelayanan harus diseimbangkan secara kategorial. Seluruh lapisan usia adalah usia emas karena Tuhan yang menciptakan mereka. Dari kanak-kanak hingga lanjut usia hendaknya dilayani dengan sebaik-baiknya. Baik laki-laiki atau perempuan juga dilibatkan dalam pelayanan sehingga mereka dapat menyalurkan talenta yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka.

Penutup

Dengan melihat beberapa trend pelayanan di atas, kita harus benar-benar menyadari apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan pelayanan kita. Apa yang belum baik kita ubah, dan apa yang sudah baik kita pertahankan, bahkan kita tingkatkan lebih baik lagi agar nama Tuhan Yesus Kristus semakin dimuliakan.-


[1]     Peter Salim, The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Vol. 2, “trend” (n.k.: media Eka Pustaka, 2006), 2423.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s