CERDIK 21-30

21. PEMBERIAN TERBAIK

          the best gift  Tidak ada salahnya jika kita meluangkan waktu untuk bersih-bersih rumah. Biasanya ketika kita membersihkan rumah – gudang khususnya – kita bakal menemukan benda-benda lama yang disimpan di situ. Lalu kita berhenti sejenak, misalnya saat menemukan sebuah buku catatan lama yang kita tulis saat di bangku sekolah tentang kelucuan teman dan sebagainya. Belum lagi ketika menemukan barang tertentu. Kita pun bersnostalgia tentang saat kita memperoleh barang itu.

Yang cukup tragis adalah jika kita menemukan barang berharga, yang diberikan oleh sahabat terbaik kita, tetapi kemudian kita melupakannya. Kita menyimpannya di gudang saat itu dengan alasan “nanti pasti akan saya gunakan di kemudian hari”. Namun setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, benda itu tetap berada di gudang. Mengapa? Karena kita telah melupakannya, bahkan melupakan pemberinya.

Kita merasa bersalah. Kemudian untuk menutupi rasa bersalah karena telah mengabaikan pemberian terbaik tersebut, kita mulai membersihkannya, dan memindahkannya ke kamar kita. Nah, barang itu pun berfungsi dengan baik … suatu bingkai foto yang indah.

Dalam hidup ini ada banyak hal yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Semua hal itu merupakan pemberian terbaik dari Sang Pencipta. Potensi dan kemampuan yang kita miliki merupakan pemberian terbaik dari-Nya, namun sepertinya kita telah menyimpannya di gudang terdalam hidup kita. Potensi itu ‘mangkrak’ dan nyaris mubasir. Kita malah mencoba mencari dan ingin memiliki pemberian Tuhan kepada orang lain. Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Tuhan memberikan kepada setiap orang potensi yang berbeda-beda. Kita frustrasi karena selalu ingin menjadi seperti orang lain. Bukannya mensyukuri pemberian Allah dalam hidup kita dan menggunakannya semaksimal mungkin, malah kita mulai iri hati melihat potensi orang lain.

Mari kita melihat kembali potensi yang Allah berikan kepada kita, dan menggunakannya demi kebaikan kita dan orang lain. Tuhan tidak menuntut dari apa yang tidak diberikan-Nya kepada kita. Ia hanya menuntut pertanggungjawaban dari potensi yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Perbedaan kita dengan para penemu besar seperti Alexander Graham Bell, Thomas Alva Edison, dan yang lainnya adalah bahwa mereka mampu melihat pemberian terbaik Allah dalam hidup mereka, dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sementara kita, mungkin memiliki begitu banyak pertimbangan, kemudian meletakkan potensi itu dan berupaya mencari-cari potensi lain … yang dimiliki oleh orang lain.–

 

22. TIDAK BERHARGA

            precious thingsKapankah sesuatu disebut tidak berharga? Sesuatu disebut tidak berharga apabila: pertama, harga satuan yang ada di label benda tersebut memang murah. Sesuatu yang murah umumnya kurang atau tidak berharga. Kedua, apabila ia dibandingkan dengan sesuatu lainnya yang lebih berharga. Mobil yang berharga 200 juta rupiah menjadi tidak berharga dibandingkan mobil lain yang harnya 2 milyar rupiah. Rumah bagus yang seharga 1 milyar rupiah menjadi tidak berharga dibandingkan rumah seharga 10 milyar rupiah. Itu berarti sesuatu dipandang tidak berharga jika ia secara relatif dibandingkan dengan sesuatu yang lebih berharga. Dalam hal ini kita berbicara tentang nilai atau value.

Apakah keluarga merupakan sesuatu yang berharga atau tidak? Bagaimana dengan persahabatan? Bagaimana pula dengan iman? Itu semua tergantung dari nilai yang dipegang seseorang.

