PRINSIP BERKAT

blessings1. Pendahuluan

Saya percaya bahwa tidak ada seorang pun manusia yang hidupnya tidak ingin memperoleh berkat. Sayangnya ada orang yang tidak tahu tentang kehendak Allah berkaitan dengan berkat; yang lebih fatal lagi, ada orang yang tidak mau tahu tentang kehendak Allah berkaitan dengan berkat. Akibatnya, tidak sedikit orang yang memperoleh berkat dengan cara-cara yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan kehendak Allah; begitu pula dengan cara-cara menggunakannya. Bahkan tidak jarang banyak dosa dilakukan oleh manusia dengan menggunakan berkat-berkat itu. Tulisan ini dibuat agar kita memiliki acuan dari Alkitab berkaitan dengan berkat tersebut.

2. Makna Berkat

Istilah dalam bahasa Ibrani shalom atau bahasa Yunani eiréné berarti “damai sejahtera”. Memiliki damai sejahtera berarti memiliki kehidupan yang tenang, hati yang ayem tentrem, sekalipun berada di tengah badai. Memiliki damai sejahtera juga berarti memiliki berkat-berkat jasmani yang dianugerahkan oleh Tuhan sendiri (Zakh. 8:11-13).

Sebagai umat Kristiani kita harus menghindarkan diri dari 2 (dua) jenis pemahaman yang keliru tentang berkat. Yang pertama, pemahaman yang mengartikan dan mengidentikkan berkat jasmani dengan dosa dan hawa nafsu duniawi. Akibatnya, mereka kurang giat bekerja dan hidup dalam kemiskinan. Penganut paham ini berpendapat bahwa orang yang miskin pasti lebih rohani. Yang kedua, pemahaman yang mendewakan berkat-berkat jasmani sehingga terjerumus dalam Teologia Kemakmuran. Penganut paham ini menolak penderitaan sama sekali, dan mengukur kesuksesan sebagai pengikut Kristus dengan banyakny aberkat-berkat jasmani: jumlah mobil dan rumah yang dimiliki, atau besarnya perusahaan yang ditangani. Alkitab menyatakan bahwa Allah mempunyai maksud tertentu ketika ia memberkati umat-Nya. Berkat itu dicurahkan agar selanjutnya umat-Nya menjadi berkat bagi orang lain. Yang dimaksud dengan “hidup berkelimpahan” adalah bahwa berkat yang kita terima mengalir memberkati orang lain yang membutuhkan.

3. Kehendak Allah

  1. Saat Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, Ia memberkati mereka (Kej. 1:28).

  2. Saat Allah memanggil Abraham, Tuhan Allah berjanji untuk memberkatinya, dan menjadikan dia berkat berkat bagi banyak orang (Kej. 12:1-3; 24:1). Tuhan juga memberkati keturunan Abraham: Ishak (Kej. 26:12), Yakub (Kej. 27:27), Yusuf (Kej. 49:22-26).
  3. Allah juga memberkati seluruh umat Israel setiap kali mereka taat kepada-Nya (Ulangan 28:1-14).
  4. Yesus Kristus sendiri berkata bahwa Ia adalah Gembala Yang Baik yang memberikan hidup berkelimpahan, baik berkat rohani maupun berkat jasmani (Yoh. 10:10; bdk. Mazmur 23).
  5. Ketika Yesus naik ke surga Ia mengangkat kedua tangan-Nya dan memberkati murid-murid-Nya (Lukas 24:50-53).
  6. Rasul Paulus pun terus berdoa agar kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah memberkati seluruh jemaat sebagaimana nampak dalam bagian Salam dari surat-surat kirimannya kepada jemaat-jemaat.

