45. SURAT ROMA

Surat Roma adalah salah satu kitab dalam Perjanjian Baru Alkitab Kristen, yang dikenal sebagai salah satu karya teologis terpenting dalam kanon Kristen. Berikut adalah ulasan mengenai penulis, waktu dan tempat penulisan, serta tujuan penulisan surat ini:

1. Penulis

    Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus. Ia memperkenalkan dirinya sebagai penulis dalam Roma 1:1, dengan menyebut dirinya sebagai “hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Identitas Paulus sebagai penulis diterima secara luas baik dalam tradisi Kristen maupun oleh para sarjana Alkitab, karena gaya penulisan, teologi, dan referensi pribadinya konsisten dengan surat-surat lain yang dikaitkan dengannya (mis., 1 dan 2 Korintus, Galatia).

    Paulus menulis surat ini dengan bantuan seorang juru tulis bernama Tertius, yang disebutkan dalam Roma 16:22 sebagai orang yang secara fisik menuliskan surat tersebut atas dikte Paulus.

    2. Waktu dan Tempat Penulisan

    Surat Roma kemungkinan besar ditulis sekitar tahun 55-57 Masehi, selama pelayanan misionaris ketiga Paulus. Para sarjana menyimpulkan waktu ini berdasarkan referensi dalam surat tersebut, seperti rencana Paulus untuk mengunjungi Roma setelah mengantar persembahan ke Yerusalem (Roma 15:25-28). Ini menempatkan penulisan surat ini menjelang akhir perjalanan misionarisnya sebelum ia ditangkap di Yerusalem.

    Surat ini kemungkinan besar ditulis di Korintus, sebuah kota di Yunani. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Paulus menyebutkan Gaius sebagai tuan rumahnya (Roma 16:23), yang kemungkinan adalah Gaius dari Korintus yang disebutkan dalam 1 Korintus 1:14. Selain itu, Febe, seorang diaken dari Kengkrea (pelabuhan dekat Korintus), disebut sebagai pembawa surat ini ke Roma (Roma 16:1-2), yang memperkuat dugaan bahwa surat ini ditulis dari wilayah tersebut.

    3. Tujuan Penulisan Surat Roma

    Surat Roma memiliki beberapa tujuan utama, yang mencerminkan konteks Paulus dan kebutuhan jemaat di Roma. Berikut adalah tujuan-tujuan utamanya:

    1. Memperkenalkan Diri dan Injil – Paulus belum pernah mengunjungi jemaat Roma saat menulis surat ini, meskipun ia sangat ingin melakukannya (Roma 1:10-13). Surat ini berfungsi sebagai pengenalan diri kepada jemaat Roma, menjelaskan panggilannya sebagai rasul kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (Roma 1:5) dan menyampaikan inti Injil yang ia khotbahkan. Ia ingin memastikan bahwa jemaat Roma memahami teologinya sebelum kedatangannya.
    • Menjelaskan Teologi Injil – Surat Roma adalah eksposisi teologis yang mendalam tentang doktrin keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus. Paulus menjelaskan konsep-konsep seperti pembenaran oleh iman (Roma 3:21-26), dosa dan anugerah (Roma 5:12-21), serta kehidupan dalam Roh (Roma 8). Tujuannya adalah untuk memberikan fondasi teologis yang kuat bagi jemaat Roma, yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi, untuk memahami kesatuan mereka dalam Kristus.
    • Mendorong Kesatuan dalam Jemaat – Jemaat Roma terdiri dari orang-orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi, yang terkadang mengalami ketegangan karena perbedaan latar belakang budaya dan agama (misalnya, soal makanan atau hari raya, seperti dibahas dalam Roma 14). Paulus menekankan pentingnya kesatuan, saling menerima, dan hidup dalam kasih (Roma 15:5-7), agar jemaat dapat bekerja sama dalam memuliakan Allah.
    • Mendapatkan Dukungan untuk Misi – Paulus menyampaikan rencananya untuk mengunjungi Roma dalam perjalanan ke Spanyol untuk melanjutkan pelayanan misinya (Roma 15:24, 28). Ia berharap jemaat Roma akan mendukungnya, baik secara rohani (melalui doa, Roma 15:30-32) maupun praktis (misalnya, dengan bantuan logistik untuk misinya ke Spanyol).
    • Menangani Isu-isu Praktis dan Teologis – Paulus juga menanggapi potensi pertanyaan atau kesalahpahaman, seperti hubungan antara hukum Taurat dan anugerah, peran Israel dalam rencana Allah (Roma 9-11), dan bagaimana orang Kristen harus hidup di tengah masyarakat (Roma 13). Ia ingin memastikan bahwa jemaat Roma memiliki pemahaman yang benar tentang iman Kristen.

