CERDIK 41-50

41. TIDUR

sleeping-man   Tidur. Kita semua pernah melakukannya. Tidur dibutuhkan karena merupakan cara beristirahat dari segala bentuk kegiatan. Ada orang yang mudah tidur. Di mana saja – saat sepi atau di tengah keramaian; kapan saja – pagi, siang, sore, atau malam; begitu ada kesempatan – walaupun hanya beberapa menit – akan dimanfaatkannya untuk tidur. ada pula yang sulit tidur. Sebaliknya ada orang yang susah tidur. Saat traveling dengan sarana transportasi senyaman apapun, tetap tidak bisa tidur. Saat di hotel bintang lima sekalipun ia juga susah tidur.

Tidur memang bagian yang penting dalam kehidupan kita. Saat kita bangun dari tidur, tubuh kita menjadi segar dan bisa beraktivitas kembali. Menurut dokter Frank Lipman, tidur cukup adalah kunci agar kita tampak maksimal dan selalu positif. Saat ini dperkirakan lebih dari 70 persen orang Amerika kurang tidur. Entah di Indonesia. Andaikan kita tidur rata-rata sehari 6 jam, atau 25% dari 24 jam, maka dalam usia 80 tahun kita sudah tidur rata-rata 20 tahun. Pernahkah Anda membayangkannya?

Seorang petani bangun di pagi hari, kemudian pergi ke sawah untuk bekerja di sana. Menjelang siang hari, ketika matahari meninggi, ia pulang ke rumah dan tidur. Ajaibnya, Tuhan Pencipta tetap menumbuhkan tanaman yang dipelihara oleh petani itu. Artinya, sesudah mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, petani itu beristirahat. Maka Tuhan pun kemudian mengerjakan karya-Nya, menumbuhkan tanaman itu. Berarti, dengan beristirahat tidur, kita mempersilakan Tuhan mengambil alih apa yang sudah kita kerjakan sepanjang hari itu.

Tetapi, sekalipun manfaat tidur begitu nyata, kita tetap harus mewaspadainya agar tidak sampai kebablasan. Ada orang yang tidurnya berjam-jam, begitu lama, dan ia dikenal sebagai orang yang suka mengantuk. Setelah diteliti, ternyata ada metabolisma yang tidak beres dalam tubuhnya. Misalnya, orang yang mengidap penyakit Diabetes Melitus (DM) biasanya cepat mengantuk.

Yang lain lagi adalah orang yang memang penggemar tidur. Tidur menjadi kegiatan ternikmat dalam hidupnya. Biasanya, orang yang menyukai tidur lambat laun akan menjadi orang yang malas. Ia tidak mau mengerjakan apapun. Ia memilih tidur ketimbang bekerja mencari nafkah, atau membantu orang yang ada di rumahnya. Ia akan memiliki sejuta alasan untuk bisa menghindari pekerjaan. Akhirnya, orang yang seperti ini akan hidup dalam kemiskinan yang parah.

Kualitas tidur atau istirahat kita akan memengaruhi kualitas karya kita. Jadi, tidurlah dengan nyenyak saat itu dibutuhkan.. Tidurlah secukupnya, jangan terlalu sedikit agar tidak mengalami kelelahan. Tetapi juga jangan terlalu banyak sehingga kemudian enggan untuk bangun dan beraktivitas.–

 

42. SALING MEMBUTUHKAN

togetherness-alent   Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk sosial, yaitu untuk berinteraksi dengan sesamanya. Keberadaan kita dibutuhkan oleh orang lain. Sebaliknya kita pun membutuhkan keberadaan orang lain. Kita tidak pernah diciptakan untuk menjadi seorang Superman, seorang manusia serba bisa yang sama sekali tidak membutuhkan orang lain. Bahkan, orang secerdas Albert Einstein pun membutuhkan seorang tukang cukur untuk memotong rambutnya, bukan?

