KHOTBAH

REKAN SEPELAYANAN

2 Timotius 4:19-22

Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani. Dalam pelayanan Tuhan memberikan kepada kita rekan-rekan sepelayanan. Beberapa sikap yang benar terhadap rekan-rekan sepelayanan adalah sebagai berikut:

(1)   Ada orang lain yang dipakai Tuhan untuk menolong kita – kita harus mau menerima rekan sepelayanan yang berbeda dari kita. Perbedaan itu cukup luas: karakter, temperamen, kepribadian, dan sebagainya. Perbedaan bukan bencana melainkan berkat Tuhan di mana kita dapat saling melengkapi satu terhadap yang lain.

(2)   Siap menjadi orang yang dilupakan – dalam perikop ini ada orang-orang yang namanya hanya sekali disebutkan dalam Alkitab. namun nama mereka tentu tercatat dalam Kitab Kehidupan di Kerajaan Sorga, sekalipun tidak diingat orang saat melayani di muka bumi ini.

(3)   Mensyukuri bakat dan kemampuan yang diberikan Tuhan – kita harus focus pada bakat, kemampuan, dan talenta atau karunia roh yang Tuhan berikan kepada kita. Dalam mengobarkan karunia itu masih dibutuhkan setidaknya 13 pilihan sebagaimana diungkapkan oleh John C. Maxwell dalam bukunya Talent Is Never Enough.

(4)   Mau memprioritaskan kehendak Tuhan – memang tidak mudah mengambil keputusan antara menunggui Trofimus yang sakit atau meninggalkannya Karen apemberitaan Injil. Namun kalau kita mengerti prioritas maka kita dapat memaksimalkan pelayanan kita.-

—– 00000 —–

KERAJAAN SORGA

Matius 13:44-46

Matius menggunakan istilah ‘Kerajaan Sorga’ tapi Markus dan Lukas menggunakan istilah ‘Kerajaan Allah’, pada prinsipnya sama. Ada 2 hal penting mengenai Kerajaan Allah.

1. Kerajaan Allah diminta, dicari dan dirindukan

  • Dalam doa Bapa Kami, orang percaya minta … datanglah kerajaan-Mu. Mereka meminta Kerajaan Allah datang dalam rumah tangga, kantor, pekerjaan, dll.
  • Kerajaan Allah dicari (Mat. 6:33)Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya
  • Kerajaan Allah dirindukan (Mat. 13:44-46), Kerajaan Allah diumpamakan seperti harta terpendam dan mutiara yang sangat berharga. Mereka menjual segala miliknya untuk memperolehnya.

Sayang tidak banyak orang mengerti tentang nilai Kerajaan Allah. Ada orang yang mau mengorbankan segala miliknya untuk suatu kedudukan, keinginan yang dianggap memberi kepastian dalam hidupnya, tapi belum tentu mau untuk Kerajaan Allah.

Apa yang membuat  Kerajaan Allah penting, sehingga diminta, dicari dan dirindukan dan lebih berharga dari apapun?

Definisi Kerajaan Allah berkenaan dengan Kebenaran, damai sejahtera, sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Roma 14:17), dan berkenaan dengan kuasa (1 Kor. 4:20).    Contoh orang-orang yang rela mengorbankan dirinya demi Kerajaan Allah :

  • Rut : Mengambil keputusan dengan tepat untuk rela meninggalkan Moab mengikuti Naomi demi Kerajaan Allah, akhirnya mendapat suami Boas dan keturunannya masuk dalam silsilah Tuhan Yesus. Tuhan tidak mempermalukan orang yang rela berkorban untuk Kerajaan Allah.
  • Matius (Mat. 9:9), Dia memberi respon positif, saat Yesus memanggilnya meskipun ada tantangan penderitaan, ia rela meninggalkan kedudukannya sebagai pemungut cukai. Keputusan yang tepat diambil membuahkan “Injil Matius” dalam Alkitab.
  • Simon Petrus dan kawan-kawan (Luk. 5:10-11). Mereka adalah nelayan yang sukses, tapi dengan segera, tidak menunda-nunda mengikut Yesus ketika dipanggil menjadi penjala manusia.
  • Paulus (Flp. 3:7-8). Ia melepaskan masa lalunya yang hebat untuk memperoleh yang lebih hebat. Ini  adalah keputusan yang luar biasa yang harus diambil.

2. Mempertahankan Kerajaan Allah

Kerajaan Allah yang telah kita peroleh harus dipertahankan, dipegang teguh, kuat-kuat, karena banyak orang lain yang mencoba untuk mengambilnya. Contoh :

  • Esau – Ia punya “Kerajaan Allah” sebagai anak sulung Ishak, tapi karena semangkuk masakan, status itu dijualnya. Banyak terjadi karena kesenangan sesaat rela menjual imannya.
  • Nabot (1 Raja 21), ia mempertahankan kebun anggurnya (Kerajaan Allah) ketika Ahab ingin membelinya, walaupun akhirnya ia mati karena Isabel (istri Ahab) menghalalkan segala cara. Banyak orang mau mengambil Kerajaan Allah, kalau perlu dengan kekuatan atau ancaman. Tapi orang-orang yang mempertahankannya, Tuhan tidak akan mempermalukan.
  • Jemaat Tiatira (Why 2:25). Ada banyak ajaran-ajaran sesat yang muncul untuk menyesatkan iman kita, tapi Tuhan minta kita pegang teguh Kerajaan Allah itu sampai Tuhan datang. Tuhan akan memperhitungkan keputusan kita.

—– 00000 —–

HUKUM TUHAN (1)

ASPEK-ASPEK PENTING HUKUM TUHAN
Matius 5:17-20

             Ada beberapa pertanyaan penting yang perlu diajukan berkenaan dengan Hukum Tuhan ini, dan Alkitab memberikan jawabannya secara luar biasa:

(1)   Siapa yang memberikan Hukum – Hukum diberikan oleh TUHAN Allah sendiri. TUHAN tidak hanya memberikan kesembuhan (15:26), air (15:27), makanan (manna – 16:35), kemenangan (17:15), pemimpin (18:24-26), tetapi juga hukum (20:1-17). Hukum diberikan oleh TUHAN Karena kasih-Nya kepada umat-Nya, agar mereka dapat mengenal yang benar dan yang salah.

(2)   Kepada siapa hukum diberikan – Hukum diberikan kepada umat yang telah dibebaskan.Kebebasan atau keselamatan diperoleh lebih dulu, baru hukum diberikan. Jadi hukum dilakukan bukan untuk memperoleh kebebasan melainkan untuk mengisi kebebasan yang telah diperoleh.

(3)   Apa saja sifat-sifat hukum Allah ini – Hukum Allah bersifat: kudus, benar, baik (Roma 7:12), rohani (Roma 7:14), dan kekal (Matius 5:18).

(4)   Apa yang Tuhan Yesus ajarkan tentang Hukum Allah ini – Yesus datang untuk menggenapinya, yaitu mengajarkan hukum huruf dan roh (Mat 5:17). Kita harus juga melakukan dan mengajarkannya (Mat 5:19). Bahkan kini Hukum itu telah disajikan dalam dua hukum kasih: mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Matius 22:37,39).

 (5)   Mengapa Yesus sering mengecam para ahli Taurat – Yang dikecam bukan Hukum Allah, tetapi pelaksanaannya, yaitu: (a) ada adat-istiadat manusia yang ditambahkan kepada Hukum Taurat,  (b) yang dipentingkan hanya ‘huruf’ atau lahiriah, bukan ‘roh’, dan (c) ada penekanan yang berat sebelah, yaitu menganggap hokum yang satu lebih penting dari yang lain. Padahal semua Hukum Taurat sama nilainya.

—– 00000 —–

HUKUM TUHAN (2)
HUKUM YANG HARUS DIBERITAKAN

Yesaya 42:1-9

 

            Hukum Tuhan yang bersifat kudus, benar, baik, rohani, dan kekal itu harus diberitakan kepada orang lain. Inilah beberapa aspek penting tentang pemberitaan Hukum Tuhan. Yesaya 42 merupakan nubuatan Mesianik yang digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus (Mat. 12:15b-21).

(1)   Diberitakan dengan kuasa Roh Kudus (ayat 1) – Mengapa? 

  1. Roh Kudus membawa kita kepada seluruh kebenaran – Yoh. 16:13
  2. Roh Kudus menginsyafkan orang yang mendengar hukum Tuhan – Yoh. 16:8-11
  3. Roh Kudus yang memberi kuasa untuk menghalau segala penghalang – Kisah 1:8

 (2)   Diberitakan dengan santun dan penuh kesabaran serta kesetiaan (ayat 2-4) – 

Banyak metode penyampaian hukum Tuhan (Injil), tapi sebaiknya menggunakan metode yang Yesus Kristus sendiri gunakan.

  1. Saat Ia berbicara dengan perempuan Samaria
  2. Saat Ia berbicara dengan Zakheus
  3. Saat Ia membentuk kehidupan Simon Petrus

 (3)   Tujuan pemberitaan itu adalah pembebasan (ayat 5-7) – membebaskan manusia dari 3 (tiga) tingkatan belenggu 

  1. Membuka mata yang buta – belenggu ketidaktahuan
  2. Mengeluarkan orang hukuman dari tahanan – belenggu ketidakmampuan
  3. Mengeluarkan orang dari dalam penjara – belenggu dosa

 (4)   Hasil dari pemberitaan itu adalah pembaharuan hidup (ayat 8-9) – Di dalam Yesus Kristus semua orang percaya adalah status sebagai ciptaan baru, memiliki paradigm/prinsip hidup dan etika moral yang baru.-

—– 0000o —–

HUKUM TAURAT (3)
(Hukum 1 – Bagian 1)

 Hukum Taurat diberikan oleh Allah kepada umat-Nya setelah Ia membebaskan mereka keluar dari negeri perbudakan di Mesir. Hukum Tuhan dilakukan bukan untuk memperoleh keselamatan, melainkan karena sudah diselamatkan. Dengan demikian dalam melaksanakan hukum Tuhan bukan beban, melainkan bentuk ungkapan syukur dan terimakasih atas karya penyelamatan-Nya. Ini adalah inti iman Kristiani yang berbeda dari agama atau kepercayaan lain.

Hukum yang Pertama berbunyi, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Hukum ini berbicara tentang hubungan antara Allah dengan umat-Nya yaitu suatu bentuk hubungan yang unik: seperti hubungan kasih antara seorang suami dengan isteri. Konsep hubungan ini sudah ada dlaam Perjanjian Lama (Yesaya 62:5), maupun dalam Perjanjian Baru (2 Korintus 11:2; Wahyu 19:7-8). Dari prinsip ini Tuhan memberikan keteladanan bagi kita dan dasar yang kuat dalam pernikahan Kristiani, yaitu bahwa keduanya dalam keadaan kudus: jejaka dan perawan.

Dalam perjalanan hidup umat Israel sebagai “kekasih” Tuhan, ada 3 (tiga) hal yang penting yang disampaikan oleh Tuhan melalui Nabi Hosea:

Pertama, Tuhan sudah membebaskan kekasih-Nya dan memberinya berkat yang terbaik: makanan dan pakaian serta perhiasan rohani yang indah-indah (Hosea 2:7). Tuhan mengasihi kita dengan menyelamatkan dan memberkati kita.

Kedua, sayangnya umat Tuhan kemudian melakukan perselingkuhan atau perzinahan rohani, yaitu dengan menyembah Baal, sehingga menimbulkan sakit hati Tuhan. Maka Tuhan pun mengambil kembali apa yang sudah diberikan-Nya. Elimelekh yang tidak setia kepada Tuhan, meninggalkan Betlehem dan pindah ke Moab, justru mengalami penderitaan dan kematian di sana (Rut 1:1-5). Kita diharapkan setia kepada Tuhan dalam suka maupun duka. Penderitaan mengikut Tuhan bukan akhir, melainkan proses menuju kemuliaan.

Ketiga, Tuhan mengampuni dan menerima kekasih-Nya kembali. Ia pun memberkati dan memulihkan kekasih-Nya. Kasih setia Tuhan lebih besar dari apapun. Mari kita kembali kepada-Nya: Tuhan yang telah menyelamatkan kita dan Roh Kudus-Nya yang mempersiapkan kita menjadi mempelai-Nya.

—– ooooo —–

HUKUM TUHAN (4)

(Hukum 1 – Bagian 2)

Keluaran 20:2

Hukum I menekankan tentang hubungan kasih antara Tuhan sebagai “suami” dengan umat-Nya sebagai ‘isteri”. Hubungan ini harus terus dipelihara dengan baik. Ada beberapa ciri orang yang melakukan Hukum I ini.

