CERDIK 31-40

 31. TERPAKSA

2016-07-15-1468609278-6115650-howtomakeyourselfworkwhenyoudontwantto-jpghp   Setiap kali saya berangkat ke kantor lalu lintas selalu ramai. Banyak orang – dengan urusannya – masing-masing pergi dari satu tempat ke tempat lain. Sekian banyak orang tersebut sebenarnya hanya dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar saja, yaitu: mereka yang melakukan segala sesuatu dengan sukarela, dan mereka yang melakukan segala sesuatu dengan terpaksa. Perbedaan di antara keduanya sangatlah besar.

Mereka yang melakukan dengan sukarela akan menjalani kehidupannya dengan gembira, bersemangat, antusias, dan waktu dirasakannya begitu cepat berlalu. Sementara mereka yang melakukan dengan terpaksa akan menjalani kehidupan ini dengan sedih, loyo, tak bergairah, dan waktu yang dilaluinya terasa begitu lama-lama. Di kantor, setiap kali ia melirik jam yang dinding atau arlojinya dan berharap jarum jam segera berputar dengan lebih cepat.

Mengapa ada orang yang melakukan sesuatu dengan terpaksa? Karena ia sendiri sebenarnya tidak menghendaki melakukan pekerjaan itu. Kalau ada pilihan lain, ia pasti akan menghindarinya. Namun karena tak ada pilihan lain, ia selalu berkata, “Apa boleh buat …”

Salahkah melakukan segala sesuatu dengan terpaksa? Jawabannya tergantung situasi dan kondisi. Jika ia merupakan awal dari sesuatu yang harus kita lakukan, itu baik. Misalnya, ada orang yang semula merasa terpaksa merawat orang tuanya yang mendadak terkena kelumpuhan atau stroke. Namun ketika kemudian itu terus dijalaninya, maka ia menjadi terbiasa dengannya. Semula mungkin menggerutu, kemudian muncul kesadaran bahwa yang dirawatnya bukan orang lain, tetapi orangtuanya sendiri, yang telah merawat dan memeliharanya selama ini. Tak ada salahnya jika sekarang ia membalas budi baik orang tua di hari tua mereka, bahkan itu suatu keharusan …

Namun jika keterpaksaan itu terus menerus dirasakan, tentu tidak baik. Mengapa? Karena hasilnya tidak akan maksimal. Sesuatu yang dilakukan dengan setengah hati tidak pernah memberikan hasil yang baik. Perlu mengambil waktu sejenak untuk merenungkan kembali mengapa kita melakukan hal itu. Lalu kita membawanya dalam doa kepada Tuhan, agar Ia memberikan jalan keluar, memberikan pilihan lain. Manusia diberi kehendak bebas. Kita bukan robot yang secara mekanis harus melakukan sesuatu. Kita bisa memilih jenis kehidupan macam apa yang akan kita jalani. Hanya saja perlu diwaspadai bahwa setiap pilihan ada resikonya sendiri …

Tuhan bisa saja membuat kita berputar haluan dan menjalani suatu kehidupan yang sama sekali baru, misalnya: dari status sebagai karyawan kemudian menjadi seorang wiraswasta. Tetapi bisa juga Tuhan menghendaki agar kita tetap di situ. Jika memang demikian halnya, belajarlah mengucap syukur, karena di balik segala penderitaan ada kemenangan … —

 

32. NOSTALGIA

nostalgia-007            Nostalgia. Ini adalah kata dalam bahasa Inggris yang berarti “kangen pulang kampung” (homesick). Kata ini berasal dari bahasa Yunani, nostos, yang berarti “pulang kampung” dan algos, yang berarti “sakit”. Jadi orang yang mengalami nostalgia berarti mengalami sakit pulang kampung. Ini sama artinya dengan rindu … Itulah sebabnya dalam Kamus Bahasa Indonesia, nostalgia berarti “kenangan indah atau menyenangkan yang membekas dalam ingatan; kerinduan yang berlebihan terhadap sesuatu yang sudah lama terjadi atau sesuatu yang letaknya jauh.”

