CERDIK 11-20

11. SOLIDARITAS

           solidaritySiapa yang tidak senang jika kita memiliki teman dan sahabat yang loyal terhadap kita? Jika kita memiliki kelompok teman-teman yang kompak dan solid? Solidaritas berbicara tentang adanya ikatan kesatuan, direkat oleh satu kepentingan yang sama. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Ketika satu anggota kelompok dalam keadaan lemah, yang lain segera menolong dan menguatkan. Ketika ada yang membutuhkan, yang lain segera memberikan bantuan.

Namun tentu lain halnya jika solidaritas semacam itu mengarah kepada hal yang negatif. Ketika seorang pelajar mengajak teman-temannya untuk membolos, maka mereka semua menyetujuinya. Maka bolos massal pun terjadilah. Ketika teman yang satu mengajak tawuran, maka teman yang lain pun siap ‘membela’ harga diri temannya. Tawuran pun tak dapat dicegah. Solidaritas negatif terjadi jika ketika seseorang mengajak berbuat dosa, yang lain pun langsung menyanggupinya dengan alasan solidaritas itu tadi. Ketika seorang mengajak korupsi, maka perbuatan tercela itu pun dilakukan beramai-ramai … solider katanya.

Jika tidak dikelola dengan baik soidaritas bisa mengarah pada hal yang merusak, bersifat destruktif. Bagaimana cara menangani semangat solidaritas agar tidak terjerumus dalam hal-hal tercela? Pertama, tentu setiap orang harus memiliki prinsip diri yang kokoh dan kuat, tidak mudah digoyahkan oleh teman atau pergaulan yang menyesatkan. Prinsip yang didasarkan kepada kebenaran secara universal dan kepada etika dan moral yang ditetapkan Tuhan. Kedua,memiliki semangat kepedulian yang positif. Hanya mau menolong teman jika itu mengarah pada kebaikan, bukan pada dosa atau kejahatan. Ketiga,memiliki keberanian untuk menegur teman yang keliru. Tentunya teguran diberikan dengan semangat mengasihi dan membangun. Resikonya? Bisa ditolak atau dibenci. Kasih yang sejati justru harus ditunjukkan dalam teguran jika memang ada teman yang akan terjun ke jurang. Keempat,mempunyai keberanian untuk menolak sekalipun akibatnya adalah kehilangan teman atau kelompok. Kita harus lebih berpihak kepada Tuhan daripada kepada teman yang sedang dikuasai oleh hawa nafsu dosa dan kejahatan. Apa boleh buat. Jauh lebih baik bersolidaritas dengan Tuhan dari pada bersolidaritas dengan kejahatan.–

 

12. PRESTASI

            achievementSemula banyak orang memuji dan mengagumi beberapa orang atlit yang berhasil memperoleh kemenangan dalam perlombaan atau pertandingan olahraga yang diikutinya. Ketika mereka berhasil mencapai prestasi terbaik bahkan memecahkan rekor, banyak orang mengelu-elukannya. Tetapi tak lama kemudian itu semua berbalik arah. Banyak orang kemudian menjadi kecewa terhadap mereka. Mengapa? Karena mereka terbukti memakai doping, obat-obatan tertentu. Prestasi mereka tidak murni, melainkan hasil rekayasa. Memalukan, bukan?

Hal yang senada nampak dalam dunia akademis. Dengan bangganya orang mencantumkan gelar akademis di depan dan di belakang namanya. Gelarnya berderet-deret. Orang bisa terkibuli dengan kartu nama yang mencantumkan pelbagai gelar tersebut. Nyatanya, semua ijazahnya pun. Bahkan … ijazah Sekolah Dasar nya pun palsu. Untuk apa prestasi gelar yang banyak semacam itu, jika tidak diperoleh secara halal? Tidak mau belajar atau bekerja keras. Maunya memperoleh gelar … secara instan … langsung jadi.