4. Prinsip Memperoleh Berkat

    1. Berdoa memohon berkat

Yabez berdoa meminta agar Allah memberkatinya berlimpah-limpah, dan Allah pun mengabulkan permohonannya itu (1 Taw. 4:9-10). Dalam doa Bapa Kami Yesus pun mengajar kita untuk meminta agar Bapa memberikan makanan kepada kita setiap hari dengan secukupnya (Mat. 6:9-13). Tuhan sendiri berjanji bahwa mereka yang meminta akan diberi, yang mencari akan mendapat, dan yang mengetuk pintu, maka pintu dibukakan baginya (Mat. 7:7). Tentu saja kita berdoa bukan untuk memuaskan hawa nafsur kita, karena doa yang demikian tidak akan mendapatkan hasil apa-apa. Kita berdoa sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan kita (Yak. 4:3; Flp. 4:19).

    1. Bekerja keras

Berkat Tuhan tidak akan tiba di pangkuan kita jika kita hanya berdoa tetapi sama sekali tidak bekerja. Ungkapan Ora et Labora (Berdoa dan Bekerja) harus secara seimbang kita lakukan. Tuhan telah memberikan bakat dan talenta kepada setiap manusia untuk dapat bekerja mencari nafkah. Itulah sebabnya kita melihat adanya keragaman profesi: petani, nelayan, guru, pengusaha, pedagang, pegawai, dokter, dan sebagainya. Allah menentang orang-orang yang malas (Ams. 6:6); bahkan orang yang tidak bekerja dilarang makan (2 Tes. 3:10). Kita bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi kita harus bekerja keras agar kita juga mampu menolong orang lain yang berkekurangan (Efs. 4:28).

Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa kita boleh melakukan segala jenis pekerjaan asalkan bisa menghasilkan uang. Alkitab tetap memberikan panduan agar pekerjaan yang kita lakukan tetap sesuai dengan firman Tuhan (Kol. 3:17). Kita hanya boleh melakukan pekerjaan yang dihalalkan oleh firman Tuhan.

    1. Menabur

Ini adalah hukum alam, di mana setiap orang yang menabur banyak akan menuai banyak, dan orang yang menabur sedikit akan menabur sedikit (2 Kor. 9:6). Hanya mereka yang mau menabur dengan air mata yang akan menuai sambil bersorak-sorai (Maz. 126:5-6). Jika kita menabur kebaikan melalui berkat-berkat kita kepada orang yang membutuhkan, maka di kemudian hari tuaian akan terjadi. Bisa kita sendiri yang menuainya, bisa pula anak-cucu kita. Kita bisa menuainya di bumi ini, atau di surga! Menabur kebaikan sama artinya dengan investasi kehidupan, sebab firman Allah berkata bahwa di mana harta kita berada di sanalah hati kita berada (Luk. 12:34). Adalah jauh lebih baik jika kita letakkan harta kita di surga – di mana tidak ada ngengat dan karat – melalui pemberian kita kepada orang yang membutuhkan. Bukankah dengan memberikan sesuatu kepada orang yang lebih hina dari kita sama artinya dengan memberi kepada Tuhan Yesus sendiri (Mat. 25:40)?

    1. Bukan Hamba Uang

Ada orang yang workaholic atau gila kerja, sehingga tidak lagi memiliki waktu untuk keluarga, apalagai untuk Tuhan dan pelayanan. Semua waktu digunakan untuk mencari uang. Baginya uang adalah segala-galanya. Uang menjadi berhalanya. Menjadi hamba uang atau tamak akan uang merupakan akar segala kejahatan (1 Tim. 6:10). Dengan jelas Alkitab berkata bahwa kita tidak boleh menjadi hamba uang (Ibr. 13:5). Kita memang harus bekerja keras, tetapi bukan berarti lalu diperhamba oleh uang.