Mereka yang melihat uang sebagai sesuatu yang sangat berharga, maka keluarga akan ditelantarkan demi uang tersebut. Pendidikan anak-anak akan dikesampingkan demi uang tersebut. Pendidikan anak-anak cukup diserahkan kepada orang lain yang bisa dibayar untuk itu.

Mereka yang melihat harta jauh lebih berharga juga akan tega memutuskan tali persahabatan, bahkan tali persaudaraan. Demi uang sahabat bisa menjadi musuh, dan demi uang pula sauadar sekandung dibawa di pengadilan.

Yang lain lagi … demi uang iman dicampakkan. Pola pikirnya sederhana. “Untuk apa saya memikirkan keselamatan di balik kematian, jika untuk makan saja saya tidak punya uang?” atau “Peduli amat dengan iman, yang penting adalah harta dan uang.” Mereka bahkan tidak segan-segan datang kepada kuasa kegelapan demi memperoleh harta benda yang sifatnya sementara.

Ada pula yang menyingkirkan iman demi kesehatan. Tanpa ada kejelasan tentang sumber kuasa penyembuhan yang dimiliki, seseorang datang kepada mereka yang memiliki kuasa itu dan rela menanggalkan iman mereka. Bahkan ada yang berkompromi dengan Iblis demi kesehatan fisiknya yang juga sementara.

Kekudusan hidup? Kebenaran? Itu lebih-lebih lagi. Banyak orang tidak mengharga kekudusan hidupnya. Banyak yang hidup dalam pola seks bebas, kata-kata kotor, ide-ide yang melecehkan Tuhan dan agama. Kebenaran juga tidak dijunjung tinggi. Pokoknya saya bisa ‘sluman slumun slamet’. Pelbagai kompromi dilakukan, demi keamanan dan kenyamanan diri.

Mari kita kembali menghargai nilai-nilai moral yang mulia. Jangan jadikan itu tidak berharga hanya demi kesementaraan. Hargai hal-hal yang kekal dan baka lebih dari yang fana dan sementara.–

 

23. BERLIPAT GANDA

multiplicationNampaknya berjalan-jalan di perumahan elite tidak ada salahnya. Untuk apa? Ya, untuk apa?Ini sebuah pertanyaan penting: untuk apa kita berjalan-jalan dan mengunjungi perumahan elite? Untuk memacu diri agar mau bekerja lebih giat lagi. Orang-orang yang memiliki rumah-rumah bagus itu dengan harga milyaran, tentunya adalah para pekerja keras yang telah memberdayakan potensi yang Tuhan telah berikan pada dirinya, sehingga ia mampu melipatgandakannya dengan baik.

Sebentar. Belum tentu rumah-rumah bagus itu diperoleh dengan cara demikian, bukan? Ya. Tentu saja tidak semua rumah mewah itu diperoleh dengan cara jujur, tetapi tidak semua rumah juga diperoleh dengan cara tidak jujur. Dengan mengatakan kalimat-kalimat yang cenderung menghakimi seperti: “pasti rumah itu hasil perbuatan yang tidak benar!” maka kita telah berdalih dari tugas kita untuk melipatgandakan apa yang Tuhan berikan kepada kita. Mengapa kita tidak berpikir yang lebih positif? Yaitu bahwa mereka memperolehnya dengan cucuran keringat mereka?

Kerja keras. Itulah ungkapan yang disampaikan oleh salah seorang pebisnis properti kondang Indonesia: Ir. Ciputra. Ia mampu mengubah kehidupannya dari kemiskinan yang parah menjadi orang berada. Rahasianya? Yang pertama tentu adalah bakat bisnisnya. Tetapi para ahli mengatakan bahwa faktor bakat itu hanya 10 persen. Selebihnya adalah kerja keras.

Dalam salah satu kunjungan ke sebuah negara saya dibuat terperangah. Seusai saya bersma teman-teman dari Indonesia bersantap siang dengan tuan rumah ada dua perbedaan mencolok. Tuan rumah langsung bekerja keras lagi, bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya. Sementara kami – saya khususnya – langsung menguap karena mengantuk. Orang berkata, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” … “Lain negara lain budayanya.” Tetapi ada budaya yang baik yang bisa kita tiru, bukan? Budaya kerja keras.