Tahukah Anda, berapa banyak orang dibutuhkan untuk saling bekerjasama sekalipun tidak secara langsung, saat kita ingin makan sepotong pisang goreng? Ada orang yang harus menanam pohon kelapa untuk kemudian diambil minyaknya. Ada yang harus menanam pohon pisang untuk dipetik buahnya. Ada yang bekerja di pertambangan untuk menghasilkan minyak tanah atau gas untuk menggoreng. Ada yang bekerja di pabrik pembuat wajannya, pisaunya, dan sebagainya. Jika menyadari akan hal ini maka kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena Ia menempatkan banyak orang di sekitar kita untuk saling bekerja sama. Bagaimana cara bisa hidup bersama dalam pelbagai perbedaan yang ada?

   Pertama, menyadari bahwa kita diciptakan sebagai makhluk yang unik. Berbeda satu dengan yang laing untuk saling mengisi dan melengkapi. Kita harus selalu ingat bahwa bagaikan sebuah peralatan konser musik yang hebat, kita bisa menghasilkan bunyi yang berbeda-beda. Namun bila itu dipadukan akan menghasilkan harmoni suara yang luar biasa indahnya.

Kedua, meyadari adanya kelebihan dalam hidup kita yang harus dibagikan untuk menolong orang lain. Hidup kita pasti bisa berarti bagi orang lain. Kenali potensi diri yang diberikan Tuhan, maka hidupmu tidak akan sia-sia. Selalu saja akan ada orang lain yang diberkati melalui keberadaan, perkataan, atau perbuatanmu. Seorang berkata kepada saya melalui sms yang dia kirim, “Pak saya tidak memiliki kepandaian apa-apa. Bagaimana saya bisa memberkati orang lain?” Saya katakan kepadanya, “Lho, ‘kan Anda tadi mengirimkan sms kepada saya. Jadi sebenarnya Anda setidaknya memiliki satu kepandaian, yaitu mengirimkan sms. Mengapa tidak dengan kepandaian ber-sms itu Anda menguatkan orang lain dengan ayat-ayat dari Kitab Suci atau kata-kata inspiratif lainnya?”

Ketiga, menyadari adanya kekurangan dalam hidup kita sehingga tanpa ragu kita meminta pertolongan orang lain. Jangan malu dan jangan ja’im. Bukankah ada pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan?” Jadi jika memang kita tidak tahu, sebaiknya kita bertanya dan memperoleh bantuan dari orang lain.

Keempat, memahami dampak dahsyat dari suatu sinergi, yaitu kerja sama yang kompak. Di mana ada kerjasama yang saling menguntungkan, hasilnya akan sangat luar biasa.–

 

43. JERA

kid-in-trouble-1000x750-600x420   Jera berarti tidak akan mengulangi kesalahan yang sama sebab telah mengetahui atau mengalami resiko suatu tindakan yang merugikan atau menyakitkan. Tiap-tiap budaya memiliki cara mendidik anak agar mereka jera, termasuk dalam budaya Madura. Tahukah Anda bagaimana seorang ayah di pesisir Madura mendidik anaknya supaya jera? Ayah saya pernah berkisah begini:

Kakek saya memiliki tiga orang anak: dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Karena mereka tinggal di tepi pantai, kakek menasihati anak-anaknya agar jangan bermain di laut saat ombak besar. Tetapi dasar anak-anak, nasihat itu seringkali diabaikan, khususnya oleh anak laki-laki. Bagaimana caranya supaya mereka jera? Ketika ketahuan mereka bermain sampai agak ke tengah laut, kakek saya segera memanggil anak-anaknya, diikatnya di pohon kelapa, kemudian ditaburi semut besar. Apakah anaknya kemudian menjadi cacat? Tidak! Semut itu memang menggigitnya, tetapi tidak akan sampai membinasakannya. Tindakan ‘disiplin’ ini cukup efektif. Anak-anak merasa jera dan tidak lagi berani bermain di laut saat ombak besar datang. Menyakitkan, memang. Tetapi itu lebih baik dari pada anak-anak tertelan ombak dan hilang untuk selama-lamanya.

