CERDIK 1-10

1. SEMUA BAIK

Berbicara tentang gambar, banyak orang lebih menyukai gambar yang penuh warna (full color) dari pada sekedar hitam putih (black and white). Di antara warna-warna tersebut warna apakah yang terbaik? Jika kita disuruh memilih satu warna saja, pasti hasil pilihan kita akan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi perbedaan pilihan warna tidak menunjukkan baik-buruknya warna. Itu hanya menunjukkan bahwa selera kita terhadap warna memang berbeda-beda. Warna bersifat netral. Semua warna baik. Semua warna indah, asalkan sesuai dengan sekitarnya.

Seperti itulah Tuhan menciptakan alam semesta ini. Termasuk kita yang hidup di dalamnya. Warna kulit kita bisa berbeda satu dengan yang lain. Ada yang berkulit putih, hitam, sawo matang, dan sebagainya. Rambut pun demikian: yang satu kriting dan yang lain lurus. Warna kulit manakah yang baik? Rambut jenis apakah yang baik? Semua warna kulit baik. Semua warna kulit indah. Semua jenis rambut baik, semua jenis rambut indah. Mengapa?

Belum lagi ketika manusia berbicara dengan bahasa mereka masing-masing. Bahasa manakah yang baik? Apakah bahasa Indonesia lebih baik dari bahasa Jerman? Ataukah bahasa Inggris lebih baik dari bahasa Rusia? Jangan-jangan … bahasa Jawalah yang terbaik? Tak ada bahasa yang bisa dikatakan baik atau buruk. Semua bahasa baik. Semua bahasa indah. Mengapa?

Karena Tuhan sendiri yang menciptakan semuanya itu. Ia baik. Tak mungkin Ia menghasilkan yang tidak baik. Warna hitam itu baik, warna putih juga baik. Tergantung dipakai di mana dan untuk keperluan apa. Rambut kriting baik, rambut lurus juga baik. Berbahasa apa pun baik, asalkan di tempat dan waktu yang tepat dengan orang yang tepat.

Yang lebih dilihat Tuhan adalah yang ada di dalam. Something inside! Bukan sekedar yang ada di luar. Kita semua pun harus belajar menghargai semua orang. Tidak meremehkannya. Tidak mengabaikannya. Mari kita belajar untuk tidak melihat tebal tipisnya dompet mereka. Tidak melihat kendaraan yang mereka kendarai. Tidak melihat busana yang mereka kenakan. Tidak melihat gelar yang mereka miliki. Tidak melihat di kompleks perumahan mana mereka tinggal. Juga tidak melihat agama atau kepercayaan yang mereka anut. Mari kita belajar mengasihi mereka, sebab Tuhan yang menciptakan mereka, mengasihi mereka.

 2. MEMANG BEDA

Seorang anak bertanya kepada ibunya di sebuah toko sepatu. “Ibu, mengapa begitu banyak model sepatu? Mengapa begitu banyak ukuran sepatu? Mengapa begitu banyak warna sepatu?” Ibunya pun menjawab, “Karena setiap orang berbeda. Berbeda selera bersepatu, dan berbeda ukuran sepatu. Coba perhatikan. Ini sepasang sepatu. Keduanya berbeda bukan? Yang ini untuk kaki kanan dan yang ini untuk kaki kiri. Kanan dan kiri saja itu berbeda, sayang. Belum lagi model, ukuran, dan warnanya.”

Tidak ada keindahan tanpa perbedaan. Bisakah Anda membayangkan jika semua orang berjenis kelamin sama, berwajah sama, dan segala sesuatu yang kita lihat semuanya sama? Itu akan membawa kita kepada kebosanan. Monoton. Tak ada variasi. Tak ada kegairahan. Tak ada semangat. Jangan berharap semua orang sama. Jangan berharap semua orang cocok dengan kita. Kita akan kecewa. Mengapa? Karena itu tak mungkin terjadi.Mereka unik. Kita pun unik. Setiap orang itu unik.  Tuhan memang menciptakan kita menjadi makhluk yang unik.