Saya mendapatkan informasi berharga bagaimana anak-anak sekolah di negara itu biasa belajar 10 jam sehari … dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Kerja keras sudah membudaya di kalangan mereka. Sebaliknya, anak-anak didik kita sering pulang pagi. Penyebabnya? Macam-macam: guru sedang rapat lha, ada instruksi dari pusat, dan sebagainya. Tanpa disadarai, anak-anak lalu mempiliki budaya santai. Untuk apa kerja keras …? Tongkat kayu saja bisa menjadi tanaman, kok. Negeri kita kan dikeliling lautan. Eh. Kolam susu? Makanya, santai-santai sajalah.

Jangan marah kepada orang lain atau negara lain yang karena kerja kerasnya diberkati Tuhan, dan menjadi orang atau negara yang lebih makmur dari kita. Mulailah bekerja keras, melipatgandakan anugerah Tuhan dalam hidup kita.–

 

24. LARI

runSetiap pagi kita melihat cukup banyak orang berolahraga. Ada yang olah tubuh, ada yang berjalan kaki, dan ada pula yang berlari. Ada yang berlari per seorangan, ada pula yang berkelompok. Ada yang berlari sambil ngobrol mengitari lapangan. Ada pula yang lari lebih cepat demi mengejar jumlah putaran yang harus dilakukan seperti diperintahkan oleh instruktur atau pelatih. Saya melihat sbahwa dari sekian banyak orang berlari, ebenarnya hanya ada tiga jenis lari.

Pertama, lari untuk menyehatkan tubuh. Itu baik dilakukan … secara teratur dan terukur. Olahraga membuat badan kita lebih sehat. Bukankah pepatah mens sana in corpore sano atau “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat” masih berlaku?

Kedua, lari menghindar dari sesuatu. Mungkin anjing galak, mungkin pula manusia galak. Jika yang dimaksud menghindar di sini adalah menghindar dari sesuatu yang merugikan, yang akan merusak kehidupan kita, maka lari untuk tujuan itu memang harus dilakukan. Dalam kisah kuno dikatakan seorang bernama Yusuf yang lari menghindar rari bujuk rayu istri majikannya. Ia lari menjauhi cobaan tersebut. Ia disebut sebagai pemenang, karena berhasil menyelamatkan diri dari dosa besar.Hal semacam ini harus mampu kita lakukan. Saat ada godaan yang akan menjerumuskan kita, jangan berkompromi. Lari dan tinggalkan!

Namun jika lari yang dilakukan bertujuan menghindar dari sebuah tanggung jawab yang penting, yang justru membentuk karakter kita, hal itu patut disayangkan. Ada orang yang cepat pindah kerja, lari dari boss yang ‘galak’ dan berharap memperoleh pekerjaan baru yang lebih ‘lunak’. Ada orang yang lari dari tanggung jawab belajar dengan terus bermain game, dan ketika ujian dilangsungkan menggunakan jalan pintas alias nyontek. Yang lain lagi lari dari tanggungjawab mencintai istri yang diberikan Tuhan ke dalam pelukan perempuan lain.

Ketiga, orang yang lari untuk mengejar sesuatu yang positif. Berlari untuk memperoleh hadiah atau upah yang telah disediakan oleh Tuhan. Ini membutuhkan ketekunan dan ketabahan. Ia tahu pentingnya waktu dan tidak akan menunda-nuna untuk melakukan hal-hal yang positif. Tidak menunda untuk memberi maaf atau ampunan. Tidak menunda-nunda untuk menolong mereka yang tertindas. Tidak menunda untuk memberikan dukungan semangat bagi mereka yang putus asa. Ia melakukan dengan segera … as fast as he can. Ia tidak setuju dengan budaya ‘alon-alon asal klakon’ jika itu bermakna kelambatan. Semuanya sedang berlangsung dengan cepat. Jika kita tidak berlari semuanya akan menjadi terlambat. Berlarilah segera mencapai tujuan hidup mulia, hidup yang menjadi berkat bagi orang lain.–

 

25. MIMPI

           dream Apa kata Anda tentang mimpi? Ada yang berkata bahwa mimpi adalah ‘bunga tidur” jadi tak perlu terlalu dipikirkan. Tetapi saya mau katakan bahwa mimpi itu penting. Saya bukan pemimpi atau penafsir mimpi, tetapi saya mempunyai mimpi. Bahkan sebenarnya setiap orang harus mempunyai mimpi.

