DARI NAZARET KE BETLEHEM

Pendahuluan

            Dalam setiap renungan Natal, kita bisa menggali kekayaan pelajaran penting dari kisah Natal dengan limpahnya. Mulai dari nubuatan para nabi tentang kedatangan Mesias atau Kristus dalam Perjanjian Lama, hingga para tokoh penting seperti Yusuf, Maria, para majus, para gembala, bahkan Raja Herodes Agung. Semua pelajaran itu berpusat kepada satu hal yang mahapenting: kasih Allah bagi dunia ini yang dinyatakan dengan mengaruniakan Yesus Kristus, Putera-Nya Yang Tunggal itu guna menyelamatkan manusia berdosa (Yohanes 3:16). Jadi pusat berita Natal adalah Yesus Kristus, yaitu Allah yang datang menjelma atau berinkarnasi menjadi manusia.

Salah satu hal penting lainnya yang tidak bisa diabaikan adalah tempat atau lokasi yang disebutkan dalam peristiwa Natal itu, yaitu Nazaret dan Betlehem. Dengan mengenal kedua kota ini secara lebih mendalam, saya berharap kita semua memperoleh pemahaman yang lebih baik lagi tentang Natal.

Nazaret

Arti nama “Nazaret” tidak jelas, tetapi nampaknya dikaitkan dengan kata Ibrani nazir yang berarti “dipisahkan”, atau nēşêr yang berarti “tunas” (bdk. Mat. 2:23). Kota ini terletak di propinsi Galilea, tempat tinggal Yusuf dan Maria.

Lokasinya berada di pertengahan jalan antara Danau Galilea dan Gunung Karmel. Nazaret terletak di perbukitan ke arah utara dataran Esdraelom, sehingga dari sana ada pemandangan yang jelas ke arena peperangan zaman kuno. Bahkan juga Nampak panorama yang indah: ke arah utara bisa nampak Gunung Hermon, ke arah barat Nampak Laut Tengah, dan ke arah timur  nampak pegunungan Basan yang terkenal subur dan banyak ternaknya.

Kota Nazaret tidak disebutkan baik dalam Perjanjian Lama (PL), dalam Apokrifa, dalam Talmud (catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah), ataupun dalam tulisan Josephus, seorang ahli sejarah Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa pada zaman Yusuf dan Maria, kota ini sama sekali tidak terkenal, terpencil, dan kalah tenar dengan kota Seforis yang terletak di sebelah utaranya. Penduduk Nazaret memperlihatkan sifat tertentu sebagai orang Yahudi udik dan totok, sehingga orang Nazaret sering dipandang rendah. Perhatikan pernyataan Natanael ini, “Mungkinkah sesuatu yang baik  dating dari Nazaret?” (Yoh. 1:46). Beberapa penafsir menyatakan bahwa Natanael melihat Nazaret sama pelosoknya dengan Betsaida, tempat tinggalnya, sehingga ia merasa kotanya tersaingi.

Malaekat Gabriel disuruh Allah menemui seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernamaYusuf dari keluarga Daud, yaitu Maria. Gabriel menyampaikan pesan Allah bahwa Maria beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Maria akan mengandung oleh Roh Kudus dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia harus menamai-Nya Yesus.

Di kemudian hari, Yusuf yang bekerja sebagai tukang kayu dan Maria mengasuh dan membesarkan Yesus di Nazaret, sehingga Yesus juga disebut “Orang Nazaret” sebagaimana dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, yaitu dalam Yesaya 11:1 di mana Yesaya menubuatkan bahwa suatu “tunas” (Ibr. nēşêr) akan muncul dari tunggul Isai. Selanjutnya pengikut Yesus Kristus disebut dengan dua istilah: Kristen (Yun. cristianoV – KPR 11:26) dan Nasrani (Yun. nazwraioV – orang dari Nazaret – KPR 24:5). Kedua-duanya sebenarnya merupakan ejekan. Yang pertama berarti “pengikut Kristus” dan yang kedua berarti “sekte/ajaran sesat yang diajarkan oleh orang dari Nazaret (yaitu Yesus Kristus)”.

Betlehem

            Betlehem (artinya “rumah roti”) adalah sebuah kota kecil di propinsi Yudea, berjarak 9 km dari Yerusalem. Dulu kota ini bernama Efrata dan di sinilah Rahel, isteri Yakub, dikuburkan (Kej. 35:19). Dengan demikian nama lengkapnya menjadi Betlehem-Yehuda atau Betlehem Efrata, untuk membedakannya dari kota lain yang mempunyai nama yang sama (yaitu Betlehem di wilayah suku Zebulon, 11 km baratlaut Nazaret (lihat peta).