Jika diperhatikan ada dua kelompok orang yang sama-sama bernostalgia. Yang pertama, dalam nostalgianya itu ia bersyukur atas pimpinan dan pemeliharaan Tuhan selama ini. Ia mungkin melakukan napak tilas di kampung halaman, di tempat di mana ia dulu bersekolah, bermain, dan sebagainya, dan sekarang ia hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang mapan. Tuhan telah memberkati segala kerja kerasnya selama ini. Ia akan menjumpai orang-orang yang dipandangnya berjasa: tetangga lama yang mengajarinya sedikit tatakrama, guru di sekolah yang mengajarinya ilmu pengetahuan, bahkan abang becak yang dulu setia mengantarnya ke sekolah, atau ibu penjual sayur yang selalu lewat di depan rumah, yang mengajarinya untuk lebih sehat dengan makan banyak sayuran. Ia berterima kasih kepada mereka semua, yang dipakai Tuhan untuk membentuk dirinya.

Yang kedua, dalam nostalgianya itu ia terus menyesali diri atas kegagalan yang pernah dialaminya. Mengapa dulu ia nakal sehingga pernah merusak milik orang lain, mengapa dulu ia malas belajar sehingga sering tinggal kelas, dan sebagainya. Diharapkan agar kita tidak terus tenggelam dalam penyesalan itu, hidup terus-menerus dalam rasa bersalah. Kita harus bangkit, sebab Tuhan menopang tangan kita. Kita bisa saja dulu pernah jatuh, tetapi tidak boleh tinggal tergeletak. Kita harus bangkit kembali dan menatap masa depan yang penuh harapan.

Namun ada contoh nostalgia lain yang sangat menyedihkan, yaitu ketika seseorang bernostalgia ia jatuh ke dalam dosa. Mengapa bisa begitu? Berikut ini suatu contoh nyata. Ada seorang suami memperoleh sebuah undangan untuk menghadiri pesta reuni teman-teman SMA-nya. Karena isteri mengikuti suatu acara lain, maka sang suamilah yang menghadiri acara reuni itu. Sungguh menyenangkan kembali berjumpa dengan teman lama. Pelbagai kenangan suka maupun duka bermunculan. Lalu … ia teringat akan mantan pacarnya dulu. Dicarinya di tengah-tengah pesta itu dan dijumpainya bahwa teman wanitanya ternyata gagal dalam membina keluarga. Bukannya behenti sampai di situ, tetapi kemudian hubungan berlanjut menjadi suatu affair, suatu perselingkuhan.Sang isteri tidak tahu, keluarga tidak tahu. Tetapi tentu Tuhan tahu. Nostalgia semacam ini harus dihindari agar tidak membawa kita kepada kehancuran di kemudian hari. Kita harus berani berkata “Tidak!” kepada jebakan Iblis yang menjatuhkan kita … —

 

33. PANJANG UMUR

kakek-nenek-770x470                        Di sebuah pesta seorang anak muda sedang duduk semeja dengan sepasang kakek nenek yang nampak begitu rukun. Ketika tiba saatnya hidangan disajikan, anak muda tersebut mengamati ulah sang kakek yang tidak segera menyantap makanannya, melainkan berdiam diri saja. Ia pun penasaran dan bertanya kepada sang kakek, “Kenapa kek, kok tidak makan?” Sang kakek pun menjawab, “Lady first” Maksudnya, perempuan harus didahulukan. “Tapi nenek sudah makan hampir separuh piring, kek!” “Tak apa. Wong saya lagi nunggu gigi palsu yang digunakannya. Jadi harus selesai dulu makannya, baru tiba giliran saya.Gantian pakai gigi palsunya!”

Mungkin kita sedikit risih mendengar perkataan sang kakek. Mana ada gigi palsu yang dipakai bersama? Tetapi anekdote di atas menunjukkan bahwa panjang umum bisa membuat orang lebih sabar, dan lebih bijaksana. Orang yang panjang umur telah banyak makan asam garam dunia ini. Ia telah melewati pelbagai pengalaman yang membentuk karakternya. Ia dapat menjadi tempat bertanya. Seorang raja bernama Rehabeam, yang melanjutkan pemerintahan Raja Salomo pun pernah bertanya kepada orang-orang tua tentang apa yang harus dilakukannya berkenaan dengan pajak yang harus dibayar oleh rakyat. Sayangnya nasihat para orang tua itu diabaikannya, dan kerajaannya akhirnya terpecah menjadi dua.