Rangkaian puzzle tak akan bisa dilekatkan satu dengan yang lain, jika semua bentuknya sama. Apalagi jika gambarnya sama. Puzzle memang menarik, karena merangkai potongan yang bentuknya berbeda, gambarnya berbeda. Namun ketika semua disatukan, diperoleh gambar yang utuh. Gambar yang indah. Gambar yang sempurna.

Rangkaian irama musik pun akan terdengar hampa jika tidak merupakan gabungan dan perpaduan dari nada-nada dasar yang berbeda, dari alat-alat musik yang berbeda, yang dimainkan oleh orang-orang yang berbeda. Keberbedaan itu dipadukan sehingga membentuk simfoni yang indah.

Perbedaan memperkaya kita. Perbedaan melengkapi kita. Orang yang berbeda dengan kita ditempatkan Tuhan untuk berada bersama kita agar kita memiliki cara pandang atau persepsi yang berbeda. Pola pikir yang berbeda. Selera makan yang berbeda. Selera musik yang berbeda. Cara mendengkur pun berbeda.

Perbedaan bukan musuh tetapi sahabat. Mari belajar menghargai perbedaan. Suami menghargai perbedaan pada isterinya dan sebaliknya. Orang tua menghargai perbedaan pada diri anak-anaknya, dan sebaliknya. Pimpinan menghargai perbedaan anak buahnya, dan sebaliknya. Pemerintah menghargai perbedaan pada rakyatnya, dan sebaliknya.

3. SENGAJA

Kalimat yang meluncur dari wakil keluarga yang sedang mengadakan acara khusus kepada tamu-tamunya biasanya begini, “Saudara-saudara sekalian. Kami berterima kasih atas kedatangan saudara sekalian. Apabila dalam penyambutan kami ada hal-hal yang kurang berkenan di hati saudara-saudara, baik disengaja atau tidak, mohon kiranya dimaafkan.”

Seringkali kita membedakan antara kesalahan atau dosa yang disengaja dengan kesalahan atau dosa yang tidak disengaja. Benarkah pembedaan semacam itu. Adakah kekeliruan yang dilakukan tidak sengaja?

Sebenarnya tidak ada kesalahan yang tidak disengaja. Semuanya pasti disengaja. Acara yang amburadul, misalnya, pasti merupakan kesalahan yang disengaja, yaitu sengaja tidak mempersiap-kan acara dengan baik. Jika seorang yang berkendara sepeda motor sekaligus menggunakan handphone dan kemudian menabrak orang lain, apakah itu tidak disengaja? Itu kesalahan yang disengaja, yaitu sengaja melakukan kecerobohan dengan menggunakan handphone saat berkendara yang sebenarnya sangat membahayakan.

Jika kita lanjutkan dengan contoh-contoh lainnya, maka semua kesalahan pasti kita lakukan dengan sengaja: langsung atau tidak langsung. Lalu kita harus bagaimana? Selanjutnya karena itu kesengajaan, maka harus ditindaklanjuti dengan permintaan maaf. Di sinilah kesulitannya. Lebih mudah melakukan kesalahan dengan sengaja dibandingkan meminta maaf sesudahnya. Oleh sebab itu kita harus berpikir ulang sebelum melakukan sesuatu, apalagi yang mengakibatkan kerugian pada orang lain.

Orang lain akan memaklumi jika kita melakukan kesalahan, tetapi mereka sulit memaklumi jika kita tidak mau mengakuinya. Mengakui suatu kesalahan merupakan separuh kemenangan yang telah kita raih. Separuh berikutnya adalah meminta maaf untuk itu. Orang tua seyogyanya mengakui kesalahan kepada anak-anaknya jika ia memang telah bersalah. Guru kepada murid-muridnya. Pejabat kepada rakyatnya. Pemimpin kepada bawahannya.

Pengakuan mendatangkan kelegaan, dan permintaan maaf mendatangkan persahabatan.

