21. KITAB PENGKHOTBAH

Kitab Pengkhotbah (atau Ecclesiastes dalam bahasa Inggris) adalah salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang termasuk dalam kategori Kitab Kebijaksanaan (Wisdom Literature) di Alkitab. Kitab ini menawarkan refleksi mendalam tentang makna hidup, kebijaksanaan, dan hubungan manusia dengan Allah di tengah realitas dunia yang fana. Berikut adalah ulasan mengenai penulis, waktu dan tempat penulisan, serta tujuan penulisan Kitab Pengkhotbah:

1. Penulis

Secara tradisional, Kitab Pengkhotbah dikaitkan dengan Salomo, raja Israel yang terkenal karena kebijaksanaannya (1 Raja-raja 3:12). Dalam teks, penulis menyebut dirinya sebagai “Pengkhotbah” (bahasa Ibrani: Qohelet, yang berarti “orang yang berkhotbah” atau “guru yang mengumpulkan”). Pengkhotbah juga digambarkan sebagai “anak Daud, raja di Yerusalem” (Pengkhotbah 1:1), yang menunjuk pada Salomo. Namun, ada beberapa poin yang perlu dipertimbangkan:

  • Dukungan tradisional: Salomo dikenal sebagai tokoh yang memiliki kebijaksanaan luar biasa, kekayaan, dan pengalaman hidup yang luas, yang selaras dengan tema-tema dalam kitab ini, seperti pencarian makna melalui kesenangan, kebijaksanaan, dan kerja keras.
  • Pandangan modern: Beberapa sarjana berpendapat bahwa kitab ini mungkin ditulis oleh penulis lain pada masa yang lebih kemudian, menggunakan gaya penulisan yang meniru Salomo untuk memberikan otoritas. Gaya bahasa Ibrani dalam kitab ini menunjukkan ciri-ciri yang lebih akhir dibandingkan masa Salomo (sekitar abad ke-10 SM), kemungkinan menunjuk ke periode pasca-pembuangan (sekitar abad ke-5 atau ke-4 SM). Meski demikian, atribusi kepada Salomo tetap kuat dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Karena itu, meskipun Salomo secara tradisional dianggap sebagai penulis, identitas pasti penulis tetap menjadi subjek diskusi di kalangan sarjana.

2. Waktu dan Tempat Penulisan

  • Waktu Penulisan:
  • Jika Salomo adalah penulisnya, kitab ini kemungkinan ditulis sekitar abad ke-10 SM, selama masa pemerintahan Salomo di Israel (sekitar 970–930 SM). Ini adalah periode kemakmuran dan stabilitas politik di Israel.
  • Namun, jika ditulis oleh penulis lain, sebagian sarjana memperkirakan kitab ini berasal dari periode pasca-pembuangan (sekitar abad ke-5 hingga ke-3 SM), berdasarkan analisis linguistik dan pengaruh budaya Helenistik yang mungkin terlihat dalam teks. Periode ini adalah masa ketika bangsa Yahudi merefleksikan identitas dan makna hidup setelah pengalaman pembuangan di Babel.
  • Tempat Penulisan: Kitab ini kemungkinan besar ditulis di Yerusalem, pusat keagamaan dan politik Israel, terutama jika Salomo adalah penulisnya. Yerusalem juga merupakan tempat yang relevan untuk refleksi teologis dan filosofis seperti yang ditemukan dalam kitab ini. Jika ditulis pada periode yang lebih akhir, tetap masuk akal bahwa Yerusalem atau wilayah Yehuda menjadi pusat penulisan, mengingat konteks keagamaan dan budaya Yahudi yang kuat dalam teks.