Apa rahasia panjang umur? Pertama, sejak kecil ia hormat pada orang tua. Ia menabur rasa hormat kepada orang tuanya, maka Tuhan pun memberinya kesempatan menuai apa yang ditaburnya: dihormati di masa tuanya.

Kedua, menjaga pola makan, pola tidur, pola hidup. Ia harus mendisiplin dirinya dengan apa yang dikonsumsinya. Ia harus juga tertib waktu: kapan harus bekerja, kapan harus beristirahat. Sekalipun pada masa muda ia kuat, tetapi itu tidak berarti harus ‘dihabiskan’ sedemikian rupa, sehingga umur hidupnya lebih cepat dari yang seharusnya. Olahraga pun harus dilakukannya agar tubuh tetap prima dan kuman tidak mudah menyerang.

Ketiga, menjadi berkat bagi banyak orang. Ketika hidup kita dibutuhkan oleh banyak orang, maka umumnya hidup kita pun panjang, agar lebih banyak orang lagi menikmati berkat-berkat jasmani dan rohani dari kehidupan kita. Seorang raja bernama Hizkia ditambah usianya 15 tahun oleh Tuhan, sebab ia memerintah dengan baik.

Keempat, hidup penuh penyerahan kepada Tuhan. Umur panjang ada di tangan kanan-Nya, dan di tangan kiri-Nya kekayaan, dan kehormatan, sampai selama-lamanya. Artinya, Tuhan berdaulat penuh atas kehidupan kita. Jika kita telah menghormati orang tua, mengatur pola hidup, berbuat kebaikan kepada semua orang, tetapi Tuhan berkehendak mengambil kehidupan kita karena tugas kita memang sudah selesai, maka itu sepenuhnya merupakan kewenangan-Nya. Kita tidak boleh menghakimi orang lain yang pendek umur. Bukankah Yesus Kristus sendiri pun hanya berusia 33,5 tahun? Tetapi kehidupan-Nya telah menjadi berkat bagi seluruh umat manusia di segala zaman. Ia adalah Juruselamat dunia.

Jadi pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa menajdi bagian kita untuk memenuhi syarat umur panjang seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci, tetapi menjadi keputusan Tuhan kapan Ia memanggil kita ke rumah Bapa. Intinya adalah bagaimana kita memiliki kehidupan yang berkualitas. Bukan masalah panjangnya, tetapi masalah kualitasnya.–

 

34. IRI HATI

envy2Ada sebuah kisah tentang iri hati yang masih saya ingat hingga sekarang. Seorang perempuan cantik dikomentari oleh temannya, “Wah, kamu cantik lho. Sayangnya, hidungmu kurang sedikit mendongak. Kalau aku jadi kamu, pasti hidungku aku buat lebih mendongak. Coba lihat artis ini. Kamu mirip dia, makanya kamu mestiah bentuk hingmu itu.” Perempuan tersebut termakan oleh komentar temannya. Setiap hari ia berdiri di muka cermin dan membandingkan hidungnya dengan hidung sang artis. Ia pun mulai iri hati. Apa yang kemudian dilakukannya? Ia menjalani operasi plastik untuk hidungnya itu. Tidak cukup 1-2 dokter, ia perlu ke lebih banyak dokter sampai akhirnya …. tulang rawan hidungnya menjadi rusak dan ia pun sangat menyesal.

Mengapa kita tidak boleh iri hati? Pertama, iri hati menunjukkan kekerdilan pemikiran kita. Bukankah Tuhan, Sang Pencipta, menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya, secara unik dan istimewa. Tidak ada dua pribadi yang tepat sama di muka bumi ini, bajkan saudara kembar pun tidak! Itu berarti berkat yang Tuhan sediakan bagi setiap orang pun berbeda-beda. Kasih-Nya sama, tetapi bentuknya bisa berbeda. Perhatikan saja perbedaan putra-putri kita sendiri. Setiap anak punya keistimewaannya sendiri. Ada kelebihan dan kekurangannya. Sadari hal itu dan lihat hal-hal istimewa yang Tuhan telah karuniakan kepada kita. Jangan mengeluh untuk hal-hal yang tidak kita miliki, tetapi bersyukurlah untuk hal-hal yang kita miliki, yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

Kedua, sebab iri hati akan menggerogoti kesehatan kita. Orang yang iri hati akan selalu merasa jengkel melihat keberhasilan orang lain. Alih-alih menemui orang tersebut, memberinya ucapan selamat, dan menanyakan rahasia keberhasilannya, ia malah mencari kesalahan orang tersebut dan itu akan membuatnya selalu merasa tertekan. Kondisi kejiwaan semacam ini akan mengganggu kesehatan fisiknya. Kita menjadi sulit tersenyum, sehingga otot-otot di wajah kita tidak berkembang dengan baik. Kita menjadi nampak lebih tua dari yang seharusnya.