Berbagai hasil penemuan di dunia dilakukan oleh orang-orang yang semula memiliki mimpi. I have a dream, judul lagu yang dinyanyikan oleh ABBA, Westlife dan anak-anak sekolah, menunjuk-kan bahwa mimpi menjadi pendorong bagi seseorang untuk mencapai sesuatu.

Karena mimpi itu gratis, tidak perlu bayar, maka akan lebih baik jika kita memiliki mimpi untuk hal yang besar. Mimpi yang besar akan menghasilkan semangat dan energi yang besar. Ia akan mampu mengatasi segala rintangan dan hambatan demi mimpinya itu. Hanya saja tetap harus dibedakan antara mimpi yang menjadi bencana bagi sesama atau yang bermanfaat bagi sesama. Hitler memiliki mimpi menjadi penguasa dunia, dengan cara merusakk, menghancurkan dan membunuh banyak orang. Berbeda dengan Abraham Lincoln yang bermimpi tentang kemerdekaan sejati dan menjadikan itu suatu kenyataan. Hasilnya? Tidak ada lagi perbudakan di Amerika Serikat. Marim Luther King Jr. Pun memiliki mimpi tentang kesetaraan etnis di Amerika Serikat yang kemudian mampu menghapus diskriminasi rasial. Resikonya? Keduanya dibunuh sebagai martir …

Bagaimana bisa memiliki mimpi yang besar? Banyak cara bisa ditempuh agar kita memiliki mimpi besar. Pertama miliki iman yang terus bertumbuh kepada Tuhan Pencipta dan Mahakuasa. Kedua, lengkapi diri dengan membaca riwayat hidup banyak orang besar. Ketiga, belajar bergaul dengan orang besar. Ini bukan bertujuan menjauhi orang kecil, melainkan mendekati orang besar untuk kemudian memiliki mimpi besar untuk menolong orang kecil. Keempat, tetap bersemangat sekalipun banyak orang yang meragukan.

Selanjutnya, mimpi itu akan tetap mimpi jika tidak diwujudkan dalam kenyataan. Kata “pemimpin” hanya berbeda satu huruf dengan kata “pemimpi”. Pemimpin yang tidak mampu merealisasikan mimpinya adalah pemimpi! Dalam merealisasikan mimpi dibutuhkan adanya keberanian. Juga dibutuhkan adanya kerja sama dengan orang-orang lain yang memiliki mimpi yang sama.

Namun demikian, mimpi juga harus disesuaikan dengan kehendak dan rencana Tuhan. Mimpi bukan lari dari kenyataan akan kemampuan diri. Mimpi bukan memaksakan kehendak kita kepada-Nya, melainkan melihat rencana-Nya dalam hidup kita. Jadikan mimpi Anda sebagai kenyataan – walaupun secara bertahap – dengan resiko apapun … oleh pertolongan Tuhan.–

 

 26. SETIA

           faithful Seorang arif bijaksana di masa lampau yang bernama Solaiman, berkata bahwa “sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya”. Pada masa itu ternyata sudah banyak orang yang tidak setia, sehingga kesetiaan menjadi suatu barang langka. Demikian pula halnya dengan kondisi pada masa kini. Orang bekerja hanya seumur jagung. Ketika segalanya berjalan lancar ia tetap di sana, tetapi ketika perusahaan mulai goyah, ia pun hengkang dan mencari tempat baru yang dipandang lebih menjanjikan.