Pertama, ia suka mencari Tuhan dan mengandalkan Dia dalam seluruh aspek kehidupannya. Ia tidak seperti umat Tuhan pada masa nabi Yesaya yang – ketika dalam keadaan terjepit saat akan diserang musuh – meminta pertolongan dari pihak lain, yaitu dari Mesir – tanpa meminta petunjuk Tuhan (Yes. 30:1-2; 31:1). Akhirnya mereka ditegur Tuhan dan mengalami kekalahan. Mengapa? Sebab ketika umat Tuhan membutuhkan pertolongan Mesir, Mesir tidak datang menolong. Begitulah akibatnya jika kita bersandar kepada manusia dan hal-hal lain yang fana. Kita harus banyak berdoa dan meminta petunjuk Tuhan saat akan membangun koalisi atau kongsi dalam bisnis, dalam membangun rumah tangga, dsb.

Kedua, ia memiliki prinsip hidup dan kehendak yang sejalan dengan firman dan kehendak-Nya. Ia harus berani menanggalkan prinsip hidup yang salah, yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Ia harus beralih memegang prinsip dan kehendak Tuhan, karena prinsip dan kehendak-Nya jauh lebih agung dan mulia dibandingkan kehendak kita (Yes. 55:6-9). Misalnya: prinsip atau etika dalam berbisnis, prinsip hidup keluarga, prinsip mendidik anak, prinsip pelayanan terhadap Tuhan dan sesama, dan sebagainya. Prinsip dari Alkitab bersifat kekal, tetap relevan sepanjang zaman.

Ketiga, ia tidak berbalik atau memperhambakan diri lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin, seperti: klenik, primbon, astrologi, fengshui, dsb.Kita sudah dibebaskan dari segala perhambaan terhadap roh-roh itu. Semua hari dijadikan Tuhan baik adanya. Waspadai budaya yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Waspadai sinkretisme, yaitu suatu penggabungan dua kepercayaan yang berbeda bahkan bisa saling bertentangan (Gal. 4:8-11). Kita tidak dapat hidup secara mendua hati: hari tententu menjadi hamba Tuhan, sementara hari lainnya menjadi hamba roh-roh yang menyesatkan. Ini bukan membuat kita fanatik, melainkan berkomitmen pada kebenaran firman Tuhan.-

 —– 00oo0 —–

HUKUM TUHAN (5)

(Hukum 1 – Bagian 3)

             Ketika Allah memberikan hukum I yang berbunyi “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3), maka setidaknya ada 3 (tiga) alasan mengapa hukum itu diberikan.

  1. Hakekat Allah itu sendiriIa mau menyatakan bahwa tidak ada illah lain yang seperti Dia. Dalam Perjanjian Lama, manusialah yang memilih kepada siapa ia akan beribadah (Yosua 24:15).Yosua menawarkan 3 (tiga) opsi: ilah yang disembah nenek moyang umat Israel di Mesopotamia, ilah orang Amori yang tinggal di Kanaan, atau Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Bagaimana melakukan pembandingan keilahian? Apakah yang akan kita sembah berpribadi atau tidak? Bersifat agung dan mulia sekaligus tinggal bersama umat manusia atau tidak? Kuasanya tak terbatas atau terbatas? Di dalam Tuhan Yesus Kristus kita menganal Allah yang berpribadi, yang transenden sekaligus imanen, dan kuasa-Nya tak terbatas. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan yang memilih kita (Yoh. 15:16). Itu berarti sejak dalam kekekalan Allah Tritunggal telah memilih dan menetapkan kita untuk menerima kasih karunia-Nya. Orang yang menjadi pilihan Allah inilah yang dimampukan Roh Kudus untuk memilih Dia. Jadi kedua prinsip dalam PL dan PB ini tidak bertentangan, melainkan salin melengkapi.Tuhan Yesus yang telah memilih kita mampu menjadikan segala sesuatunya baik (Mrk. 7:37), dan di dalam Dia saja ada kepastian keselamatan (Kisah 4:12). Yang dibutuhkan dari kita adalah percaya kepada-Nya dan kepada apa yang diwahyukan dalam Alkitab.
  2. Relasi – Ada 3 (tiga) jenis ketergantungan antara manusia dengan yang disembah-Nya: tidak ada ketergantungan sama sekali, saling tergantung, atau sangat tergantung. Yesus Kristus menyatakan bahwa kita sangat tergantung kepada-Nya. Tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa (Yoh 15:5).
  3. Lingkungan – Dunia di sekitar kita selalu penuh dengan godaan yang mencoba memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Salomo telah terseret dan mdi akhir hidupnya jauh dari Tuhan. Demas pun demikian. Ia lebih mengasihi dunia ini (2 Tim. 4:10). Godaan akan selalu ada, tetapi kita harus menang!

 —– 00000 —–

 HUKUM TUHAN (6)

(Hukum 2 – Bagian 1)

JANGAN MEMBUAT PATUNG UNTUK MENYEMBAHNYA

Keluaran 20:4-6; Imamat 26:1

                              

Hukum ini menyatakan beberapa hal penting:

Pertama, Allah memberikan kepada manusia banyak potensi dan krteatifitas, termasuk seni memahat patung. Bahkan Allah sendiri pernah menyuruh Musa membuat ular tembaga, agar umat Tuhan yang dipagut oleh ular tedung tetap hidup. Pemulihan bukan dari ular tembaga melainkan karena umat Tuhan mau sadar, bertobat, dan Tuhan berkemurahan mengampuni mereka (Bil. 21:4-9). Bahkan peristiwa ini digunakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia berbicara kepada Nikodemus tentang Anak Manusia (yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri) yang ditinggikan, supaya mereka yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:14).

Kedua, ternyata manusia tidak hanya membuat patung dari bahan-bahan tertentu (kayu, batu, logam, dsb.) sebagai ekspresi seni namun kemudian mengganti Allah dengan patung itu. Manusia melakukan penyembahan berhala dengan patung itu, termasuk memberikan korban bakaran di hadapan ular tembaga, hingga zaman Raja Hizkia yang kemudian menghancurkannya (2 Raja 18:4).

Ketiga, dalam bahasa Ibrani kata “menyembah” juga berarti “mencium” sebagai bentuk kasih. Orang yang menyembah berhala berarti “mencium” berhala itu sebagai kekasihnya. Penyembahan berhala ini menyakiti hati Tuhan, sebab Ia adalah Allah yang cemburu adanya. Peristiwa dalam Keluaran 32 di mana umat Israel menyembah anak lembu emas menunjukkan bahwa mereka bagaikan “kuda yang liar”, yang tidak terkendali sehingga menyakiti hati Tuhan yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir.

Keempat, akibat dari dosa penyembahan berhala ini adalah kutukan Tuhan sampai kepada generasi yang keempat. Penyembahan berhala merupakan bentuk tidak mengasihi Tuhan. Dan orang yang tidak mengasihi Tuhan dikutuk (1 Kor. 16:22).

Kelima, sebaliknya, Tuhan memberkati orang yang mengasihi Dia dengan berkat atas roti, minuman, dan segala penyakit pun dilalukan dari kehidupan umat yang setia dan mengasihi-Nya (Kel. 23:24-26).

—– 00000 —–

HUKUM TUHAN (7)

(Hukum Kedua – Bagian 2)

JANGAN MEMBUAT PATUNG UNTUK MENYEMBAHNYA

Keluaran 20:4-6

             Salah satu tokoh dalam Perjanjian Lama yang perlu dipelajari dalam kaitan dengan penyembahan berhala ini adalah Raja Salomo. Ada beberapa fakta penting dalam kehidupan Raja Salomo yang perlu kita pahami dengan baik.

Pertama, Salomo ditetapkan Tuhan menggantikan Daud, ayahandanya, menjadi raja atas Israel. Penetapan Tuhan ini dibuktikan dengan pengakuan dari saudara-saudaranya dan dari seluruh bangsa Israel (1 Taw 28:5-7; 29:23-25).

Kedua, Salomo meminta sesuatu yang amat penting dalam menjalankan amanat yang dipercayakan Tuhan kepadanya, yaitu hikmat. Tuhan mendengar doanya. Ia bukan hanya memperoleh hikmat, namun juga kekayaan, kemasyhuran, kemuliaan, kekuatan, sehingga ia menjadi acuan hikmat bagi banyak bangsa di seluruh muka bumi (2 Taw. 1:11-12; 1 Raja-raja 4:29-34).

Ketiga, Salomo juga memiliki Kecerdasan Rohani (Spiritual Quotient) yang tinggi. Ia mendirikan Bait Suci, menahbiskannya, dan mengajak seluruh umat untuk hidup melekat kepada Tuhan. Allah Yahweh berkenan terhadap karyanya yang luar biasa dengan bikti mengirimkan api dari langit yang membakar habis seluruh persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan (1 Raja-raja 8:54-61; 2 Taw. 7:1-3).

Keempat, Salomo memperoleh banyak hadiah dari raja-raja di sekitarnya, termasuk banyak perempuan. Ia mengasihi mereka lebih dari pada kasihnya kepada Tuhan. Hatinya berpaut kepada mereka. Salomo menimbulkan sakit hati Tuhan dengan beribadah kepada dewa-dewa berhala perempuan-perempuan itu. Ada dewi Asytoret dari bangsa Fenisia, ada dewa Milkom dan Molokh dari bangsa Amon, dan ada dewa Kamos dari bangsa Moab (1 Raja-raja 11:1-8).

Kelima, Salomo memperoleh hukuman Tuhan. Akibat penyembahan berhala ini, Tuhan membangkitkan musuh bagi Salomo: Hadad orang Edom, Rezon bin Elyada, Yerobeam bin Nebat. Bahkan pada generasi yang berikutnya Tuhan mengambil dan membagi dua Kerajaan Israel (1 Raja 11:9-11).

Mari kita tetap setia kepada Tuhan, dan tidak jatuh ke dalam penyembahan berhala. Mereka yang setia sampai akhir akan memperoleh mahkota kehidupan (Why. 2:10).

—– 00000 —–

HUKUM TUHAN (8)

(Hukum Kedua – Bagian 3)

JANGAN MEMBUAT PATUNG UNTUK MENYEMBAHNYA

Keluaran 20:4-6

Saat ini Negara Yunani sedang dalam kondisi perekonomian yang mahaberat. Di zaman lampau Kekaisaran Yunani pernah menguasai dunia ini, dan memberikan kontribusi yang penting, termasuk dalam kekristenan. Perjanjian baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine, di mana kita belajar tentang istilah-istilah seperti logos, Alfa dan Omega, dsb. namun ada hal-hal yang perlu diwaspadai dalam budaya Yunani yang hebat itu, khususnya berkaitan dengan penyembahan berhala. Dalam Kisah 17:22-34 dikisahkan tentang bagaimana Rasul Paulus memberitakan Injil Kebenaran kepada para penyembah berhala di Kota Atena, kota yang penuh dengan barang-barang pujaan dan sesembahan berhala. Pertama, kita harus memiliki hati yang peduli sebagaimana Rasul Paulus sedih ketika melihat praktek penyembahan berhala di Kota Atena (ayat 16). Kedua, kita harus menindaklanjuti kasih dan kepedulian itu dengan tindakan nyata. Rasul Paulus berbicara dengan banyak orang, termasuk dengan para ahli pikir Epikuros (paham yang mendewakan kenikmatan hawa nafsu dan menganggap tidak ada kehidupan kekal di balik kematian), dan ahli piker Stoa (mendewakan keselarasan dengan alam). Ketiga, kita harus memberitakan inti Injil yang benar dengan cara yang benar pula, sebagaimana yang disampaikan Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus di Aeropagus, yaitu tempat perdebatan tentang ajaran baru di Atena.

(a)      Rasul Paulus memberikan pujian atas ketekunan beribadah mereka. Ini menjadi introspeksi bagi kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, apakah kita tetap bergairah dalam beribadah atau tidak.

(b)     Rasul Paulus menjelaskan siapa sebenarnya “Allah yang tidak dikenal” yang selama ini disembah oleh orang-orang Atena:

  • Allah adalah Sang Pencipta yang Mahakuasa, Mahakaya, dan Mahamulia.
  • Allah memberikan hidup, nafas, dan segala sesuatu kepada seluruh umat manusia. Ini disebut dengan anugerah umum (common grace).
  • Allah menentukan musim dan batas kediaman umat manusia, termasuk di sebuah gereja lokal di mana iman kita dapat bertumbuh.
  • Tujuan karya Allah adalah supaya manusia mencari, menjamah dan menemukan Dia yang tidak jauh dari kita.
  • Allah menghendaki agar semua orang bertobat.
  • Allah menyediakan keselamatan di dalam karya penebusan Yesus Kristus.-

—– 00000 —–

HUKUM TUHAN (9)

(Hukum Kedua – Bagian 4)

PERCAYA KEPADA ALLAH DAN DIPERCAYA OLEH ALLAH

 

Dalam 2 Timotius 1:12 ada dua hal yang ditekan oleh Rasul Paulus, yaitu arti percaya kepada Allah dan arti dipercaya oleh Allah. Kedua hal ini perlu dipahami dengan benar dalam kaitan dengan Hukum Kedua Dasatitah, “Jangan Menyembah Berhala”.