Tentu Tuhan tidak menghendaki kita mencapai prestasi semacam itu. Jika Ia memberikan kepada manusia pelbagai kemampuan dan potensi, maka maksudnya adalah agar dengan pertolongan-Nya, dan dengan bersungguh-sungguh hati, penuh ketekunan dan kegigihan bekerja dan belajar, kit adpaat mencapai prestasi yang baik. Tuhan tersenyum melihat kita bisa memberdayakan potensi yang dikaruniakan-Nya atas hidup kita sehingga kita mampu mencapai prestasi yang sebaik-baiknya. Murni. Sejati. Bukan prestasi rekayasa berupa kepalsuan, dusta dan kebohongan. Melainkan dalam keaslian dan kebenaran.

Prestasi yang diperoleh dengan benar pasti digunakan dengan benar pula. Hati diliputi dengan kerendahan hati. Setiap pujian yang diterimanya dikembalikan sebagai sembah puji dan puja kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tidak untuk kebanggaan diri. Hasil prestasi yang diperoleh digunakan untuk kesejahteraan orang banyak. Mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat. Menghasilkan perubahan bagi seluruh bangsa. Teruslah berprestasi. Jika gagal, janganlah berhenti. Tetaplah maju hingga mencapai prestasi yang bermutu.–

 

13. PEMBAHARUAN

renewalApa yang akan Anda lakukan jika pada suatu ketika, ketika Anda sedang mengemudikan mobil kemudian masuk ke jalan yang keliru, dan jalan itu mengarah ke juran atau ke jalan buntu? Anda tidak akan terus melaju, bukan? Apakah Anda berpikir, bahwa karena Anda sudah terlanjur menempuh perjalanan sekian lama, telah menghabiskan bahan bakar sekian liter, dan telah menghabiskan energi sedemikian besar, maka Anda akan terus berada di jalan itu? Saya rasa tidak! Secepat Anda sadar bahwa itu adalah jalan buntu … secepat Anda tahu bahwa Anda tersesat … dan secepat Anda tahu bahwa itu berakhir di jurang, saya percaya bahwa secepat itu juga Anda akan memutar haluan … kembali ke jalan yang benar. Sederhana sekali, bukan?

Sayangnya, tidak banyak orang yang melakukan hal seperti itu. Yang terjadi seringkali sebaliknya. Orang-orang yang tahu, sadar, bahwa yang dilakukannya keliru. Bahwa ia telah mengambil uang yang bukan menjadi miliknya. Bahwa ia telah bermain dengan wanita yang bukan isterinya. Bahwa ia telah berselingkuh dengan pria yang bukan suaminya. Bahwa ia berasyik-masyuk dengan sesama jenisnya. Tokh, orang-orang itu tidak segera berbalik kepada jalan yang benar. Mereka tidak segera mengakhiri kecemaran dan kemaksiatan semacam itu. Mereka justru merasa amat menikmatinya dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Dosa dan kesalahannya malah dipublikasikan besar-besar. Let all the world know … katanya.

Ketika ada sahabat atau orang lain yang mau menyadarkan dan menginsyafkannya, ia malah berkata bahwa semuanya sudah terlanjur. Terlanjur? Terlanjur apa? Terlanjur berdosa? Jika seseorang belum mati, belum bisa dikatakan terlanjur. Masih ada kesempatan untuk penyesalan dan pertobatan. Masih ada kesempatan untuk kembali kepada jalan yang benmar, jalan Tuhan. Jalan ke arah pembaharuan. Cara hidup yang lama, yang keliru, harus ditinggalkan … dan cara hidup yang baru, yang benar diterima dan dijalani.

Ini membutuhkan keberanian. Pembaharuan menuntut pengorbanan. Berani berkorban untuk sesuatu yang baru. Mungkin sudah banyak urang terbuang di sana. Mungkin nama pun telah tercemar ke mana-mana. Tetapi jika kita mau berubah, mau mengalami pembaharuan, maka akan ada pemulihan. Lebih baik menjadi orang yang dulunya jahat sekarang menjadi baik. Mati sebagai orang benar … dari pada tetap dalam keadaan sebagai orang berdosa. Dibutuhkan kebesaran hati untuk mengalami perubahan dan pembaharuan.