Pendidik di zaman sekarang banyak yang tidak menyetujui cara keras seperti itu, tetapi mereka pun tidak bisa memberikan alternatif agar apa yang diajarkan kepada anak-anak menjadi efektif. Orang tua pun sering mendukung anaknya ketika mereka malas belajar. Sebenarnya ketika anak kita tetap saja bermain game walupun telah dinasihati agar belajar, maka orang tua harus mengambil tindakan tegas: menjualperalatan game itu, atau – jika ternyata ia tidak naik kelas – orang tua tidak perlu mendesak guru agar mengatrol anaknya. Jika anak pernah mengalami penderitaan tidak naik kelas karena terus bermain game, itu bisa menimbulkan efek jera padanya.

Perhatikan hasil pendidikan masa kini yang kurang keras: para koruptor tidak jera sekalipun telah diancam hukuman penjara. Masalahnya, di penjara mereka dilayani sebagai raja. Hukuman mati untuk pengedar narkoba dan pelaku tidak teroris juga tidak menjadikan jera, sebab mereka tidak merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan berkenan di hati Tuhan.

Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, mari kita memiliki kepekaan dan menjadi jera untuk tidak lagi melakukan hal yang tercemar. Ketika bencana alam datang secara bertubi-tubi, ketika kekeringan melanda di sana-sini, atau ketika wabah penyakit melanda banyak tempat, sebenarnya pertanda adanya peringatan dari Tuhan agar kita jera. Ia ingin agar kita bertobat dan kembali ke jalan yang benar … selagi ada kesempatan.–

 

44. HILANG

puzzle  Anda pernah kehilangan? Anda bingung karena kehilangan barang tertentu? Belum tentu, bukan? Seseorang tidak akan kebingungan kalau yang hilang adalah barang yang dipandangnya tidak atau kurang berharga. Ia juga tidak akan bersedih jika yang meninggal adalah seseorang yang dikenalnya tetapi tidak memiliki hubungan batin dengan dirinya. Akan lain masalahnya jika yang hilang adalah benda yang amat mahal atau berharga, atau yang meninggal adalah orang yang memiliki hubungan dengan kita, misalnya orang tua atau sahabat karib.

Anehnya, banyak orang bersedih saat kehilangan barang atau materi yang fana sifatnya, tetapi tetap cuek kalau yang hilang adalah iman, pengharapan, dan kasih, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan moral dan spiritual, yang sifatnya kekal dan abadi. Orang juga sering kali tidak peduli jika yang hilang adalah waktu. Waktu berharga dalam menunggu anak pulang sekolah seharusnya diisi dengan membaca buku atau berbicara tentang hal positif dengan orang lain. Tetapi yang sering terjadi adalah waktu itu hanya digunakan untuk chatting atau mengirim sms tentang hal-hal yang kurang atau tidak penting. Memang ada aktivitas yang dilakukan, tetapi membuang-buang waktu yang sangat berharga.

Ketika anak kita kehilangan handphone-nya, misalnya, kita sangat peduli. Kita ikut bersedih melihat anak kita menangis, dan segera berkata kepadanya, “Ndak apa-apa, nak. Nanti ayah belikan lagi yang baru. Tak perlu bersedih.” Tetapi bagaimana ketika ia kehilangan moment yang sangat berharga, yaitu waktu belajarnya hilang karena ia sibuk ber-sms ria dengan handphone-nya? Kita tidak peduli, bukan? Justru dengan kehilangan handphone tersebut, ia mendapatkan kembali waktu yang sangat berharga dalam hidupnya sebagai seorang pelajar, yaitu waktu untuk belajar.