 1.      Percaya kepada Allah

            Ada orang yang kurang mengadakan pengecekan terhadap orang yang bermaksud baik kepadanya. Akhirnya ia tertipu dan kehilangan sejumlah harta. Namun hal itu belum seberapa dibandingkan dengan jika kita kehilangan kehidupan kekal kita karena kita tidak tahu kepada siapa kita percaya. Iman atau kepercayaan kita akan menentukan keselamatan kekal atau tidak.

Ada orang yang melakukan banyak kegiatan bagi Allah yang dipercayainya, namun tanpa pengertian yang benar. Mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri dan mengatasnamakan Tuhan, misalnya penganut agama Yahudi pada zaman Paulus (Roma 10:1-3). Yang lain lagi percaya kepada ‘apa kata orang” tentang siapa Yesus Kristus (Matius 16:13-14). Alkitab menyatakan bahwa Yesus Kristus memiliki tiga pengurapan: Imam, Raja, dan Nabi. Namun Ia juga adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16:15-16). Ia adalah Allah sendiri yang menjadi manusia, menderita dan mati di kayu salib, bangkit dari antara orang mati, naik ke sorga dan akan datang kembali menjemput setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk memberikan keselamatan kekal. Ia lebih utama dari apapun dan dari siapapun (Kolose 1:15-17).

2.      Dipercaya oleh Allah

            Kepada setiap orang percaya, ada dua hal yang Allah percayakan. Pertama, kesetiaan untuk tetap hanya beribadah kepada-Nya saja, dan tidak terjebak dalam penyembahan berhala, termasuk berhala modern, seperti: pengagunga terhadap sesama manusia (tokoh, teman, keluarga termasuk diri sendiri, hobby, bisnis dan pekerjaan, prinsip hidup yang tidak sesuai firman Tuhan, bahkan bisa pelayanan itu sendiri.

Kedua, pelbagai potensi, bakat, talenta yang harus dimaksimalkan bagi kemuliaan Tuhan,  dan kesejahteraan pribadi serta seluruh umat manusia. Kita tidak boleh iri dengan potensi yang ada pada orang lain, melainkan memfokuskan diri pada potensi yang Tuhan berikan kepada kita sendiri, baik dalam studi, pekerjaan, maupun pelayanan.

—– 00000 —–

 HUKUM TUHAN (Bagian 10)

(Hukum 3 – Bagian 1)

JANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN DENGAN SEMBARANGAN

Keluaran 20:7

 Kata ‘sembarangan’ sama dengan kata ‘sia-sia’. Jadi “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sia-sia …”

1.        Siapakah Allah?

Dalam mempelajari sesuatu dibutuhkan adanya metode atau cara yang tepat. Metode dalam mempelajari suatu hal tidak bisa digunakan untuk mempelajari hal yang berbeda. Metode belajar biologi tak bisa digunakan untuk belajar teologi. Berkaitan dengan pengenalan akan Allah dipelajari dalam teologi. Metode yang tepat adalah pewahyuan (revelation), dan pengalaman (experience).

Pertama, Allah mewahyukan atau menyatakan diri-Nya dalam dua cara, yaitu pewahyuan umum (melalui alam, sejarah, dan hati nurani), dan pewahyuan khusus (Alkitab dan Pribadi Yesus Kristus).  Kedua, pewahyuan itu diteguhkan dengan pengalaman. Pengalaman tidak mengubah atau menggantikan pewahyuan, melainkan meneguhkannya. Pewahyuan tanpa pengalaman adalah teori yang mati, sedangkan pengalaman tanpa pewahyuan bisa menyesatkan.

2.        Apa manfaat mengenal Allah dan nama-Nya?

Pengenalan menentukan sikap dan tindakan kita. Orang yang mengenal Allah dengan benar akan beribadah dengan cara yang benar, akan berperilaku terhadap Tuhan dan sesamanya dengan benar.  Harus ada kesesuaian antara apa yang kita imani dan percayai dengan yang kita lakukan. Ketidaksesuaian membuat kita menjadi orang yang menggunakan topeng kemunafikan.

3.        Contoh dalam Alkitab?

Pertama, Abraham. Ia mendapatkan pewahyuan bahwa Allah adalah Elshaddai, yaitu Allah yang Mahakuasa (Kej. 17:1). Itu berarti Abraham tak perlu kuatir. Apa yang mustahil baginya tidak mustahil bagi Allah. Allah membuktikannya dengan memberikan Ishak kepada Abraham di masa tuanya. Kemudian berdasarkan pengalamannya ia menyebut TUHAN itu Jehovah Jireh, Tuhan yang Menyediakan. Dengan demikian pewahyuan yang diterimanya dan pengalaman yang diperolehnya menjadikan Abraham Bapa Orang Beriman.

Kedua,  Musa. Ia memperoleh pewahyuan bahwa nama Allah Abraham, Ishak dan Yakub adalah Y-H-W-H (Yahweh – Kel. 3:14). Dengan nama yang hidup dan berkuasa itulah Musa menghadap Firaun dan membawa bangsanya keluar dari Mesir. Dari pengalaman umat Israel baik pemberian manna, air, tiang awan dan tiang api di padang gurun, maupun hasil panen di Tanah Perjanjian, membuktikan bahwa memang Tuhan itu adalah Jehovah Jireh.

—– 00000 —–

HUKUM TUHAN (BAGIAN 11)

(Hukum Ketiga – Bagian 2)

SIKAP DAN TINDAKAN YANG KURANG PATUT KEPADA TUHAN

 

            Menyebut nama Tuhan dengan sembarangan atau dengan sia-sia merupakan pelanggaran terhadap Hukum Ketiga. Ini adalah bentuk sikap atau tindakan yang kurang patut kepada Tuhan. Padahal Ia adalah Juruselamat dan Pembebas umat Tuhan dari perbudakan di Mesir. Bentuk lain sikap dan tindakan yang kurang patut kepada Tuhan berkaitan dengan persembahan.

Dalam 1 Tawarikh 16:29 dinyatakan bahwa kita harus memberi kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, yaitu melalui dua hal: persembahan dan kekudusan hidup. Tentang persembahan, perlu dipahami dasar mengapa setiap orang percaya harus memberi kepada Tuhan. Dasar atau alasan yang paling baik adalah karena Tuhan telah memberikan pahala atau upah terbesar kepada kita yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibr. 11:6) Upah yang terbesar adalah Allah sendiri (Kej. 15:1 – I am your shield, and your exceeding great reward (NKJV)). Berarti ketika kita memberi kepada Tuhan, itu bukan karena Ia berkekurangan, melainkan karena kita mengasihi-Nya sebab Ia telah memberikan yang terbaik – diri-Nya sendiri – kepada kita. Setidaknya ada 5 (lima) jenis sikap atau tindakan yang kurang patut dilakukan terhadap Tuhan dalam kaitan persembahan ini: 

  1. Datang kepada Tuhan dengan tangan hampa (Ulangan 16:16)
  2. Memberi yang cacat dan buruk, padahal Tuhan adalah Raja di atas segala raja (Maleakhi 1:8; 14b)
  3. Memberi dari hasil perbuatan jahat, misalnya perjudian, pemerasan, pencurian, dsb. (Amos 5:21-24)
  4. Dalam keadaan bermasalah dengan saudara, seperti kepahitan, ketidakharmonisan hubungan, dsb. (Matius 5:23-24)
  5. Memberi dengan menipu Tuhan – Ananias dan Safira (Kisah 5:3)

            Contoh yang benar – Maria yang menuangkan minyak narwastu murni seharga 300 dinar (upah kerja setahun) bagi Tuhan Yesus Kristus yang dikasihinya (Yohanes 12:1-8).

—– 00000 —–

KETELADANAN BARNABAS

             Dalam setiap pelayanan yang berkembang, sslalu ada campur tangan Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja-Nya, di mana Roh Kudus-Nya mengurapi dan memimpin orang-orang yang siap dipakai-Nya. Dalam Sejarah Gereja di Kisah Para Rasul juga ada orang-orang yang dipakai Tuhan. Salah satunya adalah Yusuf Barnabas. Inilah beberapa hal yang bisa diteladani dalam kehidupan Barnabas.

1. Ia rela berkorban (Kisah 4:36-37) – Barnabas menjual ladang, miliknya dan menyerahkannya kepada Tuhan. Ia sadar bahwa apa yang ada padanya adalah milik Tuhan secara mutlak, dan ia hany dipercaya mengelolanya. Ketika Tuhan menghendaki lading itu untuk dilepaskan bagi pengembangan pekerjaan Tuhan, ia pun dengan penuh kerelaan melepaskannya (bdk. Ananias dan Safira dalam Kisah 5:1-11).

2. Ia berlapang dada (Kisah 9:27) – Barnabas mampu melihat ha;-hal positif dalam diri seseorang, termasuk dalam diri Saulus yang baru bertobat dan meyakinkan para murid lainnya yang kala itu belum bisa menerima Saulus, agar juga mau menerimanya. Saulus kemudian menjadi seorang rasul yang besar. Ada peran Barnabas di dalamnya.

3. Ia berkarakter (Kisah 11:22-26) – Barnabas memiliki karakter yang baik:

  • bersukacita atas kasih karunia Allah, yaitu bersyukur atas pencapaian yang ada, dan tidak menggerutu atas apa yang belum bisa dicapai;
  • menasihati jemaat untuk tetap setia;
  • orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman, sehingga sejumlah orang dibawa kepada Tuhan;
  • menyadari kebutuhannya akan orang lain, sehingga kemudian mengajak Saulus.

4. Ia berkharisma (Kisah 13:12; 14:3) – Oleh pertolongan Roh Kudus Barnabas berhasil melayani bersama Rasul Paulus di Siprus dan tempat-tempat lain. Pemberitaan Injil yang dilakukannya disertai dengan tanda dan mukjizat.

5. Ia mampu mengelola perbedaan pendapat dengan baik (Kisah 15:35-41) – Ada perbedaan pendapat antara Paulus dan Banabas mengenai Yohanes Markus sehingga akhirnya mereka ‘berpisah baik-baik’. Tak ada kebencian di antara keduanya. Mereka berpisah karena memiliki ‘gaya pelayanan’ masing-masing. Barnabas mampu membimbing Yohanes Markus, Paulus pun mampu membimbing Silas, Timotius, dan lain-lain. Masing-masing dengan gaya kepemimpinannya sendiri.-

—– 00000 —–

NATAL DAN WAKTU TUHAN

              Dalam sebuah perencanaan selalu ada kaitannya dengan waktu: bilamakah suatu kegiatan dilakukan, bagaimana urut-urutan pekerjaan yang harus dilakukan, dan sebagainya. Dalam perencanaan-Nya Allah juga berurusan dengan waktu. Lihat pengaturan waktu Tuhan dalam alam ciptaan: ada waktu kapan suatu jenis tanaman ditanam dan dituai, ada waktu kapan matahari terbit dan tenggelam. Termasuk dalam hal perencanaan Allah ini adalah pengaturan waktu yang tepat dalam peristiwa Natal (Galatia 4:4-5). Apa bukti “… ketika genap waktunya” dalam Natal?

