
Injil Markus adalah Injil kedua dalam Perjanjian Baru Alkitab Kristen, yang merupakan Injil Sinoptik (bersama Matius dan Lukas). Injil ini dikenal sebagai yang paling pendek dan paling langsung, dengan gaya narasi yang cepat dan dinamis, sering menggunakan kata “segera” (Yunani: euthys) untuk menekankan urgensi pelayanan Yesus. Berikut uraian mengenai penulis, waktu dan tempat penulisan, serta tujuan penulisan, berdasarkan tradisi gereja awal, bukti internal Injil, dan konsensus mayoritas sarjana Alkitab.
1. Penulis
- Nama Penulis: Yohanes Markus (atau Markus saja), yang juga dikenal sebagai Markus dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus.
- Latar Belakang: Markus bukan salah satu dari 12 murid Yesus, melainkan rekan pelayanan rasul Petrus dan Paulus. Ia adalah sepupu Barnabas (Kolose 4:10) dan anak Maria, seorang wanita kaya di Yerusalem yang rumahnya menjadi tempat berkumpul jemaat awal (Kisah 12:12). Markus ikut dalam perjalanan misi pertama Paulus dan Barnabas, tapi meninggalkan mereka di Perga (Kisah 13:13), yang menyebabkan perselisihan antara Paulus dan Barnabas (Kisah 15:37-39). Kemudian, ia berdamai dengan Paulus (2 Timotius 4:11) dan menjadi “anak” rohani Petrus (1 Petrus 5:13).
- Bukti Penulisan: Tradisi gereja awal (sejak abad ke-2) secara konsisten mengaitkan Injil ini dengan Markus sebagai penulis, yang menuliskan kesaksian Petrus. Papias (sekitar 130 M), uskup Hierapolis, menyatakan: “Markus menjadi juru bahasa Petrus dan menuliskan dengan akurat segala yang diingatnya… dari apa yang dikatakan atau dilakukan Tuhan” (dikutip oleh Eusebius dalam Historia Ecclesiastica 3.39). Ireneus, Klemens dari Aleksandria, dan Origenes juga mendukung hal ini. Meskipun Injil tidak menyebut nama penulis secara eksplisit, gaya narasi yang hidup mencerminkan kesaksian mata (eyewitness) Petrus, seperti detail pribadi tentang Petrus (misalnya, Markus 14:66-72).
2. Waktu dan Tempat Penulisan
- Waktu Penulisan: Mayoritas sarjana memperkirakan sekitar tahun 65-70 M, menjadikannya Injil pertama yang ditulis. Alasan:
- Sebelum kehancuran Bait Allah di Yerusalem (70 M), karena Markus 13:1-2 meramalkan kehancuran itu tanpa menyebut sudah terjadi.
- Setelah kematian Petrus dan Paulus (sekitar 64-67 M di bawah penganiayaan Nero), karena tradisi menyebut Markus menulis setelah martir Petrus di Roma.
- Beberapa sarjana konservatif mengusulkan lebih awal (50-an M), tapi konsensus adalah pertengahan hingga akhir 60-an M.
- Tempat Penulisan: Roma, ibu kota Kekaisaran Romawi. Bukti:
- Ditulis untuk jemaat non-Yahudi di Roma, yang mengalami penganiayaan Nero (64 M).
- Tradisi awal (Papias, Ireneus) menyebut Roma sebagai tempat Markus menulis berdasarkan khotbah Petrus.
- Penggunaan istilah Latin (misalnya, centurion dalam Markus 15:39, bukan istilah Yunani), penjelasan adat Yahudi (Markus 7:3-4), dan penghilangan detail Hukum Taurat menunjukkan pembaca Romawi yang tidak paham budaya Yahudi.
3. Tujuan Penulisan
- Tujuan Utama: Menyajikan Yesus sebagai Mesias yang menderita dan Hamba Allah (berdasarkan Yesaya 53), untuk menguatkan iman jemaat yang sedang dianiaya, serta mengajak pembaca untuk mengikut Yesus dengan setia meski menghadapi penderitaan dan salib.