Ada beberapa peristiwa yang menarik dari kota ini. Sebagai ‘rumah roti’ mestinya di Betlehem selalu melimpah dengan makanan. Namun pada zaman hakim-hakim, bersama dengan wilayah lainnya kota ini pernah mengalami kelaparan, namun kemudian Tuhan memulihkannya dan memberikan makanan kepada mereka (Rut 1:1-6). Di kota inilah Boas tinggal, dan memperisteri Rut – seorang perempuan Moab yang beriman kepada Yahweh, Allah Israel – lalu memperanakkan Obed, dan Oben memberanakkan Isai, dan Isai memperanakkan Daud. Itulah sebabnya betlehem juga disebut sebagai “Kota Daud” (Luk. 2:11).


Kota ini dinubuatkan oleh Mikha pada abad ke-7 SM sebagai tempat kelahiran Sang Mesias, atau Kristus (Mikha 5:1). Karena Yusuf adalah keturunan Daud, maka ketika Kaisar Agustus memerintahkan dilaksanakannya sensus, berangkat dari Nazaret di Galilea ke Betlehem-Yehuda, supaya didaftarkan bersama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung (Luk. 2:5). Perjalanan pasangan yang diberkati Tuhan dari Nazaret ke Betlehem ini mengajarkan banyak hal bagi kita.

Dari Nazaret Ke Betlehem

            Perjalanan yang ditempuh oleh Yusuf dan Maria dari Nazaret ke Betlehem pada zaman itu bukanlah suatu hal yang mudah. Karena mereka adalah orang-orang sederhana, maka sarana transportasi yang bisa mereka pasti bukan kereta kuda. Kemungkinan mereka berjalan kaki atau menggunakan keledai tunggangan. Bavinck menceritakan kisah perjalanan itu demikian (2007:56):

Jalan dari Nazaret ke Betlehem panjang dan sukar ditempuh. Mula-mula mereka terus menuju ke timur sampai mereka menyeberangi Sungai Yordan di sebelah selatan Danau Tiberias. Kemudian jalan itu membelok kea rah selatan hingga sebelah timur kota Yerikho. Di situ mereka harus menyeberangi Sungai Yordan lagi. Mula-mula jalan itu masih menyusur Lembah Yordan, tetapi segera kemudian menempuh daerah tandus yang berbukit-bukit. Melalui Betania mereka terus menuju ke Yerusalem. Jauhnya Betlhemen dari kota itu masih ada 8 kilometer, jadi kira-kira dua jam perjalanan. … Apakah mereka saja yang pergi atau beserta orang-orang lain, apakah mereka berjalan kaki atau mengendarai keledai, tidak diterangkan di dalam Injil. Biasanya perjalanan dari Galilea ke Yudea makan waktu kira-kira tiga hari. Hari-hari itu tentu sangat sukar bagi Yusuf dan Maria, … Jikalau mereka bermalam di Yerusalem, – dan itu mungkin sekali – dapatlah mereka sampai ke Betlehem esok paginya.

Dari perjalanan tersebut ada beberapa pelajaran penting.[1] Pertama, sekalipun Yusuf dan Maria tinggal di kota kecil Nazaret, yang terpencil dan agak tersembunyi dari pandangan manusia, tetapi bisa tetap dilawat dan diberi kasih karunia oleh Allah. Karya Allah tidak bisa dibatasi oleh apapun, termasuk lokasi di mana seseorang bertempat tinggal. Hal ini berlanjut sampai kepada tempat pelayanan kita berada. Ada hamba Tuhan yang berkata bahwa jika tempatnya strategis, di tepi jalan, bisa diketahui banyak orang, akses atau jalan masuknya mudah dijangkau alat transportasi pasti akan didatangani banyak orang. Hal-hal itu memang penting diusahakan. Tetapi jika tidak, kuasa Allah bisa tetap bekerja. Hadirat dan kuasa-Nya itulah yang mampu menarik orang-orang untuk hadir. Jika mereka bisa menikmati berkat rohani dalam pelayanan di gereja itu, maka mereka akan datang – betapapun jauh dan sulitnya jalan yang harus ditempuh.

Kedua, penduduk Nazaret dilecehkan orang, tetapi Allah tetap menghargai mereka. Ini adalah prinsip yang kekal: apa yang dianggap bodoh, lemah dan hina oleh manusia, dipilih Allah (1 Kor. 1:27-29). Jangan berkecil hati ketika manusia di sekitar kita merendahkan kita. Kita tidak boleh kecewa, karena penilaian manusia bisa keliru dan sangat subjektif. Manusia hanya memandang apa yang nampak di depan mata jasmaninya, sedangkan Allah melihat sampai di kedalaman hati kita. Tuhan tetap dapat memilih dan memakai kita, justru untuk mempermalukan mereka yang mengatakan dirinya berhikmat, kuat dan mulia.