4. KEPEDULIAN

Happiness is a choice, demikian kata pepatah yang artinya, “Kebahagiaan itu suatu pilihan.” Segala sesuatu yang kita alami dalam hidup ini berkaitan erat dengan pilihan-pilihan kita. Apakah kita ingin memilih bangun pagi atau bangun siang. Apakah kita memilih untuk bekerja keras atau terus bersantai sepanjang hari. Apakah kita memilih untuk memulai setiap hari dengan Tuhan atau dengan keluhan. Masih banyak contoh jenis pilihan lainnya. Salah satu dari pilihan itu adalah memilih peduli atau memilih tidak peduli terhadap orang lain.

Setiap orang tentu punya kebutuhan dan jalan keluar bagaimana memenuhi kebutuhannya tersebut. Anda punya kebutuhan, saya pun punya kebutuhan. Setiap orang punya kebutuhan. Jika setiap orang memiliki kebutuhan, salahkah ia jika ia setiap waktu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhannya tersebut? Tentu tidak salah. Tetapi apakah Tuhan menciptakan kita dengan maksud agar kita hanya hidup dan berjuang  untuk memenuhi  kebutuhan kita sendiri saja? Tentu tidak! Ia menghandaki agar kita memilih untuk menaruh kepedulian. Peduli terhadap alam, peduli terhadap keluarga, peduli terhadap sesama.

Peduli terhadap alam berarti kita akan melestarikannya dengan menjaga kebersihannya. Peduli terhadap keluarga mengajak kita memberikan perhatian lebih kepada keluarga: kepada suami/isteri dan anak-anak dibandingkan waktu-waktu yang lalu. Peduli kepada sesama berarti memperhatikan kebutuhan sesama dan berupaya menolongnya memnuhi kebutuhan itu.

Anak-anak telah meyelesaikan studinya, tetapi mungkin keponakan kita belum. Atau anak tetangga belum. Jika ia anak dari keluarga yang kurang mampu, kita bisa peduli kepadanya dengan menolongnya membelikan sepatu, tas, buku, dan perlengkapan sekolah lainnya. Kepedulian bisa berbentuk pemberian materi semacam itu.

Tetapi jika itu tidak memungkinkan Tuhan tetap meminta kita peduli dengan mendoakan-nya, dengan memberikan senyum kepadanya, dan melakukan hal lainnya. Cobalah menyapa setiap orang yang Anda jumpai disertai senyuman yang wajar. Belajarlah menaruh kepedulian kepada setiap orang. Kita akan menjalani hari dengan penuh sukacita, ketika kita peduli dengan orang lain.

5. AKRAB

Anda dan saya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan yang namanya teman, rekan, sahabat. Tanpa kehadiran mereka kita merasa tidak lengkap. Bahkan, seorang sahabat bisa melebihi seorang saudara ketika kita ada di dalam kesulitan.

Pertemanan membutuhkan penyeleksian. Tidak sedikit orang yang mengalami kehancuran ketika salah memilih teman. Pergaulan yang rusak bisa merusak kelakuan yang baik. Seleksi teman sebaik-baiknya, dan harus berani mengatakan tidak apabila ada ajakan yang negatif.

Selanjutnya pertemanan membutuhkan kepercayaan. Biasanya ketika kita memiliki teman kita cenderung curhat dengannya. Jika seseorang curhat pada kita, kita harus bisa dipercaya untuk tetap memeganag rahasia curhat-nya. Sebaliknya jika kita yang ingin curhat, kita harus benar=benar mempercayainya.

Pertemanan ditingkatkan menjadi persahabatan. DI sini dibutuhkan keakraban. Apa artinya akrab? Orang bilang akrab berarti “berjalan dengannya setiap waktu.” Artinya melangkah bersama. Jika ada seorang sahabat yang keliru dalam berkata atau bertindak, maka kita harus memberitahu kepadanya tentang kekeliruannya. Bukan membiarkannya dalam kesalahan itu. Jika kita mengasihi sahabat kita, kita harus mau mengoreksinya.

Sebaliknya, jika ia berhasil mencapai suatu prestasi kita akan menghargainya. Memujinya dan mengaguminya. Secara tulus dan wajar. Pujian yang tidak tulus bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesombongan. Berikan pujian yang wajar!
Ingatlah juga akan momen-momen penting dalam hidupnya: hari ulang tahunya, hari pernikahannya, dan sebagainya. Perhatian semacam itu akan melanggengkan persahabatan kita. Kunjungi saat ia sakit, hubungi saat  ia berada di luar kita. Berikan komentar yang benar atas apa yang dikenakannya.

