KELUARGA YANG KOKOH

Posted on Updated on

KELUARGA YANG KOKOH

Pdt. Petrus F. Setiadarma

 

Pendahuluan

Pembicaraan dan seminar tentang keluarga semakin marak hari-hari ini. Hal itu menunjukkan bahwa keluarga merupakan unit terkecil masyarakat yang sangat penting. Ketika keluarga mengalami kehancuran maka masyarakat pun akan terkena imbasnya. Walaupun penuh rekayasa, tayangan sinetron di televisi kita menunjukkan kompleksnya masalah dalam keluarga. Jika masalah yang timbul tidak diantisipasi dan diselesaikan dengan baik tentu akan berakibat fatal. Dalam artikel ini kita akan merenungkan beberapa prinsip penting dalam Alkitab, khususnya melalui Mazmur 128 agar keluarga kita menjadi keluarga yang kokoh.

1. Takut Akan Tuhan

Mazmur 128:1 memuat kata “Berbahagialah …”. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan “Blessed be …” artinya “Diberkatilah …” Keluarga yang kokoh adalah keluarga yang diberkati Tuhan. Karena orang-orang yang ada di dalamnya takut akan Tuhan. Apa arti takut akan Tuhan? Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa orang yang takut akan Tuhan adalah orang “yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.”. Berarti untuk bisa hidup sedemikian terlebih dahulu ia mau ditunjuki jalan Tuhan. Ia tahu dan mengenal jalan Tuhan melalui firman Tuhan yang dibaca dan didengarnya. Kemudian ia hidup dalam ketaatan total terhadap jalan Tuhan tersebut.

Ada orang yang sudah merasa memiliki jalan atau prinsip, dan menganggap jalannya atau prinsipnyalah yang benar. Misalnya, ia kepala keluarga yang menganggap bahwa memukul isteri secara fisik atau merendahkannya adalah tindakan yang benar. Padahal ketika firman Tuhan disampaikan kepadanya ia sadar bahwa apa yang selama ini dianggapnya benar ternyata salah. Jalan atau caranya bukan jalan atau cara Tuhan (Yesaya 55:8-9). Seharusnya ia kemudian mau mengubah cara hidupnya. Tidak lagi melakukan kekerasan terhadap keluarganya sendiri, melainkan mengasihi dan melindunginya. Sayangnya, ada yang tetap berkeras hati dan tetap berpegang kepada jalannya sendiri. Akibatnya keluarganya tidak kokoh. Isteri dan anak-anaknya tidak tahan lagi, dan keluarga itu pun berantakan.

Jalan Tuhan itu indah dan mendatangkan kebaikan bagi semuanya. Memang di dalamnya ada hal-hal yang nampaknya sulit, seperti: kesabaran, ketekunan, pengendalian diri, kasih, dan sebagainya. Tetapi Roh Kudus diberikan kepada kita menjadi Penolong kita yang sejati, agar kita mampu hidup benar di jalan Tuhan.

Jadi, suami, isteri dan anak-anak harus terus bertumbuh dalam pengenalan akan jalan Tuhan dan juga dalam ketaatan. Ketika kita taat, di situ ada berkat!

Suami yang takut akan Tuhan akan mengasihi isteri dan anak-anaknya.Ia tidak akan mengecewakan kepercayaan yang diberikan keluarganya kepadanya, sekalipun ia berada di luar kota dan isteri tidak bisa tahu apa yang diperbuatnya. Isteri yang takut akan Tuhan akan melayani suaminya dengan penuh hormat, dan tidak akan memboroskan berkat Tuhan yang diterimanya baik sebagai hasil kerja sendiri maupun dari suaminya. Anak yang takut akan Tuhan akan menaati pimpinan orang tuanya. Ia akan menggunakan cara yang jujur guna memperoleh prestasi belajar di sekolah. Ia juga tidak akan masuk ke situs-situs Internet yang tidak pantas.

2. Rajin Bekerja

Bekerja adalah mandat yang Allah berikan kepada manusia ketika Ia menciptakan mereka (Kej. 1:26-28). Pemazmur berkata tentang “jerih payah tangan” yang bekerja. Berkat yang dicurahkan Tuhan merupakan hasil dari suatu proses kerja keras, bukan berkat instan yang langsung datang ke rumah kita. Tuhan memberikan kemampuan kepada setiap keluarga untuk bekerja mencari nafkah. Bagian kita adalah bekerja keras, bagian Tuhan adalah mencurahkan berkat-Nya.

Keluarga yang kokoh adalah keluarga yang membenci kemalasan. Menurut Billy Graham, kemalasan termasuk salah satu dari 7 (tujuh) dosa maut. Orang yang malas berarti tidak mensyukuri potensi yang Tuhan berikan kepadanya. Orang yang malas mengundang kemiskinan memasuki kehidupannya. Orang yang malas harus belajar kepada semut (Amsal 6:6-11). Rasul Paulus juga mengingatkan jemaat di Tesalonika agar mereka bekerja keras (2 Tes. 3:6-10). Dengan bekerja keras, kita: (a) tidak menurut ajaran Kristus, (b) menjadi teladan bagi orang lain, termasuk anak-anak kita, (c ) tidak menjadi beban bagi orang lain, termasuk bagi keluarga kita. Bagi yang tidak mau bekerja keras, jangan makan!

Bekerja keras tidak sama dengan gila kerja (workaholic). Orang yang gila kerja akan lupa waktu: waktu makan, waktu istirahat, waktu untuk keluarga, waktu untuk beribadah kepada Tuhan, dan sebagainya. Sedangkan orang yang bekerja keras adalah orang yang memaksimalkan waktu kerjanya dengan sunguh-sungguh, kemudian ia menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan. Orang yang bekerja keras tetap akan memiliki cukup waktu untuk keluarga dan untuk beribadah.