  1. Ketika harus didahului oleh kelahiran Yohanes Pembaptis (Lukas 1:57-60). Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan. Kedatangan-Nya harus diawali dengan seseorang yang mempersiapkan jalan bagi-Nya. Dialah Yohanes Pembaptis yang lahir melalui mukjizat. Ayahnya, yaitu Imam Zakharia dan ibunya, yaitu Elizabet, sudah berusia lanjut. Namun malaikat Tuhan menyatakan bahwa mereka akan mengalami mukjizat. Mukjizat ini telah ikut meneguhkan berita yang disampaikan malaikat kepada Maria, bahwa ia pun akan mengalami mukjizat di mana ia akan mengandung oleh Roh Kudus. Natal adalah Mukjizat!
  2. Ketika Yusuf dan Maria bertunangan (Matius 1:18). Mereka menjaga kekudusan pertunangan mereka. Kekudusan merupakan syarat untuk dapat dipakai oleh Allah bagi kemuliaan nama-Nya. Natal adalah kekudusan!
  3. Ketika Kaisar Agustus memerintah dalam Kekaisaran Romawi (Lukas 2:1-7). Ia adalah seorang yang memiliki kuasa penuh. Ia mengadakan sensus penduduk yang mengharuskan semua orang pulang mendaftarkan diri di tempat asal-usulnya. Yusuf dan Maria bisa saja beralasan untuk tidak menaati keputusan Agustus tersebut: alasan ekonomi, atau kehamilan Maria.  Namun Yusuf dan Maria tetap menjalani ketaatan akan perintah itu hingga tiba di Betlehem. Di sanalah Maria melahirkan Sang Mesias sesuai dengan nubuatan nabi Mikha. Natal adalah ketaatan!
  4. Ketika Raja Herodes Agung memerintah di Yudea (Matius 2:13-15). Ia adalah seorang raja yang kejam. Yusuf dan Maria kembali menderita karena harus mengungsi ke Mesir sampai Herodes Agung mati. Bagaimanapun juga, ada pengenapan nubuatan dalam tindakan Herodes yang kejam itu, yang membunuh anak-anak di Betlehem. Allah setia pada janji-Nya! Ada orang-orang yang mungkin berbuat jahat atas kita, tetapi kita harus tetap berpegang pada kebenaran firman Tuhan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Natal adalah kesetiaan!

—– 00000 —–

MOTIVASI PELAYANAN

1 Petrus 5:1-4

            Pada masa kini, istilah pelayanan banyak dibahas dalam dunia bisnis. Mereka yang mengutamakan pelayanan bagi para pelanggan dipandang akan lebih berhasil dibandingkan mereka yang mengabaikannya. Bagaimana dengan pelayanan di kalangan umat Kristiani sendiri? Agar makna pelayanan – baik dalam keluarga, dalam pekerjaan, di lingkup gereja, maupun di tengah masyarakat – tidak kabur, sebaiknya kita kembali kepada apa yang Alkitab katakan.

Ketika seseorang melakukan suatu kegiatan tertentu termasuk pelayanan, maka baik disadari atau tidak ia didorong oleh sesuatu di dalam dirinya (baik berasal dari luar maupun dari dalam diri sendiri), yang disebut dengan motivasi. Ada beberapa motivasi yang harus kita miliki jika mau melayani Tuhan dan sesama dengan benar.

Pertama, motivasi sukarela bukan terpaksa. Seseorang akan melayani dengan sukarela jika ia memiliki kasih. Sebaliknya, jika ia melakukannya dengan terpaksa pasti karena ia telah meninggalkan kasih yang mula-mula kepada Tuhan (seperti jemaat di Efesus dalam Wahyu 2:4), atau kasihnya telah menjadi dingin (sebagaimana yang Tuhan Yesus pernah peringatkan dalam Matius 24:12).

Kedua, motivasi pengabdian bukan mencari keuntungan diri sendiri. Yang dilayani adalah kawanan domba Allah (God’s flock), yaitu milik kepunyaan Allah sendiri yang sangat berharga di hadapan-Nya, sehingga juga disebut pusaka milik Allah (God’s heritage). Oleh sebab itu kita harus melayani mereka dengan penuh pengabdian, bukan dengan roh ketamakan yaitu memanfaatkan pelayanan untuk memperoleh profit sebanyak-banyaknya. Tuan kita adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri, bukan Mammon. Kita tidak dapat melayani dua tuan, tetapi  memilih salah satu: Tuhan Yesus Kristus atau keuntungan diri sendiri (Mat. 6:24). Pelayanan harus dilihat sebagai tempat kita memberikan sesuatu, bukan untuk memperoleh sesuatu.

Ketiga, motivasi melayani bukan menguasai (arogan). Semakin tinggi posisi seseorang, maka ia harus semakin melayani, seperti yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan (Mrk. 10:43). Itu berarti ia akan bersedia menerima masukan dan teguran dari siapapun demi peningkatan kualitas pelayananannya.

Keempat, motivasi upah. Tuhan Yesus Kristus sebagai Gembala Agung akan mengaruniakan mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu, yang kekal bagi kita yang mau melayani. Jika kita berorientasi pada kemuliaan yang kekal ini, kita tidak akan mudah putus asa atau undur dari pelayanan hanya karena tidak memperoleh sesuatu yang bersifat layu (sementara/fana).

—– 00000 —–

KAWAN SEKERJA ALLAH

1 Korintus 3:9

Seorang rekan memberitahu bahwa putranya yang telah lulus akan bekerja membantu ayahnya di perusahaan yang dimiliki keluarga. Tentu satu hal yang membanggakan bisa bekerja bersama ayah yang mengasihinya. Acara reality show Apprentice (Pemagangan) yang digagas oleh pebisnis internasional Donald Trump pada tahun 2004 mendapat sambutan luas, karena banyak orang ingin bekerja bersamanya. Namun ternyata ada seleksi yang sangat ketat, sehingga tidak sedikit yang gugur di tengah jalan. Bagaimana dengan predikat kita sebagai ‘kawan sekerja Allah’?

Pertama, yang perlu kita sadari adalah bahwa Allah yang Mahakuasa, yang mampu melakukan segala sesuatu sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya yang mutlak justru mencari dan memilih orang-orang yang mau dipakai-Nya. Yang dipakai-Nya adalah orang-orang yang seringkali dianggap bodoh, dianggap lemah dan tak berarti oleh dunia ini (1 Kor. 1:27-29). Ada yang memberikan tanggapan langsung (mis. Yesaya, Simon Petrus), ada pula yang beradu argumentasi dulu dengan Allah (mis. Musa). Mereka semua menjadi ‘kawan sekerja Allah’ yang luar biasa.

Kedua, seorang ‘kawan sekerja Allah’ haruslah manusia rohani, bukan manusia duniawi. Manusia duniawi tidak suka akan makanan keras firman Tuhan (ayat 1-2), dan suka iri hati atau berselisih (ayat 3). Sebaliknya, manusia rohani suka akan teguran firman Tuhan, turut bersyukur atas keberhasilan orang lain, dan suka berdamai dengan menerima orang lain apa adanya.

Ketiga, seorang ‘kawan sekerja Allah’ memahami tentang fungsi dan tugas masing-masing, yang bisa berbeda satu dengan yang lain. Paulus yang menanam, Apolos yang menyiram. Keduanya sama penting (ayat 4-7). Semua orang Percaya dapat dipakai Tuhan sesuai dengan karunia Roh yang Tuhan berikan kepadanya.

Keempat, seorang ‘kawan sekerja Allah’ akan menerima upah yang telah Allah sediakan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan (ayat 8).

Jika seseorang telah menjadi ‘kawan sekerja Allah’, maka kehidupannya akan menghasilkan dampak yang luar biasa, baik terhadap diri sendiri (yaitu memiliki gambar diri yang sehat, tidak rendah diri dan tidak sombong), juga terhadap orang lain (hidupnya menjadi berkat yang luar biasa).

—– 00000 —–

KETELADANAN NUH

Dalam Kitab Kejadian terdapat banyak kisah tentang orang-orang yang dipakai Tuhan. Bahkan dalam budaya Tionghoa, misalnya, ada huruf-huruf mandarin yang merupakan bentukan dari huruf-huruf yang mewakili kisah-kisah dalam Kitab Kejadian, termasuk kisah Nuh. Nuh adalah orang yang memperoleh pujian dari Allah karena apa yang dilakukannya menyenangkan hati-Nya. Ada beberapa hal yang dilakukan Nuh yang dapat kita teladani di akhir zaman ini.

Pertama, Nuh adalah seorang yang berani tampil beda (Kej. 6:9). Ia adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Pada zaman itu manusia hidup dalam kejahatan semata-mata atau terus menerus (Kej. 6:5 – continually) dan menjalani kehidupan yang rusak di bumi (Kej. 6:5 ­, 12corrupt). Ini bukan suatu hal yang sebab manusia mudah tergoda untuk mengikuti apa yang terjadi di sekitarnya. Nuh mampu berani tampil beda karena ia adalah seorang yang terbiasa bergaul dan bersekutu dengan Allah (walk in habitual fellowship with God).

Kedua, Nuh melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya.  Saat Tuhan menyuruh Nuh membangun bahtera, ia melakukannya walaupun saat itu belum memiliki kemampuan sebab ia adalah seorang petani (Kej. 6:22; 8:20). Nuh mau belajar taat di bawah tuntunan Tuhan sendiri.  Nuh juga taat saat Tuhan menyuruhnya masuk ke dalam bahtera beserta seluruh keluarganya dan menyambut kedatangan pelbagai jenis binatang yang berbeda-beda (Kej. 7:5). Dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima sesuatu yang berbeda yang Tuhan berikan pada kita.

Ketiga, Nuh juga adalah seorang yang menyelamatkan keluarganya dengan iman (Ibr. 11:7) dan sekaligus sebagai pemberita kebenaran (2 Pet. 2:5). Nuh melakukan kedua tugas mulia itu dengan baik dan seimbang. Kita harus membawa keluarga kita dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus agar terhindar dari murka Allah yang akan dating, dan memberitakan Injil Tuhan kepada sesama kita. Apakah kemudian mereka memberikan respons yang positif atau tidak adalah urusan mereka dengan Tuhan.

Keempat, Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan dan mempersembahkan korban kepada-Nya (Kej. 8:20). Korban pujian dari hati yang bersyukur harus terus kita persembahkan atas karya penyelamatan Allah dalam kehidupan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus.

—– 00000 —–

TIGA SIKAP TERHADAP FIRMAN TUHAN

Lukas 24:13-32

Sikap (attitude) seseorang menentukan tindakan yang dilakukan dan hasil yang diperoleh. Demikian pula dengan sikap orang percaya terhadap firman Tuhan. Dalam perikop ini kita akan belajar tentang 3 (tiga) sikap orang percaya terhadap firman Tuhan.

Pertama, sikap mengabaikan firman Tuhan (ayat 13-16). Kedua murid Tuhan Yesus (Kleopas dan temannya) bercakap-cakap, bahkan bertukar pikiran tentang apa yang terjadi pada hari kebangkitan Tuhan yesus Kristus, tetapi tidak sedikitpun menyinggung firman Tuhan. Mereka seakan-akan mengabaikan firman Tuhan. Hal ini juga sering dilakukan oleh orang percaya. Mereka merasa bahwa banyak hal dalam hidup ini yang tidak ada sangkut-pautnya dengan firman Tuhan. Keluarga, bisnis, pekerjaan, studi dan pelayanan semuanya dilakukan dengan cara pemikirannya sendiri. Orang yang seperti ini tidak mengenali Tuhan Yesus yang hadir dalam hidupnya.  Yang ada hanya kemuraman, tidak ada sukacita. Kalaupun Tuhan menolong mereka, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Kedua, sikap menerima firman Tuhan, tetapi hanya sebagian saja (ayat 17-24). Ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka mulai menggunakan beberapa kebenaran dalam firman Tuhan: bahwa Yesus Kristus adalah seorang nabi yang berkuasa dalam pekerjaan dan perbuatan di hadapan Allah dan manusia, dan sebagainya. Namun mereka terlalu banyak menggunakan kata “tetapi …” (hingga empat kali). Kata “tetapi” ini membuat kuasa firman Tuhan tidak bekerja dalam kehidupan mereka. Saat firman Tuhan berkata “Ampunilah musuhmu” selalu ditambahi dengan kata “tetapi musuh yang kuhadapi berbeda …”, atau ketika firman Tuhan berkata, “Berilah maka kamu akan diberi …”, juga ditambah oleh orang ini dengan “tetapi kalau sekarang tanggal tua …?” mari kita berhenti menambahkan kata “tetapi” terhadap firman Tuhan. Terimalah seluruh firman dan katakan, “Amin, mampukan aku melakukan firman-Mu, Tuhan!”

Ketiga, sikap menerima firman Tuhan dengan sepenuhnya (ayat 25-32). Ketika Yesus Kristus sendiri yang menjelaskan firman Tuhan kepada mereka, hati mereka berkobar-kobar! Mereka rela dikatakan “bodoh” dan “berhati lamban”, bahkan kemudian mereka mengundang-Nya tinggal bersama mereka. Ketika Yesus memecahkan roti barulah mata mereka celik, tetapi Ia kemudian meninggalkan mereka. Orang yang menerima firman sepenuhnya akan terus merasa lapar dan haus akan firman Tuhan. Persekutuan dengan Tuhan dalam firman dan dalam Perjamuan kudus dapat mencelikkan mata rohani kita, sehingga kita dapat mengenal Yesus Kristus dengan benar.-

 —– 00000 —–

OTORITAS ORANG PERCAYA

 Mazmur 2

            Banyak orang Kristen mengalami masalah karena tidak memahami adanya otoritas dari Allah di dalam dirinya, atau karena keliru dalam menggunakan otoritas itu. Jika kita benar dalam memahami dan menggunakan otoritas ini, maka kehidupan kita akan mengalami terobosan yang luar biasa.

