HIDUP SEORANG PENYEMBAH

  1. Pendahuluan

Di Warta Jemaat tanggal 6 Desember 2009 yang lalu kita telah belajar tentang ciri penyembahan Orang Majus, di mana mereka rela berkorban, suka menggali kebenaran, hidup dalam ketaatan, dan mempersembahkan pemberian yang menyukakan hati Tuhan.

Rick Warren dalam bukunya yang terkenal The Purpose Driven Life menyatakan bahwa ada 5 (lima) tujuan yang telah Allah tetapkan dalam kehidupan manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Tujuan yang pertama adalah agar manusia menyenangkan hati-Nya dengan hidup sebagai penyembah. Sedangkan keempat tujuan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah: untuk menjadi keluarga Allah, untuk menjadi serupa dengan Kristus, untuk melayani Allah, dan untuk menjalankan misi Allah. Penyembahan merupakan prioritas utama dalam kehidupan setiap orang percaya. Penyembahan harus menjadi gaya hidup orang percaya, dan bukan sekedar aktivitas pelayanan gerejawi belaka. Bagaimana seharusnya kehidupan seorang penyembah telah dipaparkan oleh Alkitab yang intinya terletak pada kata disiplin. Seorang penyembah yang benar harus seorang yang memiliki disiplin. Dalam hal apa saja ia harus disiplin akan bersama-sama kita renungkan melalui artikel ini.

  1. Alkitab dan Kedisiplinan

Kata disiplin (Ing. discipline) memiliki akar kata yang sama dengan murid (Ing. disciple), yang artinya adalah “kesediaan untuk diajar atau dilatih sehingga menghasilkan keteraturan, ketaatan, dan pengendalian-diri”. Dari definisi ini maka kedisiplinan:

  1. bukan sesuatu yang bersifat instan melainkan melalui proses pembelajaran, khususnya sebagai manusia baru di dalam Yesus Kristus (Kol. 3:10);
  2. kedisiplinan bukan sesuatu yang terus-menerus dipaksakan dari luar, melainkan kesadaran diri dari dalam, yaitu sebagai wujud mengasihi Tuhan (Mat. 22:37);
  3. kedisiplinan perlu latihan yang terus dilakukan secara bertahap (Mat. 25:21);
  4. kedisiplinan menghasilkan sesuatu yang sangat berguna baik bagi orang itu sendiri, dan juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, yaitu ketertiban dan keteraturan (1 Kor. 14:33,40);
  5. kedisiplinan merupakan wujud dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus karena berkaitan dengan salah satu sifat buah roh (Gal. 5:22-23).

Alkitab memberikan banyak contoh kehidupan orang yang berdisiplin, seperti: Musa, Yosua, Daud, Nehemia, Paulus, dan Yesus Kristus sendiri.

 

  1. Bidang-bidang Kedisiplinan Sebagai Penyembah

Salah seorang penyembah yang berkenan kepada Allah adalah Nabi Yesaya. Melalui kehidupan nabi ini, bertitik tolak dariYesaya 6:1-13 dan beberapa bagian lain kitab Yesaya kita akan belajar tentang kedisiplinan di pelbagai bidang.

  1. Disiplin waktu – Yesaya tahu kapan waktu untuk menyembah TUHAN (Yes. 6:1). Ia menyisihkan waktu untuk menyembah TUHAN. Ia tahu bahwa ia tidak boleh menyia-nyiakan kasih karunia TUHAN (Yesaya 49:8; 55:6). Seorang penyembah akan mengatur waktu sebaik-baiknya antara waktu untuk Tuhan, untuk keluarga, dan untuk pekerjaan.
  2. Disiplin dalam pertumbuhan rohani – Sebagai seorang penyembah, Yesaya adalah seorang yang mengenal siapa Allah dan siapa dirinya (Yes. 6:2-7). Allah begitu agung dan mulia, sedangkan manusia seperti rumput adanya (Yes. 40:1-31). Pengenalan ini akan menghasilkan sikap yang benar terhadap Allah, dan diri kita sendiri. Apa saja sarananya?

 

  • Melalui doa kita dapat mengenal Allah dan diri kita lebih baik. Doa bukan sekedar merupakan permohonan akan hal-hal yang bersifat materi, tetapi terlebih kepada hal-hal rohani. Doa bukan berpusat kepada diri sendiri, melainkan kepada Allah dan memiliki hati bagi bangsa-bangsa. Setiap orang percaya adalah rumah doa bagi segala bangsa (Yes. 56:7).
  • Melalui Alkitab dan buku-buku rohani kita dapat lebih mengenal Allah dan diri kita sendiri.
  • Melalui sikap yang tegas terhadap dosa dan selalu rindu hidup dalam kekudusan, karena kita menyembah Allah yang Mahakudus dan yang menghendaki agar kita hidup dalam kekudusan (Yes. 56:6-7; bdk. 1 Pet. 1:15-16)
  1. Disiplin dalam mencari jiwa yang tersesat – Yesaya bersedia menjadi utusan TUHAN karena ia tahu apa yang paling dirindukan TUHAN, yaitu keselamatan jiwa-jiwa (Yes. 6:8; 55:1). Hidup seorang penyembah adalah hidup yang misioner. Dimulai dengan mendoakan mereka, memberikan kesaksian kepada mereka, memberitakan Injil kepada mereka, dan hidup sebagai orang Kristen sejati sehingga menjadi teladan bagi mereka.
  2. Disiplin dalam pelayanan – Yesaya melayani TUHAN sesuai dengan panggilannya sebagai seorang nabi yang harus memberitakan hanya apa yang TUHAN mau, dan bukan apa yang ia mau (Yes. 6:9-10). Ia juga harus selalu bersedia untuk belajar sebagai seorang murid (Yes. 49:4-5). Kedisiplinan dalam pelayanan ditunjukkan dengan kedisiplinan mengikuti jam-jam latihan, jam-jam persekutuan bersama, ketaatan terhadap pemimpin dalam pelayanan, dan ketaatan kepada firman TUHAN. Ia juga disiplin dalan kesetiaan beribadah di tempat di mana TUHAN menempatkannya, dan bukan pergi kesana kemari sesuai dengan seleranya.
  3. Disiplin dalam berkorban – Yesaya memperoleh tugas yang berat dengan batas waktu yang tidak jelas dan dengan resiko besar. Ia bisa kehilangan nyawa dalam pelayanannya karena ucapan-ucapannya yang tegas dan penuh teguran kasih (Yes. 6:11-13). Seorang penyembah adalah seorang yang rela berkorban, sama seperti Kristus yang telah rela mengorbankan diri-Nya bagi kita (Yes. 53).
  4. Disiplin dalam pengendalian diri – Semula Yesaya main tunjuk kesalahan orang lain (Yes. 1:4; 5:8,11, 18, 20, 21, 22), tetapi sesudah diproses oleh Tuhan sendiri, sekarang ia lebih bisa mengendalikan diri. Pengendalian diri dalam kehidupan seorang penyembah termasuk dalam mengendalikan keuangan agar tidak konsumtif (Yes. 55:6); pengendalian diri dalam menahan emosi (Yes. 48:9).

 

  1. Penutup

 

Penyembahan kepada Tuhan tidak hanya ketika kita hidup di muka bumi ini saja, tetapi sampai kepada kekekalan. Kitab Wahyu menceritakan tentang segala makhluk yang sujud menyembah Tuhan. Mari kita terus memiliki kehidupan sebagai penyembah, yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, dari kemuliaan kepada kemuliaan, dengan berdisiplin lebih dari waktu-waktu sebelumnya

—– 00000 —–

petrus f. setiadarma

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s