Orang juga merasa sedih saat ditinggalkan orangtuanya yang meninggal. Jeritan dan tangisan terdengar begitu mengharukan. Tetapi ketika ditengok sedikit ke belakang, ia menyia-nyiakan orang-tuanya ketika mereka masih hidup. Mereka tidak mau menengoknya karena alasan sibuk. Mereka tidak mau merawatnya dengan alasan yang sama. Membelikan makanan dan minuman pun tidak sempat. Tetapi ketika meninggal, tersedia banyak buah-buahan. Bahkan makamnya dibuat begitu indahnya. Semuanya serba terbalik, bukan?

Mari kita mau mensyukuri banyak hal berharga dalam kehidupan kita, seperti waktu, persahabatan, relasi dalam keluarga, iman, pengharapan, dan kasih, serta memanfaatkannya sedemikian rupa, sebelum semuanya lenyap. Jika tidak, kita akan menyesal dalam penyesalan yang tiada akhir … —

 

45. PEMBELA

63saat-harus-menegakkan-kebenaran-bagaimana-sikap-kita-seharusnya   Ketika seseorang disangka melakukan suatu tindak kriminal, ia diijinkan melakukan pembelaan, baik dari dirinya sendiri atau dengan menggunakan jasa pengacara untuk membelanya. Pembela yang baik akan mengutarakan kebenaran. Jika memang kliennya salah, ia akan menyatakan salah. Hanya saja ia bisa memohonkan keringanan hukuman yang akan dijatuhkan kepada kliennya itu. Namun pembela yang tidak baik akan membalik kebenaran menjadi dusta, dan dusta menjadi benar. Dengan pelbagai cara, termasuk menggunakan kekuasan atau uang, ia akan berusaha keras membebaskan kliennya tersebut.

Apa yang sebaiknya Anda lakukan jika Anda dituduh melakukan kesalahan? Pertama, jika kita memang melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan orang kepada kita, sebaiknya kita mengakuinya. Pengakuan itu tidak akan membuat kita malu. Justru pengakuan itu menunjukkan sikap kita yang sportif, yang jujur. Pada masa sekarang ini, Sorry seems to be the hardest word, nampaknya kata maaf merupakan kata yang paling sulit diucapkan. Padahal jika kita mau menyadari dan mengakui kesalahan tersebut, orang akan sangat menghargai kita. Dan … beban yang sangat berat akibat kesalahan itu bisa menjadi sangat ringan, sebab Tuhan pun menghendaki agar kita mengatakan “ya” di atas ya dan “tidak” di atas tidak!

Kedua, jika kita memang tidak bersalah, kita dapat memberikan klarifikasi atau penjelasan bahwa memang kita tidak bersalah. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah orang bisa menerima penjelasan kita dan masalah pun terselesaikan. Tetapi jika orang tidak bisa menerima penjeleasan kita, maka kita harus menyerahkannya kepada Tuhan. Dialah yang Mahatahu, dan Dialah Pembela kita. Ia adalah Allah yang benar, sehingga Ia akan membela orang-orang yang benar. Sekalipun negara kita adalah negara hukum, tetapi jauh lebih baik meminta pembelaan Tuhan dari pada pembelaan manusia.

Ketiga, jika memang jalur hukum yang harus dilakukan, tetaplah pada track kejujuran, menceritakan apa adanya kepada pengacara atau pembela yang akan menolong kita, serta meminta agar Tuhan yang mencelikkan mata para pejabat hukum, agar bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.

Sebuah film berjudul Changelin mengungkapkan suatu kisah nyata di akhir tahun 1920-an tentang seorang perempuan yang dalam perjuangan menemukan anaknya yang hilang, mengungkapkan fakta kebobrokan dinas kepolisian di Amerika Serikat pada waktu itu. Ada mafia, ada makelar kasus, ada perseongkokolan, dan sebagainya, yang berhasil diungkapkannya. Hidupnya sangat terancam. Tetapi ia ditolong banyak orang yang mencintai kebenaran, termasuk pendetanya, sehingga ia tetap terlindungi dengan baik. Tuhanlah yang menjadi Pembelanya … bagaimana dengan kita?