Kesetiaan dalam keluarga juga sudah semakin langka. Ketika penghasilan suami mencukupi kebutuhan keluarga, sang istri setia. Tetapi ketika suami mulai di-PHK, istri pun minta dipulangkan ke rumah orang tua. Suami juga demikian. Ketika istri masih langsing dan kulitnya kencang, sang suami setia dan menyayanginya. Tetapi ketika istri menjadi bertambah gemuk atau kulitnya mulai mengeriput, ia pun siap-siap mencari wanita lain.

Apakah arti kesetiaan itu. Kesetiaan diartikan dengan “tetap di tempat dalam segala kondisi”. Ini menuntut suatu tekad atau komitmen. Di tengah jalan bisa ada godaan dan rayuan untuk meninggalkan tempat, tetapi itu harus dilawan. Bagaimana seseorang bisa menunjukkan kesetiaannya?

            Pertama, karena kesetiaan berkaitan dengan relasi atau hubungan, maka kesetiaan dapat ditunjukkan dengan peningkatan intensitas komunikasi. Kalau sebelumnya hanya berkata, “I love you” setahun sekali, sekarang menjadi sebulan sekali, lalu meningkat menjadi sehari sekali, dan terus di ditingkatkan lagi menjadi beberapa kali dalam sehari. Atau, bisa ditunjukkan dengan kedekatan posisi dengan siapa kita harus setia. Jika di masa lalu sehari hanya 30 menit bersamanya, maka kini ditingkatkan menjadi 2 jam bersamanya.

Kedua, selain itu kesetiaan juga berkaitan dengan aksi atau tindakan. Berarti kesetiaan bisa ditunjukkan dengan peningkatan kualitas pelayanan kita kepadanya. Kalau dulu melayani asal-asalan saja maka kini dengan segenap hati. Kalau dulu kurang ahli, sekarang bertambah mahir. Istri bertambah mahir memasak, mendidik anak, mengasihi dan melayani suami, dan sebagainya. Suami pun bertambah mahir bekerja mencari nafkah, mendatangkan keceriaan atas keluarga, dan sebagainya.

Ketiga, karena kesetiaan juga berkaitan dengan adanya godaan, maka kesetiaan dapat ditunjukkan dengan keberanian dan ketegasan melawan setiap godaan. Tidak memberi kesempatan sedikit pun kepada hal-hal yang bisa mengganggu kesetiaan kita. Ketika seekor unta diberi sedikit kesempatan memasukkan sebagian anggota tubuhnya, maka pada akhirnya ia pasti akan menggunakan kemah itu sepenuhnya dan menendang pemilik kemah keluar!

Jadi … tetaplah setia!

 

27. TERSEMBUNYI

hiddenSalah satu permainan kegemaran saya di masa kecil adalah permainan petak umpet. Bentuk permainan petak umpet beragam, bisa perseorangan atau kelompok. Jika ada dua kelompok sedang bermain petak umpet, biasanya diawali dengan melemparkan undian: kelompok mana yang bersembunyi (hid), dan kelompok mana yang mencari (seek). Ternyata ada kesulitan tersendiri mencari teman-teman yang bersembunyi. Mereka bisa bersembunyi di balik pintu, tetapi juga di dalam lemari pakaian. Ada yang bersembunyi di balik pepohonan, tetapi juga di atas dahan pohon. Yang lebih sulit adalah ketika ia bersembunyi di dapur dan dilindungi oleh orang lain (ibunya atau pembantunya) yang berkata bahwa teman yang dicari tidak ada di sana. Teman yang bersembunyi dengan gaya ini lolos karena tertutupi kebohongan orang lain yang menjadi backing-nya.