Ketiga, iri hati menghasilkan keretakan hubungan atau relasi kita dengan orang lain. Orang yang diliputi dengan iri hati tidak suka berada di tengah-tengah orang yang lebih berhasil dari dirinya. Akhirnya ia akan mengeluarkan perkataan-perkataan yang provokatif, menyampaikan gosip dan hal negatif lainnya. Dari hati yang pernuh rasa iri keluar perkataan yang meracuni banyak orang. Akhirnya kita dijauhi oleh orang lain. Kita terisoliasi dari pergaulan. Sebaliknya, dengan selalu bersyukur kita dapat menceritakan kepada orang lain tentang keberhasilan rekan-rekan kita, dengan menggunakan perkataan-perkataan yang membangun dan positif, sehingga teman-teman kita banyak yang ingin berada di sekitar kita.

Keempat, sebab iri hati adalah dosa. Salah satu hukum yang Allah berikan kepada umat manusia berbunyi demikian, “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” Dan, sama dengan dosa-dosa yang lain, upahnya adalah maut. Kita harus membuang iri hati, dan menggantinya dengan hati yang penuh ucapan syukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita.–

 

35. MENJADI KORBAN

crime_victimTak ada seorang pun di antara kita yang mau menjadi korban. Tetapi kadang-kadang dalam hidup ini, Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi dan kita menjadi korban. Kisah berikut menjadi salah satu contoh yang sangat baik.

Ada seorang ibu di Amerika Serikat yang menasihati anaknya agar berhati-hati jika bermain sepeda sebab banyak kendaraan lain berlalu-lalang. Nasihat itu ditaati oleh si anak. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Anak itu tertabrak mobil yang dikemudikan oleh seorang pemabuk. Akhirnya anak yang dikasihinya itu pun meninggal. Anak ibu ini telah menjadi korban dari tindakan orang lain yang tidak bertanggungjawab. Selama beberapa waktu ibu ini begitu sedih. Rasanya ia ingin memberontak kepada Tuhan. Ia seorang yang setia dan taat kepada Tuhan, tetapi mengapa Tuhan mengijinkan hal buruk itu terjadi padanya. Namun setelah dikuatkan dan dihibur oleh teman-temannya, ia pun dapat menerima hal itu. Ia kemudian memiliki beban di hatinya agar tidak ada lagi korban berikutnya. Apa yang kemudian dilakukannya? Ia mengumpulkan semua orang tua yang anaknya pernah menjadi korban dari pengemudi yang mabuk dalam suatu konferensi. Hasil konferensi itu berupa permohonan kepada Dewan Perwakilan Rakyat di Amerika, agar hukuman dijatuhkan lebih keras kepada pengemudi yang mabuk sebelum jatuh korban lebih banyak lagi. Lembaga itu pun setuju dan kemudian dihasilkanlah undang-undang yang memberikan sanksi berat kepada pengemudi mabuk.

Ada orang-orang yang menjadi korban ketidak-adilan, korban kejahatan, korban keserakahan, dan sebagainya. Apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menjadi korban? Hanya ada dua kemungkin: kita terus diliputi dengan amarah dan kebencian serta keinginan untuk membalas dendam, bahkan menyalahkan Tuhan; atau. kita mensyukuri hal itu dan terus melekat dengan Tuhan sebab yakin bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya. Untuk bisa bersyukur dalam keadaan seperti itu ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, bahwa tidak ada satu hal pun terjadi dalam kehidupan kita tanpa seijin Tuhan. Seutas rambut di kepala kita telah dihitung-Nya. Jika kita mengalami sesuatu, mungkin Allah tidak menghendaki itu terjadi. Tetapi Allah mengijinkan itu terjadi. Jika Ia mengijinkannya, tentu ada maksud Tuhan yang indah di dalam kehidupan kita.