Ketiga, Yusuf dan Maria semula tidak tahu harus melahirkan di mana. Mereka bukan ahli-ahli kitab yang bisa mengetahui di mana Mesias dilahirkan. Namun Allah menggerakkan hati Kaisar Agustus untuk mengadakan sensus penduduk, sehingga kemudian Yusuf dan Maria “terpaksa” harus ke Betlehem. Mereka tidak memberontak atau memprotes keputusan sensus itu. Mereka orang sederhana, tidak memiliki banyak uang untuk mudik ke Betlehem, namun mereka tetap menaatinya. Jutsru di betlehem, di sanalah Sang Juruselamat dilahirkan. Artinya, Allah tetap mampu mengatur segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya, termasuk mengendalikan orang-orang lain tanpa disadari oleh orang itu sendiri. Kaisar Agustus tentu tidak sadar bahwa perintahnya yang bersifat mutlak itu justru menggenapi nubuatan dalam Perjanjian Lama. Oleh sebab itu apabila kita terkena pelbagai peraturan yang ada di sekitar kita, kita harus belajar menaatinya. Tanpa kita sadari, bisa saja ketaatan kepada manusia menggenapi rencana Allah yang besar. Ketaatan semacam itu mendatangkan berkat bagi banyak orang.

Keempat, ketaatan kepada Allah diwujudkan oleh Yusuf dan Maria dalam pengorbanan yang besar. Mereka harus menempuh perjalanan yang tidak mudah, namun Allah memberi kekuatan kepada mereka sehingga rencana Allah digenapi. Orang yang berpikir bahwa hidup ini akan selalu nyaman dan tenang ketika kita taat kepada Tuhan perlu merenungkan kembali perjalanan Yusuf dan Maria ini. Yang terjadi justru sebaliknya, orang yang taat akan tetap menghadapi adanya tantangan. Tidak semuanya berjalan lancar. Bisa ada hambatan di sana-sini, namun komitmen terhadap ketaatan itu mendatangkan kekuatan dari Allah untuk melakukannya. Allah tidak pernah mengijinkan pencobaan yang lebih besar dari yang dapat ditanggung oleh anak-anak-Nya datang atas kita.

Kelima, ketaatan kepada Allah tidak membuat mereka memperoleh dispensasi untuk menentang konteks setempat. Sebenarnya ada rute yang jauh lebih singkat yang bisa ditempuh dari Nazaret ke Betlehem, tetapi hal itu tidak mereka lakukan. Mengapa? Karena harus melewati daerah Samaria. Yusuf dan Maria adalah orang-orang Yahudi yang tidak bergaul dengan orang Samaria (Yoh. 4:9). Itulah sebabnya mereka menempuh rute lain yang lebih jauh. Kehidupan dan pelayanan kita berada dalam budaya pelayanan tertentu. Kita harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan budaya pelayanan yang ada. Gereja Isa Almasih memiliki budaya pelayanan sendiri. Misalnya, para pemain musik dari yang non-rohaniwan merupakan tenaga sukarelawan (volunteer) dari tengah-tengah jemaat sendiri. Mereka tidak menerima honor atau berkat kasih ketika mereka melayani di bidang musik. Mungkin ada gereja lain, yang memberikan honor setiap kali ada jemaat yang melayani di bidang musik. Silakan saja, karena itu budaya mereka. Tetapi dalam budaya pelayanan di lingkup Gereja Isa Almasih berbeda. Ini bukan masalah mana yang lebih baik, melainkan belajar menaati budaya yang tentunya tidak bertentangan dengan firman Allah.

Namun demikian, sedikit fleksibilitas dalam bentuk terobosan (breakthrough) bisa saja dilakukan, jika memang Tuhan yang menyuruhnya. Misalnya, dalam Yohanes 4 Tuhan Yesus sendiri justru lewat Samaria. Itu karena Ia membawa misi guna menyelamatkan seorang perempan berdosa. “Pembiasan” dari budaya itu ternyata menghasilkan pertobatan jiwa. Artinya, apabila terobosan itu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat, bisa saja dilakukan. Namun, hal itu tidak dilakukan terus-menerus oleh Tuhan Yesus. Dalam kesempatan lain, ketika Ia hendak melewati daerah Samaria bersama murid-murid-Nya, dilarang oleh orang-orang di sana. Yohanes marah, tetapi Yesus menegurnya, dan mengajak mereka melalui jalan lain (Lukas 9:51-56).

Penutup

            Perjalanan Yusuf dan Maria dari Nazaret ke Betlehem memberikan pelajaran penting dalam hidup ini: pelajaran tentang lawatan Allah yang tidak bisa dibatasi oleh lokasi; panggilan dan pilihan Allah atas orang-orang yang dianggap bodoh, lemah, dan hina; cara kerja dan kendali-Nya atas segala sesuatu demi penggenapan rencana-Nya; kerelaan mengalami penderitaan demi menaati perintah Allah; pentingnya mengikuti budaya dalam konteks di mana berada dengan tetap siap melakukan breakthrough apabila memang Ia menginginkannya.


[1]   Pada tahun 2008, Seorang responden BBC bernama Alim Makbul menuliskan catatan harian secara online dan direkam dengan baik saat ia melakukan napak tilas dari Nazaret ke Betlehem, mengikuti rute yang dibuat oleh Yusuf dan Maria sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas. Lihat di sini

3 thoughts on “DARI NAZARET KE BETLEHEM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s