Banyak orang yang mau mengambil kesempatan itu. Agustinus bertobat dari kebiasaan buruknya mempermainkan banyak wanita dan minum minuman keras … menjadi alat Tuhan yang memberitakan kebenaran. Seorang perempuan mau bertobat dari kebiasaannya hidup dari pelukan pria yang satu kepada pria yang lain .. bahkan sampai enam orang pria dikencaninya, dan ia pun mengalami perubahan. Segeralah alami pembaharuan … mumpung belum terlambat!

 

14. PILIHAN

choiceHidup ini selalu diperhadapkan dengan pilihan. Hari ini memilih untuk bangun pagi atau siang. Memilih busana yang mana yang akan dipakai ke pesta. Memilih rumah yang akan dihuni bersama isteri. Memilik sekolah untuk pendidikan anak-anak. Memilih tempat pekerjaan untuk berkarier, dan sebagainya. Pilihan harus dilakukan dengan cermat, dengan berbagai pertimbangan. Pilihan yang dilakukan secara sembrono bisa mendatangkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan bisa berakibat fatal.

Ada banyak alasan seseorang menjatuhkan pilihannya. Ada yang berdasarkan nasihat orang. Misalnya anak muda yang akan memilih teman hidupnya, akan mendengarkan terlebih dahulu nasihat orang tua, tentang perempuan yang bagaimana yang harus dipilihnya. Ada pula pilihan yang berdasarkan suara orang banyak. Seseorang memilih merk handphone tertentu karena banyak orang memilih merk itu. Ada pula pilihan yang didasarkan karena informasi yang lengkap yang diperolehnya dari media. Misalnya orang memilih teve merek tertentu setelah memperoleh informasi tentang keunggulan merk tersebut. Yang lain lagi ada yang memilih berdasarkan intuisi. Ia tidak memperoleh informasi penting tentang apa yang akan dipilihnya, tetapi ‘apa kata hati’ katanya. Dan terkadang pilihan dengan alasan ini bisa tepat juga.

Alasan-alasan tadi tentunya tidak salah sepanjang nasihat dan informasi yang diberikan benar-benar baik dan dapat diterima. Tetapi ada satu alasan lagi yang sering kali dilupakan untuk memilih: yaitu alasan rohani. Kita harus selalu bertanya apakah yang akan kita pilih sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan kehendak kita saja. Sejauh mana kita melibatkan Tuhan dalam pilihan-pilihan kita. Sebagai bangsa yang religius mari kita selalu dapat kepada-Nya dalam doa, dan menyerahkan pilihan-pilihan kita kepada-Nya.

Pilihan berdasarkan pengamatan kita sendiri seringkali bisa salah dan menyesatkan. Misalnya orang yang memilih free sex sebagai gaya hidupnya. Pilihan ini jelas keliru, dan Tuhan pasti tidak menghendakinya. Jika kita tetap ngotot memilih pola hidup semacam itu, itu berarti kita menentang Tuhan yang telah menciptakan kita dan merencanakan sesuatu yang indah dalam hidup kita. Pilihan yang dikehendaki Tuhan tidak akan mendatangkan bencana dalam hidup kita. Mari kita belajar untuk selalu melibatkan-Nya dalam pelbagai pilihan di hidup ini agar tidak menyesal kemudian.–

 

15. HAK DAN KEWAJIBAN

rights and responsibilitiesSetiap orang mempunyai hak. Tak ada yang lebih menyenangkan hati selain hak-hak kita terpenuhi. Abraham Maslow mengamati bahwa ketika hak-hak seseorang yang sekaligus merupakan kebutuhannya dipenuhi, maka ia akan termotivasi atau terdorong untuk bekerja dengan baik. Hak untuk memperoleh pemenuhan atas kebutuhan fisik, seperti makan, minum, pakaian, perumahan, dan sebagainya. Demikian pula dengan hak memperoleh keamanan, hak berinteraksi secara sosial, hak memperoleh pengakuan, dan hak mengembangkan diri. Setiap orang akan memperjuangkan hak-haknya tersebut, baik secara pribadi maupun kelompok, baik yang terorganisasi maupun tidak.