 

46. AKHIR YANG BAIK

a-good-beginning-makes-a__quotes-by-italian-proverb-19                        Ada pepatah yang menyatakan begini, “Memulai sesuatu jauh lebih mudah dari pada mempertahankannya.” Langkah awal memang penting. Tetapi jika tidak terus dipertahankan dengan baik sampai kepada akhirnya, maka akan menjadi sia-sia belaka. Beberapa contoh berikut ini menunjukkan betapa pentingnya mengakhiri segala sesuatu dengan baik.

Seorang pemuda yang jatuh cinta pada seorang pemudi selalu menyediakan waktu dan memberikan yang terbaik. Tetapi kemudian setelah berumah tangga, keharmonisan tidak dipelihara dengan baik. Tidak ada lagi komunikasi di antara keduanya, dan akhirnya keluarga yang semula begitu harmonis menjadi hambar.

Orang tua yang untuk pertama kalinya dianugerahi seorang anak oleh Tuhan sangat menyayangi anaknya yang masih bayi. Tetapi kemudian karena kesibukan pekerjaan, pertumbuhan anak itu tidak diperhatikannya. Akhirnya anak itu menjadi nakal, liar, dan tak terkendali. Anak itu kemudian terjun ke dalam pergaulan yang salah dan akhirnya menjadi seorang kriminal.

Seorang karyawan pada mulanya bersyukur kepada Tuhan untuk pekerjaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Dengan pekerjaan itu ia dapat menghidupi isteri dan anakp-anaknya. Namun kemudian, ketika kariernya mulai menanjak, ia main mata dengan perempuan lain. Akhirnya hasil kerjanya diboroskannya dengan perempuan itu, bahkan ia mulai menggunakan uang perusahaan. Ia pun akhirnya dipecat, dan keluarganya pun berantakan.

Seorang remaja yang dibelikan sebuah sepeda motor baru oleh ayahnya, merawatnya dengan baik hanya dalam 3 bulan pertama. Sesudah itu ia terus menggunakannya tanpa perawatan. Akhirnya sepeda motor itu menjadi cepat rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Seorang hamba Tuhan saat pertama kali melayani mempersiapkan khotbah yang akan disampaikannya dengan sangat baik. Tetapi kemudian karena kesibukan pelayanannya, akhirnya persiapan yang dilakukan kurang mendalam, sehingga pelayanannya tidak maksimal.

Dari contoh-contoh di atas, kita belajar tentang pentingnya mengakhiri segala sesuatu dengan baik. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran agar kita dapat mengakhirinya dengan baik. Mari kita akan meningkatkan kualitas hidup dan pelayanan kita sehingga kita bisa mengakhiri hidup ini dengan prestasi yang baik di hadapan Tuhan. Dengan demikian ketika suatu saat nanti kita berjumpa dengan Tuhan dalam kekekalan, Ia berkata kepada kita, “Berbahagialah engkau, hamba-Ku yang setia, …” —

 

47. PERUBAHAN RADIKAL

radical-change-e1312110201574            Jika kita mau sejenak melihat tokoh-tokoh besar di dunia ini, baik yang berkecimpung di dunia politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan sebagainya, maka kita akan terperangah membaca riwayat hidup mereka sebelum mereka menjadi orang yang berhasil. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang mengalami kesulitan dan pelbagai penderitaan. Beberapa contoh dapat disebutkan di sini.

Bapak almarhum William Soeryadjaya, pendiri Astra, perusahaan multinasional, yang wafat pada tanggal 2 April 2010 yang lalu, pada usia 12 tahun adalah seorang anak yatim piatu. Umur 19 tahun ia putus sekolah sehingga harus bekerja sebagai pedagang kertasa bekas dari kota ke kota. Kemudian ia beralih menjadi pedagang hasil bumi. Ia begitu ulet sehingga berhasil sebagai pengusaha besar. Bapak William adalah orang pertama Asia yang menjadi anggota Dewan Penyantun The Asia Society yang didirikan oleh John D. Rockefeller III di New York, AS, tahun 1956.