Kedua, bahwa bisa saja perbuatan yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita tidak disadarinya telah menyakiti kita. Itu berarti bahwa kita harus terus belajar memaafkan dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Ingatlah bagaimana Yeuss Kristus pun telah menjadi korban dari pemahaman keagamaan yang keliru sehingga Ia disalibkan. Namun, di atas kayu salib yang kasar itu Ia berseru, “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya.” Doa ini harus menjadi doa kita. Sebagaimana kita telah diampuni-Nya, kita pun harus belajar mengampuni orang lain.

Ketiga, hal itu bisa menjadi pelajaran penting dalam hidup kita. Kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam hidup ini. Ketika ada orang yang berhasil menipu kita dan kita menjadi korban penipuan tersebut, maka kita akan menjadi lebih bijaksana, sehingga tidak akan terkena tipuan semacam itu lagi di masa mendatang. Bahkan keberadaan kita sebagai korban terkadang menjadi inspirasi bagi orang lain sehingga mereka juga menjadi lebih hati-hati.

Jadi tetaplah bersyukur ketika sesuatu menimpa kita, karena di balik itu semua ada manfaat yang besar bagi kehidupan kita dan orang lain.–

 

36. ASAL-ASALAN

introspection21Apakah yang bisa membuat seseorang menjadi pelanggan setia sebuah rumah makan? Jawabannya bisa beragam. Karena kelezatannya, karena murahnya, karena kebersihannya, karena suasananya, karena luas tempat parkirnya, karena pelayanannya, atau karena penataan kreatif makanannya. Apabila semuanya itu memuaskan, maka akan semakin banyak pelanggan yang datang. Demikian pula dengan kualitas kerja kita. Pimpinan akan senang dan menaikkan tingkat kesejahteraan kita apabila kita tidak bekerja asal-asalan. Jadi intinya adalah bahwa jika kita ingin apa yang kita lakukan berhasil dan bermanfaat bagi banyak orang, maka kita tidak boleh asal-asalan.

Mengapa ada orang yang suka bekerja asal-asalan dan sama sekali tidak ingin menghasilkan sesuatu yang lebih baik walaupun sebenarnya ia mampu? Pertama, karena ia apatis dan tidak pernah termotivasi. Orang seperti ini mungkin di waktu-waktu sebelumnya pernah mencapai prestasi yang baik dalam bekerja namun diabaikan begitu saja oleh pimpinannya. Tidak ada pujian, tidak diapresiasi, tidak dihargai. Akhirnya ia merasa bahwa jerih lelahnya selama itu sia-sia belaka. Akhirnya ia menjadi apatis dan hasil kerjanya asal-asalan.

Kedua, karena tidak ada kompetitor atau pesaing. Ada seseorang yang memproduksi sesuatu dan terjual laku keras. Barang produksinya mampu menguasai pasar. Namun selanjutnya ia tidak meningkatkan kualitas produksinya dan cenderung asal-asalan. Ia berpikir bahwa semua orang pasti akan membeli barangnya karena merupakan salah satu kebutuhan utama. Orang tidak akan beralih kepada barang yang sama dengan merk lain sebab tidak tersedia di pasaran. Akhirnya banyak orang dikecewakan. Memang mereka tetap membeli hasil produksinya tetapi dengan keluhan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa sebab barang itu sangat dibutuhkan dan tidak ada merk lain. Sekali waktu, pemerintah membuka pintu masuknya barang-barang produksi negera lain. Kualitasnya lebih bagus dengan harga yang juga bersaing. Akhirnya semua orang beralih kepada produk baru dan ia mengalami kerugian besar. Apabila selama ini kinerja Anda tidak ada pesaingnya tetaplah waspada, jangan asal-asalan, sebab sekali waktu ketika ada pesaing, dengan cepat Anda akan tersingkirkan.