Namun bagaimana dengan kewajiban? Orang seringkali melupakannya. Ketika ada kewajiban, orang cenderung mengelaknya, dan menyerahkannya kepada orang lain. Padahal antara hak dan kewajiban seharusnya berjalan bersama-sama. Di mana ada hak, di situ ada kewajiban. Orang yang suka menuntut haknya harus menyadari dan mau menerima tanggungjawab dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Mari kita implementasikan keduanya dalam hal-hal berikut ini.

Dalam keluarga. Apakah yang akan terjadi jika istri-istri menuntut haknya kepada suaminya, tetapi tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri? Ia meminta sarana hiburan seperti teve yang bagus, tetapi enggan menunggui anak-anaknya belajar. Apa pula yang terjadi jika suami-suami menuntut haknya untuk dilayani oleh istri, tetapi malas bekerja mencari nafkah? Apa yang akan terjadi jika anak-anak menuntut hak kamar yang bagus dan komputer atau sarana game yang canggih, tetapi mengelak dari kewajibannya untuk belajar keras dan mencapai prestasi akademik yang baik di sekolah? Apa yang terjadi jika orang tua menuntut hak penghormatan dari anak-anak-nya tetapi mengelak dari kewajiban mendidik anak-anaknya uantuk takut akan Tuhan?

Hal-hal di atas dapat dikembangkan sampai kepada hak dan kewajiban tempat pekerjaan, di tengah masyarakat, terhadap bangsa dan negara. Di mana tidak ada penyeimbangan antara hak dan kewajiban, akan terjadi kekacauan. Mari bersama kita hidup dengan adil untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban kita di pelbagai segi kehidupan.–

 

16. LOYALITAS

loyaltyKata ‘loyalitas’ memiliki arti ‘kesetiaan dalam pengabdian’. Seseorang bisa setia dengan mudah apabila karena kesetiaannya itu ia memperoleh keuntungan atau manfaat bagi dirinya sendiri. Tetapi ketika ia harus mengorbankan sesuatu atau merasa dirugikan, maka loyalitas atau kesetiaan pun memudar. Di masa sekarang ini sulit ditemukan orang yang benar-benar loyal. Mengapa? Karena pola hidup pengabdian telah bergeser menjadi pola hidup individualis, yaitu pola hidup yang mengarah kepada kepentingan diri sendiri. Contoh-contoh berikut ini semakin meyakinkan kita bahwa loyalitas di masyarakat kita telah luntur.

Anak-anak yang tidak loyal terhadap keluarga. Saat liburan anak-anak jarang mau membantu orang tua membersihkan rumah atau kendaraan. Ketika orang tua mengingatkan mereka bahwa selama ini orang tua telah bekerja keras demi menyediakan biaya hidup dan pendidikan mereka, maka jawab mereka: “Itu sudah tugas dan kewajiban orang tua!”

Pegawai kantor tidak loyal lagi terhadap perusahaan. Setiap pegawai mendapatkan gaji atau honor sesuai dengan kualitas kerjanya. Ketika ada perpanjangan kerja barang satu sampai dua jam, mulailah ada ‘perhitungan’ untung-rugi. Perusahaan harus menyediakan uang lembur bagi mereka. Time is more- more, more money, kata mereka. Kalau uang lembur dipandang terlalu sedikit, mereka memilih mencari kerja sambilan di luar. ‘Hasilnya lebih banyak di luar’, katanya. Ini tidak hanya menyangkut – maaf – pegawai negeri, tetapi juga pegawai swasta. Semua dihitung dengan uang. Pengabdian? No way kata mereka!

Yang melayani di bidang keagamaan? Sama saja. Mereka hanya mau melayani umat yang dipandang bisa mendatangkan ‘berkat’ bagi mereka. Siar keagamaan hanya dilakukan di tempat-tempat ‘basah’, yang jika dihitung-hitung, masih bisa ‘untung’. Mereka datang hanya ketika diundang, bukan karena dorongan hati atas dasar kepedulian.