Contoh lainnya adalah Ir. Ciputra yang mendapat gelar “Bapak Property Indonesia”. Awal hidupnya juga penuh dengan penderitaan. Tetapi oleh pertolongan Tuhan dan keuletannya ia sukses.

Ada perubahan yang besar yang terjadi dalam hidup seseorang, perubahan yang radikal, yang membuatnya berpindah dari hidup penuh penderitaan menjadi hidup berkelimpahan, dari kemiskinan kepada kemakmuran dan kesejahteraan. Apa rahasianya?

Pertama, perubahan terjadi karena Tuhan yang menghendakinya. Ia dapat mengubah kehidupan manusia yang mau bersandar dan berseru kepada-Nya. Tidak ada kehidupan yang terlalu rusak yang tidak bisa diubah-Nya, karena Ia adalah Allah Yang Mahakuasa.

Kedua, perubahan terjadi karena orang itu sendiri mau berubah. Ia tidak bermalas-malasan. Ia juga tidak menyalahkan orang lain atas kondisi yang dialaminya. Ia tahu bahwa segala penderitaan itu hanyalah proses sementara menuju kepada keberhasilan. Ia mau bangkit dan bersikap ulet dalam menghadapi pelbagai tantangan hidup. Tidak mudah putus asa. No pain, no gain, kata pepatah. Di balik penderitaan ada kemuliaan.

Ketiga, perubahan terjadi karena adanya kesempatan yang digunakan sebaik-baiknya. Bahkan ia sendiri menciptakan kesempatan itu. Banyak orang sebenarnya sudah diberi kesempatan, tetapi ia memilih untuk berpangku tangan saja. Ungkapan seperti “Dari pada bekerja dengan gaji hanya segitu, lebih baik diam saja di rumah” adalah ungkapan orang yang membuang kesempatan yang Tuhan berikan. Kita harus benar-benar memanfaatkan setiap kesempatan yang baik agar tidak menyesal di kemudian hari.

Keempat, perubahan terjadi karena adanya orang-orang di sekitar kita yang dipakai Tuhan untuk mengubah kita. Di puncak kesuksesannya, almarhum Bapak William berkata, “Keberhasilan Astra berkat kerja keras semua karyawan dan rahmat Tuhan, bukan karena keberhasilan saya pribadi.” Kita harus mensyukuri rekan-rekan yang ditempatkan Tuhan di sekitar kita, sebab mereka dapat menjadi alat Tuhan untuk mengubah kita.–

 

48. PEMIMPIN

become-a-leader            Bagaimana munculnya seorang pemimpin masih terus menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Apa yang menyebabkan seseorang muncul sebagai pemimpin? Apakah karena ia memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin, sehingga lahir memang sebagai pemimpin? Atau, apakah karena ia dibentuk dan diproses menjadi pemimpin? Menurut pandangan saya, keduanya benar. Artinya, seorang pemimpin memang sudah diberi bakat oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin, tetapi dalam kehidupan ini, yang bersangkut bersedia dibentuk untuk menjadi pemimpin. Menurut para ahli, bakat atau kemampuan yang Tuhan berikan mungkin hanya 20 %, dan sisanya adalah karena proses pembentukan.

Seorang pemimpin juga dikategorikan dari jumlah pengikut. Ada orang yang memiliki kapasitas memimpin ribuan orang, tetapi ada pula yang diberi kapasitas memimpin kurang dari sepuluh orang. Kita harus menjalankan kapasitas berapapun yang Tuhan percayakan kepada kita, dan tidak iri hati dengan pemimpin lain yang kapasitasnya lebih besar. Justru ketika kita benar-benar memimpin orang lain yang mungkin jumlahnya sedikit, maka Tuhan akan mempercayakan kepada kita untuk memimpin dalam kapasitas yang lebih besar.