    Ringkasan:

    Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 55-57 Masehi dari Korintus, dengan tujuan untuk memperkenalkan dirinya dan Injil yang ia khotbahkan kepada jemaat Roma, menjelaskan teologi keselamatan, mempromosikan kesatuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi dalam jemaat, serta meminta dukungan untuk rencana misinya ke Spanyol. Surat ini bukan hanya surat pengantar, tetapi juga sebuah karya teologis yang mendalam, yang tetap menjadi salah satu dokumen paling berpengaruh dalam Kekristenan karena kejelasan dan kedalaman ajarannya tentang iman, anugerah, dan kehidupan Kristen.

    Prinsip-prinsip Kepemimpinan Rohani dalam Surat Roma

    Surat Roma bukan sekadar uraian teologis yang sistematis, tetapi juga merupakan cerminan kepemimpinan spiritual Rasul Paulus yang luar biasa. Melalui surat ini, kita dapat melihat prinsip-prinsip kepemimpinan yang visioner, integratif, rendah hati, dan transformatif. Berikut adalah beberapa tafsiran kunci yang menghubungkan isi Surat Roma dengan gaya kepemimpinan Paulus:

    1. Kepemimpinan yang Visioner dan Berorientasi pada Misi Global (Missional Leadership)

    Paulus menulis surat ini dari Korintus, sebelum berkunjung ke Yerusalem, dengan tujuan akhir untuk sampai ke Spanyol (Roma 15:24, 28). Roma bukanlah tujuan akhirnya, melainkan pangkalan strategis untuk misi yang lebih luas ke ujung dunia barat yang dikenal saat itu.

    Kaitannya dengan Kepemimpinan: Seorang pemimpin visioner tidak hanya memikirkan kondisi saat ini tetapi juga merencanakan langkah-langkah strategis ke depan. Paulus memahami betapa pentingnya dukungan dan doa jemaat yang sudah mapan di Roma untuk misi globalnya. Ia membangun jembatan dan aliansi, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah tentang membangun jaringan dan kolaborasi untuk visi yang lebih besar.

    • Kepemimpinan yang Didasarkan pada Integritas Doktrin (Theological Leadership)

    Paulus belum pernah mengunjungi jemaat di Roma. Sebagai pemimpin baru yang ingin dipercaya, ia tidak memakai “jabatan” atau otoritas apostoliknya untuk menekan. Sebaliknya, ia memperkenalkan diri melalui pengajaran yang mendalam dan sistematis tentang Injil.

    Kaitannya dengan Kepemimpinan: Otoritas sejati seorang pemimpin rohani berasal dari kesetiaannya pada kebenaran (truth) dan kemampuannya untuk mengartikulasikannya dengan jelas (clarity). Surat Roma adalah masterpieces Paulus untuk menunjukkan bahwa ia layak didengar bukan karena siapa dirinya, tetapi karena apa yang ia sampaikan adalah kebenaran Injil yang kokoh. Pemimpin sejati memimpin dengan ide dan kebenaran, bukan hanya dengan titel.

    • Kepemimpinan yang Melayani dan Rendah Hati (Servant Leadership)

    Meskipun Paulus adalah rasul besar, sikapnya dalam surat ini penuh kerendahan hati dan semangat melayani.