Mari kita kembali kepada loyalitas atau kesetiaan ini. Dan itu hanya bisa dilakukan jika didasarkan pada cinta. Ketika seorang anak cinta kepada orang tuanya, membantu orang tua akan menjadi kerja yang amat menyenangkan. Ketika seorang pegawai cinta kepada pekerjaan dan perusahaannya ia rela mengabdikan hidupnya lebih dari perhitungan bisnis semata. Ketika seorang agamawan cinta kepada Tuhan dan umat yang dilayaninya, maka ia tidak akan memandang muka. Semua dilayani dengan hati yang tulus dan bersih. Masalahnya adalah … masihkah cinta itu ada …?


17. SIMBOL

four-leaf-clover-159210_960_720Manusia diciptakan TUHAN sebagai mahluk sosial. Artinya, makna hidup juga dipengaruhi oleh interaksi manusia dengan sesama dan lingkungannya. Ia diberi kemampuan untuk berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan secara berulang-ulang dengan pelbagai cara guna mengekspresikan apa yang dipikirkan, dirasakan dan dialaminya, serta menerima pengalaman orang lain. Ungkapan-ungkapan itu dinyatakan dalam simbol-simbol atau tanda-tanda. Simbol dibuat dan kemudian disepakati serta dipahami oleh sebuah komunitas. Contoh-contoh berikut ini menarik untuk diperhatikan.

Apakah simbol cinta? Sebagian orang menyatakan cukup dengan flower atau bunga saja, sementara yang lain berkata itu tidak cukup. Cinta harus disimbolkan dengan diamond atau berlian. Mungkin pula masih ada simbol cinta yang lain pada budaya-budaya tertentu.

Apa arti simbol ‘geleng kepala’? Bagi kita orang Indonesia, itu artinya ‘tidak’, tetapi bagi orang India, itu berarti ‘ya’. Dan mungkin dalam budaya lain ‘gelengan kepala’ itu bisa bermakna lain lagi.

Di jalan raya kita memperhatikan simbol yang bertebaran di mana-mana: ada simbol larangan dan ada simbol perintah. Larangan ‘jangan berhenti” disimbolkan dengan huruf S yang dicoret, sedangkan larangan ‘jangan parkir’ disimbolkan dengan huruf P yang dicoret. Perintah ‘kecepatan harus lebih dari 60 km/jam’ disimbolkan dengan angka 60, dan sebagainya.

Dalam hubungan atau relasi dengan sesama kita juga harus mengenal simbol-simbol yang ada beserta maknanya.  Jika kita tidak mau belajar memahaminya, maka akan terjadi salah pengertian.

Dalam simbol ada makna. Sebagai seorang warga negara yang baik kiat menghormati simbol-simbol negara, misalnya: bendera merah putih. Kita memberikan hormat ketika bendera itu dikibarkan dalam sebuah upacara resmi. Itu penting. Tetapi tidak bileh hanya berhenti sampai di situ saja. Apa artinya 1000 kali yang memberikan hormat kepada bendera, tetapi 1000 kali pula saya menghindar dari membayar pajak kepada negara, atau  sebagai pegawai negeri – tidak melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Apa artinya simbol jika tidak dilanjutkan pada makna.

Jadi simbol dan makna sangatlah penting. Pelajari simbol-simbol, dan pahami makna-maknanya dengan sungguh-sungguh. Maka relasi kita antarsesama akan berjalan dengan baik dan menyenangkan.–

 

18. PENGULANGAN

         reduplicatio n Pada umumnya orang tidak suka dengan kata ‘pengulangan’. Medngapa? Sebab ada anggapan bahwa pengulangan dilakukan hanya ketika terjadi kegagalan. Seorang anak harus mengulang duduk di kelas II SD, ketika prestasi belajarnya dinilai buruk dan konsekuensinya ia tidak naik kelas. Pengulangan dalam ujian saat kita mengambil SIM mobil dilakukan ketika polisi yang menguji menyatakan kita tidak lulus dalam ujian tersebut. Benarkah ‘pengulangan’ identik dengan ‘kegagalan’? Tujuan pengulangan salah satunya memang guna mengatasi kegagalan, tetapi sebenarnya tidak selalu demikian.

