KESEMBUHAN ILAHI

  

Aku juga memperbanyak buah pohon-pohonanmu dan hasil ladangmu, …

Yehezkiel 36:30

 Salah satu mukjizat yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang akhir-akhir ini adalah mukjizat kesembuhan ilahi. Banyak orang mengalami sakit-penyakit, baik yang ringan maupun yang berat. Beberapa waktu lalu Bapak Gembala Jemaat pernah menyampaikan khotbah seri tentang sebab musabab timbulnya sakit-penyakit. Setidaknya ada 10 (sepuluh) penyebab mengapa seseorang bisa sakit: ketidaktaatan, penyembahan berhala, keserakahan, kebimbangan, pekerjaan Iblis, sakit hati dan kepahitan, beban pelayanan, pemberontakan, usia lanjut, dan bagi kemuliaan Tuhan. Namun apapun penyebab penyakitnya, Allah kita adalah Yehovah Rapha, TUHAN yang menyembuhkan! Kini kita akan melihat salah satu peristiwa kesembuhan ilahi yang Tuhan Yesus kerjakan, yaitu ketika Ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya (Yoh. 9).Dalam peristiwa ini ada beberapa pelajaran penting, yaitu rahasia mengalami mukjizat kesembuhan ilahi yang sejati.

Pertama, karena Yesus lewat! Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat … (ayat 1). Tahukah Anda bahwa Yesus tidak pernah melakukan suatu tindakan tanpa suatu tujuan yang pasti? Ia selalu mempunyai tujuan, termasuk ketika Ia berjalan dan melihat ada orang yang buta sejak lahirnya. Apa tujuan-Nya? Menyembuhkan orang buta itu! Peristiwa dan mukjizat penyembuhan yang akan dilakukan-Nya akan mendatangkan kemuliaan bagi Bapa. Jadi kita dapat mengalami mukjizat Tuhan hanya apabila ia sendiri yang berdaulat mau melakukannya, bukan karena keinginan kita atau orang lain. Berdoa bagi kesembuhan diri sendiri? Harus! Mendoakan orang lain bagi kesembuhannya? Itu juga harus! Namun doa kita tidak secara otomatis mengatur atau mengklaim Tuhan. Ia punya maksud dan tujuan tersendiri, yang tidak bisa digugat siapa pun. Berdoa adalah bagian kita. Menyembuhkan dan mengadakan mukjizat adalah hak dan otoritas Tuhan Yesus sepenuhnya!

Kedua, tahan terhadap ejekan atau olokan (ayat 2). Murid-murid Yesus memberikan penghakiman yang salah. Mereka menduga bahwa kebutaan yang diderita oleh orang ini sejak lahirnya adalah perbuatan dosanya atau dosa orang tuanya. Namun Tuhan Yesus menyatakan bahwa kebutaan itu bukan akibat dari dosanya atau dosa kedua orang tuanya, melainkan supaya pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Sebagaimana umumnya orang buta, biasanya mereka lebih peka mendengar suara-suara di sekitarnya. Itu berarti apa yang disampaikan oleh para murid bisa saja terdengar oleh orang buta itu. Mendengar itu ia bisa saja tersinggung dan marah. Namun ternyata tidak demikian. Berarti orang buta ini tahan terhadap ejekan atau olokan, bahkan penghakiman dari para murid. Hanya orang yang tahan terhadap suara-suara megatif di sekitarnya yang bisa mengalami mukjizat Tuhan. Yang penting bukan apa kata orang, tetapi apa kata Tuhan kita Yesus Kristus.

Ketiga, penyerahan kepada cara Tuhan Yesus bekerja (ayat 6). Sebenarnya Tuhan Yesus bisa langsung menjamah mata orang buta itu sambil berkata, “Jadilah kepadaku menurut imanmu.” Bukankah cara seperti itu yang Ia lakukan hal itu terhadap dua orang buta lainnya (Mat. 9:27-31)? Namun kali ini Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta itu. Wow, suatu cara yang baru! Itulah Tuhan kita Yesus Kristus. Ia memiliki banyak cara untuk menolong anak-anak-Nya. Banyak cara untuk menyatakan kuasa dan mukjizat-Nya. Orang buta tadi tidak menuntut Tuhan Yesus menolongnya sesuai dengan car ayang diinginkannya. Ia pasrah kepada Tuhan. Apapun cara yang digunakan-Nya, diyakininya pasti akan mendatangkan pemulihan dan kesembuhan.