- Konteks Penganiayaan: Ditulis di tengah aniaya Nero terhadap Kristen di Roma. Markus menekankan bahwa penderitaan adalah bagian dari mengikut Yesus (Markus 8:34-35: “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku”). Yesus digambarkan sebagai Anak Allah yang kuat dalam mukjizat, tapi juga menderita dan mati—untuk menghibur umat bahwa kematian bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.
- Untuk Pembaca Non-Yahudi: Berbeda dengan Matius (untuk Yahudi), Markus tidak banyak mengutip Perjanjian Lama secara eksplisit dan menjelaskan tradisi Yahudi, menunjukkan tujuan evangelisasi kepada orang Romawi/Yunani. Ia menyoroti kuasa Yesus atas setan, penyakit, dan alam untuk menarik orang kafir.
- Rahasia Mesianik: Markus sering menunjukkan Yesus menyuruh orang diam tentang identitas-Nya (misalnya, Markus 1:44; 8:30), untuk menekankan bahwa Mesias sejati dikenali melalui salib, bukan kekuasaan duniawi—pesan penting bagi jemaat yang mengharapkan Mesias politik.
- Akhir yang Mendadak: Injil berakhir di Markus 16:8 (versi asli), dengan wanita-wanita takut dan diam—mungkin untuk memprovokasi pembaca agar menyebarkan Injil sendiri, melanjutkan misi Yesus.
Injil Markus menjadi dasar bagi Matius dan Lukas (teori “two-source”: Markus sebagai sumber utama + dokumen Q). Pesan intinya: “Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Markus 1:1)—sebuah panggilan untuk percaya dan bertindak segera.
Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rohani dalam Injil Markus
Berikut paparan mengenai prinsip-prinsip kepemimpinan rohani yang dapat ditemukan dalam Injil Markus, disertai dengan contoh-contoh dari teks dan aplikasinya bagi pemimpin Kristen masa kini.
Injil Markus, yang ditandai dengan narasinya yang cepat dan penekanan pada pelayanan dan penderitaan Yesus, memberikan model kepemimpinan yang radikal dan transformatif—berbeda sama sekali dengan model kepemimpinan duniawi. Prinsip-prinsip ini terutama terlihat dari kehidupan dan pengajaran Yesus sendiri.
1. Kepemimpinan yang Melayani (Servant Leadership)
Ini adalah prinsip inti dan yang paling menonjol dalam Injil Markus. Yesus membalikkan paradigma kepemimpinan duniawi yang mencari kuasa dan kemuliaan.
- Markus 10:42-45: Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
- Aplikasi: Seorang pemimpin rohani tidak menuntut hak istimewa, tetapi aktif mencari kesempatan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan orang lain, bahkan dengan pengorbanan diri.
2. Otoritas yang Berasal dari Ketaatan dan Relasi (Spiritual Authority)
Kewibawaan Yesus bukan berasal dari jabatan atau posisi, tetapi dari ketaatan-Nya kepada Bapa dan relasi-Nya yang intim dengan Dia.
- Markus 1:22, 27: Orang-orang “takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” Otoritas-Nya atas roh-roh jahat juga membuat mereka heran.
- Markus 1:35: Sebelum menjalankan otoritas-Nya di depan publik, Yesus berdoa dan menyendiri untuk berkomunikasi dengan Bapa.
- Aplikasi: Otoritas seorang pemimpin rohani sejati mengalir dari kehidupan doa, ketergantungan pada Allah, dan keselarasan dengan kehendak-Nya, bukan dari manipulasi atau kontrol.
3. Memprioritaskan Doa dan Komunikasi dengan Bapa (Spiritual Disciplines)
Yesus secara konsisten menarik diri untuk berdoa, terutama pada titik-titik penting dalam pelayanan-Nya. Ini adalah sumber kekuatan dan arahan-Nya.
- Markus 1:35: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
- Markus 6:46: Setelah memberi makan lima ribu orang, “Ia pergi ke bukit untuk berdoa.”