  1. Pentingnya Otoritas – Sebagai orang-orang percaya kita membutuhkan otoritas dari Allah. Ada dua alasan besar mengapa otoritas Allah kita butuhkan. Pertama, karena kepada kita diberikan tugas atau mandate atau amanat yang bersifat global, yaitu memenuhi, menaklukkan dan menguasai seluruh alam ciptaan (Kej. 1:28). Kedua, karena ada peperangan rohani yang terus-menerus dengan Iblis dan dosa. Jangan menjadi seperti Kain yang kalah karena tidak menggunakan otoritas Allah dalam melawan dosa, sehingga ia membunuh Habel, adiknya Sebenarnya ia bisa menolak godaan dosa yang sudah mengintip di depan pintu, tetapi itu tidak dilakukannya (Kej. 4:7).
  2. Sumber Otoritas Sejati – Alkitab menyatakan bahwa Tuhan Allah sendiri adalah sumber otoritas yang sangat kita butuhkan (Maz, 2:6; Mat. 28:18; Kolose 1:15-17).
  3. Penyalahgunaan Otoritas – Ketika seseorang menerima otoritas dari Tuhan, keputusan selanjutnya ada di tangan orang itu apakah akan menggunakannya dengan benar atau tidak. Sayangnya lebih banyak yang menyalahgunakan otoritas dari Allah. Setidaknya ada 2 (dua) bentuk penyalahgunaan otoritas. Pertama, otoritas digunakan untuk melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya, termasuk firman Tuhan (Maz. 2:2). Misalnya, otoritas akal budi tidak boleh dipakai untuk menghakimi Alkitab, melainkan harus tunduk pada otoritas Alkitab yang merupakan otoritas tertinggi (2 Kor. 10:5). Kedua, otoritas digunakan di luar batas kewenangan, misalnya: Raja Uzia yang memperoleh pengurapan dan otoritas sebagai raja, tetapi mau mencampuri urusan pelayanan iman; atau, otoritas sama sekali tidak digunakan, misalnya: Raja Saul yang takut kepada rakyat, sehingga akhirnya ia berdosa kepada Tuhan.
  4. Penggunaan otoritas dengan benar – Sebaliknya, otoritas dari Allah harus digunakan dengan benar, misalnya: (a) dalam menyampaikan permohonan doa kepada Tuhan, yaitu meminta bangsa-bangsa (Maz. 2:8); (b) dalam melaksanakan tugas sebagai pimpinan, yaitu bijaksana dan penuh pengajaran (Maz. 2:10); (c) dalam beribadah kepada-Nya di mana kita bisa memerintahkan jiwa kita untuk menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran (Maz. 2:11).-

 —– 00000 —–

ANDALAN HIDUP

Yesaya 31:1-3

 

            Pada zaman lampau, di masa Hizkia memerintah di Kerajaan Yehuda (, ada prinsip hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang. Pada masa kini, situasinya tidak jauh berbeda. Ada prinsip ‘manusia menjadi pemangsa sesamanya’ (homo homini lupus). Kita hidup di zaman yang penuh kompetisi, sehingga ada orang yang sama sekali tidak siap dan berusaha menghindarinya. Hal ini nampak misalnya ketika ada peserta magang yang mengundurkan diri dalam acara Apprentice di televisi yang dipandu oleh Bp. Tony Fernandez (CEO Air Asia). Apa yang dilakukan oleh Raja Hizkia ketika kerajaan Asyur yang sangat kuat mencoba menaklukkan kerajaannya (kisah lengkap bisa dibaca di Yesaya pasal 36-37)?

Raja Hizkia pertama-tama mengandalkan Mesir. Ia melihat dengan mata jasmaninya betapa kuatnya kerajaan Asyur yang menyerbunya, sehingga ia membutuhkan bantuan dari kerajaan lain. Mesir saat itu dipandang cukup kuat untuk bisa dimintai pertolongan. Sayangnya, Raja Hizkia tidak meminta petunjuk Tuhan saat ia meminta pertolongan Mesir (Yes. 30:1-2). Akhirnya Mesir mengecewakan, karena tidak menepati janji. Alkitab berkata bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan manusia (Yer. 17:5-6).

Kemudian, sadar akan kesalahannya, Hizkia mengandalkan Tuhan. Ia adalah Allah yang Mahakuasa dan berkemurahan. Kalau Mesir menolong pasti meminta imbalan, Tuhan tidak demikian. Untuk memperoleh pertolongan Tuhan kita harus bertobat, tinggal diam, tenang dan percaya, yaitu menantikan TUHAN (Yes. 30:15). Hasilnya sungguh luar biasa. Pada saat dimana tentara Asyur sudah mengepung kota Yerusalem, Malaikat Tuhan datang menghabisi tentara Asyur dengan cara yang supranatural, sehingga ada 185.000 tentara yang tewas. Sanherib, raja Asyur sendiri kembali ke Niniwe, dan di sana ia dibunuh oleh kedua anaknya (Yes. 37:36-38). Kemenangan besar diperoleh karena mengandalkan Tuhan. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan (Yer. 37:7-8).

Oleh sebab itu mari kita berhenti mengandalkan kekayaan atau kedudukan kita, atau kemampuan diri kita atau mengandalkan sesama manusia yang penuh dengan kelemahan. Semua sifatnya sementara dan bisa mengecewakan. Sebaiknya kita mengandalkan Tuhan, yang kuasa-Nya tidak terbatas. Ia dapat menolong kita dengan cara-Nya yang ajaib-

—– 00000 —–

GEREJA YANG BENAR

Matius 16:13-21

           Tuhan Yesus Kristus dengan sengaja membawa kedua belas murid-Nya ke Kaisarea Filipi karena Ia hendak menunjukkan suatu peragaan dari alam guna meneguhkan pengajaran-Nya, khususnya tentang kemesiasan-Nya. Kaisarea Filipi (sekarang disebut Banias) adalah suatu tempat di kaki Gunung Hermon, di mana di sana terdapat tiga hal penting. Pertama, kuil penyembahan kepada dewa Pan, yang didedikasikan oleh Raja Herodes Agung kepada Kaisar Agustus. Saat itu Kaisar Agustus disebut sebagai Anak Ilahi”. Kedua, di sana terdapat gunung batu terjal yang amat kokoh. Ketiga, di sana terdapat sumber air yang meluap-luap, mengalir ke sungai Yordan. Dengan ketiga hal itulah Yesus mau mengajarkan tentang Gereja Yang Benar.

1.  Memiliki dasar atau fondasi yang benar – Di atas ‘batu karang’ (Yun. ‘petra’) yaitu Yesus Kristus sendiri yang adalah Mesias yang dijanjikan oleh para nabi di Perjanjian Lama (1 Korintus 3:11). Berarti kita harus:

(a)   Memiliki pengenalan akan Yesus Kristus dengan benar melalui pewahyuan Roh Kudus saat kita membaca dan merenungkan Alkitab. Yesus Kristus adalah pusat berita di setiap kitab dalam Alkitab. Jangan hanya demi menambah pengetahuan tanpa pengenalan yang benar terhadap Yesus Kristus, seperti halnya orang-orang Farisi (Yohanes 5:39-40).

(b)  Memiliki hubungan intim dengan Yesus Kristus agar hidup ini menghasilkan buah, khususnya kerendahan hati. Relasi yang jauh dari Tuhan membuat kita tinggi hati, namun jika kita mendekat bahkan melekat kepada Tuhan, maka kita akan sadar bahwa diri kita bukan apa-apa. Katakan dalam doa kita: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yohanes 6:28).

2. Memiliki kuasa dan otoritas yang benar – Ada Roh Kudus yang diutus Bapa untuk menyertai kita, Roh yang lebih besar dari roh-roh dalam dunia ini (1 Yohanes 4:4), bahkan … alam maut tidak akan menguasainya. Jadi kita tidak perlu takut terhadap apapun sebab kepada kita diberi kuasa untuk menang. Tidak ada yang bisa diandalkan selain otoritas dari Tuhan. Telah terbukti bahwa kerajaan sekuat apapun tidak langgeng, misalnya: Babilonia, Media-Persia, Yunani, Romawi. Hanya Kerajaan Tuhan yang tetap tegak. Gereja punya otoritas untuk meruntuhkan, dan kemudian membangun yang lebih baik (Yeremia 1:10).

3. Melakukan tindakan yang benar – Gereja Tuhan harus memberi dampak ke dunia di sekitarnya. Umat Tuhan dapat melakukan suatu aksi yang seimbang antara yang bersifat vertikal (pujian dan penyembahan kepada Allah dalam roh dan kebenaran), serta secara horizontal (memberi bantuan kepada sesama yang membutuhkan).-

—– 00000 —–

 

KEBENARAN YANG MEMERDEKAKAN

Dari Yohanes 8:32 kita akan belajar tentang dua hal yang penting, yaitu: bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran, dan bagaimana proses kebenaran itu memerdekakan kita.

1. Mengetahui Kebenaran

Ada dua jenis kebenaran: kebenaran relatif yang berasal dari manusia, dan kebenaran mutlak yang berasal dari Allah. Pada umumnya manusia dapat mengetahui kebenaran melalui ketiga cara sebagai berikut: (a) Secara naluri atau alamiah, yaitu dengan melihat pelbagai gejala atau fenomena alam (Luk. 12:54-55). Ini disebut kebenaran alamiah (natural truth); (b) Secara empiris dan logis, yaitu dengan metode penelitian yang benar (Dan. 12:4). Ini disebut dengan kebenaran ilmiah (scientific truth); (c) Secara wahyu, yaitu dengan menerima pernyataan Allah melalui hamba-hamba-Nya. Ini disebut dengan kebenaran wahyu (revelational truth).

Alkitab atau firman Allah adalah firman yang diwahyukan Allah secara tertulis. Tuhan Yesus berkata bahwa kita akan mengetahui kebenaran jika kita “tetap di dalam Dia”. Artinya: (a) menerima kebenaran firman Tuhan apa adanya dengan iman, tanpa menambahi atau menguranginya sedikit pun (Why. 22:18-19); (b) meminta Roh Kudus memberikan pengertian yang benar, dan selalu mengingatkan kita akan kebenaran firman Tuhan (2 Pet. 1:21); (c) menerapkan kebenaran firman Allah dalam seluruh aspek kehidupan kita (Yak. 1:23).

2. Mengalami Kemerdekaan

Ada dua jenis kemerdekaan, yaitu kemerdekaan semu yang hanya bersifat jasmani, dan kemerdekaan sejati yang bersifat jasmani dan rohani. Beberapa contoh berikut ini membawa kita kepada kesimpulan bahwa jika kita menerima firman Tuhan dengan penuh iman, kita akan mengalami kemerdekaan sejati:

(a)       Kita merdeka dari dosa dan kutuk dosa jika menerima kebenaran tentang karya penebusan Yesus Kristus (Gal. 3:13);

(b)       Kita merdeka dari belenggu kebiasaan buruk jika menerima kebenaran tentang pentingnya waktu (Efs. 5:16-17), dan kekudusan hidup (1 Pet. 1:16);

(c)       Kita merdeka dari kekuatiran jika menerima kebenaran tentang janji pemeliharaan Allah Bapa atas kehidupan anak-anak-Nya (Flp. 4:19);

(d)      Kita merdeka dari ketakutan mengambil keputusan jika menerima kebenaran tentang Allah yang turut bekerja (Roma 8:28).

 —– 00000 —–


PEMBAWA KABAR BAIK

Kisah Para Rasul 26:15-29

Setiap orang percaya adalah seorang pembawa Injil (Kabar Baik), karena kita adalah umat pilihan Allah (1 Petrus 2:9). Salah satu contoh pembawa berita Injil yang dipakai Tuhan secara luar biasa adalah Rasul Paulus. Perikop Alkitab yang kita renungkan merupakan ‘pembelaan’ Rasul Paulus di hadapan Raja Agripa. Di dalamnya ada beberapa hal penting tentang aspek-aspek seorang Pemberita Injil.