3. Tujuan Penulisan

Kitab Pengkhotbah memiliki tujuan yang mendalam dan berlapis, yang dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Meragukan Makna Hidup di Bawah Matahari: Kitab ini mengeksplorasi tema hebel (bahasa Ibrani, sering diterjemahkan sebagai “kesia-siaan” atau “angin”), yang menunjukkan sifat sementara dan sulit dipahami dari kehidupan duniawi. Pengkhotbah memeriksa berbagai aspek kehidupan—kebijaksanaan, kesenangan, kerja keras, kekayaan—dan menyimpulkan bahwa semua ini sia-sia jika hanya dilihat dari perspektif duniawi (“di bawah matahari”).
  • Mengajak Refleksi Teologis: Kitab ini mendorong pembaca untuk merenungkan keterbatasan manusia dan ketergantungan pada Allah. Meskipun kehidupan duniawi sering kali tampak tidak berarti, Pengkhotbah menegaskan bahwa makna sejati ditemukan dalam hubungan dengan Allah dan dalam menjalani hidup sesuai kehendak-Nya (Pengkhotbah 12:13, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya”).
  • Memberikan Perspektif Realistis tentang Hidup: Kitab ini jujur tentang tantangan dan ketidakpastian hidup, menawarkan pandangan yang realistis namun tidak pesimistis. Pengkhotbah mengakui bahwa hidup penuh dengan kontradiksi dan ketidakadilan, tetapi menegaskan bahwa manusia tetap dapat menikmati anugerah Allah (seperti makanan, pekerjaan, dan hubungan) sebagai bagian dari hidup yang bermakna.
  • Menyeimbangkan Kebijaksanaan dan Iman: Kitab ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan manusia memiliki batas, dan iman kepada Allah adalah kunci untuk menemukan tujuan hidup. Ini adalah panggilan untuk hidup dengan rendah hati di hadapan Allah, menerima keterbatasan manusia, dan mempercayakan hidup kepada-Nya.
  • Peringatan terhadap Materialisme dan Otonomi: Pengkhotbah memperingatkan terhadap mengejar hal-hal duniawi (kekayaan, kesenangan, atau prestasi) sebagai sumber makna utama, karena semua itu bersifat sementara. Tujuannya adalah mengarahkan pembaca untuk mencari kepuasan dalam Allah, bukan dalam hal-hal fana.

Kesimpulan

Kitab Pengkhotbah adalah karya yang kaya akan refleksi filosofis dan teologis, yang secara tradisional dikaitkan dengan Salomo, meskipun waktu penulisan pastinya masih diperdebatkan (kemungkinan abad ke-10 SM atau periode pasca-pembuangan). Ditulis kemungkinan di Yerusalem, kitab ini bertujuan untuk mengajak pembaca merenungkan sifat sementara dari kehidupan duniawi, menegaskan pentingnya takut akan Allah, dan menemukan makna hidup dalam hubungan dengan-Nya. Kitab ini relevan hingga saat ini karena mengajarkan keseimbangan antara menikmati anugerah hidup dan tetap rendah hati di hadapan Allah sebagai sumber makna sejati.

1. Prinsip Kesementaraan (Vanity/Hevel)

Kitab Pengkhotbah, yang ditulis oleh “Sang Pemberi Pengajaran” (diduga Raja Salomo), menawarkan pandangan yang unik dan dalam tentang kehidupan di bawah matahari. Meski terkesan suram, kitab ini justru memberikan pelajaran kepemimpinan yang sangat realistis dan berharga, yang berpusat pada takut akan Tuhan sebagai fondasi akhir.

Berikut adalah prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen berdasarkan Kitab Pengkhotbah:

Konsep: Semua pencapaian, kekayaan, dan kekuasaan duniawi pada akhirnya adalah “kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (hevel) tanpa makna kekal.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Hindari Kesombongan: Seorang pemimpin tidak boleh menganggap pencapaiannya mutlak dan abadi. Semua adalah anugerah dan bersifat sementara. Ini mencegah arogansi dan keangkuhan.
  • Fokus pada yang Kekal: Alih-alih hanya mengejar target duniawi, pemimpin Kristen harus memimpin dengan perspektif kekekalan, memprioritaskan nilai-nilai Kerajaan Allah yang tidak akan pernah sia-sia.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 1:2, 14 – “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.”

2. Prinsip Waktu dan Musim (Divine Timing)

Konsep: Ada waktu untuk segala sesuatu di bawah kolong langit. Tuhan yang mengendalikan waktu dan musim.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Kebijaksanaan dalam Pengambilan Keputusan: Pemimpin yang bijak memahami “waktu” yang tepat untuk bertindak, untuk diam, untuk menegur, atau untuk membangun. Ia peka terhadap situasi.
  • Menghindari Terburu-buru: Keputusan penting tidak boleh diambil dengan gegabah. Pemimpin perlu bersabar dan menunggu waktu Tuhan.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 3:1 – “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”

3. Prinsip Pekerjaan dan Keunggulan (Work and Excellence)

Konsep: Meski dunia fana, kita dipanggil untuk menikmati dan melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, sebagai bagian dari pemberian Tuhan.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Integritas dan Kerja Keras: Pemimpin harus menjadi teladan dalam bekerja dengan jujur, rajin, dan mengupayakan keunggulan, karena itu adalah ibadah kepada Tuhan.
  • Menemukan Kepuasan dalam Proses: Alih-alih hanya berfokus pada hasil yang bisa jadi “sia-sia”, pemimpin menemukan sukacita dalam proses bekerja yang Tuhan berikan.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 3:13, 9:10 – “Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” dan “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga.”