Persahabatan tetaplah persahabatan. Jangan sampai terlalu jauh sampai kepada hubungan yang tidak wajar. Tuhan telah menetapkan pasangan kita masing-masing pada waktu yang tepat. Pria dan wanita yang dipersatukan Tuhan dalam pernikahan. Sahabat yang baik akan selalu mengingatkan kita akan hal tersebut.

6. JAGALAH HATI

“Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu?” adalah pepatah yang sangat tepat. Dengan menggunakan prinsip gelombang bunyi, seorang ilmuwan dapat mengukur kedalaman laut, namun siapa yang dapat menduga hati atau kalbu manusia? Itulah sebabnya mengapa ada orang yang nampaknya baik, kata-katanya penuh dengan kelemah-lembutan, tetapi ternyata bagaikan ular berbisa. Tiba-tiba ia menusuk dari belakang.

Mengapa demikian? Apakah hati manusia tercemar oleh lingkungan? Apakah benar manusia pada dasarnya memiliki hati yang bersih? Hati yang suci? Kita dilahirkan sebagai bayi yang ‘tidak berdosa’? Seperti kata John Locke, kita dilahirkan dengan sifat tabula rasa: bagaikan kertas putih yang kemudian ditulisi? Jika memang demikian, mengapa anak kecil sudah bisa iri hati? Mengapa tanpa diajari, anak kecil mudah egois? Itu karena ketika kita lahir, kita tidak benar-benar bersih. Iada ‘warisan hitam’ dari kakek Adam. Kemudian kita mengenal kebenaran yang membersihkan hati kita. Lalu, seduah bersih oleh kebenaran itu, bagaimana kita menjaganya agar tetap bersih?

Pertama, buang segala bentuk fitnah. Jika ada orang memfitnah Anda, jangan ditaruh di hati. Anggaplah itu sebagai ‘penganan’, ‘sedap-sedapan’, atau ‘camilan’. Kebenaran akan muncul pada akhirnya. Tak perlu membela diri, sebab Tuhan adalah Pembela orang benar.

Kedua, jangan menyimpan sampah dalam hati, seperti kata-kata yang buruk, kedengkian, kejahatan, dan sebagainya. Saku kita saja tentu kita jaga dengan baik. Tak ada orang yang mau menyimpan sampah di sakunya. Apalagi hati kita. Semua tergantung pada kita: mau membuangnya atau menyimpannya. Dua-duanya ada akibatnya. Yang menyimpan sampah akan penuh dengan pikiran negatif, sedangkan yang membuang sampah semacam itu hidupnya penuh dengan hal-hal positif.

Ketiga, mulailah mengisi dengan hal-hal positif, dengan hal-hal rohani. Isi dengan ayat-ayat Kitab Suci, isi dengan wejangan orang berhikmat, isi dengan hal-hal yang baik. Jika perbendaharaan hati ini baik, yang keluar pun hal yang baik, kata-kata yang baik.

Keempat, belajarlah berkata dengan tulus, jauhi kemunafikan. Katakan ‘ya’ di atas ‘ya’, dan ‘tidak’ di atas ‘tidak’, Selebihnya adalah godaan setan. Jika kita tulus, kita memiliki integritas yang baik. Satu dalam kata dan perbuatan. Jaga hati, dan dari sana akan terpancar kehidupan.

7. PEGANG PRINSIP

Akhirnya … pelari itu sampai di garis finish, sebagai pemenang pertama. Ia layak disebut juara. Mengapa? Karena ia memegang prinsip. Prinsip apa? Prinsip fokus! Ketika ia tahu bahwa ia akan diikutkan dalam perlombaan. Ketika ia tahu bahwa akan ada banyak pesaing. Ketika ia tahu bahwa ia akan ditonton banyak orang. Ketika ia tahu bahwa ini sebuah penentuan. Ia pun mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya: persiapan fisik dan juga persiapan mental.