 

  1. Panggilan Seorang Pemberita Injil (ayat 15) – Tuhan punya banyak cara memanggil dan memilih kita untuk menjadi pengikut Kristus dan alat-Nya. Ada yang melalui ajakan sanak keluarga atau teman, ada yang melalui kesembuhan dari sakit, dsb.
  2. Isi kesaksian Injil (ayat 16; 22b-23) – Inti Injil adalah apa yang Tuhan Yesus telah kerjakan dan akan Ia kerjakan dalam hidup, termasuk karya penebusan-Nya sesuai nubuatan Kitab Suci. Jadi, isi kesaksian berkaitan dengan penggenapan janji Allah dalam firman-Nya.
  3. Persiapan Saksi Tuhan (ayat 17, 19) –  Tuhan ‘mengasingkan’ orang yang akan dipakai-Nya, yaitu dikuduskan untuk suatu tujuan khusus. Orang yang mau dipakai Tuhan tidak boleh lagi secara semaunya memperkatakan ucapan yang tidak patut. Lot, misalnya, tidak mampu membawa kedua calon menantunya untuk menyingkir dari Sodom dan Gomora yang saat itu hendak dihancurkan Allah, sebab ia dianggap berolok-olok (tidak serius) dengan ucapannya. Pemberita Injil juga harus konsisten dengan tugas panggilannya.
  4. Tujuan kesaksian Injil (ayat 18, 20) – Injil diberitakan supaya manusia berbalik dari gelap kepada terang, dari kuasa Iblis kepada Allah, dengan bukti pertobatan yang nyata/pemuridan. Ini bukan suatu hal yang mudah, dibutuhkan kekuatan dan pengurapan Roh Kudus di dalam kita agar apa yang kita ucapkan memiliki kuasa menarik orang datang kepada Tuhan.
  5. Dampak kesaksian Injil (ayat 18) – Ketika Injil diberitakan dan orang-orang menerimanya, maka ia akan memperoleh memperoleh pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Inilah adalah janji Allah yang pasti akan digenapi-Nya.
  6. Tantangan kesaksian dan pertolongan Tuhan (21-22a) – Selalu akan ada tantangan ketika kita memberitakan Kabar Baik. Namun, karena Tuhan menyertai kita, maka Ia akan melindungi kita sebagaimana Ia melindungi Rasul Paulus, hingga ia menuntaskan tugas pelayanan sampai garis akhir.- 

—– ooooo —–

TUHAN HADIR SEBAGAI RAJA

Ibrani 12:27-28

             Ketika Tuhan hadir di tengah-tengah umat manusia, maka Ia dapat hadir sebagai raja. Raja di atas segala raja. Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang tak tergoncangkan, tidak seperti kerajaan yang dibangun oleh manusia. Sepanjang sejarah umat manusia berulang kali terjadi jatuh bangunnya kerajaan. Kerajaan yang dibangun oleh manusia selalu bisa dan mudah digoncangkan. Apakah yang Tuhan kerjakan dengan kedudukan-Nya sebagai Raja?

Pertama, Ia menghancurkan kerajaan yang dibangun oleh keangkuhan manusia. Alkitab mencatat setidaknya ada 7 pemerintahan atau kerajaan yang dibangun oleh keangkuhan manusia, dan semuanya dibumihanguskan oleh Tuhan. Inilah daftar pemerintahan atau kerajaan itu:

  1. Kejadian 11:1-6 – Menara Babel yang dibangun agar manusia tidak terserak (menentang kehendak Allah, bdk. Kej. 1:28), dan terhindar dari air bah jika terjadi air bah lagi seperti yang terjadi pada zaman Nuh. Tuhan Allah mengacaukan bahasa mereka, sehingga pembangunan menara itu gagal total.
  2. Nahum 2:13 – Kerajaan Asyur (runtuh 609 SM) di mana penduduk kota Niniwe tidak mau bertobat, tidak seperti nenek moyang mereka seratus tahun sebelumnya pada zaman Yunus.
  3. Daniel 2:44-45 – Kerajaan atau kekaisaran Babilonia (runtuh 539 SM), Persia (runtuh 330 SM), Yunani (runtuh 168 SM) dan Romawi (runtuh 395 M), dihancurkan dan kini hanya tinggal kenangan belaka.

Sebagai umat Tuhan pun kita harus introspeksi diri agar tidak membangun ‘kerajaan’ bisnis, intelek, atau apapun yang bermaksud menentang Tuhan (2 Kor. 10:5).

Kedua, Tuhan Yesus Kristus yang hadir dengan kerajaan-Nya yang tak tergoncangkan itu bisa diterima atau ditolak. Orang yang menolak Kerajaan Allah ini, berarti dia merajakan Iblis atau dirinya sendiri, dan itu akan berakhir dengan kebinasaan. Sebaliknya, orang yang menerimanya akan memperoleh kehidupan kekal (doa Bapa Kami – Matius 6:10).

Ketiga, karena kita telah menerimanya, mari kita mengucap syukur dan beribadah atau melayani Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Ada empat ciri pelayanan yang berkenan kepada Allah, yaitu: kekudusan (sanctification), penundukan diri (submission), keunggulan (skill), dan kepekaan (sensitivity).

 —– 00000 —–

TUHAN HADIR SEBAGAI BAPA

            Kita akan memahami kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita sebagai seorang bapa. Dengan memahami hubungan ini: Allah sebagai bapa dan kita sebagai anak-anak-Nya, maka hal itu sekaligus menjadi proyeksi dan refleksi dalam kehidupan keluarga kita, di mana Allah telah menetapkan pola ke-bapa-an itu kepada kita.

  1. Karya Tuhan sebagai Bapa bagi kita – inilah beberapa hal yang Tuhan telah kerjakan bagi kita, anak-anak-Nya:      
  2. Sikap kita kepada Tuhan sebagai Bapa
  1. Mewahyukan perkara ilahi kepada kita (Matius 16:17) – tanpa pewahyuan dari Allah, maka pernyataan para murid tentang siapa Yesus Kristus menjadi salah semua. Kita juga memberikan bekal rohani bagi anak-anak kita dari Alkitab, sebagai wahyu Allah yang tertulis. Hanya dengan kebenaran Alkitab anak-anak kita akan memiliki kebenaran yang mutlak.
  2. Mencipta dan memelihara (Filipi 4:19) – Allah mampu menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada dan memelihara alam ciptaan-Nya. Kita tidak perlu kuatir sebab kebutuhan kita pasti akan dicukupi-Nya. Kita pun harus mengenal pelbagai kebutuhan anak-anak kita dan memenuhi kebutuhan mereka.
  3. Mengampuni dan memulihkan (Lukas 15:22-23) – Allah tahu bahwa kita masih bisa melakukan dosa. Namun seperti halnya anak yang hilang disambut kembali dan dipulihkan bapanya, maka kita pun harus mengaku dosa kepada Tuhan sehingga kita dipulihkan. Kita juga harus memaafkan dan memulihkan kembali anak-anak kita.
  4. Mendisiplin dan menghibur (Ibrani 12:9-11) – Ketika kita hidup dalam ketidaktaatan berulang kali, maka Allah dengan kasih-Nya mendisiplin kita, agar kita tidak semakin jatuh. Ketika disiplin diberikan mendatangkan dukacita, namun buahnya adalah kehidupan yang benar yang mendatangkan sukacita.

Setelah kita memperoleh keempat karya Tuhan sebagai bapa, inilah beberapa sikap kepada Allah yang harus kita miliki, yaitu: (a) menerima proses pembentukan, karena Ia adalah “penjunan” dan kita adalah “tanah liat” (Yesaya 64:8); (b) menghormati-Nya baik dalam ibadah, dalam memberikan persembahan, dan dalam seluruh aspek kehidupan kita (Maleakhi 1:6); (c) berseru kepada-Nya dalam doa dengan penuh iman (Matius 6:9); (d) mengenal dan memiliki persekutuan yang erat dengan Yesus Kristus(Yohanes 1:18).-

—– ooooo —–

YESUS KRISTUS SEBAGAI NABI

Ulangan 18:15-20

Dalam Perjanjian Lama, ada tiga jabatan penting yang ditetapkan Allah untuk mendatangkan kesejahteraan bagi umat-Nya, yaitu: Raja, Imam, dan Nabi. Raja adalah seseorang yang dipilih dan ditetapkan Allah untuk menggembalakan umat-Nya sabagai sebuah bangsa. Raja akan mengatur kehidupan bangsanya dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Imam bertugas mewakili umat di hadapan Allah dalam menyembah dan mempersembahkan korban bagi pengampunan dosa. Nabi bertugas menjadi jurubicara Allah, yaitu menyampaikan kehendak Allah bagi umat manusia.

Seorang nabi yang dinubuatkan dalam Kitab Ulangan ini digenapi oleh Yesus Kristus. Nabi seperti Musa yang dinubuatkan di sini digenapi oleh Yesus Kristus. Orang-orang pada masa itu juga sudah menganggap Yesus Kristus sejajar dengan nabi-nabi, namun dalam pengakuan Simon Petrus yang diilhami oleh Allah Bapa sendiri, Yesus Kristus adalah Mesias, lebih dari sekedar nabi.

Yesus Kristus bukan hanya sebagai jurubicara Allah dengan menyampaikan firman Allah, melainkan Logos atau Firman itu sendiri yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh. 1:1-3). Dibandingkan dengan Musa, Yesus Kristus jauh lebih unggul (Ibr. 3:5-6), antara lain:

  1. Musa membebaskan bangsanya dari perbudakan di Mesir, Yesus Kristus membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa melalui karya penebusan di kayu salib.
  2. Musa memberikan hukum Taurat yang mematikan, Yesus memberikan hukum kasih yang menghidupkan.
  3. Musa adalah seorang nabi, namun tetap sebagai manusia ia tidak sempurna. Semua nabi tidak sempurna. Namun Yesus Kristus sempurna, karena Ia adalah Allah dan Manusia Sejati.
  4. Musa melakukan mukjizat sebagai alat Tuhan, Yesus Kristus melakukan mukjizat dari kuasa-Nya sendiri, sebab Ia adalah Tuhan (Luk. 7:16-17).

Kita diberi kebebasan untuk mau menerima ajaran-Nya atau tidak, dengan segala konsekuensinya. Jika kita menolak-Nya maka kita tetap akan tinggal dalam kegelapan dan kebinasaan. Namun, jika kita menerima-Nya, kita akan beralih dari gelap kepada terang, dari kebinasaan kepada kehidupan kekal.-

—– ooooo —–

SANG JURUSELAMAT

             Dalam setiap peristiwa bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, angina badai, puting beliung, dan sebagainya, selalu ada dua pihak yang menggunakan dua singkatan penting. Pertama, singkatan yang diteriakkan oleh mereka yang membutuhkan bantuan: SOS (Save Our Souls = Selamatkan Jiwa Kami); kedua, singkatan dari tim yang berupaya memberikan bantuan, yaitu SAR (Search and Rescue = Cari dan Selamatkan).

1. Siapakah Sang Juruselamat Itu?

Dalam Perjanjian Lama, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, yang memperkenalkan nama-Nya sebagai YHWH (Yahweh = TUHAN), menyatakan diri sebagai Sang Juruselamat satu-satunya yang mampu menyelamatkan umat-Nya (Yesaya 43:11). Tidak ada juruselamat lain! Hal ini juga disampaikan oleh Rasul Petrus ketika ia menyampaikan pembelaan iman di hadapan Mahkamah Agama (Kisah 4:12). Nama yang dimaksud oleh Rasul Petrus adalah nama Tuhan Yesus Kristus, karena Yesus Kristus sendiri menyatakan bahwa Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang (Lukas 19:10).

2. Siapa yang Diselamatkan?

Dalam Perjanjian Lama, yang pertama-tama diselamatkan adalah umat Israel jasmani, yaitu keturunan dari Abraham, Ishak dan Yakub. TUHAN menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir dan menghentar mereka hingga memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ada pula orang-orang yang bukan Israel juga diselamatkan.

Contoh pertama adalah: Rahab (Yosua 6:25). Ia disebut perempuan sundal (orang berdosa). Namun ia mengasihi keluarganya dan menginginkan agar ia beserta seluruh keluarganya diselamatkan saat Yosua dan segenap orang Israel menyerbu Yerikho. Bahkan, akhirnya Rahab terdaftar sebagai salah satu nama dalam silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:5).

Contoh kedua adalah Zakheus (Luk. 19:1-10). Ia adalah seorang pemungut cukai (orang berdosa). Ia kaya karena sikap egoisnya dalam memperkaya diri sendiri secara tidak jujur. Ia dianggap sampah masyarakat. Namun ketika ia memiliki kerinduan akan keselamatan, ia berupaya melihat Yesus dengan memanjat pohon ara. Tuhan Yesus menyatakan hendak menumpang di rumah Zakheus. Zakheus diselamatkan!