5. Prinsip Menggunakan Berkat

Alkitab juga mengajarkan tentang prinsip bagaimana menggunakan berkat-berkat yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Untuk dikembalikan dan dipersembahkan kepada Tuhan – Prinsip persepuluhan (10% dari berkat yang kita terima) adalah milik Tuhan yang harus dikembalikan kepada-Nya melalui gereja lokal di mana kita beribadah dan bertumbuh (Mal. 3:10). Selain itu kita harus memberikan persembahan kepada Tuhan sebagai persembahan syukur kita atas segala penyertaan dan pemeliharaan-Nya.
  2. Untuk memenuhi kebutuhan kita secukupnya – Berkat itu juga dapat kita gunakan untuk keperluan kita bersama keluarga sehari-hari secara wajar. Kita harus tetap hidup dalam kesederhaan dan tidak pamer kekayaan. Kebutuhan yang ada tentunya meliputi sangdang, pangan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, rekreasi, dan sebagainya. Kita sama sekali tidak boleh kuatir karena Bapa kita pasti memelihara kita (Mat. 6:31-33). Perlu diingatkan di sini bahwa memelihara orang tua kita yang dulu telah melahirkan dan memelihara kita, termasuk dalam bagian ini.
  3. Untuk mengembangkan usaha kita – Sebagian lagi dari berkat itu dapat kita gunakan untuk mengembangkan usaha kita. Firman Allah berkata bahwa jika kita setia dalam perkara (pekerjaan) yang kecil, maka kita akan dipercaya dalam perkara (pekerjaan) yang besar. Kita sah-sah saja dalam mengembangkan usaha kita asalkan tidak menelantarkan keluarga dan pelayanan (Yes. 54:2-3).
  4. Untuk menolong orang lain – Firman Tuhan juga berkata bahwa orang miskin – yaitu orang yang membutuhkan bantuan kita – akan selalu ada (Yoh. 12:8). Itu berarti bahwa menjadi tugas kitalah untuk menolong mereka. Kita bisa memberikan bantuan berupa sembako, beasiswa, atau bantuan lainnya. Sedapat mungkin kita tidak memberikan “ikannya” melainkan “kailnya” dan membimbing mereka bagaimana “cara menggunakan kail” itu melalui pelatihan ketrampilan dan sebagainya.
  5. Untuk ditabung bagi persiapan masa depan – Contoh kehidupan Yusuf begitu jelas di mana ia tidak menghambur-hamburkan berkat yang ada saat melimpah, melainkan mempersiapkan tabungan masa depan, sehingga ketika datang masa paceklik, ia masih bisa mencukupi kebutuhannya dan menolong banyak orang.

6. Prinsip Hutang Piutang

Selanjutnya yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada penulis adalah prinsip-prinsip Alkitab berkaitan dengan hutang piutang. Berikut ini penulis sampaikan beberapa prinsip penting sebagai berikut.

  1. Dalam keadaan tertentu kita tidak dilarang untuk meminjam uang atau baranglain (mis. Yesus meminjam seekor keledai dan meminjam sebuah tempat untuk perjamuan bersama murid-Nya), asal kita bertanggung jawab dalam pengembaliannya sesuai dengan perjanjian atau kesepakatan yang dibuat. Namun demikian kita tidak boleh memiliki kebiasaan untuk meminjam, karena Firman Tuhan berkata bahwa sebagai umat-Nya kita akan meminjami, bukan meminjam (Ul. 15:6).
  2. Besarnya pinjaman/kredit dianjurkan tidak melebihi sekitar 30% dari penghasilan kita. Kita harus berhati-hati agar tidak menjadi konsumtif, misalnya dalam penggunaan Kartu Kredit dan sebagainya.
  3. Sebaliknya, kita boleh juga meminjamkan uang atau barang lain kepada sesama kita. Jika yang kita pinjami adalah orang miskin dan pinjaman itu digunakan untuk makan, maka kita tidak boleh berlaku seperti debt collector dan tidak membebankan bunga uang kepadanya (Kel. 22:25).
  4. Tetapi jika yang meminjam dari kita adalah orang berada, dan tujuan pinjaman itu adalah utnuk pengembangan usahanya, kita boleh mengenakan bunga uang secara wajar sebagai upah jasa. Itu berarti urusan pinjaman dan bunga bank dapat dibenarkan, karena orang yang meminjam pada umumnya untuk pengembangan usaha.

—– 00000 —–

pdt. petrus f. setiadarma, mdiv.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s