Kini sebagai orang dewasa, ternyata kita masih sering kali main petak umpet juga. Kita menyembunyikan hal-hal yang tidak halal, atau yang ilegal. Ada orang yang menyembunyikan wanita simpanannya, dan istrinya tidak mau kalah: menyembunyikan juga laki-laki simpanannya. Yang lain lagi bersembunyi dari peralatan yang sudah semakin canggih. Pembicaraan rahasia kini mudah disadap. Pembicaraan yang dilakukan di tempat tersembunyi kini dipublikasikan secara luas. Yang lebih seru adalah orang yang bersembunyi di balik orang lain yang memiliki kuasa, sehingga kemudian ia menjadi orang yang tak tersentuh (untouchable). Ia lupa bahwa orang yang memiliki kekuasaan itu tidak kekal sifatnya, hanya sementara.

                        Benarkah kita bisa terus menyembunyikan diri kita? Kata kerja ‘sembunyi’ pertama kali muncul di Taman Eden, di mana manusia pertama, Adam dan Hawa, menyembunyikan dirinya dari hadapan Tuhan sesudah mereka berdosa. Lucunya … mereka bersembunyi di balik semak-semak, persis seperti dua orang anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Mereka berusaha menyembunyikan diri dari Tuhan yang Mahatahu, dari Tuhan yang Mahahadir, dan juga dari Tuhan yang Mahapengampun. Saat itu mereka belum mengenal Allah dengan benar, sama seperti orang kebanyakan pada masa kini.

Orang bisa bersembunyi dari sesama manusia, dari peralatan pelacak yang canggih, tetapi tidak akan mungkin tersembunyi dari mata Tuhan yang terus menjelajah muka bumi. Ke manakah dapat kita lari dari hadapan-Nya? Jauh lebih baik jika kita keluar dai persembunyian kita, dari kemunafikan kita, dari kepura-puraan kita, dan lari kepada-Nya, memohon kasih dan pengampunan-Nya dan berjanji untuk tidak lagi menentang perintah-Nya. Tuhan sanggup memulihkan kita. Dari pada kita terus bersembunyi hingga lelah dan frustrasi, lebih baik kita membuka diri kepada-Nya dan mengalami pemulihan atau restorasi … —

 

 28. KETAKUTAN

fearKita semua tentu pernah mengalami ketakutan. Kita pernah takut berada di tempat yang gelap, takut ditinggalkan sendirian, takut berada di ketinggian, takut akan serangga, takut mati, dan sebagainya. Kini kata Yunani phobia yang berarti “ketakutan” telah digunakan dalam banyak istilah di seluruh aspek kehidupan yang menunjukkan bahwa manusia selalu diliputi oleh ketakutan. Bahkan pengalaman penuh ketakutan yang telah berlangsung jauh di masa lalu masih bisa melekat hingga sekarang, membuat trauma.

Seharusnya kita tidak boleh takut. Mengapa? Pertama, sebab orang yang takut bersikap skeptis dan penuh curiga. Ketika ada orang yang baru kita kenal bertamu di rumah kita, kita mencurigainya jangan-jangan ia akan mengganggu kita dan mengambil sebagian harta kita. Seorang yang sedang menggunakan perhiasan yang mahal di tengah keramaian, akan mencurigai setiap orang sebagai perampas perhiasannya. Orang yang takut penuh dengan kecurigaan. Ia tidak bisa hidup dalam damai sejahtera dengan orang lain. Dan itu merupakan suatu kerugian besar. Ketika ada orang-orang lain yang ingin menolongnya biasanya ditolaknya mentah-mentah, dan ia mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Tidak ada pembantu di rumah tangganya, tidak ada karywan di tokonya, tidak ada teman dan sahabat di dalam hidupnya.

Kedua, orang yang takut tidak bisa mengalami kemajuan. Orang semacam ini takut gagal. Daripada nantinya gagal, lebih baik tidak melakukan apapun! Ia tidak akan pernah tahu dunia luar. Orang yang takut bepergian tidak akan pernah mengerti bahwa ada tempat lain yang lebih indah dibandingkan tempatnya yang sekarang. Itu karena ia takut bepergian. Takut naik pesawat, takut naik kereta api, takut naik bus, takut mengendarai mobil sendiri, karena … katanya ada kemungkinan terjadi kecelakaan. Ia lupa, bahwa tinggal di rumah pun bisa mengalami kecelakaan. Ia menjadi orang yang tertinggal dibandingkan rekan-rekannya yang lain.