3. Cara Penyelamatan

Dalam menyelamatkan manusia, Tuhan menggunakan dua cara. Pertama, melalui orang-orang yang dipilih-Nya menjadi agen penyelamatan-Nya, misalnya para hakim di zaman hakim-hakim seperti: Otniel, Ehud, Gideon, Yefta, Simson, Debora, dan lain-lain (Hak. 2:18). Kita harus bersedia menjadi alat penyelamatan Tuhan bagi keluarga dan sesame kita. Kedua, secara langsung Tuhan Yesus datang ke dalam dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Dengan pengorbanan-Nya di kayu salib Ia menyediakan keselamatan itu dengan cuma-cuma. Hingga kini, ada pula orang-orang yang bukan Kristen memperoleh penglihatan atau kunjungan Yesus Kristus sendiri dan mereka kemudian beriman kepada-Nya.

4. Dampak Keselamatan

Sesudah seseorang diselamatkan, ada perubahan atau transformasi kehidupan yang sangat drastis. Zakheus berubah dari orang yang egois menjadi seorang filantropis, yang bersedia menyerahkan separuh hartanya untuk digunakan bagi orang miskin, dan mengembalikan empat kali lipat milik orang yang pernah diperasnya. Matius, juga seorang pemungut cukai, bahkan menyerahkan seluruh hidupnya menjadi pengikut dan murid Yesus Kristus. Tuhan memakainya menjadi rasul yang menuliskan Injil, yaitu Injil Matius.-

 

KUASA KEBANGKITAN KRISTUS

Kisah kebangkitan Yesus Kristus bukan merupakan dongeng, melainkan suatu realitas, fakta sejarah, sebagaimana dicatat dalam Matius 28:1-10. Rasul Paulus menyatakan bahwa yang dikehendakinya adalah mengenal kuasa kebangkitan Kristus (Flp. 3:10). Kata “mengenal” di sini bukan hanya sekedar tahu dan mengerti, tetapi juga mengalami. Dalam mempelajari sesuatu, setiap orang harus melakukan empat hal: belajar tahu (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar menjadi (learning to be), dan belajar hidup bersama orang lain (learning to live together). Kuasa kebangkitan Kristus bukan sekedar untuk diketahui atau dimengerti, melainkan harus dialami. Setidaknya ada 4 (empat) hal yang bisa kita alami:

  1. Kuasa kebenaran firman Tuhan (1 Kor. 15:2-3) – Sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus telah terjadi sesuai dengan Kitab Suci (Alkitab). Artinya, Allah setia kepada janji-Nya yang dinyatakan dalam firman-Nya. Kleopas dan rekannya memiliki kemantapan hati dan sukacita ketika Yesus Kristus menjelaskan kebenaran firman kepada mereka dalam perjalanan ke Emaus, padahal sebelumnya mereka murung dan penuh keraguan (Lukas 24:13-35). Pegang firman Tuhan dan imani kebenarannya, agar kita mengalami kuasa-Nya!
  2. Kuasa atas dosa dan maut (1 Kor. 15:55-56) – Tak ada yang bisa menolong manusia untuk menang atas dosa dan maut selain kuasa kebangkitan Yesus Kristus. Manusia akan selalu didatangi godaan dosa. Hanya kuasa kebangkitan Kristus yang memampukan kita menjadi pemenang. Demikian pula terhadap maut. Paulus berkata bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kematian bukan lagi sesuatu yang kita takuti, melainkan kita hadapi dengan penuh iman sebagai jalan untuk pindah dari yang fana kepada kekekalan!
  3. Kuasa atas kemustahilan (Kisah 26:8, 22-23) – Di hadapan Raja Agripa Rasul Paulus memberikan kesaksiannya, bahwa Tuhan Yesus Kristus yang dilayaninya adalah Tuhan atas kemustahilan. Artinya, Yesus Kristus mampu mengadakan mukjizat serta memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan membebaskan. Yesus Kristus juga mampu bangkit dari antara orang mati sebagai yang sulung, di mana kelak orang-orang percaya juga akan mengalami kebangkitan dari antara orang mati dan bersatu dengan Kristus untuk selama-lamanya.
  4. Kuasa atas masa depan (Roma 6:9-11) – Dalam kebangkitan Kristus ada kuasa atas masa depan, di mana hidup kita tidak lagi ditujukan bagi diri sendiri, melainkan bagi Kristus. Kehidupan masa depan adalah kehidupan yang dijamin oleh Tuhan sendiri, namun di dalamnya ada kewajiban untuk menjadi saksi dari kebangkitan-Nya. Hidup kit aharus berdampak bagi orang lain: melalui doa, sikap hidup, perkataan dan perbuatan kita.-

 —– 00000 —–

 

S H A L O M

Zakharia 8:12-17

 Kata Ibrani “shalom” telah sering digunakan oleh orang-orang Kristen sebagai salam ketika berjumpa dengan saudara seiman atau sapaan mengawali suatu ibadah atau persekutuan. Kata ini secara singkat berarti “damai sejahtera”. Allah menaburkan damai sejahtera dalam kehidupan umat-Nya, yang di dalamnya terdapat hal-hal penting berikut.

  1. Berkat jasmani (ayat 12) – Ungkapan “pohon anggur memberikan buahnya, tanah memberikan hasilnya, langit memberikan air embunya” menunjuk kepada pemeliharaan Tuhan berupa berkat-berkat jasmani yang dibutuhkan oleh umat-Nya. Sesudah umat Tuhan mengalami didikan Tuhan selama 70 tahun di negeri pembuangan, yaitu Babilonia, Tuhan memulihkan umat-Nya. Bentuk pertama pemulihan itu adalah kecukupan dalam berkat jasmani.
  2. Kepastian keselamatan (ayat 13) – Dalam kata “shalom” juga terkandung kepastian keselamatan, karena TUHAN sendiri yang berjanji kepada umat-Nya, yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub, yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan yang dimaksud adalah perlindungan Tuhan selama kita masih hidup di dunia ini dan kehidupan kekal di sorga kelak. Kepastian ini penting karena bisa mendatangkan sukacita dan pengharapan selama kita masih hidup di muka bumi ini.
  3. Menjadi berkat (ayat 13) – Sesudah kita memperoleh berkat jasmani dan rohani, yaitu kepastian keselamatan, maka kita harus menjadi berkat. Ini adalah komitmen kita, bahwa hidup baru dalam Yesus Kristus harus menghasilkan buah-buah yang bisa dinikmati oleh orang lain. Orang Kristen sejati tidak hanya fokus pada diri sendiri, melainkan bagaimana menjadi berkat bagi orang lain.
  4. Ketenangan hati (ayat 13) – Hal lainnya yang terkandung dalam kata “shalom” adalah ketenangan hati, di mana kita tidak perlu takut atau gelisah lagi. Banyak orang punya banyak berkat jasmani, tetapi tanpa ketenangan hati. AKibatnya selalu gelisah, cemas, tidak bisa tidur dan berakibat kepada gangguan kesehatan. Yesus Kristus juga memberikan damai sejahtera kepada para murid-Nya sesudah Ia bangkit dari kematian.
  5. Kehidupan dalam kebenaran (ayat 16-17) – Selain keempat hal di atas, maka jika kita memiliki “shalom” maka kita harus memiliki kehidupan dalam kebenaran, keadilan, dan kekudusan.

Mintalah agar damai sejahtera Allah senantiasa memelihara hati dan pikiran kita di dalam Yesus Kristus (Flp. 4:7).-

—– 00000 —–

 

KARYA ROH KUDUS DALAM KELUARGA

Yohanes 20:19-23

             Sekalipun kita berada dalam waktu sesudah memperingati kenaikan Yesus Kristus ke sorga dan sedang menantikan hari raya Pentakosta dalam doa 10 hari ini, tetapi bagian Alkitab di sekitar kebangkitan Yesus Kristus masih relevan bagi kita, karena di dalamnya ada janji karya Roh Kudus bagi setiap keluarga. Ada 3 (tiga) pertanyaan penting:

Pertama, mengapa setiap keluarga membutuhkan karya Roh Kudus? Karena setiap pribadi dan keluarga memiliki banyak ketakutan (ayat 19a). Ada ketakutan mengenai masalah ekonomi, kesehatan, keberadaan anak-anak di sekolah dan di pergaulan. Bahkan ada ketakutan dalam diri anggota keluarga terhadap anggota keluarga lainnya. Isteri atau suami yang takut pada pasangannya, atau anak-anak yang takut kepada orang tuanya yang sangat galak dan tidak mendidik dengan benar. Ada ketakutan mencengkeram kehidupan setiap keluarga!

Kedua, karya apa yang Roh Kudus kerjakan dalam setiap keluarga? Roh Kudus mengingatkan kita bahwa di tengah-tengah ketakutan itu ada damai sejahtera Kristus (ayat 19b). Alkitab menyatakan ada 2 (dua) jenis damai sejahtera, yaitu damai sejahtera Kristus dan damai sejahtera dari dunia ini (Yoh. 15:26). Damai sejahtera Kristus bersifat sejati dan kekal, sedangkan yang dari dunia ini bersifat semu karena berdasar pada hal-hal yang sementara.

Ketiga,bagaimana Roh Kudus melakukan karya-Nya itu? Ada 4 (empat) hal yang Roh Kudus kerjakan yang membuat setiap keluarga bisa memiliki damai sejahtera:

(a)    Mengingatkan kita pada karya Yesus Kristus di kayu salib Golgota (ayat 20). Ia telah menanggung segala beban dan dosa kita. Oleh karya penebusan Kristus kita dibebaskan, diampuni, dan dipulihkan. Bahkan oleh bilur-bilur-Nya kita pun disembuhkan.

(b)   Mengingatkan kita bahwa setiap keluarga diutus untuk menjadi saksi-Nya (ayat 21). Jika kita hanya fokus pada masalah keluarga kita sendiri, kita tidak akan pernah bisa menjadi utusan Tuhan untuk menolong orang atau keluarga lain.

(c)    Mengingatkan kita bahwa Ia berada di dalam kita, karena Yesus Kristus telah memina kepada Bapa agar Ia mengirimkan Penolong yang lain (ayat 22). Jika Roh Kudus memenuhi kehidupan kita, maka yang menjadi prioritas kita adalah menjadi pelaku dari kehendak Allah.

(d)   Mengingatkan kita agar kita mau mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita, termasuk setiap anggota dalam keluarga kita (ayat 23). Karena kita telah diampuni oleh Tuhan, dan kita masih membutuhkan pengampunan Tuhan di masa mendatang, maka kita wajib saling mengampuni.-

 —– ooooo —–

YESUS KRISTUS SEBAGAI BATU PENJURU

1 Petrus 2:1-10

‘Batu penjuru’ adalah ‘sebuah batu besar yang ditempatkan pada fondasi di sudut utama suatu bangunan baru. Batu ini menghubungkan bagian ujung tembok dengan tembok sebelahnya, sehingga keduanya menyatu.’ Ada 3 (tiga) hal penting tentang batu penjuru, yaitu: merupakan yang pertama, penentu arah, dan menyatukan. Dalam Yesaya 28:16 telah dinubuatkan bahwa Allah meletakkan di Sion sebuah batu penjuru, dan nubuatan ini telah digenapi oleh Yesus Kristus! Itu berarti bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi yang pertama dan utama dalam hidup kita, kebenaran yang mengarahkan seluruh aspek hidup kita, dan mempersatukan semua orang yang percaya.

Berkenaan dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru ini, maka manusia terbagi menjadi dua kelompok besar. Bagi mereka yang percaya Ia sangat berharga atau mahal (1 Pet. 2:6), tetapi bagi yang tidak percaya Ia menjadi batu sentuhan dan batu sandungan (1 Pet. 2:7; Kisah 4:11). Mereka yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Batu Penjuru: telah menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran, dan telah dilahirkan kembali oleh firman Allah yang hidup dan yang kekal (1 Pet. 1:22-23). Status kita sekarang adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Efs. 2:19-20). Konsekwensinya adalah bersedia melakukan 4 (empat) hal berikut ini:

(1)   Membuang hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, yaitu: segala kejahatan, tipu muslihat, segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah (1 Pet. 2:1);

(2)   Menjadi seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan rohani (milk of the word) (1 Pet. 2:2). Murni dalam arti tidak disusupi prinsip hidup pembicara atau kebenaran manusiawi; rohani dalam arti firman Tuhan tidak boleh digunakan secara sembarangan.

(3)   Bersedia dipergunakan sebagai ‘batu hidup’ untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah (1 Pet. 2:4).