4. Prinsip Kebijaksanaan vs. Pengetahuan (Wisdom over Knowledge)

Konsep: Pengetahuan saja tidak cukup dan bisa menimbulkan kesusahan. Kebijaksanaan (yang takut akan Tuhan) jauh lebih berharga.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Keputusan yang Bijak, Bukan Hanya Cerdas: Pemimpin Kristen tidak hanya mengandalkan data dan IQ, tetapi juga hikmat dari Tuhan untuk menerapkan pengetahuan dengan cara yang benar, adil, dan penuh kasih.
  • Kerendahan Hati: Menyadari bahwa hikmat manusia terbatas mendorong pemimpin untuk bergantung pada hikmat ilahi.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 1:18, 7:19 – “Karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.” dan “Hikmat memberi perlindungan kepada yang memilikinya, seperti halnya uang memberi perlindungan; tetapi keuntungan pengetahuan ialah bahwa hikmat memelihara kehidupan pemilik-pemiliknya.”

5. Prinsip Keadilan dan Moralitas (Justice and Morality)

Konsep: Pengkhotbah mengamati banyak ketidakadilan di dunia, tetapi justru di situlah pemimpin dituntut untuk menjadi agen keadilan.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Memperjuangkan Keadilan: Seorang pemimpin harus aktif memberantas ketidakadilan dalam lingkup wewenangnya dan membela yang lemah.
  • Menjadi Teladan Moral: Hidup dan keputusannya harus mencerminkan kebenaran dan kejujuran, karena Tuhan akan menghakimi segala sesuatu.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 3:16-17, 5:7 – “Di tempat pengadilan pun terdapat ketidakadilan…” dan “Jika engkau menyaksikan pemerasan terhadap orang miskin dan penyangkalan terhadap keadilan dan kebenaran di suatu daerah, janganlah heran akan hal itu.”

6. Prinsip Kesederhanaan dan Menghindari Keserakahan (Simplicity and Avoiding Greed)

Konsep: Mengejar kekayaan tak pernah ada puasnya dan dapat membawa kehancuran.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Hidup yang Seimbang: Pemimpin tidak boleh terobsesi dengan kekayaan materi. Ia harus memimpin dengan gaya hidup yang sederhana dan bersyukur.
  • Mengutamakan Orang Lain: Menghindari korupsi dan memastikan bahwa kepemimpinannya membawa kesejahteraan bagi banyak orang, bukan hanya untuk dirinya sendiri.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 5:9 – “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.”

7. Prinsip Takut akan Tuhan (Fear of God) – Fondasi Utama

Konsep: Inilah kesimpulan dan inti dari seluruh kitab. Semua prinsip di atas menjadi tidak bermakna tanpa fondasi ini.
Penerapan dalam Kepemimpinan:

  • Taat dan Bergantung pada Tuhan: Pemimpin Kristen mengakui bahwa otoritas tertinggi adalah Tuhan. Setiap keputusan, strategi, dan tindakannya dilakukan dalam kerangka ketaatan dan ketakutan yang hormat kepada-Nya.
  • Perspektif Akhirat: Menyadari bahwa setiap pemimpin suatu hari akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Tuhan. Ini adalah motivasi utama untuk memimpin dengan benar.
  • Ayat Kunci: Pengkhotbah 12:13 – “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Kesimpulan

Kepemimpinan Kristen menurut Kitab Pengkhotbah adalah kepemimpinan yang rendah hati, bijaksana, realistis, dan berpusat pada Tuhan. Seorang pemimpin diajar untuk tidak terjebak dalam ilusi keabadian dan kesuksesan duniawi, tetapi untuk memimpin dengan penuh tanggung jawab, adil, dan menemukan makna sejati dalam melayani Tuhan dan sesama di dalam setiap “kesia-siaan” dunia ini.

KITAB AMSAL

KITAB KIDUNG AGUNG