Ketiga, orang yang takut mencegah kemajuan orang lain. Ia akan menceritakan kemungkinan-kemungkinan negatif yang bisa terjadi, bahkan hal-hal fatal yang bisa dialami sehingga orang lain pun menjadi takut melangkah. Analisanya tentang suatu hal menjadi tidak seimbang. Ia akan selalu bersikap pesimis dan membuat orang lain pun pesimis. Ia akan selalu berkata, “itu bisa dilakukan … tapi sulit!” daripada berkata sebagai orang yang optimis, “Itu sulit dilakukan … tapi bisa!”

Bagaimanacara mengatasi ketakutan? Pertama, dengan hidup berserah kepada Tuhan, Sang Pemilik hidup kita. Bukankah seutas rambut pun tidak akan jatuh ke tanah jika Ia tidak menghendakinya? Kedua, kita meningkatkan pengetahuan. Misalnya ketika kita naik pesawat kita harus tahu bagaimana menyelamatkan diri saat darurat. Ketiga, kita meningkatkan pengamanan diri dan memohon perlindungan Tuhan. Kalau kita takut pencuri masuk ke rumah kita, kita memeriksa pintu dan jendela rumah sebelum tidur atau bepergian. Kalau kita takut akan kuasa kegelapan, kita meminta perlindungan Tuhan melalui doa kita. Keempat, menyadari bahwa ketakutan sangat merugikan diri kita dan orang lain. Dengan demikian kita dapat mengalami kemajuan demi kemajuan, ke arah hidup yang lebih baik dan lebih berguna.–

 

29. KEMENANGAN

winnerSungguh menarik jika kita memperhatikan bagaimana para atlit memperoleh kemenangan dalam perlombaan atau pertandingan yang diikutinya. Tentunya ada banyak cara dan proses yang harus dijalani untuk dapat tiba di puncak kemenangan. Cara yang dapat dibenarkan adalah bahwa kemenangan itu diperoleh melalui kerja keras, latihan dengan penuh disiplin, dan berlomba atau bertanding dengan sportivitas tinggi. Tidak ada mahkota tanpa salib, tidak ada kemenangan tanpa kerja keras.

Tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak demikian. Perhatikan contoh-contoh berikut ini. Ada yang memperoleh kemenangan tetapi kemudian di-drop karena di kemudian hari atlit yang bersangkutan melakukan dopping, yaitu mengonsumsi obat sebelum berlomba atau bertanding guna meningkatkan kekuatan fisik. Yang lain lain mengalami kemenangan karena menyuap pihak lawan. Pertandingan sepak bola tetap dilakukan walaupun musuh telah disuap. Pertandingan itu penuh kepura-puraan dan kemudian muncullah istilah “sepakbola gajah”. Kasus-kasus penyuapan semakin marak. Tidak terkecuali grup sepakbola ternama seperti Juventus pun terjerat dalam kasus suap-menyuap ini.

Yang lain lagi, kemenangan diperoleh secara “kebetulan” atau “keberuntungan.” Pelanggaran yang dilakukan tidak terkena hukuman, melainkan malah menghasilkan kemenangan. Dalam dunia sepak bola misalnya, dikenal istilah “tangan Tuhan” (God’s hand) untuk menyatakan “keberuntungan” dari seorang pemain sepakbola yang berhasil memasukkan bol ake gawang lawan karena menggunakan tangannya, bukan kakinya, dan ia lolos dari pengawasan wasit. Seharusnya gol semacam itu dianulir atau dibatalkan, karena merupakan hasil dari sebuah pelanggaran, tetapi ternyata mereka lolos. Pemain sepakbola seperti Maradona dan Henry Thierry pernah mengalami hal itu. Kemenangan yang memalukan, bukan?