Ketiga, karena ia tidak memiliki wawasan yang luas. Ada orang yang pandangannya begitu sempit. Hanya hasil kerjanya sendiri yang dianggapnya terbaik. Ia lupa akan pepatah China yang berkata, “Di atas gunung yang tinggi masih ada yang lebih tinggi.” Seorang pelajar yang baru lulus dengan peringkat satu di kotanya begitu bangga dan lupa diri. Ia berpikir bahwa dialah orang yang terpandai di seluruh jagad raya. Ketika kemudian ia masuk Perguruan Tinggi, ia begitu terkejut karena ternyata yang jauh lebih pandai dari dirnya sangat banyak. Ia belajar asal-asalan, dan akhirnya ia tertinggal beberap amata kuliah. Miliki wawasan yang luas agar kerja dan pelayanan kita tidak asal-asalan.–

 

37. DISPENSASI

maxresdefaultDispensasi atau pengecualian dalam beberapa hal diperlukan. Misalnya, dalam berlalu lintas. Mobil ambulance, mobil jenazah, mobil pemadam kebakaran, dan konvoi pejabat seringkali mendapatkan dispensasi untuk bisa terus melaju sekalipun trafiic light menunjukkan warna merah yang berarti semua kendaraan harus berhenti. Dispensasi juga bisa diberikan sebagai hadiah bagi warganegara yang membayar pajak tertinggi di suatu negara, yaitu berupa diskon khusus.

Namun dalam beberapa hal lainnya dispensasi atau pengecualian justru sangat berbahaya. Misalnya, dispensasi bagi anak pejabat yang akan memasukkan anaknya kuliah. Panitia penerimaan murid baru di sekolah negeri diharuskan menerima anak pejabat sekalipun nilai-nilainya tidak memenuhi syarat. Tidak akan menjadi masalah apabila nilai mereka bagus, tetapi jika tidak akan mendatangkan masalah besar di kemudian hari.

Yang lebih mengerikan adalah adanya orang-orang yang menghendaki adanya dispensasi dari Tuhan atas diri mereka. Dengan memberikan dana besar bagi pelayanan mereka berharap mendapatkan dispensasi dari Tuhan yaitu pembebasan atas hukuman dosa yang mereka lakukan. Upah dosa itu maut. Prinsip atau hukum ilahi ini berlaku bagi siapa saja dan kapan saja. Tidak ada yang mendapatkan perlakuan atau dispensasi khusus. Tidak karena seseorang adalah anak pendeta atau majelis, tidak pula karena mereka penyumbang besar dalam pelayanan. Kita boleh memberikan bantuan dana bagi pelayanan, tetapi itu bukan untuk dijadikan sebagai syarat memperoleh perkenanan Allah, melainkan sebagi ucapan syukur atas karya-karya-Nya dalam hidup kita.

Ada seorang raja di negeri Yehuda yang bernama Uzia. Ia dibimbing oleh Zakharia yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Pemerintahannya kuat. Nama-Nya termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh. Itu semua terjadi karena penyertaan Tuhan atas hidupnya. Sayangnya, setalah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berpikir bahwa statusnya sebagai raja bisa membuatnya memperoleh dispensasi untuk melakukan tugas imam di rumah Tuhan. Itulah sebabnya ia melanggar tatanan ibadah. Ia pun ditegur oleh para imam, namun Raja Uzia malah menajdi marah sehingga akhirnya ia dihukum Tuhan. Ia dihinggapi penyakit kusta yang saat itu merupakan kenajisan di hadapan Tuhan.

Mari kita ikuti semua tatanan kehidupan yang ada, baik hukum yang ditetapkan Tuhan maupun hukum yang ditetapkan pemerintah kita yang tidak bertentangan dengan hukum Tuhan. Dalam antrian kita ikut antri dengan tertib. Ketika ada persyaratan yang ditetapkan bagi kita untuk sesuatu dan lain hal, kita pun sedapat mungkin akan memenuhinya   Ketika kita taat terhadap hukum-hukum tersebut, maka semuanya akan menjadi tertib dan teratur.–

 

38. MEMBUANG YANG BERHARGA

wasting-time-social-mediaDokter harus lebih berhati-hati, apalagi saat membedah pasien. Seorang dokter di Lima, ibukota Peru, salah mengamputasi kaki pasien berusia 86 tahun. Seharusnya kaki yang diamputasi adalah kaki sebelah kanan, bukan yang kiri. “Saya sangat terkejut ketika saya mengangkat selimut dan melihat mereka mengamputasi kaki kiri,” ujar Carmen Villanueva, putri pasien salah amputasi, kepada radio Peru, RPP. “Borok itu berada di kaki kanan sehingga para dokter harus mengamputasi lagi kaki kanan untuk mencegah infeksi ke mana-mana,” tambahnya. Manajemen Rumah Sakit Alberto Sabogal di Distrik Callao, sebelah utara Lima, mengatakan, mereka menghukum para dokter yang terlibat dalam operasi tersebut.