Ia pun masuk pusat pelatihan. Orang luar bilang training center. DI situlah ia seperti dikarantina. Ia diisolasi dari pengaruh luar yang bisa mengacaukan konsentrasi dan fokus hidupnya. Bahkan untuk sementara, komunikasi dengan ‘dunia luar’ terputus. Sebenarnya ia bisa saja menerima tawaran temannya: untuk mengurangi jam-jam latihannya, untuk tidak ikut sert adalam perlombaan itu. Namun ia menolaknya. Ia punya prinsip yang kuat.

Sementara teman-temannya bisa bersantai-santai, ia harus berlatih dengan keras. Sementara sahabat-sahabatnya bisa berjalan-jalan, ia harus berkonsentrasi penuh. Tetapi semua kerja kerasnya membuahkan hasil … kemenangan!

Hidup ini suatu perlombaan. We are in the race. Perlombaan ini menentukan hidup mati kita. Perlombaan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Perlombaan untuk melakukan kebajikan kepada semua orang. Perlombaan untuk menyumbangkan sesuatu bagi bangsa dan negara. Perlombaan membekali generasi yang kemudian. Dan masih banyak perlombaan lainnya.

Sayangnya, banyak yang tidak fokus. Waktu-waktu yang berharga dibuang percuma. Waktru dibuat internetan tanpa tujuan. Waktu dibuat terus bermain game tanpa hasil. Padahal waktu itu sangat berharga. Apakah salah internetan? Apa yang salah dengan bermain game? Tak ada yang salah dengan semua itu asalkan menopang fokus hidup kita. Internetan digunakan untuk memperoleh atau mengirimkan informasi yang baik. Internetan untuk berkomunikasi secara produktif. Bukan sekedar unutk killing the time … buang-buang waktu. Game dimainkan sejenak untuk mengendorkan syaraf yang tegang, tetapi kemudian segera kembali kepada tugas utama. Game yang baik justru akan membuat kiota lebih produktif.

Di samping itu jadilah orang yang memegang prinsip kehidupan. Pegang kebenaran, pegang kejujuran, pegang kekudusan. Akan ada tawaran untuk berdusta atau berbohong. Akan ada tawaran untuk tidak jujur. Akan ada tawaran untuk hidup dalam perzinahan, percabulan, dan kenajisan. Semuanya terserah kepada kita: apakah mau bergeser dari prinsip-prinsip yang mulia itu ataukah … dengan mudahnya menerima tawaran-tawaran yang kenikmatannya hanya sementara itu.

8. HUKUMAN

Bagaimana cara mengubah perilaku seseorang telah diselidiki oleh para ahli. Salah satunya dalah dengan prinsip reward and punishment: pahala dan hukuman. Pada batas-batas tertentu cara ini cukup ampuh. Salah satu alasan untuk dapat menggunakan cara ini adalah dengan melihat tingkat perkembangan moral manusia. Ketika seseorang berada pada tingkatan moral yang sangat rendah – yang diistilahkan dengan pre conventional – maka cara ini sangat ampuh.

Ketika kita berada di Singapura, misalnya, kita menyaksikan keadaan kota yang begitu bersih. Mengapa? Karena di sana ditrapkan prinsip punishmentyang sangat keras. Kota Singapura dikenal sebagai fine city, kita denda! Ketika seseorang membuang sampah sembarangan, atau meludah sembarangan, atau menghentikan taxi sembarangan, atau menyeberang jalan sembarangan, kan terkena sansi berupa hukuman badan atau denda yang sangat besar. Akibatnya> Semua orang takut melanggar peraturan di sana. Apakah karena mereka sadar akan kebersihan? Tidak juga! Tetapi karena mereka takut akan hukumannya. Buktinya? Ketika warga Indonesia berada di Singapura mereka bisa ikut ‘menjaga’ kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi ketika kembali ke Indonesia? Kebiasaan lama kembali dilakukan: meludah dan membuang sampah sembarangan.