3. Penuh Sukacita

Ungkapan pemazmur, “Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur …” menyatakan bahwa dalam setiap keluarga Kristen yang kokoh ada sukacita. Anggur adalah lambang sukacita. Siapa sumber sukacita kita? “Pokok anggur” itu sendiri, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 15:1-8). Sukacita kita tidak didasarkan atas situasi dan kondisi yang kita hadapi, melainkan merupakan buah Roh Kudus sendiri (Gal. 5:22-23). Ciri Kerajaan Allah adalah: kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17). Sebagai warga Kerajaan Allah sudah sepatutnya kita limpah dengan ketiga hal yang indah itu, yaitu: kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Ketika sukacita itu hilang maka Kekristenan tidak akan terasa lagi garamnya. Sukacita tidak sama dengan bersenang-senang atas penderitaan orang lain. Sukacita tidak sama dengan ketidakpedulian atas kesusahan orang lain. Justru dengan sukacita kita menghibur dan menolong orang lain. Dengan sukacita itu kita dapat bersaksi tentang kasih Tuhan melalui perkataan dan perbuatan kita.

Sukacita dalam keluarga bisa dinikmati mulai dari terbitnya matahari sampai pada masuknya. Diawali dengan sukacita dalam bersekutu dengan Tuhan melalui doa dan pembacaan firman Tuhan. Kemudian setiap anggota keluarga bersukacita membuka agenda mereka masing-masing pada hari itu: apa saja yang akan dilakukan, siapa saja yang akan dikontak. Sukacita tersebut adalah modal awal keberhasilan dalam pekerjaan dan dalam berelasi dengan orang lain. Sore hari kembali bersukacita karena Tuhan telah menolong pekerjaan kita pada hari itu. Dan di malam hari kembali bersukacita karena seluruh keluarga berkumpul bersama. Sukacita ini keluar dari setiap hati anggota keluarga yang telah diperbaharui oleh Roh Tuhan sendiri.

4. Berdoa

Ungkapan berikutnya, “…; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!” Pohon zaitun di Timur Tengah menjadi simbol dari kecantikan, kekuatan, berkat ilahi, dan kemakmuran. Minyak zaitun dipakai sebagai bahan bakar, obat, dan makanan. Dengan kata lain, Zaitun merupakan lambang kehidupan. Di manakah sebenarnya pangkal kehidupan? Dalam doa. Yesus Kristus berada di Taman Getsemani, Ia berdoa di dekat pohon zaitun. Di sanalah Ia memperoleh kemenangan untuk melakukan kehendak Bapa-Nya.

Keluarga yang kokoh adalah keluarga yang berdoa, termasuk pula mengajarkan anak-anak sebagai generasi doa. Mungkin saja orang tua mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya, tetapi sebaiknya orang tua membawa anak-anak kepada hubungan (realtionship) dengan Bapa Surgawi. Dengan berdoa secara pribadi, anak-anak memperoleh kehidupan langsung dari Sang Pencipta. Bisa saja Tuhan memberkati mereka melalui orang tua, tetapi bisa pula dari pihak-pihak lain. Dengan demikian anak-anak tidak mudah menjadi kecewa ketika mereka tahu bahwa orang tua mereka terbatas dalam memenuhi kebutuhan mereka. Di atas orang tua jasmani, mereka memiliki Bapa Surgawi yang tak terbatas kasih dan kuasa-Nya.

Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 6:9-13 dapat menjadi standar doa keluarga. Keluarga yang berdoa akan mengalami keindahan hadirat Tuhan dan memiliki kehidupan serta kekuatan dalam menghadapi pelbagai tantangan.

5. Keharmonian

Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menjadikan keluarga yang kokoh adalah keharmonisan. Kata harmonis berasal dari kata Yunani, harmonia, yang berarti “ikatan, persetujuan, atau kesepakatan”. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang terikat satu dengan yang lain dalam kesatuan kasih, dan setuju atau sepakat untuk berjalan pada jalan Tuhan. Dalam Mazmur 128 ini ada suami, isteri, dan anak-anak. Keharmonisan di antar ketiganya perlu dipelihara dengan baik. Dengan car abagaimana? Setiap anggota keluarga sepakat untuk menjalankan fungsinya masing-masing sesuai dengan tuntunan firman Allah. Suami harus mengasihi isterinya seperti mengasihi tubuhnya sendiri. Isteri  harus tunduk kepada suaminya seperti jemaat tunduk kepada Tuhan. Anak-anak mengomati orang tua, dan orang tua tidak menimbulkan sakit hati dan amarah di hati anak-anaknya.

Penutup

Mazmur 128 diakhiri dengan kebahagiaan keluarga ketika Tuhan memberkati mereka sehingga mereka dapat melihat kebahagiaan Yerusalem. Apa kaitan antara keluarga dan Yerusalem? Itu adalah kaitan antara keluarga dengan bangsa secara keseluruhan. Ketika unit-unit keluarga kokoh, maka bangsa pun kokoh. Ketika setiap keluarga memperoleh damai sejahtera, seluruh bangsa pun akan memperoleh damai sejahtera.

Berkat itu berkelanjutan seperti sungai yang terus mengalir, dari generasi ke generasi. Kita akan dapat melihat anak-anak dari anak-anak kita. Kita akan menjadi bertambah tua, tetapi iman dan kasih kita kepada Tuhan tidak menjadi bertambah loyo, melainkan bertambah kuat dan kita dapat menyaksikan kebahagiaan keturunan kita selanjutnya.(PFS)

—– 00000 —–

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s