Apa gunanya kemenangan yang diperoleh dengan cara demikian? Apa gunanya memperoleh nilai yang baik di sekolah jika itu hasil contekan? Apa gunanya duduk di kursi empuk sebagai pejabat jika itu merupakan hasil dari memalsu ijazah, menyuap atau money politic, dan bukan karena kemampuan dan hasil pemilihan yang jujur dan adil? Apa gunanya bisa mempersunting seorang gadis jika itu hasil dari memfitnah teman prianya? Apa gunanya memperoleh harta kekayaan yang banyak jika itu hasil dari memalsu atau membajak hak cipta orang lain?

Mari kita raih kemenangan dan pelbagai prestasi dalam hidup ini dengan cara yang benar dan elegan. Kemenangan yang diperoleh karena penyertaan Tuhan, dan melalui kerja keras yang diperkenan oleh Tuhan.–

 

30. BALAS DENDAM

revengeBenarlah ungkapan yang mengatakan bahwa diri kita ditentukan oleh apa yang kita lihat (“You are what you see”). Ungkapan tersebut mengajak kita untuk mewaspadai kekuatan media dalam mempengaruhi kehidupan kita. Perhatikan misalnya ketika orang terdorong ingin membeli sesuatu yang diiklankan sedemikian rupa di radio atau televisi. Iklan itu telah menciptakan citra (image) yang tinggi bagi produk yang diluncurkan, sehingga ketika orang membelinya, harga dirinya ikut meningkat. Orang yang memiliki Blackberry nampaknya lebih terhormat dari yang tidak memilikinya.

Kekuatan media melalui sinetron atau film yang ditayangkan juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Khususnya tema pembalasan dendam (revenge) sangat disukai oleh masyarakat banyak. Kalau seseorang disakiti maka ia harus membalas dengan menyakiti juga, bahkan lebih parah lagi. Konsep balas dendam dengan prinsip “mata ganti mata, gigi ganti gigi” telah merasuk di tengah-tengah masyarakat kita. Sekalipun kita telah hidup di zaman modern, tetapi praktek balas dendam seperti yang masih terdapat di suku-suku terabaikan juga masih dilakukan. Berita tentang pelajar yang tawuran terus terdengar, berita tentang warga dua kampung yang bentrok juga masih sering disiarkan. Seharusnya tidak demikian.

Kebencian dan balas dendam tidak pernah menyelesaikan masalah, tetapi malah memperkeruh masalah. Sebaliknya, kasih dan pengampunan akan memulihkan hubungan yang retak dan rusak. Ketika kita disakiti, mari kita memberkati. Ketika kita diejek, mari kita tetap berbesar hati.   DI zaman lampau hidup seorang raja. Daud namanya. Semasa muda ia telah dibenci tanpa sebab oleh raja pendahulu yang bernama Saul. Ia dibenci hanya karena Raja Saul iri hati kepadanya. Hidup Daud terus menerus seperti telur di ujung tanduk, tetapi Tuhan melindunginya. Tiba saatnya Daud dipilih menjadi raja menggantikan Raja Saul. Daud tidak membalas dendam terhadap keturunan Raja Saul. Bahkan ia berbuat baik kepada salah satu cucu Saul yang bernama Mefiboset. Ini adalah tindakan mulia, yang disukai oleh Tuhan.

Kisah lainnya adalah tentang seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Suami yang dipercayainya selama ini ternyata menjalin hubungan asmara dengan wanita lain, bahkan menghasilkan seorang anak. Apa yang harus diperbuat sang istri? Ada beberapa kemungkinan. Ia bisa minta diceraikan, atau ia juga berselingkuh dalam rangka balas dendam. Tetapi kedua hal itu tidak dilakukannya. Ketika suaminya kembali kepadanya dengan membawa anak hasil perselingkuhannya, ia pun menerimanya dengan penuh kebesaran hati. Suaminya bertobat, dan sekarang mereka hidup penuh bahagia. Inilah tindakan yang disukai Tuhan. Bagaimana dengan Anda …?

Iklan

2 thoughts on “CERDIK 21-30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s