Hukuman adalah konsekwensi dari tertibnya peraturan. Ketika peraturan dikeluarkan, maka ada sanksi yang menyertainya, yaitu terhadap orang yang melanggarnya. Dalam hati kita Tuhan telah meletakkan hukum-hukum-Nya. Hukum-Nya diberikan agar kita hidup dalam ketertiban.

Misalnya, hukum kesehatan melalui makanan. Ada jenis-jenis makanan yang sebenarnya dilarang Tuhan untuk dikonsumsi. Mengapa? Karena itu akan mengganggu kesehatan tubuh manusia. Jika itu dilanggar, jangan heran. Penyakit pun datang!

Contoh lain lagi, hukum kasih. Tuhan menghendaki agar kita mengasihi Tuhan dan sesama. Mengapa? Karena Tuhan telah lebih dulu mengasihi kita, dan karena sesama umat manusia sama berharganya di mata Tuhan. Ketika kita melanggar hukum ini: kita tidak mengasihi Tuhan yang ditunjukkan dengan melakukan apa yang tidak dikehendaki Tuhan, maka kita terkena hukuman. Mengasihi Tuhan berarti hiduo dalam kejujuran. Ketika kita mencuri atau korupsi maka hukuman datang atas kita. Hukuman Tuhan bisa diberikan melalui peraturan pemerintah. Maka kita pun bisa mendekam di penjara …

Yang lain lagi adalah hukum keselamatan. Tuhan telah menetapkan jalan keselamatan bagi kita. Apakah kita telah menerima hukum itu dan menaatinya? Ataukah kita menetapkan hukum keselamatan bagi diri kita sendiri, padahal tak ada satu pun di antara kita yang dapat menyelamatkan nyawanya akibat dosa-dosa yang dilakukannya?

Jadi, jangan sedih jika kita mengalami ‘hukuman’ Tuhan. Itu diberikan agar kita sadar, lalu mengadakan introspeksi apakah kita hidup benar sesuai dengan hukum-hukum-Nya.

9. MUSIM-MUSIM

Kita hidup di Indonesia yang memiliki dua musim: musim hujan dan musim kemarau. Sementara di beberapa negara lain memiliki empat musim: musim panas, musim gugur, musim salju, dan musim semi. Jika kita ditanya: “Musim manakah yang lebih baik? Musim panas atau musim hujan?” Maka jawaban yang tepat adalah “Sama baiknya!” Musim panas itu baik, musim hujan itu juga baik. Mengapa? Sebab Tuhan menjadikan segala sesuatunya itu baik, termasuk musim-musim itu. Jika hal ini diperluas, berarti masa kanak-kanak itu baik bagi kita, masa remaja juga baik, masa tua pun juga baik. Masa untuk bekerja itu baik, masa untuk berlibur itu baik. Tidak boleh lagi ada iri hati satu dengan yang lain. “Saya rasa lebih enak ketika masih remaja, bisa lebih banyak bersenang-senang. Tidak seperti sekarang, tiap hari bekerja terus!” Jika demikian, mengapa ketika dulu Anda remaja, Anda ingin segera menikah? Yang lain lagi berkata, “Lebih enak jadi orang tua. Abis kerja bisa bersantai di rumah, sedangkan saya, harus mengerjakan PR setiap malam!” Jika demikian, mengapa tidak cepat-cepat menyelesaikan studimu?

Banyak orang salah bersikap dalam menghadapi musim-musim itu. Bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi musim-musim itu?

Pertama, mensyukuri setiap musik kehidupan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita. Mengapa? Sebab musim apa pun itu baik bagi kita. Ada musim menabur, ada musim menuai. Ada waktu suka, ada waktu duka. Ada waktu gagal, ada waktu berhasil. Ada waktu ide kita diterima atasan, ada waktu ide kita ditolaknya. Ada waktu kebaikan kita dibalas dengan kebaikan, ada waktu dicampakkan bahkan ‘air susu dibalas dengan air tuba’.