    • Ia Meminta Doa – Ia secara terbuka meminta doa mereka untuk perjalanan dan pelayanannya (Roma 15:30-32). Seorang pemimpin yang percaya diri tidak takut untuk menunjukkan kerentanannya dan membutuhkan dukungan komunitasnya.
    • Ia Menghargai Jemaat – Ia mengakui iman jemaat Roma yang “terkenal di seluruh dunia” (Roma 1:8). Ia datang bukan sebagai “jagoan” yang akan memperbaiki segalanya, tetapi sebagai rekan seiman yang ingin saling menguatkan (Roma 1:11-12).
    • Sikap terhadap yang Lemah dan Kuat (Roma 14:1-15:7) – Di sini Paulus menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana. Alih-alih memaksakan aturan, ia mengajak jemaat untuk berprinsip pada kasih dan tidak saling menghakim. Pemimpin sejati adalah pendamai yang mempersatukan, bukan memecah belah.
    • Kepemimpinan yang Kontekstual dan Relevan (Contextual Leadership)

    Jemaat Roma terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi (Gentiles) yang mengalami ketegangan budaya dan teologis. Seluruh surat Roma, khususnya pasal 9-11, membahas hubungan antara Israel dan bangsa-bangsa lain dalam rencana keselamatan Allah.

    Kaitannya dengan Kepemimpinan – Paulus tidak mengabaikan realitas ini. Ia secara langsung menanganinya dengan menunjukkan bagaimana Injil mempersatukan mereka semua dalam Kristus (Roma 10:12). Seorang pemimpin yang baik memahami konteks dan dinamika komunitas yang dipimpinnya dan memberikan arahan yang tepat untuk mengatasi perpecahan dan membangun kesatuan.

    • Kepemimpinan yang Memiliki Otoritas Spiritual yang Jelas (Spiritual Authority)

    Di balik kerendahan hatinya, Paulus tidak ragu untuk menegaskan otoritas kerasulannya yang berasal dari Kristus. Pembukaan surat (Roma 1:1) sangat jelas: “Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.”

    Kaitannya dengan Kepemimpinan – Kepemimpinan yang melayani bukan berarti tanpa otoritas. Paulus dengan lembut namun tegas menyampaikan kebenaran yang mungkin sulit diterima (seperti tentang murka Allah terhadap dosa semua manusia dalam Roma 1-3). Ia memimpin dengan wibawa yang berasal dari panggilan ilahi, bukan dari dirinya sendiri.

    • Kepemimpinan yang Praktis dan Aplikatif (Practical Leadership)

    Surat Roma sering dilihat terbagi menjadi dua bagian: Doktrin (Pasal 1-11) dan Aplikasi Praktis (Pasal 12-16). Ini menunjukkan bahwa bagi Paulus, teologi yang benar harus menghasilkan kehidupan yang benar.

    Kaitannya dengan Kepemimpinan – Pemimpin yang baik tidak hanya memberikan visi dan ide (the “what” and “why”), tetapi juga memberikan panduan praktis yang jelas tentang “how”-nya. Ajaran tentang persembahan tubuh sebagai ibadah (12:1-2), hidup dalam kasih (12:9-21), tunduk kepada pemerintah (13:1-7), adalah bukti bahwa Paulus peduli dengan kehidupan sehari-hari jemaat.

    Kesimpulan:

    Surat Roma adalah sebuah blueprint (cetak biru) kepemimpinan apostolik Paulus. Melalui surat ini, ia menunjukkan bahwa pemimpin Kristen yang efektif adalah:

    1. Seorang Visioner yang memiliki misi global.
      1. Seorang Teolog yang berpegang teguh pada kebenaran Injil.
      1. Seorang Pelayan yang rendah hati dan bijaksana.
      1. Seorang Pendamai yang memahami konteks dan mempersatukan.
      1. Seorang yang Memiliki Otoritas yang jelas dari Tuhan.
      1. Seorang Guru yang menghubungkan iman dengan kehidupan praktis.

    Kepemimpinan Paulus dalam Surat Roma adalah model yang abadi bagi para pemimpin gereja, organisasi, maupun komunitas Kristen hari ini, menekankan bahwa pengaruh yang langgeng dibangun di atas dasar doktrin yang kokoh, karakter yang rendah hati, dan kasih yang praktis.

    KISAH PARA RASUL

    SURAT 1 KORINTUS