Kita sedikit geli membaca kisah di atas. Namun tahukah Anda bahwa kita pun sering melakukan hal yang sana, yaitu membuang sesuatu yang amat berharga? Misalnya, waktu. Berapa banyak waktu yang telah kita buang percuma, yang kita sia-siakan? Atau, uang. Kita sering membelanjakan sejumlah besar uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Yang tidak kalah gawatnya adalah ada orang yang membuang begitu saja bakat, talenta, dan kemampuan yang Tuhan berikan kepadanya. Kata membuang di sini bisa berarti menyia-nyiakan, atau tidak menghargai sehingga tidak mau menggunakannya sama sekali.

Bakat atau talenta sangatlah berharga. Tuhan memberikannya kepada setiap orang secara unik sesuai dengan kehendak-Nya. Kita harus bersyukur kepada-Nya. Sayangnya ada orang yang tidak bersyukur atas bakat yang dimilikinya, melainkan justru menuduh Tuhan yang bukan-bukan sebab ia tidak diberi bakat seperti orang lain.

Dengan bakat dan kemampuan itulah kita dapat menekuni pekerjaan atau profesi kita dengan penuh sukacita. Tuhan pun senang ketika Ia melihat umat-Nya menghargai pemberian-Nya itu dengan menggunakannya semaksimal mungkin bagi tujuan yang baik, yaitu kesejahteraan seluruh umat manusia. Kepada orang yang menggunakan bakat dan kemampuannya dengan sungguh-sungguh, Tuhan menambahkan lebih banyak lagi kemampuan lainnya. Karena orang itu mau bertanggung jawab untuk hal yang kecil, Tuhan mempercayakan kepadanya hal yang lebih besar. Sebaliknya dari orang yang membuang-buang anugerah Allah ini, dari padanya semua akan diambil kembali.

Oleh sebab itu, mari kita hargai hal=hal yang berharga dalam hidup kita dan tidak menyia-nyiakannya, sebagai ungkapan syukur kita kepada Tuhan, Sang Pemberi itu.–

 

39. TIPU MUSLIHAT

lively-stones-image   Belakangan ini praktek tipu menipu semakin marak. Selalu saja ada orang yang bermaksud jahat menggunakan tipu muslihat demi keuntungan diri sendiri, dan selalu saja ada korban tipuan. Modus operandi para pelaku tindak kriminal di bidang tipu menipu ini semakin canggih. Mulai dari memalsu uang, melakukan pembajakan buku atau kaset/cd, hingga tipuan kelas tinggi di bidang perbankan. Mengapa manusia suka menipu sesamanya?

Pertama, karena manusia telah dikuasai oleh Iblis. Iblis adalah bapa pendusta. Mengajak orang berdusta dengan pelbagai tipu muslihat adalah keahliannya. Ingat bagaimana Iblis telah menipu manusia pertama, Adam dan Hawa, untuk berbuat dosa sehingga akhirnya diusir dari Taman Eden. Iblis juga sering menipu dengan menjanjikan kesenangan sesaat dalam peri kehidupan sex pranikah dan di luar nikah tanpa mengungkapkan akan datangnya penyesalan yang terus menerus di balik itu semua. Ia juga telah menipu manusia dengan mengatakan bahwa dosa adalah sekedar kesalahan biasa, padahal dosa adakah pemberontakan terhadap Allah.

Kedua, manusia tidak lagi sebagai makhluk sosial melainkan makhluk altruis, yaitu hanya mementingkan diri sendiri. Pokoknya saya diuntungkan. Tujuan menghalalkan cara, termasuk melakukan tipu muslihat. Demi memperoleh berkat anak sulung, Yakub melakukan tipu muslihat terhadap kakaknya, Esau, dan ayahnya, Ishak. Sebaliknya, Yakub juga menjadi korban tipu muslihat pamannya, Laban. Egoisme manusia semacam ini akan semakin menjadi-jadi. Oleh sebab itu kita patut mewaspadainya. Mari kita senantiasa selalu melihat kepentingan bersama dengan sesama kita, dan tidak hanya demi kepentingan diri sendiri.