Bandingkan dengan kasus Naaman dalam 2 Raja-raja 5. Ia adalah panglima Kerajaan Aram yang tersohor, namun mengidap penyakit kusta. Segala upaya telah dilakukannya, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh. Seorang budak perempuan yang ditawan dari negeri Israel yang dipekerjakan di rumahnya memberitahu isteri Naaman bahwa ada seorang nabi di Israel, yaitu Nabi Elisa, yang dipakai Tuhan untuk melakukan mukjizat kesembuhan. Naaman pun pergi ke sana, dan Nabi Elisa menyuruhnya untuk pergi mandi di Sungai Yordan tujuh kali. Naaman nyaris tak tersembuhkan karena pada mulanya ia menolak cara yang dianggapnya sangat sederhana itu. Dalam pengalamannya, biasanya orang yang berusaha menyembuhkan penyakitnya berseru kepada ilahnya dan menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian [enyakit itu sembuh (2 Raja 5:11). Naaman mencoba memaksa Tuhan melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Ia mencoba membatasi cara kerja Tuhan. Hal seperti inilah yang sama sekali tidak boleh kita lakukan.

Kita harus percaya bahwa Allah kita kreatif. Ia bisa menyatakan mukjizat dan kesembuhan dengan banyak cara, termasuk melalui dokter. Tidaklah berdosa jika kita memeriksakan diri ke dokter, asalkan iman kita tidak ditujukan kepada dokter itu, melainkan tetap kepada Tuhan. Sekalipun Tuhan punya banyak cara, tidak berarti semua cara bisa digunakan untuk kesembuhan kita. Kita harus waspada terhadap cara pengobatan alternatif, karena ada yang bertentangan dengan firman Tuhan. Ada model pengobatan new age seperti tenaga prana, yoga, dan sebagainya, yang jelas bertentangan dengan iman Kristiani. Sebaiknya berkonsultasi dengan hamba Tuhan jika akan menjalani terapi atau pengobatan alternatif.

Keempat, ketaatan terhadap perintah Tuhan (ayat 7). Orang buta itu menerima cara Tuhan Yesus, bahkan ia juga menaati perintah-Nya agar pergi membasuh dirinya ke Kolam Siloam. Akhirnya orang buta ini sembuh. Matanya bisa melek. Dalam ketaatan ada kuasa mukjizat. Orang yang taat tidak akan banyak bertanya untuk apa ketaatan itu dilakukan, atau manfaat apa yang akan diperoleh dengan ketaatannya itu. Orang buta itu masih dalam keadaan buta ketika Ia menaati perintah Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus pun belum berkata apa-apa tentang akibat dari ketaatannya. Orang buta itu taat dengan penuh penyerahan diri, dan ia mengalami mukjizat Tuhan.

Ini sama halnya dengan kesepuluh orang kusta yang datang kepada Tuhan Yesus dan memohon belas kasihan-Nya. Lalu Ia memandang mereka dan berkata“Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementar amereka di tengah jalan mereka menjadi tahir (Lukas 17:11-19). Sayangnya kemudian hanya satu orang yang langsung kembali kepada Tuhan Yesus untuk mengucapkan terimakasih atas mukjizat yang telah dialaminya. Kesepuluh orang kusta itu taat untuk pergi memperlihatkan diri kepada iman-imam, dan ketika mereka taat, mukjizat kesembuhan terjadi!

Kelima, pertumbuhan rohani (ayat 12, 17, 35-39). Sesudah orang itu sembuh dari kebutaannya, ia banyak ditanya orang tentang proses kesembuhan yang dialaminya, dan apa pendapatnya tentang Yesus Kristus yang telah menyembuhkannya. Yang menarik di sini ialah jawaban orang buta yang telah dicelikkan Tuhan itu. Ketika para tetangganya mengorek keterangan dari dia tentang siapa Yesus, jawabnya: “Aku tidak tahu.” Kemudian ketika ia ditanya oleh orang Farisi tentang siapa Yesus, ia menjawab: “Ia adalah seorang nabi.” Itu berarti sekalipun ia telah melek mata jasmaninya, tetapi belum melek mata rohaninya. Ia belum melihat Tuhan Yesus Kristus sebagaimana adanya. Ia keliru karena hanya melihat Yesus Kristus sebagai nabi. Oleh sebab itu Tuhan Yesus memandang perlu untuk sekali lagi menemui orang ini. Tuhan Yesus bertemu dengannya dan bertanya: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya?” Kemudian Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Dialah Anak Manusia yang telah datang ke dalam dunia ini. Orang itu pun akhirnya melek secara rohani, mengenal Tuhan Yesus dengan sebenar-benarnya, … lalu ia sujud menyembah-Nya. Mukjizat jasmani dilanjutkan dengan mukjizat rohani. Apa gunanya mata jasmani melek tetapi mata rohani tetap buta? Jika mata rohani juga melek, seseorang akan mengenal Yesus Kristus dengan benar dan sujud menyembah Dia, karena Dia bukan sekedar nabi, melainkan Anak Allah yang hidup, yang berkuasa atas sorga, bumi, dan di bawah bumi, Raja segala raja, Tuhan segala tuan!

Dengan mukjizat kesembuhan yang kita alami, kita akan menghasilkan buah kesaksian kapan saja dan di mana saja kita berada. Jadi Tuhan dapat memperbanyak buah pohon-pohonan kita dan hasil ladang kita, yaitu buah kesaksian yang menjadi berkat bagi banyak orang, baik kesaksian melalui perkataan maupun sikap dan perbuatan kita, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan!


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s