Kita memukulkan palu berulang-ulang pada paku bukan karena pukulan kita gagal, melainkan karena itu diperlukan agar paku tertancap dalam-dalam. Pemasangan tiang pancang atau ‘paku bumi’ dilakukan dengan cara berulang-ulang agar tiang pancang bisa melesak ke dalam bumi, dan nantinya akan mampu menjadi dasar atau fondasi bangunan sekian lainat di atasnya. Di sini pengulangan dilakukan agar tujuan dapat tercapai secara lebih mendalam.

Orang tua tidak boleh jemu untuk berulang-ulang memberikan nasihat kepada putra-putrinya. Nasihat yang diberikan berulang-ulang akan menancap secara mendalam dalam benak dan hati mereka. Untuk itu orang tua harus menyediakan waktu khusus bagi mereka. Mereka tidak bisa bertumbuh secafa fisik dengan benar jika kita hanya menyuapinya dengan sekali saja untuk 10 tahun, bukan? Demikian halnya dengan pertumbuhan mental, moral, dan iman mereka. Sampaikan berulang-ulang agar kita tidak menyesal di masa depan.

Suami dan isteri perlu saling mengungkapkan cinta di antara mereka secara berulang-ulang, agar mereka berdua terus mengingatnya, sehingga tidak mudah tergoda oleh wanita atau pria lain. Ketika hal ini tidak dilakukan, akan menjadi sama seperti tanaman yang tidak disiram berulang-ulang, yang kemudian menjadi layu dan akhirnya mati. Cinta merupakan ‘tanaman’ yang membutuhkan air yang terus disiramkan berulang-ulang, supaya tetap segar dan berkembang.

Umat Tuhan perlu terus-menerus dan berulang-ulang mendengar, membaca, dan melakukan kebenaran firman Tuhan supaya kita mengerti perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Hati kita pun menjadi semakin melekat dengan Tuhan Sang Pencipta karena firman-Nya tertancap mendalam di hati kita. Ini akan mencegah kita berbuat jahat atau menyakiti orang lain.

Jadi, lakukan pengulangan di mana perlu, agar kita tidak menjadi lupa diri … —

 

19. SUKARELA

           generosityAda beberapa perbedaan antara orang yang tinggal di kota dan yang tinggal di desa. Salah satunya adalah kesediaan melakukan sesuatu dengan sukarela. Orang-orang di kota sangat jarang mau melakukan sesuatu dengan sukarela, sementara di desa terdapat lebih banyak orang yang mau sukarela menolong orang lain. Inilah beberapa pengalaman yang mungkin juga Anda pernah alami …

Ketika kita mencari alamat seseorang di desa, selalu ada orang yang bersedia menunjukkan alamat yang tepat, bahkan ikut serta dalam kendaraan yang kita gunakan hingga kita tiba di alamat yang dituju. Ketika kita mengalami pecah ban, langsung ada orang yang menghampiri kita untuk menolong sesuai kemampuan mereka. Padahal kita dan mereka tidak saling kenal. Apakah setelah itu ia meminta tips? Tidak! Bahkan ketika kita memberikan tips, tidak jarang mereka menolaknya.

Tetapi mereka yang di kota seringkali terpengaruh dengan budaya materialisme, semuanya dihitung dengan uang. Seseorang mau mengerjakan sesuatu asal ada upahnya. Ketika kita minta tolong menunjukkan alamat seseorang, kita tidak segera ditolong. Mata mereka memandang kita dulu: kenal atau tidak, berasal dari etnis yang sama taau tidak. Kalau pun mereka mau menolong, biasanya asal menolong saja, tidak dengan ketulusan atau kerelaan hati. Saat menolong mendororg mobil mogok atau melewati banjir, mereka minta upah. Tidaklah heran jika di mana ada ‘penolong-penolong’, termasuk di pertigaan atau perempatan jalan. Sepertinya menolong melancarkan lalu lintas, tetapi di balik itu … meminta upah. Jika upah tidak diberikan, mereka pun bermuka cemberut dan marah.