Ketiga, manusia tidak lagi memahami hokum alam, yaitu hokum tabor tuai. Banyak orang dengan sembrono menipu orang lain tanpa menyadari bahwa nantinya itu akan menghasilkan buah: ditipu oleh orang lain. Hukum tabur tuai akan terjadi dalam hidup kita, tinggal kita memilih mau yang baik atau yang buruk. Jangan sembarangan menabur. Jangan tidak peduli dengan akibat dari menabur yang buruk. Jika kita memiliki kasih terhadap anak cucu kita di kemudian hari, taburlah hal-hal yang baik. Taburlah kebenaran maka kita akan menuai kehidupan.

Sekarang, apabila kita pernah menjadi korban penipuan kita bisa tetap bersyukur, karena hal itu merupakan pengalaman yang memberikan banyak pelajaran. Kita akan menjadi semakin hati-hati dan waspada, sehingga di lain waktu kita tidak menjadi korban tipu muslihat lagi.–

 

40. INSTROSPEKSI DIRI

introspection           Seorang Ibu terus memarahi putranya yang telah berusia 21 tahun dengan kata-kata pedas yang intinya adalah bahwa ia kecewa karena putranya belum bisa mandiri. Tetapi tahukah Anda mengapa putranya menjadi orang yang kurang mandiri? Karena kedua orang tuanyalah yang membuatnya demikian. Memang jauh lebih mudah melemparkan keselahan kepada orang lain ketimbang mengadakan introspeksi diri.

Introspeksi diri artinya mengadakan penyelidikan ke dalam diri sendiri guna mencari tahu apa yang kurang atau keliru dalam diri kita. Introspeksi harus diteruskan bukan dengan perasaan bersalah yang berkepanjangan, seperti kata pepatah “Buruk muka cermin dibelah”, melainkan dengan perbaikan-perbaikan agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Kapankah kita harus mengadakan introspeksi?

Introspeksi diri harus terus dilakukan sebanyak – bahkan lebih banyak dari – berapa kali kita bercermin dalam sehari. Ketika kita bercermin di situlah kita mendapati kelemahan dan kekurangan pada diri kita, kemudian memperbaikinya. Mengetahui adanya kelemahan diri bukanlah suatu aib, melainkan suatu tindakan yang sangat bijaksana karena sebenarnya kita tidak sempurna.

Bagaimana cara kita mengadakan introspeksi? Pertama, dengan menyediakan waktu khusus untuk berdoa. Doa membuat kita mampu memandang Tuhan yang begitu mulia dan mampu memandang diri kita yang sangat hina. Seorang nabi bernama Yesaya langsung tersungkur dalam doanya dan berkata, “… aku ini seorang yang najis bibir …”. Padahal ia adalah seorang nabi! Jika seorang nabi dapat menyadari bahwa dirinya penuh kekurangan, maka kita pun bisa memperoleh kesadaran semacam itu dalam doa.

Kedua, dengan membaca Kitab Suci. Kitab Suci memberikan standar moral tertinggi bagi umat manusia. Bagi umat Kristani, Alkitab adalah kompas utama kehidupan. Di situ diungkapkan kondisi orang benar dan saleh, tetapi juga diberi contoh kondisi orang fasik dan jahat.

Ketiga. kita juga bisa mengadakan introspeksi melalui kunjungan ke teman-teman kita. Ketika kita berkunjung ke rumah teman, mungkin ia berkisah tentang pengalamannya menolong orang lain tetapi kemudian dibalas dengan kejahatan dan ia sendiri tidak membalasnya. Di situ kita bisa bercermin betapa selama ini mungkin kita egois dan tidak pernah menolong orang lain. ATau, kita bosan menolong orang lain karena mengalami bagaimana “air susu dibalas dengan air tuba.”

Keempat, introspeksi juga dpaat dilakukan dengan membaca buku-buku bermutu tentang riwayat hidup orang-orang yang ada di sekitar kita, atau menyaksikan film-film bermutu lainnya. Banyak kisah yang menggentarkan dan mengharukan yang memberikan kepada kita pelajaran berharga.

Lakukan segera introspeksi terhadap kehidupan kita. Jangan menunda-nunda lagi, karena manfaatnya begitu besar, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.–

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s