Seorang pemimpin diakui bukan hanya karena keahliannya dalam memimpin, melainkan juga kehidupan pribadinya dan kehidupan keluarganya. Belakangan ini, banyak orang memilih pemimpin hanya dilihat dari keahliannya, dan mengabaikan moralnya. Mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, memang hebat dalam memimpin negaranya, tetapi ia tersandung dalam affair-nya dengan Monica Lewinsky. Karena nila setitik rusak susu sebelanga, kata pepatah. Jika kita akan memilih pemimpin, sebaiknya dengan cermat kita mengamati terlebih dahulu karakternya, bukan sekedar kharismanya.

Pemimpin juga diakui bukan dari sekedar posisinya, tetapi pelayanannya. Kepemimpinan tanpa pelayanan akan bersifat arogan, semau gue. Semakin tinggi posisinya, seharusnya ia semakin melayani. Ia tidak menuntut penghormatan terhadap dirinya. Penghormatan akan muncul dengan sendirinya ketika ia mau melayani. Pelayanan sebagai pemimpin memang membutuhkan pengorbanan, tetapi dampaknya luar biasa. Yesus Kristus, misalnya, sekalipun Ia adalah Guru bagi murid-murid-Nya, tetapi Ia mau mencuci kaki murid-murid-Nya. Sungguh suatu keteladanan yang luar biasa.

Akhirnya, pemimpin adalah orang yang mau menghargai anak buahnya. Ia bisa menerima masukan atau koreksi dari mereka. Mereka bukan orang yang dimanfaatkan, melainkan diberdayakan. Seorang pemimpin sejati akan senang apabila anak buahnya menjadi pemimpin yang lebih baik dari dirinya. Bahkan ia akan dengan sengaja membentuk pengikutnya untuk menjadi lebih baik dari dirinya. Ia tidak takut tergeser atau tersaingi. Seorang pemimpin harus mampu melahirkan pemimpin … yang lebih baik dari dirinya.–

 

49. PELABUHAN

   Apa artinya sebuah pelabuhan bagi orang-orang pada umumnya? Nampaknya tidak memiliki arti apa-apa. Tetapi sebuah pelabuhan sangat berarti bagi mereka yang biasa pergi berlayar. Ketika seseorang pergi berlayar jauh, memakan waktu sampai berbulan-bulan di tengah samudra, bergelut dengan angin, ombak dan gelombang, maka pelabuhan merupakan suatu tempat yang didambakan. Pelabuhan menjadi tempat perhentian bagi mereka.

Kehidupan kita sehari-hari adalah seperti orang yang sedang berlayar, mengarungi samudera kehidupan ini. Ada angin masalah, ada badai kesulitan, ada gelombang penderitaan. Dibutuhkan adanya pelabuhan, tambatan bahtera kehidupan, di mana kita bisa memperoleh tempat perhentian. Pertanyaannya sekarang adalah, “Di manakah letak pelabuhan hidup itu?”

Ada orang yang menganggap tempat-tempat seperti diskotik, klab malam, dan tempat hiburan lainnya merupakan pelabuhan hidup di mana jiwa kita beristirahat dan memperoleh perhentian. Tetapi pada kenyataannya, orang justru semakin terjerembab. Mengapa? Karena perhentian yang ada di sana bersifat semua belaka. Minuman keras, wanita, narkoba, tidak akan dapat memberikan perhentian sejati. Sebaliknya, hal-hal itu membuat hidup ini semakin runyam.

Yang lain lagi, pergi ke tempat-tempat meditasi tanpa diketahui dengan pasti apa dan siapa yang diajak bermeditasi. Intinya – menurut mereka – untuk mengosongkan diri. Padahal, dengan praktek mengosongkan diri tanpa diketahui untuk apa dan untuk siapa, sangat berbahaya. Bukan tidak mungkin bahwa yang kemudian mengisinya adalah kuasa supranatural yang menyesatkan.