Kedua, kita mempersiapkan diri untuk musim-musim itu. Pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’ amatlah tepat. Jika kita tahu bahwa akan ada musim anak kita bersekolah, kita harus mempersiapkan mentalnya untuk masuk sekolah, dan mempersiapkan biayanya untuk sekolah. Jika kita tahu akan menikah, siapkan pula diri Anda untuk itu. Jika kita tahu bahwa kita akan menjadi tua, kita pun harus mempersiapkan diri untuk itu. Ada orang yang tidak siap menikah, tidak siap menjadi tua. Padahal musim-musim semacam itu tidak bisa ditolak. Ia akan datang dengan sendiriny a…

Ketiga, dalam setiap musim kita harus tetap dekat dengan Tuhan. Ada orang yang berprinsip mumpung masih mudah bisa terus bersenang-senang, kalau sudah tua baru mendekat pada Tuhan. Tentu itu itu prinsip yang salah. Mengapa? Sebab kita tidak tahu berapa panjang usia kita di muka bumi ini. Tentu baik jika Tuhan mengijinkan kita berusia lanjut sehingga ada kesempatan melekatkan diri pada Tuhan. Jika tidak? Jadi tetaplah mendekat dengan Tuhan, tetaplah melakukan kebajikan, tetapkan beritakan dan lakukan kebenaran … dalam musim apa pun juga.

 

10. PERJANJIAN

Kasihan teman saya. Ia didatangi temannya yang bermaksud meminjam uang. Jumlahnya cukup besar.  Temannya berjanji akan segera mengembalikannya. Tetapi ketika ia telah meminjamkan uangny aitu, temannya tidak muncul-muncul lagi. Ia kabur dengan uang tersebut. Teman saya marah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ada bukti hitam di atas putih. Artinya, tidak ada perjanjian tertulis. Alasannya? Itu teman ‘kan? Jadi dasarnya adalah kepercayaan. Saya pun berkata padanya. “Kalau begitu ya sudah. Tetaplah percaya bahwa satu kali kelak temanmu akan membayar hutangnya padamu!” Lima tahun berlalu, dan ‘kepercayaan’ itu pun tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Perjanjian itu penting. Dasarnya tentu adalah kepercayaan. Tetapi kepercayaan tanpa perjanjian adalah kepercayaan tanpa ikatan. Tanpa konsekwensi. Perjanjian adalah kepercayaan yang berjaminan. Perjanjian bukan bentuk ktidakpercayaan. Justru, perjanjian merupakan wujud dari kepercayaan.

Bagaimana dengan pernikahan? Itu bukan sekedar kepercayaan tanpa dasar, di mana seorang pria percaya bahwa wanita yang didekatinya itu mengasihinya, dan si wanita pun percaya bahwa lelaki yang meminangnya adalah pria yang akan mengasihi dan memeliharanya. Pernikahan adalah kepercayaan yang diwujudkan dengan perjanjian. Perjanjian itu sebenarnya bukan hanya bersangkut-paut dengan dua pihak: antara seorang pria dan seorang wanita. Melainkan menyangkut 5 (lima) pihak. Wow, sebanyak itukah? Ya!

Pertama, perjanjian dengan Tuhan bahwa keduanya akan saling mengasihi dan melayani dalam suka dan duka, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam kondisi sehat maupun sakit. Kedua, perjanjian di antara keduanya untuk saling mengasihi sehidup semati. Ketiga, perjanjian dengan mertua masing-masing atau walinya, bahwa mereka tidak akan menelantarkan anggota keluarga yang diijinkan untuk dinikahinya. Keempat, dengan pemerintah , yaitu bahwa mereka berdua akan hidup dalam keluarga yang mematuhi peraturan pemerintah. Kelima, dengan masyarakat luas, di mana mereka menjadi bagian dari keteladan dalam berumahtangga bagi generasi-generasi berikutnya.

Sayangnya, itu tidak dipahami oleh banyak orang. Pernikahan hanya dijadikan ajang popularitas, atau pemusaan hawa nafsu, dan sebagainya. Akibatnya, banyak yang bercerai tanpa merasa bersalah, banyak anak-anak menjadi korban, banyak keteladanan menjadi hancur. Bagaimana dengan Anda …?

 

3 thoughts on “CERDIK 1-10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s