(4)   Memahami tujuan panggilan Tuhan, yaitu agar kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia (1 Pet. 2:9).-

—– ooooo —–

YESUS KRISTUS SEBAGAI IMAM BESAR AGUNG

 

Dalam Perjanjian Lama ada tiga jabatan yang ditetapkan oleh Allah, yaitu jabatan raja, nabi, dan imam. Imam-imam telah ditetapkan harus berasal dari keturunan Lewi, salah seorang anak Yakub. Imam-imam itu dipimpin oleh seorang Imam Besar, diawali oleh Harun, kakak Musa. Seorang Imam Besar mewakili umat di hadapan Allah. Bertugas menjadi pengantara dari manusia kepada Allah, yaitu mempersembahkan pelbagai jenis korban dan meminta pengampunan Allah bagi umat-Nya. Penulis Surat Ibrani membandingkan keberadaan Imam Besar dalam Perjanjian Lama dengan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung dalam Perjanjian Baru, supaya kita memahami dan mengalami kedahsyatan karya-Nya sebagai Imam Besar kita. Dalam Ibrani 9:11-14 terdapat beberapa perbandingan sebagai berikut:

 

  1. Imam Besar dalam PL mengikuti imamat Lewi, sedangkan Yesus Kristus mengikuti imamat Melkisedek, yaitu Imam Besar kepada siapa Abraham tunduk dan memberikan persepuluhannya. Melkisedek adalah penyataan Allah sebagai manusia dalam PL.
  2. Imam Besar dalam PL mempersembahkan korban bagi dosa bangsa Israel dan dosanya sendiri, sedangkan Yesus Kristus mempersembahkan diri-Nya menjadi korban penebusan bagi dosa seluruh umat manusia.
  3. Imam Besar dalam PL terbatas karena faktor usia. Ketika mencapai usia tertentu, mereka tidak dapat lagi menjalankan tugas itu dan harus dialihkan kepada generasi berikutnya. Sebaliknya, Yesus Kristus tidak terbatas karena Ia adalah Allah yang kekal.
  4. Imam Besar dalam PL tidak sempurna, ada yang tidak hidup dalam kebenaran firman Tuhan (misalnya: Imam Eli); sedangkan Yesus Kristus senantiasa taat kepada Bapa-Nya dan memberikan kepada kita keteladanan ketaatan ini.
  5. Imam Besar dalam PL tidak mampu berempati dan menolong hingga tuntas saat bangsanya menderita, sedangkan Yesus Kristus mampu berempati dan menolong kita semua hingga tuntas.

 

Sikap yang benar yang harus kita miliki terhadap Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung kita adalah: selalu datang mendekat kepada-Nya, yaitu kepada takhta kasih karunia, supaya kita memperoleh pertolongan tepat pada waktunya (Ibr. 4:16).-

—– 00000 —–

 

ALLAH HAKIM YANG ADIL

 

            Dalam suatu pemerintahan yang demokratis selalu ada 3 (tiga) bagian penting, yaitu: eksekutif (presiden atau perdana menteri berikut kabinetnya), legislatif (dewan perwakilan rakyat), dan judikatif (badan peradilan). Adanya hakim dan jaksa yang adil sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen bangsa. Dalam setiap bangsa selalu ada legenda tentang adanya hakim yang adil, misalnya: Di Tiongkok ada legenda Judge Bao yang menghakimi dengan adil.

Kita patut bersyukur karena Alkitab menyatakan bahwa Allah yang kita panggil Bapa di dalam nama Tuhan Yesus Kristus adalah Hakim yang adil. Apa yang Ia lakukan dan bagaimana sikap kita terhadap Hakim yang mahaadil itu? Inilah yang Allah lakukan.

Pertama, Ia mengadakan pembedaan perlakuan terhadap orang-orang tertentu. Abraham yang rindu agar keponakannya, yaitu Lot dan keluarganya diselamatkan dari rencana hukuman Allah atas Sodom dan Gomora yang telah sangat berdosa di hadapan-Nya. Abraham yakin bahwa Allah tidak akan menghukum orang benar bersama-sama dengan orang fasik (Kej. 18:25). Ini adalah prinsip kerja Allah, bahwa Ia memberikan anugerah umum (common grace) kepada semua orang, baik yang baik maupun yang jahat; tetapi Ia juga memberikan anugerah khusus (special grace) kepada orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya (Mal. 3:18).

Kedua, Ia merendahkan dan meninggikan orang-orang tertentu untuk duduk di posisi terhormat (Maz. 75:7-8). Ada orang yang sangat ambisius untuk memperoleh jabatan penting, sehingga menggunakan cara-cara yang salah: politik uang, saling menjegal atau memfitnah, dan menggunakan kuasa kegelapan. Sebagai orang percaya keberhasilan kita dalam studi, pekerjaan, dan pelayanan, tidak tergantung pada itu semua, melainkan pada kuasa tangan Tuhan yang sanggup meninggikan kita.

Ketiga, Ia mampu melihat sampai ke dalam hati (Yer. 11:20). Penghakiman manusia hanya sebatas apa yang nampak kasat mata, namun penghakiman Allah sampai ke dalam batin dan hati kita. Itu berarti bahwa Allah pasti sangat obyektif dalam menilai keberadaan kita.

Keempat, Ia memberi upah kepada orang yang setia mengikut dan melayani Dia. Rasul Paulus meyakini hal itu (2 Tim. 4:8). Sebagaimana dalam pertandingan atau perlombaan diharapkan ada wasit dan juri yang adil, maka Allah pun menjadi ‘wasit’ atas kita.

Sikap kita sebagai orang percaya terhadap Allah sebagai Hakim yang adil antara lain: tidak menghakimi orang lain, menyerahkan diri kepada Tuhan agar Ia yang membela kita terhadap orang yang menyakiti kita, dan tetap memberitakan Yesus Kristus yang datang untuk menyelamatkan semua orang berdoa, agar luput dari hukuman Allah (Yoh. 3:17).-

—– ooooo —–

TUHAN ADALAH PENJUNAN

Yeremia 18:1-6

Dalam proses penciptaan alam semesta, Allah cukup dengan menyampaikan firman-Nya. Ia berfirman dan semuanya jadi. Namun ketika Ia menciptakan manusia, Ia membentuk manusia dari debu tanah, kemudian menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7). Proses pembentukan ini berhenti hanya pada manusia pertama dan hanya saat penciptaan, melainkan dikerjakan oleh Allah secara terus menerus. Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kita pahami dalam karya Allah sebagai yang membentuk kita.

1. Waktu Pembentukan – Yeremia mendapati bahwa tukang periuk atau penjunan itu ‘sedang bekerja’. Ini menunjukkan bahwa Allah pun ‘sedang bekerja’, dari kekal sampai kekal. Allah Roh Kuduslah yang terus terus menerus akan membaharui kita (Kol. 3:10)

2. Tujuan Allah Membentuk Kita – Ketika Allah membentuk kita, Ia memiliki tujuan dan maksud tertentu (purpose), yaitu agar kita menjadi serupa dengan Yesus Kristus, sebagai standar kehidupan teragung (Roma 8:29-30).

3. Cara Allah Membentuk Kita – Allah membentuk anak-anak-Nya dengan dua cara:

(a) Secara langsung – yaitu melalui kebenaran firman-Nya yang kita baca dan dengar. Oleh sebab itu ketika Allah mau membentuk kita, jangan keraskan hati, melainkan miliki hati yang lembut, yang siap untuk dibentuk menjadi pribadi yang lebih menyenangkan hati Tuhan (2 Tim. 3:15-17).

(b) Secara tidak langsung – yaitu melalui orang-orang yang ada di sekitar kita. Besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan sesamanya (Amsal 27:17).

4. Hasil Pembentukan oleh Allah – Hasilnya bergantung kepada Allah dan bersedia tidaknya individu yang dibentuk-Nya. Ada penderitaan dan pengorbanan, namun akan menghasilkan karakter yang unggul (Roma 8:18).

5. Sikap Kita terhadap Proses Pembentukan –

  1. Bersyukur – Karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28).
  2. Berserah – Karena rencana-Nya pasti lebih indah dari pada rencana kita (Yes. 55:8-9).
  3. Memancarkan kemuliaan Allah – sebagai bejana kemuliaan-Nya, kita harus memancarkan hal-hal yang positif dan mendatangkan berkat bagi banyak orang.- 

—– ooooo —–

 

BANYAK YANG DIPANGGIL SEDIKIT YANG DIPILIH

Matius 22:14

 

Pendahuluan

 

Allah itu Mahakuasa. Namun dalam banyak hal Allah ‘membutuhkan’ orang-orang untuk menjadi mitra kerja-Nya. Itulah sebabnya dalam setiap zaman Allah – yang empunya lading pelayanan – selalu mencari, memanggil, dan memilih orang-orang yang dapat dipakai-Nya menjadi alat di tangan-Nya bagi kemuliaan-Nya.

Pada diri orang-orang yang dicari, dipanggil, dan dipilih Allah, ada kehendak bebas yang bisa digunakan oleh individu yang bersangkutan untuk menyatakan respons yang positif dengan menerima ajakan Allah tersebut, atau respons yang negatif dengan menolak ajakan Allah yang mulia itu. Itulah sebabnya ada kalanya Allah dipuaskan dengan orang-orang yang memberikan respons positif terhadap panggilan dan pilihan-Nya (mis. Yesaya – Yes. 6:8; Matius – Mat. 9:9). Tetapi adakalanya juga Allah sedih sebab tidak ada satu pun yang menanggapi panggilan dan pilihan-Nya itu (Yehezkiel 22:30). Kali ini kita akan melihat seluruh proses panggilan dan pilihan Allah ini.

 

Proses Panggilan dan Pilihan Allah

 

            Dalam perikop ini, Tuhan Yesus sedang menyampaikan sebuah perumpamaan tentang orang-orang yang diundang dalam sebuah perjamuan kawin (Matius 22:1-14). Dari sini kita akan belajar banyak hal.

Pertama, panggilan dan pilihan Allah bertujuan mendatangkan sukacita, bukan dukacita. Peta perjamuan kawin merupakan momen istimewa di mana setiap orang bersukacita. Pelayanan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan merupakan suatu beban berat yang men-dukacitakan, melainkan kepercayaan dan kehormatan besar yang menyukacitakan.

            Kedua, panggilan dan pilihan Allah bisa diterima atau ditolak. Terdapat banyak alasan yang bisa digunakan untuk menolak panggilan Allah ini. Namun sebenarnya juga terdapat banyak alasan untuk menerimanya. Menerima atau menolak memang merupakan hak azasi setiap manusia, tetapi tentu akan disertai dengan akibatnya masing-masing.

Ketiga, panggilan dan pilihan Allah selalu member kesempatan kedua. Kalau ada orang yang pada mulanya menolak, bisa saja setelah diberi kesempatan kedua ia menerimanya. Namun demikian ada pula yang tetap bersikukuh tidak mau mengiyakan panggilan dan pilihan Allah itu, bahkan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hokum Tuhan.

Keempat, panggilan dan pilihan Allah bisa datang dalam kehidupan orang-orang yang sebenarnya tidak layak, yaitu ‘orang-orang yang dijumpai di jalan-jalan’. Apa yang dianggap bodoh dan hina bagi dunia, dipanggil dan dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat (1 Kor. 1:26-29).

Kelima, panggilan dan pilihan Allah – walaupun terbuka bagi semua orang – namun tetap membutuhkan pemenuhan syarat-syarat yang sangat ketat. Salah satu persyaratan itu adalah ‘pengenaan pakaian pesta’, yaitu mengenakan karakter Yesus Kristus sendiri yang disebut sebagai buah Roh (Gal. 5:22-23).

Keenam, keberhasilan dalam pelayanan bukan terletak pada kuantitas, melainkan pada kualitas. Kualitas lebih dahulu, baru kemudian kuantitas menyusul (bdk. kemenangan Gideon).

 

—– 00000 —–


4 thoughts on “KHOTBAH

    Nafias Wikarjanto said:
    Oktober 16, 2013 pukul 2:32 am

    Shalom Pak Pdt. Petrus

    Terimakasih untuk pelayanan Bapak pada HUT ke 40 dan Family Camp GPPS Anugerah Malang 15 Oktober 2013. Saya secara pribadi sangat diberkati terlebih dengan ulasan singkat tentang Yosua yang mengawali pelayanan dari hamba MUSA tetapi diakhiri dengan predikat ABDI ALLAH.

    Mohon kalo boleh minta alamat email untuk kirim foto Pak. Terimakasih Tuhan Yesus memberkati

    Nafias Wikarjanto said:
    Oktober 19, 2013 pukul 2:01 am

    Terimakasih Pak, saya sudah email foto semoga sudah diterima. Selamat melayani dan terus suarakan kebenaran. Tuhan Yesus memberkati.

      petrusfs responded:
      Januari 26, 2014 pukul 11:20 pm

      terimakasih banyak. Tuhan memberkati.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s