Terdapat banyak tempat lain yang nampaknya seperti pelabuhan untuk kehidupan ini, padahal tidak demikian. Memang sedikit terhibur, tetapi kemudian menimbulkan masalah yang semakin besar. Bahkan, mereka sendiri yang mencoba menghibur kita, para artis dan pelawak, juga membutuhkan tempat perhentian. Bukankah banyak penghibur di dunia entertainment merasa stress dan frustrasi juga?

Jika demikian, di manakah sebenarnya pelabuhan sejati bagi kehidupan ini? DI bawah kaki Tuhan. Ia berkata, “Marilah kepada-Ku, hai kamu yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Perhentian sejati bukan pada tem[at-tempat hiburan yang hingar bingar, atau tempat meditasi yang hening tanpa kehadiran Allah. Perhentian sejati hanya dapat kita peroleh jika kkita datang kepada Tuhan. Ialah yang menciptakan kita. Dialah yang memberi kita kemampuan untuk mengatasi segala badai kehidupan. Ialah juga sekaligus merupakan Pelabuhan bagi hidup ini. DI dalam Dia ada kedamaian, ada ketenangan, ada perhentian.–

 

50. OTOT DAN OTAK

brain-vs-brawn-e1396452119608   Jika ada orang yang bertanya kepada Anda, “Manakah yang lebih penting: otot atau otak?” apakah jawaban Anda? Menurut saya dua-duanya penting. Tuhan menciptakan kita dengan lengkap dan sempurna, termasuk kedua komponen itu: otot dan otak.

Otot digunakan ketika kita bergerak secara fisik. Ada otot mata untuk melihat, ada otot-otot di tengan kita untuk bisa mengangkat sesuatu … bahkan untuk menggendong isteri tercinta, ada otot-otot di kaki kita yang membawa kita melangkah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada otot jantung yang membuatnya bisa berdenyut dengan baik guna memompa darah kita sehingga bisa mengalir ke seluruh tubuh. Ada otot-otot di pencernaan kita yang menghasilkan gerak peristaltik sehingga usus kita bisa mencerna makanan dengan baik.

Otak digunakan untuk kita berpikir dan bernalar. Di dalam otak ada miliaran syaraf yang mampu menggerakkan otot-otot. Begitu otak mengalami gangguan, maka otot-otot pun akan terpengaruh. Ada bagian otak kiri yang bisa digunakan untuk melakukan penghitungan dan hal-hal berkaitan dengan ilmu alam; ada bagian otak kanan yang bisa digunakan untuk kegiatan kesenian. Ada pula bagian otak tengah (middle brain) yang menjembatani otak kanan dan otak kiri yang jika diaktifkan dengan baik akan memberikan manfaat juga.

Anehnya, ada perlakuan tidak adil terhadap keduanya. Mereka yang bekerja dengan otak biasanya lebih dihargai dibandingkan dengan mereka yang bekerja dengan otot. Yang duduk di belakang meja sebagai pengatur strategi mendapatkan penghasilan dibandingkan pelaksana yang ada di lapangan. Padahal jika tidak ada mereka yang bergerak di lapangan dengan ototnya, maka segala bentuk ide atau gagasan – secemerlang apapun – dapat direalisasikan.

Mari kita belajar menghargai keduanya secara seimbang. Yang ada di depan maupun yang di belakang, suami yang bekerja maupun isteri yang di rumah, sama-sama penting. Manajer yang mengatur strategi di kantor, dan para salesman yang menjadi ujung tombak di lapangan, sama-sama pentingnya. Masing-masing ada fungsi dan tugasnya sendiri. Otot tidak boleh iri pada otak, otak pun tidak boleh arogan terhadap otot. Keduanya sama pentingnya.

Jika kita menghargai otak dan otot, maka kita pun akan memaksimalkan fungsinya. Otot-otot kita perkuat dengan pelbagai latihan fisik atau olahraga di tempat kebugaran, sedangkan otak kita terus dikembangkan kemampuannya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan dengan menghadapi pelbagai masalah dalam hidup ini. Keduanya harus terpelihara dengan baik, agar hidup kita bisa sehat dan berhasil.–

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s