Sikap sukarela untuk menolong orang lain akan muncul jika kita sadar bahwa kita pun membutuhkan pertolongan orang lain, termasuk musuh kita. Musuh kita adalah penolong kita dalam membentuk karakter kita. Di samping itu tak ada orang yang mampu melakukan segala sesuatu dari dirinya sendiri. Sebagai manusia kita terbatas dan membutuhkan sesama kita. Jika kita ingin orang lain menolong kita secara sukarela, mari kita menolong orang lain secara sukarela juga. Bahkan sekali pun orang yang kita tolong kemudian melupakan kita. Sukarela menolong orang lain mencakup sukarela untuk terlupakan.

Mari kita bangun kembali semangat sukarela ini. Dalam menolong sesama – kenal atau tidak – kita lakukan dengan sukarela, semampu yang kita bisa.–

 

20. FOKUS


Kita patut bersyukur kepada Tuhan adanya penemuan-penemuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab pelbagai penemuan itu menjadikan hidup ini lebih mudah. Kemajuan di bidang telekomunikasi membuat percakapan kita dengan anggota keluarga atau kenalan di pelbagai tempat lebih mudah. Kemajuan di bidang informasi membuat kita memperoleh data atau dokumen penting bagi kepentingan penelitian atau sekedar sebagai tambahan asupan pengetahuan kita, yaitu melalui teknologi internet. Para penemu itu telah begitu berjasa bagi seluruh umat manusia. Bagaimana prosesnya sehingga mereka mampu menjadi penemu? Salah satunya adalah proses memfokuskan diri pada suatu hal yang sedang diteliti.

Sebenarnya – menurut pengakuan para penemu itu – mereka menghadapi banyak godaan yang bisa membuat mereka beralih ke bidang lain, atau menghentikan penelitian itu sama sekali. Ketiadaan dana, kesendirian, ketiadaan dukungan moral, dan sebagainya, bisa membuat mereka patah semangat. Tetapi karena kemudian mereka bisa memfokuskan diri kepada apa yang sedang mereka teliti, maka akhirnya segala jerih lelah mereka menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Fokus, itu kuncinya.

Fokus akan mampu menyatukan pelbagai aspek kehidupan kita. Waktu, daya, dana, dan doa difokuskan pada satu hal, hingga tujuan itu tercapai. Tak ada yang terbuang sia-sia. Semuanya memberikan kontribusi yang luar biasa.  Memang saat kita fokus, kita bisa disalahmengerti oleh orang lain. Kita bisa dianggap eksklusif atau penyendiri dan dianggap sebagai orang aneh. Harga yang semacam itu harus bisa kita bayar jika kita memang menghendaki hasil yang maksimal. DI ujung jalan mereka akan mengerti mengapa kita rela mengorbankan segalanya bagi sesuatu yang menjadi fokus kita.

Jika kita fokus pada keluarga, kita akan hati-hati dalam membelanjakan uang kita. Setiap rupiah tidak akan terbuang dengan sia-sia. Ada anak isteri yang harus dihidupi, ada keluarga yang harus dipelihara. Pekerjaan yang kita lakukan pun akan kita kerjakan dengan segenap hati kita, demi keluarga. Waktu-waktu senggang pun akan kita manfaatkan untuk membangun komunikasi yang lebih bermakna dengan keluarga. Fokus pada keluarga akan membuat kita merasa antusias setiap waktu. Hidup tidak akan pernah membosankan. Selalu akan ada hal yang baru dan mendorong kita semakin kreatif dalam membina keluarga kita. Fokuslah mulai sekarang … kapan lagi?

2 thoughts on “CERDIK 11-20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s