- Aplikasi: Seorang pemimpin rohani harus memiliki “tempat sunyi”—disiplin untuk menyendiri dengan Allah. Keputusan dan kekuatan berasal dari saat-saat sunyi ini, bukan hanya dari kesibukan pelayanan.
4. Memiliki Visi untuk Membangun dan Mendelegasikan (Empowerment)
Yesus memuridkan dua belas murid-Nya, memberikan mereka otoritas dan mengutus mereka. Kepemimpinan-Nya bersifat reproduktif.
- Markus 3:13-15: Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya “untuk menyertai Dia, dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.”
- Markus 6:7: “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat.”
- Aplikasi: Pemimpin rohani yang baik tidak memonopoli pelayanan. Mereka berinvestasi dalam orang lain, memberikan tanggung jawab, dan mempercayai mereka dengan pelayanan, sehingga mempersiapkan generasi penerus.
5. Memimpin dengan Kasih dan Belas Kasihan (Compassionate Leadership)
Yesus digerakkan oleh belas kasihan yang mendalam, yang menjadi motivasi bagi banyak tindakan-Nya.
- Markus 6:34: “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang itu, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.”
- Markus 1:41: Yesus “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” kepada seorang yang sakit kusta, lalu menyembuhkannya.
- Aplikasi: Kepemimpinan rohani harus dilandasi oleh kasih dan belas kasihan yang tulus terhadap orang-orang yang dilayani, bukan hanya efisiensi atau pencapaian tujuan organisasi.
6. Transparansi dan Kejujuran (Authenticity)
Yesus tidak menyembunyikan tuntutan dan biaya dari mengikut Dia. Dia jujur tentang penderitaan yang akan datang.
- Markus 8:31-34: Yesus secara terbuka mulai mengajarkan bahwa Dia “harus menanggung banyak penderitaan… dan dibunuh.” Ketika Petrus menegur Dia, Yesus justru menegur balik Petrus. Lalu Ia memanggil orang banyak dan berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
- Aplikasi: Seorang pemimpin rohani harus otentik dan transparan, tidak takut untuk membagikan kebenaran yang sulit dan realita biaya mengikut Kristus.
7. Ketekunan dan Ketabahan dalam Penderitaan (Resilience in Suffering)
Tema “jalan menuju salib” sangat sentral dalam Injil Markus. Kepemimpinan sejati melibatkan kesediaan untuk menderita.
- Markus 8:31; 9:31; 10:33-34: Yesus tiga kali menubuatkan penderitaan dan kematian-Nya. Ini menunjukkan bahwa penderitaan adalah bagian integral dari misi-Nya.
- Markus 14:36: Di Taman Getsemani, dalam penderitaan-Nya yang paling dalam, Yesus berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
- Aplikasi: Pemimpin rohani dipanggil untuk memiliki ketabahan, tetap setia kepada panggilan Allah bahkan ketika menghadapi oposisi, pengkhianatan, dan penderitaan.
8. Fokus pada Misi dan Tujuan (Mission-Oriented)
Yesus memiliki pemahaman yang jelas tentang misi-Nya, dan ini mengarahkan setiap tindakan-Nya. Dia tidak mudah teralihkan.
- Markus 1:38: Setelah semua orang mencari Dia, Yesus berkata, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”
- Markus 10:45: Misi-Nya diringkas: “untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
- Aplikasi: Seorang pemimpin rohani harus memiliki kejelasan akan misi yang diberikan Allah dan memastikan bahwa semua usaha dan sumber daya diarahkan untuk mencapainya.
Ringkasan
Kepemimpinan rohani menurut Injil Markus adalah sebuah panggilan untuk melayani, bukan dilayani; untuk mengikuti jejak Yesus dalam ketaatan, doa, belas kasihan, dan kesediaan untuk menderita; serta untuk memberdayakan orang lain demi kemajuan Kerajaan Allah. Ini adalah model yang kontra-budaya, yang mengukur kesuksesan bukan dengan kekayaan atau kuasa, tetapi dengan kesetiaan kepada Bapa dan pelayanan kepada sesama.